Sahabatku (Bukan) Cintaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 5 June 2017

Hari ini merupakan hari yang kurang baik bagiku. Aku bekerja di salah satu kantor media massa sekaligus online sebagai editor juga pencari berita. Pada suatu hari terjadi insiden di kantor kami GEBRAK… bunyi dentuman pukulan suara meja menggaung di ruangan yang tidak terlalu besar itu. “ANDA SAYA PECAT!!!” Seru seorang bapak paruh baya. Pakaiannya rapi, memakai jas dan dasi serta lagaknya yang sedikit arogan memang menunjukkan bahwa dialah bos di tempat tersebut, sembari melotot dan mengacungkan jari telunjuk ke hadapan mukaku. “Baik Pak, saya akan keluar, tidak masalah sama sekali, jika itu memang maunya Bapak.” ucapku dengan nada yang tidak kalah tegas, lalu aku pun beranjak dari kursi dan meninggalkan ruangan itu. Kemudian aku bergegas meninggalkan ‘mantan’ kantorku tersebut.

Sesampainya di rumah, aku membuka laptop, lalu memutar lagu-lagu di playlistku, kemudian membuka media sosial, meng-update status, melihat-lihat linimasa Instagram, Facebook, Line, Path, dan Twitter. Beberapa saat kemudian, muncul notifikasi terdapat pesan masuk di Line. Oh iya, perkenalkan, namaku Remi. Aku adalah seorang sarjana lulusan botani atau yang lebih dikenal sebagai ilmu tumbuhan, namun dikarenakan memiliki ketertarikan dengan dunia menulis, aku memutuskan untuk bergabung dengan kantor media dengan posisi sebagai penulis, walaupun jenis pekerjaanku memang sangat berlawanan dengan keilmuan selama aku berkuliah.

Ternyata, itu adalah Riani. Valeriani adalah nama lengkapnya, dia adalah teman semasa SMA ku, ya bisa dibilang kami bersahabat. Ya, semenjak kuliah di jurusan botani, namanya Riani, Valeriani, valerianifolia tepatnya, menjadi terdengar tidak asing lagi di telingaku, karena itu merupakan nama salah satu tumbuhan yang satu famili dengan bunga matahari. “Rem, ada apa? Cerita cerita dong.” Tanyanya di pesan. Lalu aku pun menjawab “Ya gitu deh Ri, panjang ceritanya.” “Ih apaan sih Rem, kok rahasiaan rahasiaan.” Balasnya. Kemudian kubalas lagi “Duh, gimana ya nyeritanya.” “Cie… akhirnya, masalah percintaan ya?” Tanya Riani. “Ah elah Ri, kali deh masalah yang ginian lagi, bukan kali. Masalah pekerjaan sih intinya.” Jawabku. “Udah deh kita meet up yu, biar enak nyeritanya, gimana?” “Oh boleh deh, iya juga, mau kapan nih?” balasku. “Hmmm… malam ini gimana? Agak maleman aja, di tempat ngopi biasa aja ya.” “Okay deh kalo gitu, sampai nanti malem, see you.” “sent sticker”. Begitulah kami, seperti tidak ada jarak, walaupun semenjak kuliah, kami sangat jarang sekali bertemu. Riani berkuliah di jurusan Sosiologi dan sekarang bekerja di sebuah lembaga masyarakat dalam bidang kesejahteraan sosial. Kerjaan dia memang cukup sibuk, sering bepergian ke luar kota dalam rangka bakti sosial atau penyuluhan dan lain-lain. Akhirnya, waktu malam pun tiba, aku pergi ke tempat kami janjian, mengendarai sepeda motor matic yang selalu setia menemani kemanapun diriku bepergian.

Pada saat itu, cuaca memang agak sedikit gerimis, turun hujan rintik-rintik yang lama kelamaan cukup menderas, walaupun intensitasnya tidak tinggi. Akhirnya setelah berkendara selama kurang lebih 20 menit, aku sampai di cafe tempat kami biasa ngopi. Kemudian aku mengecek hp, ada pesan masuk dari Riani bahwa dia telah sampai lebih dahulu kira-kira 10 menit yang lalu. Ya memang begitulah dirinya, selalu datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan, sedangkan aku, selalu terlambat.

Setelah mencari-cari di pelosok kafe, akhirnya aku melihat Riani dengan balutan kerudung biru donker yang agak menjuntai, baju kardigan hitam dengan lengan sontog, celana jeans ditambah kacamata berframe sedikit tebal, ternyata kini dia lebih memperhatikan penampilannya dibandingkan saat masih bersekolah atau berkuliah. Saat kami saling melihat, dia pun langsung mengangkat tangannya sambil memanggil namaku “Remy…” Lalu, aku berjalan ke arah mejanya, duduk, lalu berbasa-basi “Hai Ri, apa kabar? Udah setahun lebih ya kita nggak ketemuan tatap muka gini.” “Alhamdulillah baik Rem, kamu gimana? Iya nih, lama banget.” Jawabnya. “Alhamdulillah baik juga. Eh btw jalan-jalan mulu kamu Ri, sibuk banget.” Sahutku, kemudian Riani menjawab sekaligus bertanya “Iya Rem, biasa, tuntutan pekerjaan, hehe. Ohiya ngomong-ngomong gimana kamu kerjaan, katanya mau cerita tentang kerjaan, emang ada apa Rem?” “Hooooh, aku dipecat, gitu inti ceritanya Riani.” Jelasku. “Loh kok bisa? Kenapa Rem?” tanya kembali Riani. “Ya gitu deh Ri, panjang ceritanya, pokoknya aku sama bos nggak sejalan, intinya aku nggak nurutin kemauan bos.” Ujarku dengan wajah datar. Riani memandangiku dengan mata yang penuh dengan cahaya, lalu berisyarat seolah dia berkata, yang sabar ya Rem, kemudian, benar saja, tak lama setelahnya, ia mengatakan kata-kata yang sama persis dengan apa yang kupikirkan “Yang sabar ya Rem. Oh iya, kita belum pesan, pesan dulu aja yuk.” Ucap Riani sembari menulis pesanannya, yang diikuti oleh diriku kemudian. Lalu, percakapan kami kembali berlanjut, dengan Riani yang lebih banyak aktif.

Hingga muncul pertanyaan yang sering ditanyakannya sejak bersekolah dulu, dan pertanyaan ini adalah satu-satunya pertanyaan yang paling tidak bisa kujawab selama ini. “Rem, kita kan udah kenal lebih dari 7 tahun nih, masa kamu nggak pernah terbuka masalah cinta-cintaan sih sama aku, masa selama itu pula kamu nggak pernah ngeceng siapa-siapa, ayo dong jujur sama aku, cerita masalah ini.” “Kamu Ri…” jawabku. Oh tidak, aku keceplosan. Rahasia yang selama ini bersemayam di dalam lubuk hati kecilku yang paling dalam pun terkuak juga. Jantungku berdegup kencang diikuti keringat dingin yang mengalir di sekitar kepalaku dan membasahi punggung, dada, serta telapak tanganku. Terlalu banyak beban masalah yang terjadi pada hidupku dalam sehari ini, jadi, tanggung saja kuhabisi semuanya. “Hah, aku Rem? Gimana, aku nggak ngerti maksud kamu.” Tanya Riani dengan wajahnya yang penuh dengan kebingungan. “Ya kamu Riani. Tadi kan kamu nanya siapa, ya kujawab.” Ujarku dengan sedikit terbata-bata dan dalam ketegangan tinggi. “Jadi, selama ini…” “Ya, jadi selama ini aku selalu padamu Ri. Aku udah coba buka hati ke perempuan lain, tapi aku nggak bisa, ujung-ujungnya aku selalu kebentur kamu lagi kamu lagi.” Tegasku. “iya tapi kamu tahu kan…” “Iya, aku tahu, kalau kamu masih pacaran sampai sekarang sama salah satu teman sealmamater SMA kita kan, sampai sekarang. Tapi kamu juga mesti inget Ri, kamu bilang kamu nggak akan pacaran, aku hargai itu, aku tahan, aku nunggu hingga saat yang tepat kalo emang kamu nggak mau pacaran, kita bisa ke jenjang yang lebih serius, tapi aku sadar, apa daya, kita cuma anak sekolahan saat itu, yang masih belum saatnya untuk itu, mungkin saat sudah cukup dewasa nanti baru kukatakan hal seperti ini. Tapi nggak lama setelah itu, kamu terima cinta dia semudah itu, bahkan masih terjalin hingga detik ini.” Aku mulai lepas kendali saat mengatakan kata-kata itu. Kulihat wajah Riani yang biasanya berseri dan bercahaya kini terlihat pucat pasi, matanya sayup dan tergenang air mata, bibirnya beku, lidahnya kaku seolah tidak bisa digerakkan, pundaknya naik akibat dari dadanya yang sesak. Pesanan kopi pun datang, aku yang memesan hot vanilla latte langsung kusambar yang nyatanya membuat jantung ini semakin berdetak kencang dan memanaskan suasana. Riani dengan pesanan favoritnya, ice caffe latte tak luput dari seruputannya.

Setelah terjebak di suasana canggung, akhirnya Riani angkat bicara sambil menitihkan air mata “Aku mohon maaf yang sebesar-besarnya Rem, aku ngerti maksud kamu, aku bisa rasain kekecewaan kamu ke aku, tapi rem, sekali lagi aku minta maaf, aku nggak bisa, bagi aku, kamu adalah sahabat terbaikku di dunia ini, lebih dari siapapun.” “Tapi kamu lebih dari sekedar itu bagi aku Riani.” Dengan penuh kesesakan aku mengucapkannya. Bukannya mereda, tangisan Riani semakin pecah, air matanya mengalir deras di lekuk pipinya, wajahnya yang putih itu justru memerah setelah sebelumnya pucat. Aku tak mengira bahwa ucapan-ucapanku akan berakhir seperti ini. Blunder memang. Suasana menjadi keruh, gelap, kaku dan semakin canggung.

Sehabisnya minuman kami berdua, kami secara bersamaan berdiri lalu meninggalkan kafe tersebut tanpa sepatah kata yang terucap. Sesaat sebelum berpisah, aku memberanikan diri untuk berkata sesuatu kepadanya, walaupun sedikitpun tak berani kutatap wajahnya “Riani, kamu balik aman kan?” “Aman kok Rem, aku bawa mobil.” balasnya. “Ya, ok deh kalau begitu, hati-hati ya.” “Sip, kamu juga hati-hati ya.”. Aku curi-curi saat percakapan itu pun melihat bahwa Riani masih menatap diriku, sekalipun aku memalingkan wajahku dari dirinya. Kami pulang menaiki kendaraan masing-masing.

Sesampainya di rumah, tanpa pikir panjang aku langsung rebahan di tempat tidur, dengan mata yang terbuka nan perih, serta nafas yang berat karena sesak. Entahlah, gusar hati ini rasanya, tidak terasa sedikitpun kantuk pada diriku, mungkin karena produksi adrenalin yang berlebihan karena melakukan sesuatu yang sangat ekstrem. Setelah kulihat jam, waktu menunjukan pukul 3 pagi. Sudahlah, aku tidak tidur hari ini, kemudian, kubuka laptop lalu membuka situs-situs media sosial, melihat-lihat beranda, juga menuliskan tentang keluh kesahku di kolom status. Bosan, tak ayal aku bermain game Football Manager, untuk menghilangkan seluruh penat ini.

Setelah beberapa pertandingan, adzan subuh berkumandang. Aku bergumam, oh baiklah, kapan lagi aku shalat subuh tepat waktu, biasanya paling cepat pukul 5, itu pun jarang sekali, karena seringnya antara pukul setengah 6 hingga pukul 6. Segera kubergegas mengambil air wudhu kemudian melaksanakan shalat subuh, walaupun tidak di masjid, melainkan di kamar. Selepas melaksanakan shalat subuh, entah mengapa tetiba jiwaku menjadi seperti lega, plong, ringan, sayup kantuk dari mataku juga mulai terasa, ya mungkin ini hanyalah kebetulan semata, alhasil aku mencoba untuk tidur dan saat memejamkan mata, enak rasanya, hilanglah kesadaranku tak lama setelahnya. Hari itu, aku terbangun kira-kira pada pukul 11, lumayan juga untuk meng-cover waktu tidurku ini. Hari ini adalah hari kebebasan bagiku, setidaknya dalam beberapa bulan ini. Aku memutuskan untuk beristirahat hari ini, sehari saja, sambil menyiapkan berkas untuk melamar kerja ke salah satu instansi lembaga bimbingan belajar sebagai pengajar. Aku tidak membicarakan hal ini kepada orang tuaku, biarlah, yang penting aku bertanggung jawab atas hidupku ini.

Keesokan harinya, aku melamar ke lembaga bimbingan belajar tersebut, dan aku langsung diterima saat itu juga, walaupun hanya menjadi guru piket, sebelum menjadi guru tetap. Tak apalah, setidaknya ada kerjaan yang menghasilkan pendapatan.
Semenjak itu, rutinitasku hanyalah rumah, mengajar, terkadang nongkrong, kemudian pulang dalam sebulan ini. Aku merasa hal lain, sesungguhnya, ada sesuatu yang kurang dari diriku ini, dari hidupku. Apakah itu cinta? Hmmm, nampaknya tidak juga. Kesepian? Bukan juga, aku masih rutin nongkrong dengan teman-teman sekolahku dulu serta dengan rekan-rekan pengajar bimbel. Riani? Mungkin, sudah sebulan lamanya sejak peristiwa itu kami tidak berhubungan dalam sebulan ini. Tapi tidak juga sih sepertinya, walaupun sudah 2 minggu ini kuperhatikan tidak ada foto dia bersama kekasihnya yang bernama Beri menghiasi beranda akun media sosialku. Mungkinkah mereka udahan? Ayolah, apa peduliku, lagipula, jika iya pun, kecil kemungkinannya aku diterima oleh dirinya. Ah sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu, saatnya move on, walaupun aku belum tahu bagaimana cerita ini kedepannya. Aku menjalani rutinitasku yang baru ini. Hanya itu yang terus-menerus dilakukan.

Hingga pada akhirnya aku melihat sudah hampir 2 bulan aku tidak melihat aktivitas Riani di media sosial bersama pacarnya yang diupload. Aku yang terkadang meng-upload foto kegiatanku disela-sela mengajar seperti berselfie dengan para siswa, berkumpul bersama rekan pengajar hingga narsis di depan kelas sembari memegang spidol dan menghadap papan tulis secara candid. Pada postingan yang kesekian kali, terdapat komentar dari seseorang yang sudah 2 bulan lebih ini tak bersua maupun berkabar denganku, ya, benar saja, itu Riani. Komentarnya berubunyi “Cieeee, yang sekarang udah dapet kerja baru, semoga istiqamah ya, semangat…” sontak langsung kubalas komentarnya sembari tersenyum kecil “hehehe iya, Insya Allah, semoga, makasih ya.” itu merupakan dialog pertama kami dalam 2 bulan terakhir, pasca peristiwa di kafe itu. Entah mengapa hati ini bergetar saat berinteraksi dengannya, apakah mungkin hati ini masih menyimpan sesuatu untuknya? Entahlah, mungkin saja. Semenjak itu, kami kembali intensif berhubungan via media sosial seperti biasanya.

Setelah sebulan, aku berpikiran sesuatu yang gila. Mungkinkah aku untuk mempersuntingnya saja? Walaupun aku tahu bahwa peluangnya sangatlah tipis. Baiklah, kuberanikan saja diriku yang kecut ini, tidak ada yang tahu kan jika belum dicoba, walaupun bau-baunya ya akan begitu juga, alias gagal. Bismillahirahmanirahim, kuberanikan saja diriku untuk mengajaknya bertemu, kukontak saja dia melalui akun line.

“Assalamualaikum Riani, gimana kabar, sehat?” “Waalaikumsalam, alhamdulillah sehat, kamu gimana?” tanyanya balik. “Alhamdulillah baik juga.” jawabku. “Ada apa nih Rem btw?” “Ooh ngga ada apa-apa sih, hehe. Gimana kerjaan? Aman?” tanyaku. “Hooo aman aman, alhamdulillah, ya gitu-gitu aja sih. Kamu gimanna sekarang, kerja di bimbel ya katanya?” tanyanya “Kata siapa? Kata instagram ya? Iya sih, semenjak keluar dari media, langsung lamar ke sini. Alhamdulillah keterima. Eh Ri, ketemuan yuk, udah 3 bulan ini ngga ketemu?” balasku. “Hahaha lebay banget deh Rem, baru juga 3 bulan. Mau kapan?” balasnya. “Bebas kapan aja, Sabtu ini boleh, bisa agak sorean, kalau mau weekday paling agak maleman, gimana?” jawabku. “Boleh, sabtu aja ya, di mana, tempat biasa?” “Yoi, tempat biasa aja.” Kataku. “Siap, sampai jumpa.” Tutupnya, dan dia tidak membalas lagi, pesan terakhir dariku hanya dibaca saja olehnya.

Sabtu yang dinanti pun tiba, aku datang ke tempat yang lumayan bersejarah ini dengan penuh kepasrahan. Kuserahkan pada yang Kuasa apapun yang terjadi hari ini. Tempat ini menjadi saksi bisu insiden tersebut. Tumben, aku yang sampai duluan di tempat ini, kupilih meja paling belakang dan sudut di kafe tersebut. Setelah menunggu selama 4 lagu, akhirnya sahabatku itu pun muncul celingak-celinguk mencari di mana posisi duduk mejaku. Oh Tuhan, dengan setelan yang mempesona seperti biasanya, aku tak sanggup menahan cepatnya degup jantung yang berdetak sangat cepat karena asupan adrenalin yang diproduksi berlebihan. Kemudian dia melihatku lalu melambaikan tangannya kepadaku. Lalu, dia duduk dan bertegur sapa denganku, “Hai Rem, apa kabar? Udah lama ya? Duh maaf banget telat, tadi ada urusan dulu sebentar.” “Iya tidak apa-apa kok, santai, baru bentaran ini juga, kan biasanya kamu yang nyampe duluan, kali ini gantian lah ya.” jawabku. Kami menulis masing-masing pesanan minuman yang kemudian langsung diambil oleh petugas. Kuberanikan diriku untuk melihat paras wajahnya, kedua matanya, walaupun berat juga untuk menatapnya secara langsung apalagi dari jarak yang sangat dekat.

Baiklah, tanpa basa-basi langsung saja kumulai percakapannya. Kuutarakan saja maksud dan tujuanku “Jadi sebenarnya, ada yang mau aku omongin sama kamu Ri, tentang kita.” “Memangnya ada apa? Tentang kita, maksudnya?” tanyanya dengan mimik yang kebingungan. “Aku mau ngekhitbah kamu Ri.” “Hah? Ngekhitbah?” sontaknya dengan nada yang makin bingung “Iya, aku serius, mau ngelamar kamu, emangnya kenapa?” tanyaku. “Nggak apa-apa, cuma kamu tahu kan, haram hukumnya menerima lamaran yang sudah dilamar.” jelasnya Riani dengan kalimat yang cukup lugas. “Iya, aku tahu, emangnya kamu…” “Aku udah dilamar Rem. Beri ngelamar aku.” “Bukannya kalian putus?” “Iya, kita emang putus, secara teknis. Ya karena nerima lamaran dia.” Pecah suasana saat itu, aku seolah tak percaya bahwa berita ini benar adanya. Tatapanku kosong, seolah aku mendengar suatu hal yang baru saja menghentikan detak jantungku. Dunia serasa dipause, bumi berhenti berputar, waktu berjalan seolah melambat. Riani kembali memberi penjelasan terkait semua ini. “Aku sengaja nggak unggah berita ini ke akun sosmed manapun Rem, biar nggak banyak dulu orang yang tahu. Udah hampir setengah tahun ini Beri ada kerjaan di luar pulau, baru pulang libur akhir tahun ini. Maaf banget aku belum kasih kabar ini ke siapapun, terutama kamu.” Aku mencoba menahan diriku, aku tahu bahwa ini risikonya, sedih memang, tapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi, memang jalannya sudah seperti ini yang seharusnya. Aku mencoba berdamai dengan hatiku dan keadaan. Aku mencoba untuk ikhlas, walaupun tahu sulit rasanya. Tapi itu adalah hal yang harus dilakukan. Kemudian aku pun berkata kepada Riani dengan sedikit tersenyum “Selamat ya Ri, Barakallah, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah nantinya.” Sesak memang seusainya, namun sangat melegakan. “Iiiyaa, makasih ya. Aamiin.” Jawabnya. “Emang kapan Ri rencananya, hehe?” tanyaku polos. “Insya Allah bulan-bulan awal tahun depan Rem, antara Januari atau Februari.” Jawab Riani. “Siap, kabar-kabari saja ya nanti, jangan lupa.” Setelah itu, percakapan kami pun ngaler ngidul seperti biasanya, seperti awal-awal jumpa dahulu saat sekolah, seolah kejadian 2 bulan lalu tidak pernah ada. Mungkin ini alasan agama tidak menganjurkan untuk pacaran, karena akan didominasi oleh perasaan di sana, sehingga jika tidak sampai jadi mungkin akan sangat hancur dan sakit. Aku hanya berharap yang terbaik untuk sahabatku ini. Terima kasih atas segalanya, semoga diberkahi di fase kehidupanmu yang baru.

Hari itu pun tiba juga. Februari merupakan bulan yang menjadi salah satu hari bahagia sahabatku itu. Dan kurasa, mungkin hanya di film-film saja ya saat seorang sahabat bisa jadi dengan sahabatnya. Memang kami selalu bersama, namun tidak disuratkan untuk seatap. Saat acara resepsi aku datang naik ke pelaminan, bersalaman dengan kedua orangtua mempelai. Kujabat lalu kupeluk ‘suami’ sahabatku tersebut sambil membisikan sesuatu kepadanya “Selamat ya, kamu merupakan salah satu orang terberuntung di dunia.” Lalu dia hanya menjawab “Ya, terima kasih.” Kemudian, aku bertatap muka dengan Riani, bola matanya hingar-bingar bercahaya, penuh warna dan kebahagiaan. “Selamat ya Riani” kataku. “Sama-sama Rem, makasih ya udah datang.” Jawabnya. “Eh kita selfie dulu yuk, sama Beri juga, ayo Ber.” Ujarku sambil mengambil HP miliku, lalu diarahkan kamera ke kami bertiga dan kuambil gambar. Saat turun dari pelaminan, aku sekalian meng-update instagramku dengan foto barusan, namun, foto Beri sengaja ku-crop. Dengan kalimat “Hari bahagia untuk sahabat baikku, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah. Salam, sahabat baikmu.” Kusudahi hariku pada waktu itu dengan semangkuk bakso kuah yang menghangatkan perut dan ditutup dengan secangkir es krim. Aku pun bergegas pulang dan meninggalkan tempat dihelatnya acara pernikahan Riani. Giliranku, kapan? Entahlah, nanti saja kita bahas, yang terpenting, sekarang usai sudah. Selamat. Saatnya memulai kembali, wahai kehidupan baruku.

Cerpen Karangan: Reza Raihandhany
Facebook: Reza Raihan

Cerpen Sahabatku (Bukan) Cintaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Memaafkanmu Sahabatku

Oleh:
‘Ca, plis maafin aku!’ kata-kata yang selalu terngiang di telinga ku, semenjak sahabat kesayanganku Rena meninggal. Sebelumnya, kenalkan aku, Amanda Melysta Maisandra… Kisah ini terjadi pada ku sekitar tahun

Kasih Tak Sampai

Oleh:
“Cinta adalah sahabat, kasih sayang dalam persahabatan sama halnya dengan kekasih. Jika kekasih bisa jadi sahabat maka cinta akan lebih mengesankan, tapi jika hanya mampu jadi teman tidak akan

Antara Sahabat Dan Cinta (Part 2)

Oleh:
Semenjak kejadian itu, fanny belum bisa ngobrol sama lisa, dia masih sangat kecewa sama lisa dan menggap lisa lah penyebab andre menolak dia, dan lisa sangat dilema, antara bahagia

Cinta Yang Tak Terbalaskan

Oleh:
Ketika pulang sekolah, dan mau les nge-band di sekolah Happy mengejarku.. “Sasha tunggu.” kata Happy. “Ada apa Happy?” kataku. “Aku pengen ngomong sama kamu.” kata Happy. “Iya tapi ngomong

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *