Sahabat (Part 1) Masalah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 January 2017

“tujuh menit lagi..” kata Diana dalam hati, sambil memandang jam dinding yang terhias di tembok kamarnya.

Malam itu dengan wajah harap penuh cemas, Diana menantikan malam paling spesial dalam hidupnya, malam dimana usianya akan bertambah dewasa. Tujuh belas tahun, usia yang didamba-dambakan hampir seluruh remaja sepertinya. Karena di usia itulah, cinta, kasih sayang, kebahagiaan serta kebebasan rasanya sudah pantas dimiliki oleh setiap orang yang beranjak dewasa sepertinya. Tak henti-henti, ia memandang telepon genggam miliknya, dengan penuh gelisah ia menantikan pesan ucapan selamat akan masuk berbondong-bondong berdering di telepon genggamnya.
Iya, Diana menantikan itu..

Tujuh menit berganti enam menit, enam menit berganti lima menit, begitu seterusnya. Hingga pukul 00.00 yang dinantikannya pun telah tiba. Tapi sepertinya, pesan selamat ulang tahun dan doa-doa dari sahabat dan kerabatnya tak ada yang masuk dengan tepat waktu. Dan waktu pun semakin lihai terus saja berlalu, seperti yang ditunjukan detik genap dan ganjil, yang tak henti-henti saling memburu dan melampaui.

“sudah lewat dua menit, kok gak ada yang ngasih ucapan selamat sih..?” ucapnya sambil cemberut.
“mungkin jaringan lagi gak baik” tuturnya kemudian, menguatkan.

Diana memang tidak mengharapkan kado apa-apa di hari ulang tahunnya, mengingat dia tidak bisa memberikan banyak hal kepada sahabat-sahabatnya ketika mereka berulan tahun. Diana sadar itu, uangnya hasil berjualan kue keliling selepas pulang sekolah tak akan cukup membelikan kado buat sahabatnya jika dipotong dengan kebutuhannya sehari-hari. Tapi paling tidak, di hari bahagianya itu, ucapan selamat serta doa akan datang dari sahabat-sahabatnya. Sama seperti yang dia berikan kepada sahabat dan temannya ketika mereka merasakan hal yang sama.

Dalam lamunannya itu, menit demi menit terlewatkan, hampir satu jam berlalu, belum ada satu pesan pun yang masuk di telepon genggamnya. Diana, wanita tangguh yang mudah baper ini, kini mulai tak tenang, pikirannya mengawan-awan. Sejuta tanya bernada cemas mulai muncul di hatinya. Akankah sahabat-sahabatnya melupakannya? Akankah kini dia menjadi tak penting? Dan pertanyaan-pertenyaan baper lainnya membuntuti di belakang. Diana tak sadar, pertanyaan-pertanyaan baperan seperti itu akan menekannya, hingga akhirnya air mata hampir pecah di ujung matanya.
Tapi, ia terlalu tangguh untuk menangis.

Lelah ia menunggu, matanya yang hanya tersisa beberapa watt lagi, tak akan sanggup untuk terus berpijar di dinginnya udara subuh. Tapi kewajiban tetaplah kewajiban, ia tetap menunaikan perintah Tuhannya di subuh yang meletihkan itu. Selepas dua rakaat subuh, ia kembali tertidur hingga menunggu pagi tiba.

Pagi hari, di jalan menuju sekolah.
“Diana.., Diana.., Tunggu.” Sitah berlari menyusul Diana yang jauh di depannya.
Diana berhenti sejanak, menantikan sahabatnya itu menyusulnya.

Sedikit, tentang Sitah..
Sitah adalah sahabat karib Diana, sudah sejak lama mereka bersahabat, walau latar belakang keluarga mereka yang berbeda 180 derajat tapi itu tidak menghalangi mereka untuk terus bersahabat. Sitah anak orang kaya, ia tinggal di kompleks perumahan mewah, dia memiliki segalanya yang ia butuhkan, tapi baginya kasih sayang dari orangtua dan keluarga adalah yang terpenting. Hal yang kadang jarang dia rasakan ketika kedua orangtuanya sedang sibuk mengurus usaha dan pekerjaan. Dia bersahabat dengan Diana, karena menganggap Diana adalah orang yang paling mengerti dirinya. Mengerti akan sifat manja, baperan dan misteriusnya. Ehem, sebenarnya sifat bapernya itu yang datangnya misterius.

“Din, sebentar sore kamu jadi ikut kan?” tanya Sitah, memulai pembicaraan.
“ih, kok Sitah gak ngucapin selamat ulang tahun ke aku dulu sih!” ucap Diana, resah, dalam hati.
“Din, kok bengong sih!, sebentar sore kamu jadi ikut kan?” Sitah kembali, pertegas!.
“aku belum izin ke bapak aku Sit.” Ucap Diana bernada lesu, sepertinya ada hal lain yang ia pikirkan.
“oh, gitu.” Shita menutup pembicaraan singkat mereka dengan wajah tersenyum, dia berusaha mengerti sesuatu yang disembunyikan Diana.

Di Sekolah..
Barisan putih abu-abu mulai ramai terpampang di depan mata, tingkah mereka beragam mengisi waktu luang sebelum jam sekolah dimulai, ada yang bercengkrama dengan sahabat di teduhnya pohon beringin, ada yang duduk tenang sambil mendengarkan lagu di perangkat headset telepon seluller yang mereka miliki. Ada yang berdiri tenang, dengan mata liar bercuri pandang dengan lawan jenisnya. Dan ada pula yang benar-benar tenang, duduk diam di dalam kelas, dengan kepala dan lengan bertopang di meja, memanjakan sisa-sisa rasa ngantuk sebelum kembali bergelut dengan rumitnya buku-buku pelajaran.

Diana dan Sitah melangkahkan kaki memasuki ruang kelas XII IA 6, di kelas Diana berharap mendapatkan sesuatu yang berbeda, sebagai hadiah kejutan di hari ulang tahunnya. Tapi nampaknya harapan itu sia-sia, tak ada tanda-tanda apapun di sini. Harapan itu membuatnya tampak bodoh dan tolol, sifat iri dan kecewa mulai hinggap di hatinya. Dia mulai membandingkan dirinya, dengan beberapa teman sekelasnya, yang merayakan ulang tahun beberapa waktu lalu, termasuk Sitah yang baru saja berusia tujuh belas tahun sebelas hari tepat hari ini. Ia ingat persis, hari itu kejutan ulang tahun Sitah begitu meriah, semua teman-teman memberikan ucapan selamat kepada sitah. Bahkan secara khusus Diana meminta kepada wali kelas mereka untuk memberikan kue ulang tahun kepada Sitah. Diana juga tau bahwa Sitah pasti akan ingat moment itu, saat Sitah bilang bahwa hari itu adalah hari paling bahagia dalam ulang tahunnya, dan Sitah sangat berterima kasih atas kepada Diana karena telah berjasa memberikan moment tak terlupakan itu kepada dirinya. Air mata dan sebuah pelukan kecil dua sahabat itu menutup perayaan ulang tahun Sitah. Tapi keadaannya berbalik sekarang, kini saat Diana harusnya merasakan ulang tahun paling berharga dalam hidupnya, tak ada satu pun sahabat yang peduli padanya. Saat ia duduk di bangku kelasnya, matanya tertujuh pada Sitah yang pagi itu hanya meletakkan tasnya tepat di sebelah bangkunya, lalu pergi untuk bercengkrama dengan sahabat-sahabat sekelasnya.

Pagi itu dia berharap Sitah adalah orang pertama yang akan memberikan ucapan selamat pada dirinya. Tapi kenyataanya berbeda. Wajar saja, kini Diana merasa kesepian di tengah ramainya suasana kelas pagi itu. Ditambah lagi, ia tidak bisa ikut bersama teman-temannya mengikuti tur wisata yang diselenggarakan pihak sekolah selama tiga hari karena tidak punya biaya. Hal itu membuatnya minder dan merasa terabaikan dari teman-temannya. Kini saat Sitah dan teman-teman lainnya sedang asyik membicarakan tur wisata mereka, Diana hanya bisa diam dan merenung, ia tertunduk lesu, keningnya bersandar di meja yang ia tempati, matanya yang basah itu menatap kaki dengan tatapan kosong, tak ada satu pun sahabatnya yang tau kalau ia sedang menangis. Baginya, hari itu adalah ulang tahun terburuk selama hidupnya.

Cerpen Karangan: Iyhan Rais
Facebook: Iyhan Rais

Cerpen Sahabat (Part 1) Masalah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perempuan Anggun (Part 1)

Oleh:
Aku sedang berada di perpustakaan. Sendiri, karena sahabatku sedang berpacaran. Oh ya namaku Vena. Aku adalah seorang gadis yang sederhana tapi agak tomboy sih. Aku terkenal dengam sikapku yang

Dia Kekasihku Bukan Musuhmu

Oleh:
Pagi itu aku tengah duduk melamun di dalam kelas. Jam masih menunjukan pukul 06.30 sehingga kelasku masih sepi. Kubayangkan seseorang yang sangat cantik tengah tersenyum apik kepadaku. Sungguh, sejak

Dilarang Mencontek

Oleh:
Mentari bersinar kekuningan. Kicau burung perlahan menghilang bersama mengeringnya embun. Suasana di dalam ruang kelas terasa tenang dan sunyi. Murid-murid asyik menatap lembaran kertas soal di tiap meja mereka.

Secerca Harapan Menunggumu

Oleh:
Ku pijakkan langkah demi langkah pada setapak jalan ini. Kaki ini mengalun secara perlahan, mengikuti alunan lembut udara pagi. Mega sang surya memberikan warna untuk langit dan berikan kecerahan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sahabat (Part 1) Masalah”

  1. Malika Sekar R. says:

    Ada lanjutannya g seru nih , thanks!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *