Sahabat Scouts Selamanya (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Petualangan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 April 2016

Aku bangun lalu berjalan dan berhenti di tengah-tengah mereka semua.
“Teman-teman semua,” panggilku lemas, mereka semua mengarahkan pandangannya kepadaku, juga teman-teman Ulfa.
“Semuanya harap tenang, dalam situasi seperti ini kita semua harus tenang, kita tidak tersesat, cuma sekarang kita belum tahu jalan untuk kembali ke bumper, kita harus teguh, kita harus kuat, kita harus berjuang. Ingat, kita seorang pramuka, kita di didik untuk menjadi penerus bangsa ini, kita terlatih untuk situasi seperti ini, yang kita butuhkan adalah semangat, kekompakan, kerja sama tim,” aku sedikit berteriak mengucapkannya.

Zia, Fadli dan beberapa teman Ulfa berdiri dari duduknya, mereka yang sebelumnya hanya sekedar melihatku sekarang benar-benar memusatkan pandangannya kepadaku.
“Ayo kawan, kita harus ke luar dari hutan ini, kita tidak bisa membiarkan teman kita ini berlama-lama tanpa pengobatan lanjut, berlama-lama tekena air hujan, kita harus kembali ke bumper, mari kita panjatkan doa kepada Allah SWT, memohon petunjuk darinya, apa pun ceritanya kita akan kembali dengan selamat,”
“Ya,” mereka semua mengangguk, bersorak memberi semangat kepada yang lainnya.
“Ya, kita harus pulang,” sorak salah satu teman Ulfa.

Di luar yang ku duga, keadaan kembali bersemangat usai pidatoku yang singkat itu, tidak menyangka mereka kembali bangun dan berkekang badan mencari jalan pulang, walau kebuntuan jalan telah merengut semangat mereka.
“Kuatkan kaki kalian, kokohkan badan kalian, kita akan pulang,” teriakku memberi semangat.
Zia, Yasril, Budi, dan Iqbal mengangkat kembali tandu di masing sisinya dan berteriak, “Semangat,” saat tandu tersebut terangkat ke pundak mereka.
Keajaiban pun terjadi, mungkin Tuhan mengabulkan doa kami dengan cepat, tiba-tiba hujan yang deras tersebut berhenti turun.

“Apakah hujan telah berhenti?” tanya Ulfa berdiri di sampingku.
“Ya, hujan telah berhenti,” jawabku saat sedang memandangi langit.
Aku menoleh ke arah Zia yang sedang mengangkat tandu.
“Allah mengabulkan doa kita,” ucap Zia kepadaku.
Aku mengangguk, “Ya,” lalu kami tersenyum dan merasa gembira. Lalu aku mendengar sesuatu.
“Apa kalian mendengar sesuatu?” aku bertanya pada mereka, mereka mengarahkan telinga mereka ke sana ke mari mencoba mendengar sesuatu. Aku tersenyum, ini yang ku harapkan dari tadi.

“Itu, sungai, suara sungai,” aku menyatakan dengan semangat.
“Iya, sungai, kita dekat dengan sungai,” ucap Ulfa kembali, mereka semua mendengarkan juga apa yang ku dengar. Mereka sangat bersemangat mengetahui bahwa kami dekat dengan sungai, dan aku yakin inilah petunjuk dari Tuhan.
“Di sebelah sana,” Fadli menunjuk ke arah semak-semak tempat suara aliran sungai itu berasal, lalu dia dan Rudi pergi ke arah semak itu, mematahkan ranting-ranting yang ada dan berusaha membuat jalan, teman-teman Ulfa membantu mereka membuka jalan baru tersebut, sedikit demi sedikit jalan berhasil dibuka, mereka yang mengangkat tandu berjalan perlahan dari belakang.

Kami terus berjalan, melintasi jalan yang sempit dengan pepohonan dan tanjakan maupun turunan yang berlumpur, akhirnya kami sampai ke pinggir sungai, airnya lebih deras dari sebelumnya juga telah menjadi lebih tinggi, kami berlari ke arah kiri sepanjang pinggiran sungai, mencari tempat yang lebih memungkinkan untuk turun ke sungai itu, kami sampai ke sebuah turunan, ternyata kami sampai ke turunan tempat pertama kami menaiki ke hutan ini, sungguh beruntung kami bisa kembali ke tempat ini. Walaupun kami kembali dari jalan yang berbeda dari yang kami lalui sebelumnya. Kami turun ke dalam sungai, sekarang airnya telah sampai setinggi pinggang, pinggiran maupun di tengah sungai, sungai ini tetap memiliki kedalaman yang sama.

Lalu kami melanjuti perjalanan menyelusuri sungai, namun kali ini kami berjalan di pinggiran sungai, aku menunduk melewati sebuah ranting dengan dedaunan lebat, saat aku kembali berdiri, aku melihat sebuah pita merah putih di belakang dedaunan ini. Ternyata memang jalan selanjutnya itu terus menyelusuri sungai ini, betapa cerobohnya kami sebelumnya tidak melihat tanda jejak yang ada di belakang dedaunan ini. Tidak tampak dari depan bila tidak diteliti ke belakangnya. Kami terus berjalan, kira-kira seratus meter kami berjalan, kami melihat beberapa panitia dan dua orang berpakaian satgas pramuka peduli di seberang sungai sana. Mereka melambaikan tangan dan langsung masuk ke dalam sungai dan menghampiri kami.

“Apa kalian semua tidak apa-apa?” tanya salah satu panitia berpakaian satgas.
“Kami baik-baik saja Kak, cuma ini satu kawan kami yang pingsan,” Zia menjawab.

“Oke, semuanya membuat shaf memanjang memotong sungai, saling berpegangan tangan dengan kuat, dan jangan sampai terseret arus, teman kita ini membutuhkan medis sekarang juga,” teriak kakak panitia berpakaian satgas itu dengan sangat keras, kami semua mengerti perintah itu, dan langsung melaksanakan perintah tersebut, kami membuat shaf dan saling berpegangan tangan, lalu tandu yang sekarang telah diambil alih oleh keempat kakak panitia tersebut berjalan di depan kami, kami memegangi mereka membantu membuat pagar kokoh untuk memperlancar mereka yang mengangkat tandu berjalan menyeberangi sungai sampai ke seberangnya.

Sampai ke seberang, kakak-kakak panitia yang mengangkat tandu tersebut memimpin jalan kami. Kami berjalan sangat cepat bahkan setengah berlari, kami menaiki tanjakan dan setelah sampai ke atas tersebut kami terus berjalan dan kami sampai dari belakang bumper. Aku berhenti berlari, terheran-heran kenapa secepat ini kami sampai ke bumper, ternyata selama ini kami tersesat di hutan yang berseberangan dengan bumi perkemahan jantho ini. Aku memandangi lapangan upacara ini telah digenangi air di mana saja, aku melihat Rizal yang dibawa lari ke tenda medis, diikuti teman-temanku di belakang, lalu aku berlari menuju tenda medis tersebut.

“Kalian di luar saja, jangan masuk ke dalam,” ucap seorang perawat dengan seragam putihnya.
“Tapi Kak, gimana dengan teman kami?” balas Iqbal.
“Sakarang teman kalian akan kami periksa dulu, kalian gak boleh di dalam dulu, nanti kalau teman kalian ini siuman, baru kalian bisa melihatnya,” perawat itu menjelaskan lalu ia masuk ke dalam tenda medis. Kami berbalik pergi menjauhi tenda medis, lalu tiba-tiba.
“Tenda kita,” Yasril mengingatkan, kami berdiri terdiam lalu berlari kencang menuju tenda kami, baru teringat kabarnya sekarang, entah apa jadinya sekarang setelah hujan deras tadi. Sesampai di tenda, kami langsung mengecek ke dalam tenda, dan sungguh terkejutnya kami melihat isi tenda ini sudah tidak ada lagi.

“Ke mana barang-barang kita?” Fadli bertanya.
“Entahlah,” jawab Zia, lalu Zia menoleh ke luar tenda, dan memanggil seorang peserta perkemahan yang sedang melintas di depan tenda kami.
“Kawan.. Apa kau tahu ke mana sudah barang-barang kami di tenda?”
“Oh, barang kalian sudah dievakuasi sama panitia ke bangunan sekretariat sana,” jawab peserta tersebut.
“Makasih kawan ya,” ucap Zia.
“Yok kita ke sana periksa barang-barang kita,” lanjut Zia mengajak.

Aku tidak ikut, mereka semua langsung berlari menuju gedung sekretariat, kemudian aku pergi ke tenda dapur dan duduk di bawahnya, hanya duduk dan memandangi sekitaran bumi perkemahan jantho ini, yang telah tenggelam dengan air hujan. Lama aku duduk di sini, lalu aku berdiri, pergi ke luar dari tenda dan berjalan menuju gedung sekretariat. Saat aku sedang berjalan di tengah lapangan upacara, hujan kembali turun, aku yang memang masih basah sedari tadi tetap berjalan dan tidak berlari menghindari hujan. Aku terus berjalan walaupun hujan terus turun deras.

Lalu aku sampai ke sebuah tempat dudukan yang ada di depan gedung sekretariat itu, aku duduk di situ, membuka sepatuku yang sangat kotor ini satu per satu, lalu meletakkannya di depanku dan membiarkan air hujan membasahinya. Aku memandangi langit yang mendung ini, dan lalu lalang peserta perkemahan di gedung sekretariat ini, kemudian aku membuka bajuku sehingga aku telanjang atas. Aku membalikkan baju dinas pramukaku itu lalu membersihkan kotoran-kotoran yang menempel padanya, aku melihat Ulfa datang dari teras gedung sekretariat dan memanggilku saat ia melihatku kehujanan seperti ini.

“Kak Arifin,” teriaknya dari teras gedung, lalu dia berlari kepadaku dan menarikku ke teras gedung.
“Bangun Kak, Kakak harus ke tempat teduh sekarang, jangan terus-menerus terkena hujan seperti ini, nanti Kakak sakit,” ucap Ulfa dengan sedih lalu berhasil menarikku ke teras gedung.

Ulfa membawaku ke sebuah ruangan gedung tempat panitia beristirahat, tidak ada orang di ruangan ini, lalu Ulfa menyuruhku duduk di sebuah kursi, dan ia langsung ke luar dari ruangan ini dengan terburu-buru. Tidak lama kemudian dia kembali ke ruangan ini dengan membawa segelas teh hangat dan sebuah handuk. Ia meletakkan teh tersebut di meja yang berada di sampingku lalu menyelimutkan handuk itu ke badanku yang telanjang atas ini, dan mengelap air hujan di wajah dan rambutku. Kemudian ia mengambilkan teh hangat tersebut dan meminumkannya kepadaku.

“Kenapa Kakak hujan-hujanan seperti itu dan belum menggantikan pakaian Kakak, nanti Kakak bisa sakit,” tanya Ulfa risau. Ulfa sudah membersihkan dirinya dan sekarang ia berpakaian kaus berlengan panjang berwarna cokelat yang bertuliskan “Scouts forever,”
“Gak apa-apa, Kakak cuma bersihin baju Kakak tadi,” jawabku, Ulfa hanya menghela panjang napasnya lalu memelukku yang kedinginan ini dari samping. Saat itu kami sedikit berbincang-bincang masalah tersesat di hutan tadi, agak lama kami berbincang sampai akhirnya kami saling terdiam tidak tahu lagi apa yang akan dibicarakan.
“Kakak sebaiknya sekarang mandi dulu membersihkan badan Kakak, ni Kakak kotor kali, gak gatal apa itu?” Ulfa berkata sambil tertawa genit, dan aku tersenyum melihat tingkahnya itu.

“Oke Kakak mandi dulu sekarang,”
“Gitu dong, ini baru Kakaknya Ulfa,”
“Kakak sayang gitu?” tanyaku genit, Ulfa hanya tertawa mesra.
“Mandi yang bersih ya, jangan lupa pake sabun biar wangi,”
“Ya,” kedipku sebelah mata padanya lalu aku pergi mengambil perlengkapan mandiku dan pergi ke kamar mandi.
Setelah aku mandi dan membersihkan diri, aku kembali ke ruangan tadi, aku memakai celana training panjang dan menutupi badanku yang belum memakai baju ini dengan handuk, Ulfa telah menungguku di ruangan ini, lalu ia memperlihatkan sebuah jaket kepadaku.

“Ini Kak ada jaket Ulfa untuk Kakak pake, Kakak kan lagi kedinginan, jadi Ulfa pikir jaket ini bisa hangatin Kakak,” dia tersenyum lebar saat menawarkan jaketnya itu padaku, tanpa berpikir menolaknya aku mengambil jaket itu dengan senyuman pula lalu memakainya.
“Makasih Ulfa ya,” ia mengangguk, bersenyum sambil menundukkan kepalanya.
“Arifin,” panggil Fadli dari balik pintu.
“Di sini kau rupanya, yok ke tenda medis, Rizal udah sadar tu,”
“Iya,” aku mengangguk.
“Ulfa, Kakak ke sana dulu ya jenguk Rizal yang udah sadar,”
“Iya Kak,” jawabnya.
“Sekali lagi makasih ya jaketnya,” Ulfa hanya mengangguk, lalu aku pergi mengikuti Fadli ke tenda medis.

Aku masuk ke dalam tenda medis, lalu menghampiri kasur tempat Rizal dirawat, di sana semuanya telah berkumpul, sedang berbincang-bincang dengan Rizal, aku berdiri di sampinnya, melihat dia terselimuti dengan sehelai kain batik dan tangannya yang diperban dengan bidai.
“Gimana kabarmu sekarang?” tanyaku pada Rizal.
“Sudah mulai membaik,” jawabnya lurus.
“Kenapa dengan tangan kirimu?”
“Ini,” dia melihati tangannya yang diperban itu.

“Sedikit terkilir saat aku terjatuh di hutan itu,”
Aku hanya mengangguk menanggapinya.
“Apa kita baik-baik saja Fin?” tanya Rizal kepadaku.
“Yah. Kita baik,” jawabku datar, lalu membuang pandanganku ke bawah.
Rizal mengerutkan bibirnya.

“Fin, aku minta maaf tentang semuanya, tentang Ulfa, tentang aku mempermainkanmu di tenda itu, aku minta maaf,”
Aku masih tetap memandang tanah.
“Fin, aku tahu aku salah, gak seharusnya aku melakukan itu kepada temanku sendiri, tapi aku benar-benar minta maaf Ffin, aku gak mau pertemanan kita, persahabatan kita semua, rusak gara-gara kesalahanku ini, karena itu aku minta maaf,” ucap Rizal dengan sedih.
Lalu Rizal mengeluarkan tangan kanannya itu dari dalam selimut, ia memegangi sesuatu dan menunjukkannya kepadaku.
“Ini Fin, milikmu,” aku kembali mengalihkan pandanganku padanya dan melihat yang dia tunjuki padaku, aku membeku melihatnya.

“Aku tahu ini gelang yang Ulfa berikan padamu, aku sadar kenapa kau begitu marah saat kau melempar ini kepadaku, kau tidak terima saat aku mengganggunya, aku sadari itu, memang aku telah salah mengganggu hubungan kalian, karena itu aku mengambil ini dan mengembalikkannya padamu, kau sahabatku Arifin, aku gak mau kita jadi saling ribut apalagi bermusuhan, aku ingin kita tetap bersahabat, aku minta maaf padamu Fin,” Rizal memohon dengan wajahnya yang sangat menyesal itu, aku merasa iba padanya, aku tak menyangka dia akan meminta maaf seperti itu sambil mengakui kesalahannya, berbanding terbalik dengan sikapnya yang biasanya. Aku mengambil gelang itu dari tangannya, lalu memandangi gelang itu dengan sangat terharu.

“Iya.. Tidak apa-apa kawan, aku memaafkanmu, kita akan melupakannya,” ucapku penuh keyakinan, Rizal tersenyum gembira. “Gitu dong kawan, sebagai sahabat kita semua harus saling memaafkan, bukankah itu yang kita jalani selama ini? Ucap Zia sedikit berteriak, kami semua tertawa dan tersenyum.
“Iya..Ya.. Kita memang bersahabat, sahabat sejati, sahabat selamanya,” Budi menegaskan kembali.
“Sehabat selamanya,” mereka semua mengangguk sangat setuju dengan pernyataan tersebut, dan saling berjabat tangan dan berpelukan.
“Sahabat sejati, sahabat selamanya,” sekali lagi aku mengenangnya gembira.

“Serahkan tangan kalian sahabatku,” Zia memberikan tangannya dan berharap kami meletakkan tangan kami di atas tangannya. “Dengan tangan yang bersatu ini, aku berharap, kita semua berharap, apa pun masalah yang akan menimpa kita, jangan sampai masalah itu menghentikan persahabatan kita ini, semua masalah itu akan kita selesaikan bersama-sama, bersama-sama. Apa kalian dapat menanam itu digenggaman tangan kalian?”
“Ya,” kami semua menjawab ya, lalu Zia melanjutkan perkataannya.

“Karena kita semua adalah sahabat, kita dapat melalui ini semua karena persahabatan kita, kokohkan kaki kalian, kuatkan tamgan kalian, dan badan yang siap menampung darah temannya, itulah sebuah persahabatan, yang sigap ditembus peluru demi keabadian sebuah tekunan, aku ingin persahabatan ini abadi, tak lapuk dimakan usia maupun guncangan, terus bersama, terus merangkul, dan terus bersahabatan selamanya, sahabat selamanya,”
“Sahabat selamanya,” kami semua berteriak dengan semangat dan melambungkan tangan kami bersama-sama ke atas.

Cerpen Karangan: M Zia Ulhaq
Facebook: M Zia Ulhaq

Cerpen Sahabat Scouts Selamanya (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenangan

Oleh:
Rasa rindu menyelimuti hatiku yang sepi saat ini. Duduk di tempat pertama kita bertemu. Duduk dimana saat-saat kita tertawa, berlarian, bahkan menangis dan bertengkar. Mengenang sesuatu yang manis bercampur

Perjuangan Cinta

Oleh:
Namaku vinbe, aku bersekolah di smp favorit di kotaku. “Kring.. Kring.. Kring” bel berbunyi tandanya istirahat Aku dan sahabatku tio bergegas ke luar kelas untuk memasang sepatu. Ketika aku

Cinta Untuk Sahabat

Oleh:
Namaku Firga Jeslyn, sering di panggil Firga. Aku siswa di SMU Melati Jaya. Aku siswa kelas X IPA 1. Aku tinggal di Jakarta. Aku anak kedua yang dilahirkan oleh

Ketika Harapan Harus Berakhir

Oleh:
Udara pagi yang sejuk adalah udara pertama yang ku hirup di SMA ini. Hatiku senang sekali, karena hal yang ku impikan sejak aku berpacaran dengannya terwujud kami bisa bersekolah

Cinta dan Permen Karet

Oleh:
Nama gua angga dan saat ini gua jomblo, mungkin gua jujur atau mungkin juga gua lelah, entahalah intinya gua normal dan suka dengan wanita normal juga. Ini cerita tentang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *