Sahabat Terbaikku, Dita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 3 July 2014

Namaku Kasuki Siska Maharani. Aku punya sahabat bernama Dita Silia Margaretha. Dia adalah anak yang mengidap penyakit kanker. Sedangkan aku, aku adalah anak yang sehat. Setiap hari, Dita selalu minta ke UKS di sekolah kami, karena dia kesakitan. Guru kami Bu Silver memakhlumi hal itu.

Pada suatu hari, Dita tidak turun sekolah. Tepat pada hari ulang tahunku. Aku merasa sangat sedih, tanpa kehadiran sahabatku Dita. Saat absen, Bu Silver memanggil nama Dita Silia Margaretha. Tidak ada yang menjawab atau mengangkat tangannya. Lalu, Bu Silver bertanya kepadaku. “Siska, apakah kamu tahu dimana Dita?” tanya Bu Silver kepadaku.
“Saya juga tidak tahu Bu.” jawabku.
“Baiklah.”

Saat lonceng tanda istirahat berbunyi, semua siswa dan siswi keluar kelas. Kecuali aku dan Tina. Tina adalah anak yang kutu buku. Dia memakai kacamata.
Lalu, aku berlari mendekati Tina yang sedang membaca bukunya yang sangat tebal itu.
“Hi, Tina.” sapaku.
“Ouu Siska ya. Nanti saat pulang dari sekolah kita jenguk Dita yuk!” ajaknya.
“Iya.” jawabku singkat dan jelas.
“Ohh ya Sis, aku menerima informasi dari kakak kelas 6, kalau ternyata Dita itu sedang sakit. Katanya sih penyakitnya kambuh.”
“Masa?” kataku terlonjak kaget.
“Beneran.”
“Kalau begitu nanti kita bawa bingkisan dan barang yang Dita sukai ya.” kataku.
“Siap Bos.” canda Tina. Aku tersenyum. “Akhirnya aku dapat membuatmu tersenyum Siska.” Ujarnya tersenyum.
“Makasih ya Tin.” kataku seraya menjulurkan lidahku.
“Yee, kalo bilang makasih itu sambil senyum dong. Jangan sambil menjulurin lidah.” katanya lagi sambil tertawa kecil.

Tibalah waktu yang aku dan Tina tunggu-tunggu. Ya membeli buah, kue, minuman yang pasti sehat sehat dong. Dan membeli boneka berbentuk beruang yang memegang tanda cinta yang bertuliskan ‘Best Friend Forever’.
“Dita… Dita…” panggil kami.
“Ya ada apa? Ohh Siska dan Tina. Masuk yuk!” seru maminya Dita.
“Tante.” seruku.
“Ya ada apa Siska?”
“Aku mau tanya. Dita sebenarnya sakit apa sih tante?”
“Dita sakit kanker” maminya Dita balik nanya.
“APA!!!” aku hanya berteriak dalam hati.

Saat kami memasuki kamar Dita, kami melihat Dita dengan muka pucat pasi dan terbaring lemah di kasurnya yang empuk. Hatiku sangat terpukul melihat keadaan Dita yang seperti itu. Tanpa sadar aku menitikan air mata.
“Sabar ya Siska.” hibur Tina yang melihatku mau menangis.
“Ya, aku akan terus bersabar, demi Dita.”

Beberapa lama, kami pamit pulang.
“Tante kami mau pulang dulu ya.” pamitku.

Tak terasa hari demi hari pun berlalu dengan cepat. Penyakit Dita kambuh lagi sekarang rambut Dita sudah mau semakin habis.
Pada suatu hari, tepatnya pada hari Sabtu. Suara Pak Kepsek terdengar nyaring sekali. Berkata.
“Anak anakku tercinta. Teman kalian yang bernama Dita Silia Margaretha, telah dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Esa pergi ke surga sana. Dia meninggal tadi malam pukul 22.00 WIB. Karena penyakitnya yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Dan ada surat yang ditinggalkan Dita kepada kalian semua termasuk kepada Maminya, Papinya, Siska, dan Tina. Saya akan membacakan isi suratnya.”

“Teman temanku yang tersayang. Aku sangat sedih meninggalkan kalian semua. Tapi, Tuhan Yang Maha Esa sebentar lagi memanggilku ke atas sana. Makasih untuk mami dan papi yang sudah merawat aku dari masih bayi sampai saat ini. Juga untuk Siska sahabat terbaikku di seluruh dunia. Yang selalu memperhatikan aku dan menyayangi aku. Begitu juga Tina yang selalu mengajari aku Matematika dan memberi contekan kepadaku saat aku tidak bisa mengerjakan soal tersebut. Teman temanku yang berada di SDN Pelita. Makasih sudah jadi teman yang sangat menyayangi aku.”

“Itulah isi surat dari Dita terima kasih.”

Maminya, Papinya, aku, Tina, Bu Guru, dan semua teman temanku yang bersekolah di SDN Pelita meangis.
Dita, kau akan selalu menjadi teman terbaikku seumur hidupku. Walau kita sudah berbeda dunia.

Saat pemakaman Dita, aku menangis. Lalu aku melihat seorang anak berambut panjang di belakang batu nisan yang mirip sekali dengan Dita. Anak itu berkata dengan suara pelan “Siska, walau kita sudah berbeda dunia. Kita akan selalu menjadi sahabat. Dimana pun, kapan pun, dan selamanya. Jadi jangan menangis. Nanti aku tidak bisa tenang di duniaku yang baru.” Lalu, anak itu yang ternyata adalah Dita menghadap ke mami dan papinya, seraya berkata lagi kepadaku “Siska, aku minta tolong. Bilanglah kepada kedua orangtuaku. supaya merelakan aku pergi ke alam sana. Tolong Siska. Karena hanya kamu yang dapat melihatku.” Aku lalu mengangguk kecil. Dita lalu menghilang entah kemana.

Setiap harinya aku pergi ke taman, tempat aku dan Dita pertama kali bertemu. Dan setiap harinya juga aku duduk di bawah pohon yang amat rindang. Setiap aku melihat ke sampingku ada yang berbisik “Jangan menangis dan bersedih. Aku akan selalu berada di dekatmu.” Dan setiap ada yang berkata begitu aku selalu melihat anak berambut panjang tersenyum padaku yaitu Dita sahabatku.
Setiap aku melihat itu aku langsung tersenyum bahagia. Anak itu pun ikut tersenyum lalu menghilang entah kemana.

Cerpen Karangan: Ivana Angelita
Facebook: Ivana Angelita

Cerpen Sahabat Terbaikku, Dita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Destiny Friend

Oleh:
Fajar itu menceritakan kisah perjalanan kita Ada tawa renyah mengantar kebersamaan ini Merangkai alur kisah. Membingkai pertemuan Membentuk jalinan kasih. Pesona persahabatan Cinta, Adalah satu kata yang menjadi pijar

Sepatu Kaca

Oleh:
Ini hari minggu. Aku dan Kak Sherly sudah janjian untuk bertemu di taman kota. Kami berdua sudah berencana untuk shooping di Mall. Setelah puas bermain di Timezone, kami pergi

The Rainbow Express

Oleh:
Jessie merasa bahwa dialah wanita yang paling beruntung di dunia. Mungkin ada benarnya, karena ayahnya adalah seorang pebisnins sukses, dilahirkan dengan wajah cantik, pintar, dan juga populer. Berbeda dengan

Hmm…

Oleh:
Terpaku membisu dalam keheningan malam, ingin rasanya ku menjerit dalam kesunyian, namun apa daya. Untuk apa ku menjerit dalam kesunyian, tak akan ada pula yang dapat mendengar jeritanku meski

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sahabat Terbaikku, Dita”

  1. Sintina Velolina says:

    Ditaaaa tidakkk. sedih banget. aku suka. baguss banget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *