Sahabatku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 6 August 2015

Pada kenyataannya Tini sudah tidak lagi mencampuri urusan Cici. Tapi Tini juga tidak bisa meninggalkan Cici begitu saja. Apalagi Tini sudah terlanjur sayang kepada Cici. Tini sudah menganggap Cici sebagai keluarganya sendiri. Apapun yang dilakukan Cici selalu membuat Tini merasa khawatir, belum lagi cacian dari orang-orang yang selalu menghampiri Cici. Padahal Cici sama sekali tidak mempedulikan kebaikan hati Tini. Tetapi karena terlanjur sayang pada Cici Tini tidak mempedulikan semua itu, bahkan ia menyadari Cici hanya menganggapnya sebagai pelengkap penderita saja.

Sebelumnya Cici bukanlah orang yang seperti itu, Cici bahkan menganggap Tini sebagai orang yang penting dalam hidupnya. Semua berubah setelah Cici berteman dengan Ricky.

Pada tahun sebelumnya, ketika kenaikan kelas. Tini tidak sengaja memilih jurusan yang sama dengan Cici. Pada saat itu mereka belum terlalu akrab, bahkan mereka jarang sekali berbicara hanya pada saat-saat penting saja. Tini sebangku dengan Yani, satu-satunya orang yang mau duduk di samping Tini.

Semenjak kelas 1 Tini jarang sekali berbicara pada teman sekelasnya, walaupun disuruh oleh guru dia tetap enggan untuk mengeluarkan suaranya. Itu sebabnya jarang ada orang yang menyadari kehadirannya. Sewaktu diajak sebangku oleh Yani pun ia sangat terkejut, dia tidak pernah mengira bahwa akan ada orang yang berbaik hati kepadanya seperti itu. Walaupun pada akhirnya Tini bisa bersosialisasi dengan baik di kelasnya.

Memang awalnya sulit baginya untuk berkomunikasi pada teman sekelasnya kecuali dengan Yani. Tini melakukan banyak hal untuk menarik orang–orang yang duduk di sekitarnya. Cara itu cukup ampuh karena banyak yang mulai menyadari kehadiran Tini saat itu. Tapi lama-kelamaan sikap Tini yang seperti itu membuat teman-temannya jengkel dengan sikapnya itu.

Ketika Tini mulai dekat dengan Cici, Tini mulai membuka diri terhadap teman-temannya yang lain dan menjadi tempat curhatan bagi teman-temannya. Mulai dari Yani yang sering curhat kepada Tini. Yani bahkan sering menangis ketika curhat kepada Tini. Pernah suatu hari Yani menangis ketika tiba di sekolah.

“Yan kamu kenapa?”, tanya Tini kepada Yani.

Yani terdiam untuk beberapa saat, kemudian ia kembali menangis. Tini jadi terpaku melihat Yani yang seperti itu.
“Tin sebenarnya aku salah gak ya?”. tanya Tini dengan wajah murung.
“Soal apa Yan?” Tini perlahan mendekati Yani.
“Jumi, Jumi Tin. Jahat banget dia samaku” jawab Yani sambil menangis.
“Jumi kenapa?” Tanya tini penuh curiga.
“Teganya dia mengambil pacarku Tin, ternyata dia orang yang seperti itu.”
“Ah masa, dia kan orangnya baik terus ramah lagi, kayaknya gak mungkin dia berbuat kaya gitu” jawab Tini setengah kaget.
“Ia Tin aku juga gak nyangka dia kaya gitu, ternyata selama ini mereka itu udah dekat, terus si Jumi akhirnya nyuruh pacarku mutusin aku” air mata Yani pun membanjir keluar.

Tini tidak menyangka ada temannya yang seperti itu. Teman yang menusuk teman lainnya dari belakang. Dari cerita Yani, Tini menyadari untuk tidak melihat orang dari luarnya saja, tetapi juga dari dalamnya. Tini pun terus membujuk Yani agar tidak menangis lagi dan melupakan pacarnya itu. Walaupun Yani terlihat tenang Tini menyadari bahwa masih ada sesuatu yang mengganjal di hati Yani.

Kini Tini mulai merubah pandanganya dengan teman sekelasnya. Hingga suatu hari Tini memperhatikan temannya yang lain, saat itulah Tini mulai menyadari kesulitan yang dihadapi oleh Cici. Tini pun mulai untuk mencari tahu masalah Cici. Tini mengajak Cici untuk duduk bersama dan menanyakan masalah Cici. Cici menceritakan masalah yang dihadapinya sambil menangis.

Masalah Cici adalah dia dikhianati oleh sahabatnya sendiri yaitu Diana. Sama seperti Yani sahabat Cici, Diana mengambil orang yang disukainya. Tetapi laki-laki yang disukai Cici itu menaruh perasaan kepada Diana. Menurutku itu wajar saja karena mereka telah berteman lama, apalagi Diana orangnya sangat manis dan lucu laki-laki mana sih yang tidak suka dengan wanita seperti itu.

Tini sabar mendengarkan keluhan Cici dan selalu memberi solusi atas maslah Cici, sampai akhirnya ia melupakan laki-laki yang disukainya itu. Kenyataan itu membuat Tini dan Cici semakin dekat. Tapi semua berubah ketika mereka naik kelas. Cici mendapat teman baru yang bernama Ricky. Awalnya mereka cuma berteman biasa saja tapi lama-kelamaan Cici mulai melupakan Tini.

Dia juga mulai berteman dengan beberapa orang dan membuat grup dengan mereka. Cici sangat dekat dengan mereka sehingga benar-benar melupakan Tini. Tapi Tini masih memberi solusi dari masalah yang dihadapi oleh Cici. Tini masih sayang kepada Cici walaupun Cici tidak menganggap keberadaan Tini lagi, bahkan Tini masih terbuka terhadap Cici walau Cici merasa entah bagaimana.

Ricky teman Cici akhirnya mempunyai seorang pacar. Tini memberi saran kepada Cici agar menjaga jarak dengan Ricky karena tidak enak dengan pacarnya Ricky, belum lagi orang di kelas itu mulai menjelek-jelekkan Cici. Tini tidak tahan dengan semua ejekan teman-teman sekelasnya terhadap Cici tapi Cici malah tidak peduli dengan semua itu.

Sampai akhirnya Ricky putus dengan pacarnya. Semakin banyak orang yang menjelekkan Cici semakin sakit hati tini mendengarnya.
Ricky dan Cici akhirnya berpisah dengan teman-teman satu grupnya. Cici sempat cerita dengan Tini mengenai hal itu dan Tini memberi saran kepada Cici.

“Ci sebaiknya kamu gak usah dekat-dekat dengan Ricky lagi, belum lagi teman-temanmu tidak menyukai kamu yang seperti itu” tegas Tini.
“Aku udah coba untuk menjauhi dia tapi dia tetep aja mau deket sama aku” jawab Cici sedih.

Tini tidak mempercayai hal itu karena sejauh pandangannya Cicilah yang selalu mendekati Ricky. Cici menganggu Ricky ketika Ricky sedang belajar, memanjakannya dengan mengerjakan PR milik Ricky, menyediakan minum ketika Ricky kelelahan, memanggil-manggil Ricky ketika dia sedang sibuk dengan sebangkunya. Bukankah itu artinya Cicilah yang selalu mendekati Ricky.

Ketika Cici sendiri Tini selalu mengajak Cici untuk pergi bersamanya agar tidak kesepian lagi. Tapi Cici selalu menolak Tini, berbeda jika Ricky yang mengajak Cici. Sesibuk apapun ia Cici pasti akan menyempatkan diri untuk bersama Ricky.

Mungkin Cici telah lupa siapa yang membantunya keluar dari masalahnya, bukannya Tini mengharapkan Cici jadi baik padanya, hanya saja Tini berharap untuk tidak dicuekin oleh Cici dan dia bisa bergaul dengan teman lainnya. Tapi apa boleh dikata mungkin saja Cici sangat menyukai Ricky sehingga tidak bisa meninggalkannya.

Tini akhirnya menyadari bahwa Cici hanya memanfaatkannya. Seperti, habis manis sepah dibuang. Tapi Tini menganggap itu hanya hal yang biasa karena dia biasa dikhianati oleh temannya. Setidaknya Cici menyadari hal seperti itu tidak akan abadi.

Cerpen Karangan: Taufik Akbar Wibowo
Facebook: Taufik Akbar Wibowo (Aseng)

Cerpen Sahabatku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berawal Dari Sebuah Mimpi

Oleh:
Ketika aku memegang pena ini, dan menuliskanya di buku catatanaku rasanya aku begitu nyaman ketika aku menulis apa yang sedang aku pikirkan dan yang sedang aku rasakan, mungkin bagi

Kau dan Sahabatku

Oleh:
Namaku Cindy. Usiaku 19 tahun. Dan aku kuliah di salah satu Universitas yang ternama di Medan. Hari-hariku selalu ditemani rasa kerinduan kepada Rey, orang yang dulu pernah hampir saja

Cinderella Dadakan

Oleh:
Syadza Stephanie. Itulah nama gadis berkacamata, rambut dikucir kuda, memakai seragam ala SMA, membawa beberapa lembar kertas yang dijepit pada papan ulangan, juga sebuah bolpoin hitam. Ia tampak sibuk

Akhirnya Aku Resmi Jadi Mahasiswa

Oleh:
Mataku tampak berbinar-binar saat aku melihat tulisan ‘SELAMAT! ANDA DITERIMA DI UNIVERSITAS JAMBI’ muncul di layar komputerku. Itu membuktikan kalau aku lulus seleksi SBMPTN di UNJA, universitas terbesar di

Aku Yang Ingin Jadi Bagian Mereka

Oleh:
Saat jam istirahat tiba, aku lebih memilih duduk sendirian di taman belakang sekolah. Aku duduk di bawah pohon sambil menatap siswa siswa lain yang sedang asyik bergembira bersama sohib-sohibnya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *