Salah Memberikan Hasil Pemeriksaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 4 March 2013

Bel pergantian jam pelajaran terdengar cukup keras. Anak-anak yang tadinya hanya ada di tempat, langsung berlarian menuju ruang ganti. Seorang guru tengah menunggu di lapangan basket dengan sebuah peluit yang tergantung di lehernya, dan beberapa absen siswa. Setelah mengganti pakaian mereka dengan pakaian olahraga, semua anak langsung berlarian menuju lapangan basket. Guru olahraga itu pun langsung mengabsen anak-anak, kemudian melanjutkan kegiatan olahraga ini.

“baiklah, sebelum kita memulai praktek basket, seperti biasa kita akan melakukan pemanasan terlebih dahulu.” Kata pak Alfi, guru olahraga mereka. Semua naka-anak mengikuti intruksi dari sang guru untuk melakukan pemanasan. Seusai melakukan pemanasan, semua naka boleh beristirahat terlebih dahulu sembari menunggu pak Alfi datang dan membawakan barang-barang praktek. Febra, Jule, dan Novy, tiga BFF alias Best Friend Forever ini memilih pohon yang daunnya rindang dan rapat sebagai tempat beristirahat mereka. Disana, mereka bertiga tertawa dan bercanda ria. Biasa, anak-anak gaul gitu…

Di tengah asyiknya mereka tertawa, tiba-tiba hidung Febra mengeluarkan darah. Hal itu diketahui oleh Jule.
“Feb, hidung kamu negularin darah lagi tuh!” kata Jule. Febra yang baru menyadari hal itu, langsung saja mengambil sapu tangannya dan mengelap hidungnya yang mengeluarkan darah yang cukup banyak.
“aduh, Feb, ini sudah yang kelima kalinya kamu mimisan. Sebaiknya kamu periksakan dulu ke dokter. Mungkin saja ada penyakit aneh yang ada di tubuh kamu.” Saran Novy. Sarannya itu membuat Febra ketakutan.
“ah, kamu. Jangan nakutin aku gitu dong. Mana mungkin hanya mimisan begini ada penyakit aneh yang tersembunyi di tubuh aku,” pekik Febra sambil menyikut Novy. Novy dan Jule bertatap muka.
“bukan begitu Feb,” kata Jule.
“bulan lalu, sepupuku mimisan sampai tiga kali. Saat diperiksakan ke dokter, ternyata dia mengidap penyakit kanker otak stadium 1.” Kata Novy. Febra sedikit ketakutan.
“ah, kamu, Nov! jangan gitu. Aku jadi takut nih.” Pekik Febra lagi.
“ya harus gimana lagi. Kamu harus di bawa ke rumah sakit untuk di periksa. Mungkin saja perkiraan kami tidak benar,” kata Jule. Febra terdiam. Dia memikirkan jikadia memang mengidap kanker yang sama dengan yang di derita sepupu Novy, maka, hidupnya akan terasa hancur. Setelah cukup lama memikirkan hal itu, Febra pun mengangguk dan mau untuk diperiksa ke rumah sakit.

“baiklah, jika hal itu bisa menyelamatkan jiwaku, aku mau diperiksa ke rumah sakit.” Kata Febra.
“kalau kamu menyetujuinya, kami akan minta izin pada pak Alfi untuk memperbolehkanmu pulang lebih awal dari kami.” Kata Novy dan Jule secara bersamaan. Awalnya Febra tidak menyetujui hal itu. Tapi yah, apa boleh buat. Novy dan Jule langsung menemui pak Alfi yang barusan datang membawakan barang-barang praktek. Setelah di setujui oleh pak Alfi, Febra pun pulang dengan di jemput orang tuanya, yang barusan sempat di telpon oleh pak Alfi.

Novy dan Jule termenung sambil duduk di bawah pohon terakhir kali mereka bertiga duduk dan tertawa sambil bercanda. Mereka merasa kesepian karena tiga hari sudah berlalu, tapi Febra belum kunjung sekolah. Mereka pun membuat usul untuk menjenguk Febra.
“Nov, gimana kalau sepulang sekolah, kita menjenguk Febra.” Usul Jule.
“sepertinya itu ide yang bagus. Aku yang akan membawa kuenya,” kata Novy.
“aku yang akan membawa buahnya,” kata Jule senang. Sempat ada keheningan terjadi.
“tapi, sepertinya ada yang kurang dari kita,” kata Novy lemas.
“iya. Si wajah imut kita enggak ada disini. Biasanya jika ada sedikit saja keheningan, Febra langsung menghilangkan keheningan itu denagn canda dan tawanya,” kata Jule dengan nada datar.

Sepulang sekolah, seperti yang mereka rencanakan, Novy membawaa kuenya dan Jule membawa buah-buahannya. Mereka berdua dengan riangnya pergi menuju rumah Febra yang terlihat sangat mewah. Setelah sampai, mereka mengetuk pintu rumah Febra. Seorang wanita membukakan pintu. Itu adalah Bundanya Febra.
“loh, ada apa ini? Kok kelihatan kalian membawakan banyak kue dan buah,” Tanya Bunda.
“gini Bun, kami ini temannya Febra. Kami sudah merencanakan hal ini untuk menghibur anak Bunda. Jadi, bolehkah kami menemuinya?” Tanya Novy.
“hmm, sebenarnya, saya berat untuk memperbolehkan hal ini. Tapi, jika ini bisa membantu menyenagkan hati Febra, saya bisa memperbolehkan kalian untuk menemuinya” kata Bunda.
“terima kasih Bunda,” kata mereka serempak.
“iya, sama-sama. Silakan masuk.” Ajak Bunda, lalu membawa Novy dan Jule menuju kamar Febra. Setelah Bunda menjauh, Novy dan Jule langsung membuka pintu kamar Febra dengan cepat dan mengatakan “SURPRISE!”. Mereka kira, Febra akan senang dengan kejutan ini. Tapi, apa yang terjadi?
Novy dan Jule melihat mata yang merah dan bengkak, wajahnya pucat, bibirnya membengkak dan memerah. Rupanya, Febra tengah menangis.
“ada apa Feb? kok nangis sampai bengkak gitu.” Tanya Novy sambil meletakkan kuenya lalu duduk di samping Febra. Jule melakukan hal yang sama seperti Novy. Febra yang masih terisak, langsung memeluk dua sahabatnya itu.
“kalian pasti tidak akan percaya apa yang terjadi padaku,” kata Febra yang masih saja terisak. Jule menggandeng Febra.
“Feb, kami akan selalu percaya padamu. Kami adalah sahabat terbaikmu,” kata Jule. Novy tersenyum dan ikut menggandeng Febra. Febra terdiam, lalu mengambil sebuah map berwarna cream. Di dalamnya ada sebuah data hasil pemeriksaan. Novy dan Jule tercengang tak percaya.
“inilah hasil pemeriksaannya.” Kata Febra. Air mata tak bisa membendung di mata Novy dan Jule mereka pun saling berpelukan dan menangis bersama. Tak disangka, hasil itu menunjukkan dia telah mengidap penyakit kanker otak stadium lanjut dan umurnya tinggal beberapa minggu lagi.

“Febra sayang! Mama ada urusan nih di kantor! Kamu sama teman-teman kamu jagain rumah ya?” teriak Bunda.
“iya, Bunda!” teriak Febra. Sebagai kenang-kenangan, Febra, Novy, dan Jule menoton film Titanic. Di tengah-tengah asyiknya menonton tiba-tiba, bel rumah berbunyi. Febra yang matanya berkurang benkak, langsung membukakan pintu. Seorang berpakaian serba putih, dengan wajah yang mirip dengan Leonardo Dicaprio, langsung memberikan sebuah map berwarna cream.
“maaf, kemarin pihak rumah sakit salah memberikan map. Map itu seharusnya diberikan pada seorang penderita kanker otak stadium lanjut. Kalau map milik anda yang sebenarnya adalah yang ini.” Katanya sambil memberikan map berwarna ceram itu. Febra menerimanya. Orang itu langsung pulang, dan Febra membuka map itu. Tiba-tiba..
“horeeeeee!!!!!! Novy! Jule! Aku enggak jadi meninggal!” teriak Febra. Novy dan Jule tersentak kaget dan langsung memeluk Febra dengan air mata yang menderai di pipi mereka.
“dari mana kamu tahu?” Tanya Jule. Febra memberikan map yang barusan di terimanya.
“ini Jule, mapnya. Aku tau dari sini.” Kata Febra lagi. Jule kaget begitu juga dengan Novy.
“Febrayanti Annisa hanya menderita mimisan biasa’. Dari mana kamu mendapatkan ini?” Tanya Novy.
“dari Leonardo Dicaprio” jawab Febra. Novy dan Jule kaget. “hahaha! Bercanda saja teman-teman. Ini aku dapatkan dari petugas rumah sakit.” Sambung Febra.
“selamat ya Febra!” kata Novy dan Jule serempak mereka pun berpelukan lalu melanjutkan menonton film Titanic.

Cerpen Karangan: Jauharia Rusyady
Facebook: Rusyady Ria Rusyady

Cerpen Salah Memberikan Hasil Pemeriksaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Persahabatan Tasya

Oleh:
Anastasya Anandra Putri Annetya atau biasa dipanggil Tasya adalah murid kelas 4 SD, dia sekolah di SD Angkasa Merdeka, Tasya adalah anak tunggal. Tasya adalah anak yang baik hati,

Danau Sejuta Kenangan

Oleh:
Lagi-lagi aku termenung di tepi danau. Sendirian. Seharusnya, hari ini menjadi hari yang menyenangkan. Karena sebentar lagi aku akan resmi menjadi siswi sekolah menengah pertama di Yogyakarta. Oiya, perkenalkan

Keutuhan Sahabat

Oleh:
Disini aku masih duduk di sekeliling mereka yang menyayangiku. Canda dan tawanya masih terdengar di telingaku. Pandanganku masih menatap wajah mereka yang tertawa ria. Sentuhan pelukannya masih di tubuhku

Wanted: A Boy Friend

Oleh:
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.00, terlihat dari kejauhan Pak Jajang, satpam SMK Sakti Kencana mulai menutup pintu gerbang sekolah. Semakin cepat kukayuh sepeda lipat yang baru dibelikan ayahku

Indahnya Mencintaimu

Oleh:
“Woy, Lai! tungguin napa!” sapa Daniar, atau lebih tepatnya Daniar Nandya Syaza. Yang di panggil pun akhirnya menengok, sebut saja Idzni Syauqillah. Ia sedang menenteng banyak barang, itulah kebiasaan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Salah Memberikan Hasil Pemeriksaan”

  1. Khomarudin says:

    siip , mau ikutan ahh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *