Sahabat yang Tak Kusadari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 July 2019

Namaku Putri, umurku 14 tahun. Aku menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) tepatnya kelas 9.

Aku dikenal seorang pendiam di sekolah, anak yang tak mau bergaul dan cupu! Sebenarnya, aku bukan tak mau bergaul… Hanya saja, aku takut tak ada yang mau berteman dengan anak cupu sepertiku.

Di kelasku ada tiga perempuan yang hitz di sekolah, yaitu Wini, Geta dan Lia. Mereka semua cantik, pintar dan anak anak yang kekinian (bahasa zaman sekarang), berbanding terbalik denganku yang culun dan cupu. Dan aku tak pernah berani berbicara pada mereka.

Mereka cantik, pandai dan anak kekinian, tapi pasti mereka tinggi hati. Dan pasti mereka tak mau berteman dengan anak cu.. “Hoii..” tiba tiba ada suara yang mengganggu lamunanku. Aku menoleh ke belakang dan ternyata mereka adalah 3 perempuan yang sedang dalam lamunanku. Aku segera menjawab “Ada apa?” kemudian Geta berkata “Tidak apa apa, memangnya tidak boleh ya menyapamu?” “Tentu saja boleh” jawabku. “Lalu kenapa kamu seperti tidak suka kalau kami sapa?” kata Lia. “A a.. Aku hanya kaget” jawabku gugup. “Ohhh, makanya siang siang bolong gini jangan melamun cupuuuu!” kata Wini sambil mengacak-acak rambutku. Sejujurnya aku kesal dia mengacak-acak rambutku, tetapi aku tau dia seperti itu dan berkata begitu hanya bercanda bukan mengucilkan aku. Aku berkata dalam hati “kenapa mereka tiba tiba begini padaku?”.

Tiba tiba mereka bertiga menarik lenganku, jujur aku takut. Berbagai dugaan negatif muncul dalam pikiranku “Mereka pasti ingin membullyku habis habisan, atau aku akan dipermalukan? Atau mereka akan menyuruhku membuat lelucon agar mereka tertawa puas? Atau, atau, atau…” itu sangat menggangguku. Hingga akhirnya kami sampai pada tempat yang telah mereka tentukan. Aku bingung. “Hahh, Kantin? Untuk apa kalian membawaku ke kantin?” tanyaku, lalu mereka “kamu akan mentraktir kami makan, karena kamu kan sudah bergabung nih dengan kami, gapapa dong traktir” “Apa? Bergabung? Sejak kapan? Anak cupu sperti diriku bergabung dengan kalian yang..” Wini memotong bicaraku “sudahlah, kamu bergabung dengan kami mulai saat ini, kalau kau cupu emang kenapa? Kamu itu lucu, polos, bukan cupu, emang kami sudah sempurna? Kan tidak putriii..! Sudahlah udah laper nih, makan yuk.” Dan aku pun berhenti menanyakan 1001 pertanyaanku, hingga aku mentraktir mereka makan. “Ternyata mereka baik dan tidak tinggi hati” pikirku.

Saat jam pulang sekolah mereka menghampiriku lagi dan mengajak pergi ke taman. Di taman mereka menjawab semua pertanyaanku. Ternyata sudah sejak lama mereka ingin mengajakku berteman tetapi aku selalu menghindar dari mereka. Ya memang benar, karena aku kira aku tak pantas bergabung dengan mereka. Dan mereka tak berpendapat sama sepertiku. Mereka bilang mereka sudah lama menganggapku sebagai sahabat mereka. Dan ternyata mereka selalu menjagaku dari orang orang yang usil.

Dan sekarang, barulah aku menyadari bahwa mereka selama ini adalah yang selalu menganggapku sahabat meskipun kami belum pernah bersama. Mereka adalah sahabat yang tak kusadari yang sudah sejak lama peduli padaku.

Cerpen Karangan: Angelina Putri Purba
Blog / Facebook: Rehanguys[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Sahabat yang Tak Kusadari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Kebaikan Mendatangkan Ujian (Part 2)

Oleh:
Kring, kring, kring. Bunyi suara jam weker membangunkanku dari tidurku. Matahari menyilaukan pandanganku saatku membuka mata. Aku melihat ke arah jam, jam menunjukkan pukul enam. Biasanya Kakak selalu membangunkanku

Menggapai Mimpi

Oleh:
Regina Cantika, atau yang biasa dipanggil Gina, merupakan siswi SMP Pelita, salah satu SMP swasta elit di Jakarta. Gina adalah seorang gadis berwajah manis, cukup pintar, dan ramah kepada

Sahabat Yang Terpisah

Oleh:
“Pokoknya aku nggak mau digituin, Ra! Please!” teriakku keras. “Oke, tapi kalau begitu pertemanan kita putus sampai sini!” teriak Gita tak kalah sengit. Aku menyeringai, “Okelah, deal!” Yah, begitulah

Tak Lekang Oleh Waktu (Part 3)

Oleh:
“Berapa biayanya, Dokter Lim?” tanya Rain. “50 ribu,” jawab Dr Limbad sambil tersenyum. Joe mengangkat alisnya. Rain kemudian mengeluarkan seluruh uang hasil yang mereka dapatkan tadi, dan menyerahkannya kepada

Perjuangan Risma Ayu

Oleh:
Di sebuah sekolah elit di Jakarta, ada murid miskin yang bisa bersekolah di sana karena mendapat beasiswa, ia bernama Risma Ayu dan ia adalah anak yang sangat pintar. Sekarang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *