Sahabat Sejati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 January 2015

Namaku Dinda, dan mempunyai seorang sahabat bernama Sintia. Aku dan Sintia sudah lama bersahabat dari kelas 7 sampai sekarang. Pada suatu hari di sekolah kami ada murid baru yang bernama Billi. Billi adalah pria yang baik, ramah, murah senyum dan pintar. Dan itu yang membuat Sintia jatuh cinta dengan Billi.

“Din, menurutmu Billi tu ganteng nggak sih?” kata Sintia
“Biasa aja tuh, dia Cuma menang baik dan pinter aja,” kataku sambil menatap buku yang aku baca
“Masa sih? Buktinya banyak cewek yang suka sama dia,” katanya sambil melihat Billi yang sedang membaca buku di taman sekolah
“Ya udah kalo nggak percaya,” sambil menutup buku yang aku baca dan melihat Billi sekilas. “soalnya kamu nggak bisa bedain yang mana cowok ganteng dan yang mana cowok biasa aja.” Lanjutku
“Oh ya, buktinya kamu sekarang nggak suka sama siapa-siapa kan? Berarti kamu yang nggak bisa bedain yang mana cowok ganteng dan yang mana cowok biasa aja,” bantahnya
“yeee, enak aja, di sekolah ini mana ada yang ganteng tau,” bantahku
“Tuh, kan, ngeles lagi. Ya udah deh aku yang kalah,” kata Sintia dengan nada mengalah.
Sintia selalu mengalah denganku karena Sintia tau kalau dialah yang lebih besar dariku. Memang umur kita sama tetapi sintia tetap saja mengalah karena dia merasa kalau dialah yang lebih besar dariku.
Kriiiinggg…
“Eh, udah bel masuk tuh, kita masuk ke kelas yuk.” Kata Sintia sambil menggandeng tanganku

Seperti biasa pelajaran Matematika sangat rumit. Selain rumus-rumusnya yang ngejlimet juga bisa bikin orang frustasi. Tetapi hari ini guru Matematika memberi tugas kelompok, satu kelompok terdiri dari lima orang, dan aku berkelompok dengan Sintia dan Billi.

Kriiiinggg…
Bel pulang pun berbunyi, seperti biasa murid-murid sangat gembira mengeluarkan kelas masing-masing. Aku dan kelompokku yang sudah ditentukan oleh bu guru sedang berunding di dalam kelas.
“Jadi, dimana enaknya kerja kelompok?” kata salah satu murid yang memulai pembicaraan
“Kenapa nggak di rumahnya Billi aja?” kataku sambil tersenyum
“Kenapa harus di rumah Billi?” tanya salah satu murid lagi
“Iya, kenapa harus di rumahku?” tanya Billi
“Duh, kalian gimana sih, kan Billi murid baru di kelas kita. Apa kalian nggak mau tau rumahnya Billi?” kataku sambil tersenyum ke arah Billi.
“Boleh juga tuh, kan nggak apa sekali-sekali kita main ke rumah teman baru kita. Bener nggak Din?” sambung Sintia sambil tersenyum ke arahku. Aku menyambutnya dengan tersenyum.
“Ya udah deh, aku tunggu jam 2 di rumahku ya.” Kata Billi sambil tersenyum ke arahku.
“Nah gitu dong, oke tempat kita udah tentuin sekarang kalian boleh pulang. Tapi, inget ya jam 2 udah ada di rumahnya Billi!” kataku sambil tersenyum ke arah satu per satu kelompokku.

Aku dan Sintia telah sampai di depan rumahnya Billi, pada saat itu Billi muncul dan membukakan pintu gerbang rumahnya. Setelah memarkirkan motor di garasi rumah Billi Aku dan Sintia sangat terkejut karena banyak motor yang sudah parkir disana.
“Mereka udah dateng terlebih dahulu sebelum kalian dateng, kalau nggak salah mereka datengnya jam setengah 2,” kata Billi sambil tersenyum ke arahku dan Sintia.
“Jadi mereka udah dateng lebih dulu?” kata Sintia sambil tersenyum ke arah Billi
“Iya, ya udah kita masuk ke dalam yuk! Mereka pasti udah nunggu,” ajak Billi
Billi berjalan mendahului aku dan Sintia dan membukakan pintu masuk untuk kami berdua.

“Mereka ada di ruang tengah, kalian duluan aja kesana! Aku mau ngambilin minum untuk kalian. Kalian tinggal lurus aja terus di sana ada ruangan yang agak luas!” kata Billi sambil memberi tahu arah
“Oke thanks ya,” kataku sambil tersenyum ke arah Billi

Sesampainya di ruang tengah Aku dan Sintia melihat teman-temanku telah menunggu kami.
“Kalian dari mana aja sih? Kita dari tadi nungguin kalian tau, lama banget sih?” kata salah satu teman yang bernama Caca itu
“Iya sori-sori, tadi Aku sama Sintia bingung nyari jalan rumahnya Billi,” kataku sambil membenarkan rambutku
“Iya nih, tadi pake nyasar segala lagi,” kata Sintia sambil manyun ke arahku
“Kenapa manyunnya ke arahku sih?” kataku protes
“Yeee… Dinda GR deh, siapa juga yang manyun ke arahmu?” kata Sintia membela diri
“Ooo.. jadi kamu nggak manyun ke arahku? Hehehe,” kataku sambil nyengir
“Anak kecil Cuma bisa ngerasa doang,” kata Sintia sambil menjulurkan lidahnya

Beberapa menit kemudian Billi keluar dari dapur dan menaruh minuman yang dibuatnya di atas meja.
“Nih aku udah siapin kue sama minuman di meja, kalau kurang kalian bisa ambil di dapur sendiri!” kata Billi sambil menaruh minuman dan kue itu di atas meja
“Thanks!” kataku, Sintia, dan Teman-teman berbarengan

Cukup lama kami mengerjakan tugas Matematika, kami pun beristirahat sebentar agar tidak setreeesss melihat rumus-rumus matematika. Aku dan Sintia pun berpisah karena Sintia masih ingin berbincang-bincang dengan teman-teman. Aku memutuskan untuk ke balkon ruang tengah, aku sangat kaget karena melihat berbagai bentuk Ular disana
“Aku yang koleksi semuanya, menurutmu apa itu aneh?” kata seorang pria di belakangku
Aku sangat kaget karena tidak sadar kalau Billi sudah ada di sampingku dari tadi.
“Eh, kamu dari tadi ada di sampingku?” kataku bertanya balik ke Billi
“Kok malah nanya balik sih?”
Belum sempat membalas pertanyaannya itu Billi langsung berkata lagi.
“Iya aku udah dari tadi di sampingmu, emang kamu nggak merasa?” tanya Billi
“mungkin, soalnya aku sibuk ngeliat koleksi Ularmu sih. Apa kamu nggak takut dipatok sama Ular?” kataku sambil bergidik ketakutann
Sebelum Billi menjawab pertanyaanku dia memberiku secangkir jus yang ditaruhnya di meja tadi.
“Awalnya papaku yang suka ngoleksi Ular, tapi akhirnya aku yang melanjutkan soalnya papaku lagi dinas ke luar kota. Lagian ngoleksi ular tuh seru banget tau, menantang banget. Lain kali kamu harus coba deh,” katanya panjang lebar
“Hah? Nggak deh makasi. Lagian aku lebih suka ngoleksi kelinci, hamster, atau apalah gitu yang lucu-lucu.” Kataku sambil tersenyum ke arah Billi
“Yah, kamu kayak kakakku. Dia tu suka banget sama hewan-hewan kayak yang kamu sebutin tadi, berbeda seratus delapan puluh derajat sama aku. Hehehe” katanya sambil nyengir
“Ooo.. terus kakakmu sekarang dimana? Kok dari tadi aku nggak ngeliat ya?” kataku sambil menoleh ke arah pintu ruang tengah
“Ooo itu, biasanya sih kakakku pulangnya jam delapan malem.” Katanya sambil nyengir “Kalau kamu mau liat koleksi hewan kakakku boleh kok, kamu mau liat?” lanjutnya
“Mau banget,” kataku sambil tersenyum senang

Sesampainya di kamar kakaknya Billi, aku sangat takjub melihat koleksi-koleksinya. Bahkan koleksinya sudah melebihiku ada anjing, hamster, kelinci, bahkan ada kura-kura yang tersusun rapi disana.
“Wow, keren banget. Emangnya kakakmu nggak risih ya kalau tidur? Kan binatangnya pada berisik?” kataku penasaran
“Kata kakakku sih kalau malem koleksi-koleksinya nggak akan ribut, jadi dia bisa belajar sama tidur yang nyaman.” Katanya sambil mengelus-ngelus anjing kakaknya itu
“Terus di kamar kakakmu kan ada anjing, kalau anjingnya B-A-B gimana?” kataku sambil melihat kura-kura yang sedang tidur
“Kalau masalah itu nggak usah meragukan kakakku, kakakku orangnya bersih banget. Semua hewannya udah diajarin dimana dia harus B-A-B, makanya kamarnya selalu bersih dan harum.” Katanya sambil senyum ke arahku
“Ooo gitu ya, lain kali boleh dong aku ketemu sama kakakmu.” Kataku sambil memohon
“Ya boleh lah,”
“thanks, eh udah jam 4 nih kita kerjain lagi yuk soalnya aku nggak boleh pulang malem-malem sama mamaku,” kataku sambil menarik tangan Billi

Kami berdua meninggalkan kamar kakaknya Billi dan langsung menuju ruang tengah.
“Kalian abis kemana sih? Aku kok nggak diajak?” kata Sintia sambil menatapku
“Iya sori tadi aku ke kamar kakaknya Billi.”
“Hah? Ngapain ke sana? Jangan-jangan …”
Belum selesai Sintia ngomong aku pun langsung mejawabnya kembali
“Apaan sih, aku ke sana buat liat koleksi hewan kakaknya Billi. Kalau nggak percaya tanya aja Billi sendiri,” kataku membela diri
“Iya, kebetulan kakakku hobinya sama dengan Dinda suka ngoleksi hewan-hewan yang lucu,” kata Billi sambil tersenyum ke arahku
“Ooo.. aku kira ngapain, hehehe” kata Sintia sambil nyengir
“Anak kecil cuma bisa nuduh doang,” kataku sambil menjulurkan lidah
“Ceritanya kamu ngebales omonganku yang tadi nih?” kata sintia sambil menatapku tajam
“Hehehe nggak ding, Cuma bercanda.” Kataku sambil nyengir
Dan akhirnya suasana hening tadi dipecahkan oleh teman-temanku yang sedang menertawakanku juga termasuk Billi dan Sintia.

Hari ini aku dan Sintia tidak berangkat bareng karena hari ini aku diantar oleh kakakku. Saat perjalanan di koridor sekolah aku mendengar sapaan dari seorang pria yang tidak asing.
“Hai..” sapa Billi dengan tersenyum
“eh, hai juga. Tumben kamu datengnya pagi?” tanyaku ke Billi dengan membalas senyumnya
“Seharusnya aku yang tanya itu, kan biasanya kamu yang datengnya siang?” tanyanya balik
“Ooiya, aku lupa. Iya soalnya hari ini aku dianter sama kakakku, kebetulan kakakku hari ini pulang ke Bali.” Kataku memberi tahu
“Emang kakakmu kerja apa sih? Kok baru pulang ke Bali?” kata Billi sambil nyengir
“Kakakku kerja di Surabaya, dia jadi direktur utama di sana.”
“Wow, keren. Berarti hari ini kakakmu bawa oleh-oleh dong?” tanya Billi lagi
“Kamu banyak tanya ya? Ooiya, Kemaren aku ceritain semuanya tentang kamu ke kakakku dan ternyata kakakku juga suka ngoleksi hewan-hewan kayak kamu walaupun kakakku nggak berani megang sih tapi dia suka. Terus kata kakakku pulang sekolah dia mau ketemu kamu, kayaknya kakakku pingin ngeliat koleksimu deh.” Kataku menjelaskan
“Oh ya? Wah berarti bukan Cuma aku yang suka ngoleksi hewan-hewan kayak itu,” katanya sambil tersenyum “berarti kamu pulang sekolah ke rumahku ya?” lanjutnya
“Ya nggak lah, aku pulangnya sama Sintia kan aku udah bilang kakakku ingin ketemu sama kamu. Lagian itu urusan anak laki-laki,” kataku sambil menjulurkan lidah ke arah Billi
“Ya udah deh,” katanya dengan raut muka menyesal
“Kok mukanya langsung berubah sih? Udah deh kita masuk yuk” ajakku
Billi hanya tersenyum kecil ke arahku dan mensejajarkan langkahku dengannya.

Kriiiiiinggg…
“Din, pulang yuk! Masak berangkat pisah pulang juga sih?” kata sintia memohon
“Ya nggak lah, aku juga nggak mau pulang bareng kakakku soalnya dia mau ke rumah Billi buat ngeliat koleksi ularnya Billi,”
“Nah gitu dong, itu baru namanya sahabat. Emang kakakmu suka ngoleksi ular ya? Kok aku baru tahu sih?” kata Sintia penasaran
“Aku juga baru tau kakakku suka hewan-hewan kayak gitu, lagian aku juga nggak terkejut soalnya kakakku juga takut megang.”
“Hahahaha… kok bisa sih? Suka ngoleksi tapi takut megang. Terus kalau mau kasi makan gimana caranya?” tanya Sintia lagi
“Kamu sama kayak Billi ya? Banyak tanya tau,”
“Namanya juga orang penasaran kan pasti banyak tanya lah,” katanya sambil menjulurkan lidah
“Hehehe… Kata kakakku sih dia punya tukang kebun, jadinya dia deh yang setiap hari ngasi makan. Kakakku Cuma bisa ngeliat doang,” kataku sambil nyengir
“Kok bisa?” tanya Billi yang tiba-tiba ikut bicara
“Kamu itu kayak hantu ya? Sering banget tiba-tiba muncul,”
“hehehehe… tadi aku Cuma ngeliat aja kalian lagi ngobrol, kayaknya asik sih makanya aku kesini.” Kata Billi memberi tahu
“Udah deh, kita keluar yuk ntar pintu gerbang sekolah di tutup lagi sama Pak Samin!” ajakku

Sesampainya di gerbang sekolah aku dan Sintia berpisah karena kakakku sudah berada di sepan gerbang sekolah.
“Din, nggak bareng sama kakak?” kata kakakku
“Nggak usah deh kak, aku biar sama Sintia aja. Lagian kakak mau ke rumahnya Billi kan?”
“Apa salahnya sih kamu nunggu bentar? Kakak kan cuman mau ngeliat koleksinya aja kan?” kata kakakku membela diri
“Nggak deh, aku biar sama Sintia aja.”
“Ya udah deh, kamu hati-hati di jalan ya! Kalau di tanya sama mama bilang aja kakak lagi ke rumahnya Billi.” Kata kakakku sambil memakai sabuk pengaman
“oke,” kataku sambil mengancungkan dua jempolku “hati-hati ya kak,” lanjutku
Kakakku mengangguk kecil dan meninggalkan aku dan Sintia di depan gerbang sekolah.

Pagi-pagi sekali Billi SMS aku….

Dear Dinda,
hay, nnti malem qm ada acara gk?
Billi

Tanganku dengan cepat membalas SMS dari Billi…

Dear Billi,
Enggak, emang napa?
Dinda

beberapa menit kemudian balasan dari Billi pun terdengar…
Dear Dinda,
Aq mau ngajak qm Dinner, qm mau nggak? aq mau ngomong sesuatu…
Billi

secepatnya aku membalas SMS Billi

Dear Billi,
Oke, tapi aq ajak Sintia ya?
Dinda

beberapa menit kemudian Billi pun menjawab…

Dear Dinda,
Jangan ajak sapa-sapa ya… aq cuma mau ngomong empat mata aja ma qm… 🙂
Billi

sedang membalas SMSnya Billi, mamaku dan kakakku menyuruhku untuk ke rumahnya Sintia mengantarkan kue kesukaan Sintia.

Dear Billi,
Yaudah deh, aku usahain… aq tunggu jam delapan ya… eh, udah dulu ya aq di panggil ma mama q nih… daaaaa 🙂
Dinda

Jam delapan aku menunggu Billi di depan rumah, dan akhirnya mobil jazz berwarna abu-abu berhenti di hadapanku.
“Udah siap?” kata Billi sambil membukakan pintu untukku
“Udah, makasih.” kataku sambil tersenyum kearah Billi

Di sapanjang perjalanan aku dan Billi bercakap-cakap tentang hal-hal yang nggak penting, dan pada akhirnya tiba di sebuah restoran jepang yang desainnya sangat mewah. setelah itu kami duduk di tempat yang sudah di pesan Billi sebelumnya, kami pun memesan makan dan memulai percakapan yang tidak diduga.
“Din…” kata Billi sambil memasang wajah ragu-ragu
“Iya, kenapa?” kataku sambil menatap Billi
“Aku nggak tau harus ngomong apa, aku nggak bisa nahan semuanya.” kata-kata Billi terputus
“Maksudnya?” tanyaku dengan memasang wajah Bingung
“aku…aku…” kata-kata Billi terputus karena pelayan datang untuk mengantarkan makanan
“Makasih, kamu kenapa Bil?”
“Aku… Aku… suka sama kamu! yah, aku suka sama kamu, Din” kata Billi mantap
“hah? kamu nggak bercanda kan Bil?” kataku bingung
“Nggak, aku nggak bercanda din.” kata Billi sambil mengambil tanganku
Alhasil, ternyata kejadian itu dilihat oleh Sintia sahabatku. kebetulan dia dan keluarganya makan malam di restoran sama sepertiku. lalu, Sintia menghampiriku dan Billi.
“Kamu emang jahat, Din! aku nggak nyangka kamu ngekhianatin aku,” kata Sintia sambil meninggalkan aku dan Billi
Aku nggak mau persahabatku dan Sintia putus hanya karena Billi, dan akhirnya aku mengejar Sintia sampai kami berantem di pinggir jalan. karena perdebatan hebat kami aku pun terpeleset ke jalan dan diserempet oleh motor. aku kira Sintia tidak mau menolongku, tapi ternyata dia tetap menjadi sahabatku yang benar-benar sayang sama aku. dia membawaku ke rumah sakit dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Disaat itulah Sintia tau bahwa dia terlalu seperti anak kecil, dan akhirnya dia menyuruh aku dan Billi bersatu.
“Din, aku baru sadar. Selama ini tingkahku udah kayak anak kecil, mungkin Billi bukan jodohku. Aku mohon kamu terima Cintanya Billi ya,” kata Sintia memohon
“Tapi, aku rela kok Sin. Demi persahabatan aku rela ngasi Billi ke kamu, lagian yang duluan suka sama Billi kan kamu.” kataku sambil memegang tangan Sintia
“Din, apa gunanya sih. Aku pacaran sama Billi, sedangkan Billi nggak suka sama aku? mending kalian jadian deh sekarang,” katanya sambil mengambil tanganku yang penuh luka dengan tangannya Billi
“Thanks ya Sin, kamu memang sahabatku yang paling baik. I LOVE YOU” kataku sambil menggenggam erat tangan Sintia
“I LOVE YOU TOO,” kata Sintia sambil membalas tanganku

Setelah aku keluar dari rumah sakit, aku di jemput oleh Sintia dan Billi. Alhasil sintia mendapat pacar yang lebih dari Billi. Aku pun sangat bahagia karena disinilah aku mulai belajar hal-hal baru yang lebih berkesan untukku, dan mungkin pikiranku dan Sintia pun sama karena lebih baik memilih SAHABAT dari pada CINTA.

SELESAI

Cerpen Karangan: Dinda Lestari
Facebook: Diinda Ituw Lestarii
haiii, aku Kadek Sri Dinda Lestari. bisa di panggil Dinda, aku asli Bali loh… oia aku baru kelas 3 SMP, aku juga punya sahabat yang bernama I Gusti ayu Sintia Utami. bisa di panggil Sintia. kami tinggal di daerah kota Denpasar Selatan, Bali… yang mau kenal aku lebih jauh add aja yah Facebookku namanya Diinda Ituw Lestarii, terus Twitterku @Dinda_lestari03, yang punya Line juga bisa kok namanya IDnya Dinda_l…
thanks yah udah mau baca cerpenku… 🙂
salam kenal,
Dinda Lestari

Cerpen Sahabat Sejati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Wanted: A Boy Friend

Oleh:
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.00, terlihat dari kejauhan Pak Jajang, satpam SMK Sakti Kencana mulai menutup pintu gerbang sekolah. Semakin cepat kukayuh sepeda lipat yang baru dibelikan ayahku

Sepenggal Nama Dalam Kenangan

Oleh:
Malam itu, semilir angin menembus kulit. Membuat tubuh ini semakin menggigil. Orangtuaku berkali-kali telah mengingatkanku, “Jangan sering-sering duduk di dekat jendela, Caca! Berapa kali ibu sudah mengingatkanmu, tapi kamu

Ikatan Terkuatku

Oleh:
“Kamu kenapa, Lun?” tanyaku penuh penasaran. Luna tak menjawabku. Ia hanya lemparkan senyum padaku. Argh! Sial! Ada apa dengannya? Kemarin ia masih begitu semangat dan energik. Bahkan selalu menceramahiku

Salah Sangka

Oleh:
“Bian, temenin gue dong, beli baju… Pliss…”. Ya ampun. Anak ini ya… Nyusahin orang aja kerjanya. Aku mendengus kesal. Mau beli baju buat apa lagi sih? Kan kemaren udah

Awal Kisahku

Oleh:
“Harus gue bilangin berapa kali lagi? Jangan dekati dia. Dia anak haram. Bahkan sampai saat ini, dia gak tahu siapa Ayah kandungnya” Ucapan atau lebih tepatnya hinaan – yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Sahabat Sejati”

  1. firda says:

    lumayan lah apik cerpen e

  2. sabda says:

    wataknya kayak gimana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *