Sahabatku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 13 December 2017

“cepetan Nia! nanti kita ditinggal” tegur sahabatku Dian yang lari dengan memegang tanganku dengan erat.
Setelah sampai di dekat angkot aku dan Dian segera menaiki angkot tersebut dan kemudian duduk.

“Kalian itu dari mana sih, capek tau nunggu lama, mana panas lagi” ujar temanku, Mawar.
“Iya nih, kalian hampir ditinggalin tau nggak” lanjut teman angkotku.
“Iya deh maaf, tapi yang salah kan bukan kita tapi Bu Wana tuh yang salah” ucap sahabatku Dian
“Iya tuh, masa udah jam pulang masih aja bilang ini itu” lanjutku dengan nada kesal.
“Udah, jangan pada ribut. Yang penting semuanya udah naik, ayo pak supir jalan aja, perut gue ngedemo nih di dalem.” ujar temanku Rian. Dia adalah salah satu temanku dari SD sampai sekarang. Sekarang aku udah kelas IX di sekolah favorit.
Tidak lama kemudian Angkot yang kami naiki pun melaju dengan perlahan.

Sesampai di rumah aku pun langsung melemparkan tubuhku ke kasur.
Setelah beberapa menit, aku mendengar suara seseorang memanggilku dari luar. Tidak menunggu lama aku pun keluar untuk melihat orang itu.

Setelah keluar
“Eh Rian ada apa?” ucapku dengan agak kaget karena tidak biasanya Rian datang ke rumahku.
“Nggak, cuma mau ngajak jalan aja, mau kan?”
“Jalan? ke mana?”
“Ke rumah Sri. Kamu nggak tau kalau hari ini kelas kita reuni kan. Jadi temen temen nyuruh aku untuk jemput kamu.”
“oh, kalau gitu aku izin dulu ya”
“ok”

Setelah bersiap dan minta izin aku pun berangkat dengan Rian. Jujur, ini pertama kali aku jalan bareng cowok dan apa lagi Rian itu, cowok yang aku sukai dari dulu, tapi nggak ada yang tahu kalau aku suka sama dia.

Karena rumah Sri dekat, tak berapa lama aku dan Rian pun sampai di rumah Sri. Dan sudah banyak teman teman SD ku di sana, memang sih reuninya terlambat banget tapi seneng juga ketemu lagi sama teman SD.

“Hi Nia, apa kabar?” sapa temanku
“baik, kalian?”
“baik lah”

Beberapa jam kemudian, sinar matahari mulai tenggelam. Teman temanku pun sudah pulang. Aku pun pamit ke Sri untuk pulang juga.

“Aku antar kamu pulang ya?” ujar Rian mengagetkanku
“Nggak usah rumah aku kan dekat”
“Ayo gue anterin aja, kan gue yang bawa lo ke sini”
“ya udah deh, kalau lo maksa”
Aku pun diantar Rian pulang, sesampai di rumah aku pun berterimah kasih kepadanya dan kemudian dia pulang.

Keesokan harinya pagi seperti biasanya aku segera ke sekolah dan menjalani rutinitasku sebagai pelajar. Aku dan Rian nggak satu kelas jadi kita jarang komunikasi. Namun, bila saat shalat Zuhur aku selalu ingin lewat di depan kelasnya dia agar aku bisa lihat wajahnya, sahabatku Dian pun bingung mengapa aku selalu ingin lewat di sana.

“Nia, udah mau zuhur tuh yuk kita ke masjid” ajak Dian
“ok, tapi…”
“iya, kita lewat dikelas IX C” potong Dian sebelum aku selesai bicara
Aku pun tertawa melihat wajahnya

Aku pun berjalan menuju Masjid. Saat aku berada di depan kelas IX C aku tidak sengaja menabrak seseorang, dan ternyata dia itu adalah Rian. Jantungku pun berdetak kencang
“maa.. af.”
“iya nggak masalah, kamu baik aja kan” balasnya
“i..ya”
“Nia cepet nanti terlambat ke masjid” Bisik Dian
“Oh iya ayo” kataku sambil melanjutkan langkahku menjauh dari Rian.

Setelah shalat aku bertemu lagi dengan Rian
“Nia kamu mau nggak sepulang sekolah nanti jalan sama aku” ajak Rian
“Boleh tapi ke mana?”
“Ke taman kota”
“oh ya udah aku tunggu jam 3 ya” ucapku

Tak lama kemudian jam 3 tepat dia menjemputku dan kami pun pergi ke taman
Sesampai di taman kami berbincang banyak tentang sekolah dulu, kemudian
“aku mau ngomong sesuatu sama kamu” kata yang diucapkan Rian
“apaan?”
*kamu mau nggak jadi sahabat aku”
“boleh”

Sejak saat itu aku dan Rian bersahabat dan dekat banget, Dian pun mau bersahabat dengan Rian. Aku seneng banget bisa sahabatan dengan cowok yang aku suka.

Cerpen Karangan: Nrl Eb

Cerpen Sahabatku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bersama Tya

Oleh:
“Sebentar ya mba, antri urut nomor absensi.” kalimat yang keluar dari mulut Vino saat seorang maju menuju meja tanda tangan kontrak. Ya hari itu tandatangan kontrak untuk satu proyek

Salah (Part 4)

Oleh:
Sesampainya di rumah, aku menangis sejadi-jadinya. Aku tidak tau kenapa aku menangis, aku tidak tau apa masalahku. Sebenarnya aku tidak ingin menangis. Tapi aku bingung, mengapa hatiku sakit sekali.

Bintang dan Angkasa

Oleh:
Tania menghela napas, lagi. Entah hari ini sudah keberapa kalinya, ia juga tidak tahu. “Hey,” Tania tersentak. Semua hal yang ada di pikirannya mendadak lenyap saat sebuah suara memasuki

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *