Sahabatku Takkan Kembali Lagi


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 16 August 2013

“Zar…” panggilku kepada seorang sahabatku bernama Azar. Dia menoleh kearahku dan memanggilku juga “Zahwa..”
Azar adalah sahabatku dari kecil dan kita bertemu kembali di SMP. Setelah lulus dari SMP Azar selalu ada di sampingku dalam duka maupun suka. Sejak lulus SMP Azar selalu memakai topi kemanapun dia pergi, mungkin karena dia malu kepalanya gundul. Sebelum lulus sih aku jarang lihat dia pakai topi. Dalam satu hari, aku dan Azar selalu ada salah komunikasi. Mungkin karena aku egois atau dia yang terlalu over protektif kepadaku.

“ajarin gua main gitar dong” sambil merengek kepada Azar. “engga, gua engga bisa main gitar. Gua kira lu mau nanyain kabar gua” sambil memalingkan wajahnya dari wajahku. “Zar, lu kan sahabat gua paling baik. Gua mau minta ajarin main gitar ke siapa lagi coba” mencoba menitikan air mata. “eh jangan nangis dong. Emang buat apaan sih?” mengusap air mataku. “buat ngedeketin Deri” singkat jawabku. “berhasil deh akting nagisnya…” mencubit pipiku. “aw… buruan ajarin gua” memarahinya. “besok sore aja. Kan besok week end jadi banyak waktu deh” “bener ya… soalnya ini penting bagi gua” membuat wajah melas. “iya… nanti gua ke rumah lu” membalikan wajah dan pergi. “yes… berhasil” dengan meloncat-loncat.

Esok sore, Azar menepati janjinya padaku. Dia menemuiku di rumah dan mengajariku bermain gitar. Sempat ku melihat wajahnya yang menikmati permainan gitarnya. “lu tuh ganteng kali Zar, tapi kenapa lu ga pilih satu orang cewek buat jadi pacar lu” bisik hatiku saat melihat wajahnya. “mm… Zar, kita tuh udah temenan dari kecil. Tapi gua belum lihat lu pacaran. Sebenarnya siapa sih cewek yang lu suka?”. Azar terkejut dan menatapku “cewek yang gua suka itu…” Azar berhenti berbicara. “sorry wa.. gua balik dulu ya” pergi tanpa alasan. “Azar kebiasaan deh, kalo ditanya tentang cewek kaya gitu”. Dan sore itu Azar hanya sedikit mengajariku.

Keesokan harinya, aku melihat Azar sedang berbicara dengan Deri di halaman sekolah. Aku tak tahu apa yang dia bicarakan. Karena aku begitu penasaran, aku putuskan untuk menemui mereka “hei.. kalian lagi ngomongin apa?”. Mereka berdua terdiam dan tidak menjawab pertanyaanku. “ngomongin gua ya?” sambil menunjuk keduanya. “GR lu wa” Azar menginggalkanku dan Deri di Halaman sekolah. “eh… Deri, tadi lagi ngomongin apa?” ku tersenyum padanya. “engga.. Azar cuma bilang “lu harus Jadiin Zahwa pacar lu” saat itu aku sangat malu karena aku ingin dia yang menyadari sendiri bukan karena orang lain. “terus lu jawab apa?” aku tak ingin menanyakan hal tersebut Tapi ini penting bagiku. “terus gua jawab apa adanya. Gua jawab ‘engga’” dengan tenang dia menjawabnya. Dia tenang menjawabnya tapi aku yang mendengarnya terasa malu dan sakit hati. Dan aku putuskan untuk pergi meninggalkannya. Tapi tanganku ditarik oleh Deri “engga akan macarin kamu kata Azar. Gua pengen kata gua sendiri kalau gua harus jadiin Zahwa pacar gua. Itu yang gua pengen”. Hatiku mulai berubah menjadi senang.

“teroreng… teroreng…” suara handphoneku berbunyi. “sorry Der, gua angkat dulu” kuangkat handphoneku. “hallo… ini siapa?” tanyaku kepada si penelonn yang tak ku kenal nomernya. “ini mamahnya Azar” kudengar suaranya memburu dan sedikit panik. “ada apa tante?. Tenang jangan terburu-buru ngomongnya”. “Zahwa, tadi Azar pingsan di sekolah. Sekarang ada di rumah sakit. kamu dimana?” suara mamah Azar semakin memburu. “hah…?” aku pun terkejut dan langsung menarik Deri untuk ikut bersamaku ke rumah sakit. “ada apa Zahwa?” tanya Deri kepadaku. “antar gua ke rumah sakit. Azar pingsan, Deri” “ya udah peke motor gua ke rumah sakitnya”. Lalu kita berdua pergi ke rumah sakit.

Setelah sampai di rumah sakit. Aku mencari ruangan Azar dan akhirnya menemukan mamahnya sedang duduk di depan ruang ICU. “tante… gimana keadaan Azar?” sambil memegan tangannya. “parah Zahwa. Kata dokter sudah waktunya tinggal beberapa menit lagi”. “apa.. kok bisa? Emang Azar sakit apa tante?” “Azar sudah lama mengidap penyakit Kanker. Tapi satu bulan setelah Lulus SMP. Penyakit itu sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Padahal tante udah bilang jangan sekolah tapi tetep ngeyel pengen sekolah”.

Aku tak menyangka selama ini Azar menyembunyikan penyakitnya dariku. Aku kira dia pakai topi hanya karena ingin menutupi kepalanya. Tapi dia bilang dia cukur rambutnya karena ingin tampil beda. “Azar lu bohong sama gua, Zar” aku berteriak dan masuk ke dalam ruangan ICU. “Zar…” aku menitikan air mata dan memegang tanganya. “kenapa lu tega bohongin gua Zar…? kenapa lu tega?”. Tak disangka Azar masih bisa mendengarku “Zahwa… gua juga ga nyangka bisa secepat ini” “lu harus kuat Zar… gua ga mau ditinggal sama lu” ku pegang erat tangannya. “tapi hidup gua cuma sampai disini Zahwa” “lu bukan tuhan Zar, lu manusia. Jadi lu jangan ngomong kaya gitu”. Azar melihat ke arah Deri dan menyuruh mendekatinya “Der, lu kan udah janji sama gua mau jagain Zahwa buat gua. Dan juga gua tahu lu sayang sama Zahwa”. Aku gak mengerti apa yang Azar katakan. “Zar, gua janji gua akan jaga Zahwa buat lu”. “Deri… lu apa-apaan sih. Azar gak boleh ninggalin gua”. Azar mengambil tanganku dan Deri. Dia mempersatukan tanganku dan tangan Deri. “ingat, kalian harus bersatu. Anggap aja itu permintaan terakhir gua. Dan gua mau minta maaf sama lu wa. Kalau gua gak ngasih rahasia tentang lu ke lu sendiri wa. Gua malahan bilang ke Deri. Ee… gua ga tahan lagi” Nafas Azar sedikit demi sedkit menipis. “Zar… zar?” panggilku sambil menggoyangkann badannya. “ga mungkin… Azar gua sayang lu Zar” aku pun tak rela di tinggal Azar.

Setelah satu minggu berlalu. Aku masih terus memikirkan Azar. Betapa rindunya aku kepada Azar, aku selalu datang ke tempat favorit ku dan Azar. Dan hari ini aku sedang di tepat tersebut “Zahwa…” panggil seseorang. Dan aku menoleh ke arah suara itu “Deri, kok disini? Ngikutin gua ya?” “engga lah. Azar cerita sama gua, dia suka ke tempat ini sama lu. Dia suka nyanyiin lagu dan mainin gitar buat lu meskipun lu gak respon” “kapan Azar cerita sama lu? Sampai dia gak pernah cerita tentang perasaannya ke gua”. “lu juga tahu kok, kapan dia cerita ke gua. Sebelum gua nembak lu, tepatnya di halaman sekolah minggu lalu” “oh jadi dia cerita banyak tentang perasaannya? Dia bilang apa aja?”. Begitu penasarannya aku tentang hal tersebut. Jelas… aku penasaran karena ini menyangkut perasaan Azar yang tak pernah menjawab pertanyaanku tentang hal ini. Lalu Deri menceritakan semuanya padaku.

Aku terdiam setelah Deri menceritakannya. Azar… perasaan lu penuh dengan kebohongan. Kenapa lu harus cerita sama Deri? Langsung aja cerita sama gua. Lu bikin pesan ke Deri kalau Deri harus jagain gua. Karena alasannya, lu mau ninggalin gua untuk selamanya dan lu ga bilang kalau selama ini lu suka sama gua. “Azar… gua kangen lu” teriakku. “Zahwa… Azar udah ga ada tapi Azar selalu ada di dalam hati lu. Azar udah ngasih amanat sama gua. Sekarang lu anggap gua penggantinya Azar sebagai pelindung lu…”. “tapi Azar ga bisa digantikan Der…” aku menatapnya. “ga usah lu anggap gua jadi Azar. Tapi lu anggap gua sebagai pelindung lu”. Aku mulai menerima penjelasannya. “Der.. gua terima lu selamanya” memegang tangannya. “selamanya?” Deri tidak mengerti apa yang aku katakan. “sampai maut memisahkan kita” aku kembali menatapnya. Deri tersenyum padaku. Dan kita berbahagia selamanya.

Cerpen Karangan: Nurannisa Widiawati
Blog: nisawidia4ever.blogspot.com

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Persahabatan Cerpen Sedih

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One Response to “Sahabatku Takkan Kembali Lagi”

  1. Iil ariefka says:

    Menulis, menulis itu indah, menulis itu menyenangkan menulis itu kenanagan yang dapat abadi dalam hidup yang abadi dalam kertas putih dan tinta. Menulis itu harus karna dengan menulis pula pikiran peka, pikiran tenang. Karna bagiku kertas dan tinta adalah sahabat sejati, yang sanggup menampung segala keluh kesah hidup ku. Maka dari situ ku ingin melukis dunia dengan tinta. Tinta merah, hitam ku.

Leave a Reply