Sahabat Ku Adalah Cinta Tersakit Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 14 February 2016

Aku tak menduga ini bisa terjadi padaku. Sakit? Pasti. Luka? Tentu. Aku mencintainya sungguh mencintainya. Namun apa? Aku tak bisa bersamanya sampai kapan pun aku tak bisa bersamanya. Aku kecewa aku sakit aku bingung harus bagaimana lagi. Tapi, inilah yang terbaik. Tuhan beri aku teguran untuk tidak mudah percaya pada siapa pun termasuk orang yang sudah ku anggap saudara sendiri.

“Sahabat, maafkan aku. Aku tak bermaksud menyakitimu tapi aku tahu kau akan terluka dengan ini semua. Aku tahu, kau sangat membenciku. Tapi, hingga detik ini hanya kamulah yang ada di hatiku. Sesal tiada arti tangis tiada guna kau tak akan kembali dan ku mohon maafkan kebodohanku. Sahabat, aku begitu mencintaimu. Kaulah pelita dalam gelap hidupku. Tapi aku jahat, aku tega melukai hati kecilmu yang tulus. Maafkan aku. Andrea Silvana.” Ini terjadi sekitar pertengahan tahun 2014 yang lalu saat aku dikenalkan oleh seorang lelaki tampan yang baik dan perhatian.

“An, kapan ke rumah Adit?” tanyaku pada Andrea yang sedang memainkan hp-nya.
“Em hari sabtu Dew,” jawabnya singkat.
“Oh. Titip salam ya buat Tian,”
“Oh iya iya Dew.” Andrea adalah sahabatku dia adalah teman satu kelas kadang satu bangku denganku. Gadis ini sudah 2 tahun berpacaran dengan Aditya. Mereka memang mesra terlihat di dinding facebook, Andrea dan Adit selalu mengumbar kemesraan mereka. Walau sudah 2 tahun pacaran, namun Andrea tidak bosan apalagi Aditya.

“Len, kantin yuk?” ajakku pada Leni sahabatku.
“Iya Dew ayo!”
“Septi, Aan ayo kita ke kantin!” ajak Leni pada Septi dan Andrea.
Mereka berdua pun akhirnya ikut denganku ke kantin.
“Dew, gimana sama Tian?” tanya Andrea.
“Dia belum nembak aku An. Aku bingung,”
“Ya sabar aja Dew, mungkin Tian belum siap,” Andrea berusaha menghiburku.
“Oh iya juga.” ucapku sambil tersenyum.

Aku memang sangat menyukai Tian. Apalagi dia adalah anak yang baik gayanya yang khas membuatku jatuh cinta. Aku dan Tian memang belum pernah bertemu tapi aku suka dia sejak dia mengirim ucapan selamat ulang tahun di kronologiku di facebook. Kami menang tidak berpacaran, namun aku dan Tian saling mengumbar kata cinta satu sama lain. Tian adalah adik dari Aditya pacarnya Andrea atau yang lebih akrab dipanggil Aan itu. Tak terasa sudah 2 bulan aku dan Tian saling mengenal. Tibalah di malam pergantian tahun.

“Tahun baru ke mana?” tanyaku pada Tian melalui bbm itu.
“Jagain Adit di rumah sakit Dew,” balasnya.
“Kak Adit kenapa?”
“Adit kena kanker paru-paru Dew,”
“Apa? Terus Andrea udah tahu?”
“Jangan sampai tahu Dew.” Aku kaget saat membaca bbm dari Tian tadi.

Aku segera membritahu pada Andrea. Andrea jelas kaget mendengarnya karena Adit tidak pernah bercerita soal ini padanya. Aku dan Tian kini semakin jauh. Karena Tian harus menyelesaikan sekolahnya di surabaya bersama kakak tertuanya yaitu Panji. Aku sedih karena aku tak akan bisa bertemu dengan Tian.
“Dewi..” begitu isi bbm Tian padaku. Dia hanya menyapaku saja. “Iya yan?” balasku.
“Kamu mau nggak jadi pacar aku?” aku langsung terkejut membuka pesan itu. Akhirnya Tian memastikan hubungannya denganku. “Iya aku mau kok.” balasku bahagia. Akhirnya kami pun berpacaran sejak tanggal 30 januari 2015. Satu tanggal jadian dengan Andrea dan Adit hanya saja mereka jadian tanggal 30 april 2013.

“Aan.. Aku jadian sama Tian,” ucapku bahagia.
“Cieee selamat ya Dew. Akhirnya.” Andrea terlihat bahagia mendengarnya.
Namun kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar. Beberapa hari ini Tian berubah. Dia jadi kasar dan cuek. Bbm pun jarang dibuka apalagi dia balas.
“Udah Dew mendingan kamu tinggalin aja dia. Kasihan hati kamu,” ucap Leni yang mencoba menenangkan tangisanku.
“Enggak Len. Aku udah sayang sama dia,” jawabku di sela-sela tangisku.
“Iya Dew tapi kasihan kamu,”
“Aku nggak apa-apa kok Len.”

Aku mencoba menahan air mataku agar tak menetes lagi. Kesakitan itu semakin dalam saat aku tabu bahwa Tian jarang membalas pesanku karena dia juga sedang dekat dengan Dian temanku yang beda kelas denganku. Hatiku sakit saat Dian tiba-tiba berkata bahwa dia sering smsan dengan Tian. Terlihat raut wajah sedih dari Leni, Andrea, dan Septi sahabatku.
“Aku tahu kamu jarang balas pesan aku karena kamu sibuk sama Dian kan?” tuturku pada Tian lewat pesan bbm itu.
“Aku bisa jelasin Dew,” begitu balasnya.
“Lebih baik kita udahan aja yah.” jujur saja, air mataku sudah berlinang saat aku mengetik pesan itu pada Tian.

“Dewi, aku sama Dian nggak ada apa-apa. Jujur ya, aku sering sms dia itu karena aku nanya ke dia apa kesukaan kamu. Aku nanya ke dia apa saja kegiatan kamu. Karena kalau aku nanya ke Andrea, Leni atau Septi aku takut mereka akan bilang lagi ke kamu. Dew, aku mau bikin kejutan buat kamu. Aku mau pulang ke sana saat hari valentine nanti dan aku udah kumpulkan uang untuk ongkosku ke sana. Aku cuma mau merayakan hari itu sama kamu. Tapi apa? Kamu malah curga dan mutusin aku.” begitu isi pesan dari Tian yang langsung melelehkan air mataku. Kenapa aku harus percaya pada Dian dan bukan percaya pada Tian? Mengapa aku tega menggagalkan semua usaha Tian untuk membahagiakanku?

“Tian maafin aku,” balasku dengan penuh rasa bersalah.
“Iya Wi. Nggak apa-apa kok tapi aku udah gak bisa balik sama kamu. Maaf aku masih sakit.” begitu balas Tian padaku. Yang sangat melukai hatiku. Aku menceritakan semua pada Leni, Septi, dan Andrea. Mereka mencoba menenangkanku dan meyakinkanku bahwa jodoh tak akan lari ke mana. Kini aku mengerti kenapa Dian mencegahku untuk memutuskan Tian saat itu.

Satu bulan berlalu, aku sudah melupakan semuanya karena aku terlalu sibuk dengan TO dan pra-UN yang membuat kepalaku hampir pecah. Kepusinganku bertambah saat aku tahu kenyataan sebenar-benarnya tentang Tian itu. Ternyata Tian yang selama ini aku cintai itu adalah Andrea sahabatku sendiri. Ya, dia tega menjahiliku, berperan sebagai sosok pria yang aku cintai. Sumpah ini sangat menyakitkan. Dia tega melakukan semua itu padaku. Aku tak menyangka saat dian membuka semua rahasia itu padaku dan kedua sahabatku. Semenjak itu sifatku dan kedua sahabatku jadi berubah pada Andrea. Dia sepertinya peka akan perubahan itu. Sudah satu bulan Andrea tidak masuk sekolah. Sampai akhirnya hari itu dia masuk sekolah juga.

“Apa maksud lo lakuin ini?” ucap Yessi salah satu temanku yang geram melihat wajah Andrea yang sama sekali tidak memiliki rasa bersalah itu.
“Tian itu kamu kan?” sambung Leni. Andrea sepertinya tidak kaget karena dia sudah bisa menebak bahwa aku dan yang lain sudah tahu rahasianya.
“Maafin aku Dew,” hanya itu yang bisa dia ucapkan padaku. Air mata penyesalan pun menetes dari pipinya.
“Aku maafin kamu. Kita maafin kamu. Tapi kita gak akan pernah bersikap seperti dulu. Itu janji aku sama mereka.”

Ingin rasanya aku menampar wajah polosnya itu namun aku tidak bisa melakukan itu karena aku tidak ingin menyakitinya. Andrea memeluk Septi dan Leni dengan tangisnya. Tapi tidak dengan aku, aku hanya ingin bersalaman dengan dia saja. Jujur aku sangat muak melihat air mata kepalsuan dari Andrea. Semenjak itu dia tidak pernah masuk sekolah. Dia hanya masuk sekolah saat ujian nasional saja. Dua bulan berlalu. Aku kecewa karena aku masuk sekolah SMK swasta. Begitu juga dengan Leni. Tapi tidak dengam Septi. Septi keterima di sekolah negeri namun dia lebih memilih sekolah di swasta bersamaku. Saat hari raya idul fitri Andrea mengirim bbm padaku setelah 2 bulan aku tak mendengar kabarnya.

“Masuk mana Dew?” tanya Andrea.
“SMK,” ujarku padanya.
“Dew maafin kesalahan aku dulu ya ke kamu,” Begitu ketiknya.
“Iya dimaafin tapi nggak akan aku lupain” jawabku.
“Iya Dew aku ngerti kok perasaan kamu,”
“Baguslah kalau gitu.” ujarku singkat.

Sudah lama kejadian ini terjadi namun aku tak bisa memaafkan segala kesalahan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh Andrea. Dari kejadian itu, Andrea tidak punya teman lagi. Menurutku itu wajar karena segala yang dia lakukan sudah sangat keterlaluan. Tapi aku senang Andrea keterima di SMK negeri impiannya. Tahun pun berganti. 2016 kini membuatku jadi lebih baik. Ini terbukti dengan sikapku yang lebih Dewasa. Aku bukan lagi Dewi yang dulu. Aku adalah seorang wanita yang kuat dan tegar Dan akhirnya aku berani untuk menghubungi Andrea lewat facebook.

“Pengen kayak dulu lagi nggak?” begitu pesanku.
“Ya gimana lagi Dew aku udah terlanjur nyakitin kamu dan kesalahan aku udah fatal banget sama kamu,” begitu balas Andrea. “Setiap manusia itu mempunyai kesempatan asal dia tidak mengulanginya lagi,” ujarku dengan bijak. Aku juga tidak tahu mengapa aku bisa sebijak ini.
“Ya makasih Dew. Aku janji aku gak akan ulangi lagi semuanya.” akhirnya aku dan Andrea kembali bersahabat. Andrea pindah sekolah swasta karena dia rasa sekolahnya saat ini terlalu jauh dengan rumahnya. Begitu juga dengan Leni dan Septi, mereka sudah bisa menerima Andrea dengan hangat.

“Sahabat, seperti apa pun luka yang kau lukis di hatiku kau tetap sahabatku. Kau sudah terlanjur hidup di dalam hatiku dan aku tak bisa membencimu. Sahabat, terima kasih luka yang kau beri telah mendewasakanku. Aku tetap mencintaimu sahabatku.”

Cerpen Karangan: Andrea Silvana Vilim
Facebook: Andrea Silvana

Cerpen Sahabat Ku Adalah Cinta Tersakit Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pertemuanku Dengannya

Oleh:
Aku baru saja ke luar dari gedung sekolahku pada sore itu. Sungguh lelah hari ini, mengikuti pembelajaran sore yang membosankan. “Akhirnya, selesai juga latihan menari sore ini.” Gumamku sambil

Mengagumi Orang Yang Salah

Oleh:
“bi.. udahlah lupain dia… air mata loe terlalu berharga cuma buat orang itu” Teriak kevin yang sedari-tadi terus mengikuti bintang, semenjak keluar dari gerbang kampus bintang tak henti-hentinya menangis.

Berpegang Teguh Pada Prinsip

Oleh:
Diera sekarang itu remaja sepertiku sangat identik dengan pacaran. Menurut sebagian besar dari remaja sekarang kalau nggak punya pacar itu nggak gaul lah, nggak lakulah apalah. Tapi menurutku buat

Terjebak Di Dalam Api

Oleh:
“Satu, dua, tiga, satu, dua, tiga,” Aku menggerakan tubuhku dengan lincah mengikuti irama musik. Walaupun peluh mengucur deras di keningku, aku tetap semangat menggerakkan kakiku, yang hampir tidak kuat

Sahabat Itu Nggak Ada Putusnya

Oleh:
Aku masih menatapnya tidak percaya saat ia mengatakan dengan jelas, di depan wajahku, dia memutuskan tali persahabatan yang telah terjalin sejak lima tahun yang lalu. Aku menggeleng-geleng, menatapnya nanar.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *