Salah Paham

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 3 November 2015

Sebuah kata cinta terpampang besar di depan pintu kamarku. Sebuah ungkapan yang ku simpan selama ini kepada seseorang. Ungkapan yang pertama dan penuh perasaan yang telah ku buat tapi aku tidak mengungkapkannya. Banyak hal yang datang secara tiba–tiba saat ungkapan itu ingin ku ungkapkan membuatku urung untuk mengungkapkannya. Inilah diriku, Satria Wijaya kelas X yang tinggal di dekat kota Singaraja.

25 Februari 2014, waktu yang tepat untuk merayakan keberhasilan temanku Fitri. Tepatnya Fitri sahabatku yang paling baik, sekarang ia membuat pesta atas keberhasilan ia mendapatkan juara 1 pada lomba Olimpade Matematika tingkat Provinsi.
“Selamat ya Fitri atas keberhasilanmu, kamu hebat bisa juara satu di Provinsi.” Ucapku dengan senyum lebarku.
“Terima kasih ya Satria, ini juga berkatmu yang sudah selalu memberiku semangat untuk maju, tapi kamu jangan lupakan impianmu ya.” Jawabnya.
“Pasti aku selalu ingat, itu kan impianku yang tak pernah aku lupakan.”
Tiba–tiba datang seorang lelaki yang tak ku kenal, memiliki tubuh tinggi dan memiliki wajah tampan.

“Hai Fitri, ini siapa?” Tanya seorang lelaki itu.
“Ini sahabatku Yoga, namanya Satria. Satria kenalkan Pacarku Yoga dari Denpasar.” Jawab Fitri yang sontak membuatklu terkejut mendengarnya.
“Hai, namaku Satria, aku sahabatnya Fitri salam kenal.” Jawabku dengan senyum palsuku.
“Namaku Yoga salam kenal juga. Fitri ayo ajak ku jalan–jalan keliling rumah barumu ini.”
“Ya, Satria ku tinggal bentar ya, sampai jumpa.” Aku langsung melambaikan tangan pertanda sampai jumpa.
Malam ini, malam yang membuatku sangak shock atas kenyataan ini. Tak menyangka dan tak percaya, bisa–bisanya hal ini terjadi. Aku menatap langit–langit kamarku dengan penuh rasa marah, ingin rasanya ku pukul wajah si Yoga itu. Saking marahnya, aku seperti orang gila melemparkan pukulan ke atas tanpa ada objek yang dipukul.

26 Februari 2014, aku sudah tiba di sekolah dengan wajahku yang amat galaunya.
“Wooyy bro, kamu kenapa? Pagi-pagi sudah galau?” Tanya Rita yang duduk di sampingku.
“Enggak kok Rit.” Jawabku dengan galaunya dan langsung meninggalkan Rita. Hari ini aku sangat kepikiran dengan kejadian yang kemarin. Hampir semua orang tidak ku hiraukan, hari ini aku seperti orang asing di sekolahku sendiri.

Dengan perasaan galau tingkat setan yang masih menguasai diriku, tiba–tiba terjadi air bah di depan kelas yang membuatku terkejut.
“Happy Birthday!!” Sorakkan semua teman–teman sekelasku.
“Happy birthday Satria, semoga panjang umur ya.” Ucap Fitri yang berada di depanku.
“Ehh kamu, sudah hilang galau tingkat setanmu? Gak nyadar apa dirinya sendiri lagi ulang tahun.” Sahut Rita yang langsung mencubit pipi kiriku.
“Aduh, sakit bodoh. Terima kasih teman–teman atas kejutannya yang membuatku basah kuyup gak jelas, tapi ngomong-ngomong kuenya mana?” Jawabku yang gak jelas ekspresinya.
“Nih makan kuemu.” Jawab Rita yang langsung melemparkan sebuah kue ke wajahku dan sontak semua teman–teman sekelas tertawa melihat wajahku penuh dengan kue.

Sekarang jam tanganku sudah menunjukkan jam 1 siang. Dan tiba–tiba lelaki yang kemarin membuatku galau tingkat setan itu muncul lagi di hadapanku.
“Hai Satria.” Sapa Yoga.
“Hai Yoga, bukannya kamu di Denpasar sekarang?”
“Aku kan lagi ngabisin liburanku, oh ya di mana Fitri?” Jawabnya sambil menengok kesana–kesini untuk melihat Fitri yang sedang ditunggunya.
“Cari aja di dalam, ngapain kamu nanya sama aku, aku pergi dulu ya.”
“Yah kamu!” aku pun langsung pergi meninggalkan Yoga di depan sekolah, sudah kemarin dibuat galau sekarang nambah dibuat galau. Ini pertamanya aku membenci orang yang sudah pacaran sama sahabatku, tapi anehnya aku selalu membalas pertanyaan orang yang ku benci.

27 Februari 2014, rasa galauku sudah agak menurun 25 persen dari kemarin. Awalnya aku gak niat untuk nurunin rasa galauku, tapi itu membuatku sangat tersiksa.
“Fitri aku mau nanya sama kamu, si Yoga tu kelas berapa sih? Kok dia gak sekolah kemarin?” Tanyaku tepat di depan kelas.
“Oh Yoga, dia tuh sudah kuliah Satria, dia tuh sekarang lagi liburan semesteran. Emangnya kenapa?”
“Gak kenapa–kenapa. Cuma curiga saja, jangan–jangan dia bolos sekolah kemarin.”
“Makanya jangan curiga dulu, oh ya Satria bantuin aku ya buat tugas fisikanya, ada yang gak ku mengerti.”
“Ya aku bantuin.” Aku pun langsung membantu Fitri untuk mengerjakan tugas fisikanya.
Dengan sedikit bercanda tidak terasa perasaan galau itu langsung ku lupakan, dan Pak Gita memasuki kelasku dan mengajakku seseorang guru PPL. Ku langsung menengok Pak Gita dan guru PPL itu, tak ku sangka Pak Gita mengajak orang yang telah membuatku galau tingkat setan ini.

“Anak–anak perkenalkan guru PPL matematika kita yang baru. Silakan perkenalkan diri anda sekarang.” Kata Pak Gita.
“Pekenalkan nama bapak Yoga Wisesa, bapak dari Universitas Udayana.” Jawab Yoga yang senyum–senyum sambil melirik Fitri. Selama jam mata pelajaran berlangsung, konsentrasiku sangat buyar. Aku hanya memikirkan orang yang bernama Yoga, ingin ku pukul wajah orang tersebut tapi aku tidak bisa melakukannya. Bel sekolah pun sudah berbunyi menandakan waktu sekolah sudah berakhir atau ini sudah waktunya untuk pulang. Tepat di depan sekolah saat semua orang tidak ada siapa–siapa, aku melihat seseorang sedang berbicara dengan Yoga. Aku pun mengintip pembicaraan mereka.

“Yoga kapan kita pergi liburan? Bukannya kamu sekarang lagi liburan semester?”
“Sabar sayang, kita pasti pergi liburan aku janji akan ngajak kamu ke tempat yang kamu suka.”
“Beneran? Yee!! Terima kasih ya Yoga, kamu memang cowokku yang tersayang.” Aku pun sangat terkejut melihat semua ini, sangat tidak percaya seseorang yang dicintai oleh sahabatku bisa melakukan hal ini.

Tanpa berpikir panjang, aku menuju rumahnya Fitri yang tidak terlalu jauh dari sekolah. Ingin rasanya aku memberitahu semua ini. Akhirnya aku tiba di depan rumah Fitri, saat aku ingin memanggil Fitri tiba sebuah bayangan datang menghampiri pikiranku. “Jika aku bilang semua ini ke Fitri, bisa–bisa aku ditampar karena aku tidak punya bukti apa–apa. Tapi jika tidak, aku tidak bisa menahannya, jadi apa harus ku perbuat?” Aku langsung menunda niatku untuk melakukan hal ini, aku pun pulang ke rumah. Setibanya di rumah, aku terus memikirkan hal ini. Aku sangat tidak rela sahabat terbaikku diperlakukan seperti ini oleh orang yang dicintainya.

28 Februari 2014, hari di mana Yoga mengajar di kelasku. Dengan rasa yang begitu menyakitkan, aku menghiraukan dia saat jam mata pelajarannya. Rasanya lebih menyakitkan ketika sahabat sendiri yang sedang senyum–senyum melihat pacarnya yang telah menusuknya dari belakangnya. Bel istirahat sudah berbunyi.
“Satria ayo ke kantin sudah lapar nih.” Ajak Fitri, “Ayo, kamu yang neraktir ya!”
“Dasar kamu, maunya ditraktir saja. Ayo cepet ke kantin keburu rame.”
“Iya Fitri.” Sesampainya di kantin, aku dan Fitri sama–sama beli mie ayam bakso. Saat kami lagi asik makan bareng, tiba–tiba orang yang kubenci datang menghampiri kami berdua.

“Fit lagi ngapain?”
“Eh Yoga, ni lagi makan mie ayam bakso sama Satria, ayo ikut.”
“Boleh juga, bu mie ayam bakso satu!” Teriaknya memesan mie ayam bakso. Aku hanya diam sambil menundukkan kepala dan mendengarkan pembicaraan Fitri sama Yoga.
“Fitri aku duluan ya, sudah nih mie ayam baksoku. ”
“Oh ya, entar tunggu aku di kelas ya.”
“Iya.” Aku langsung pergi meninggalkan mereka berdua.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi, semua siswa sudah pulang ke rumahnya masing–masing. Sedangkan aku sengaja untuk pulang lebih lambat, aku hanya memastikan kejadian yang kemarin lagi. Dan aku tidak salah lagi, si Yoga itu sedang berpacaran sama selingkuhannya. Dan kali ini, aku memberanikan diri untuk membawa Hp-ku ke sekolah untuk merekam semua ini. Akhirnya aku mendapatkan bukti yang cukup kuat untuk menjatuhkan Yoga itu. Setelah mendapatkan bukti ini aku langsung menuju rumah Fitri.
“Fitri, Fitri! ”
“Iya, eh Satria ngapain kamu ke sini?”
“Itu gak penting, coba lihat video ini.” Aku langsung memperlihatkan video yang baru aku rekam.

Dengan ekspresi yang asing bagiku, Fitri langsung meninggalkanku masuk ke rumahnya saat setelah menonton video tersebut. Aku masih bingung melihat ekspresi Firti yang tak pernah ku lihat selama ini. Aku memutuskan untuk pulang saja, selama di perjalanan aku memikirkan kelakuan yang telah ku perbuat.
“Apa kelakuan ku tadi itu salah? Apakah Fitri percaya dengan video itu? Apakah dia mempercayaiku? Mungkinkah dia langsung memutuskan hubungannya dengan Yoga dan membencinya atau sebaliknya dia membenciku?”

28 Februari 2014, aku berangkat sekolah dengan keadaan hati yang telah tidak menanggung beban yang menyakitkan lagi. Setiap orang aku sapa dengan senyum manisku, hingga orang–orang bilang aku aneh pada hari ini. Akhirnya aku tiba di kelas tercintaku, beberapa orang sudah ada di dalam kelas ada Leoni, Sanjaya, Yogi, Iwan, Fajar, Rika, Srijayanti, Bayu, tapi ada yang aneh yang ku rasakan, Fitri di mana?
“Leoni dapet lihat Fitri gak?” tanyaku dengan santai.
“Fitri? Bukannya dia sekarang izin masuk sekolah.”
“Izin? Memangnya di ke mana?”
“Kamu gak tahu? Dasar teman yang gak care, sekarang dia punya acara tunangan sama pacarnya makanya dia sekarang izin. ”
“Apa? Tunangan?” kejutku saat mendengarkan berita tentang Firti.

Tidak ku sangaka aku telah melakukan hal yang begitu kejam terhadap sahabatku. Aku langsung pergi ke luar dari kelas, langkah panjangku menuju ke rumah Fitri. Aku berlari dengan kencang agar aku tidak terlambat dalam acara tersebut. Setelah tiba di sana, suasana sepi seperti tidak ada apa–apa di rumah ini. Aku memanggil nama Fitri di depan rumahnya, bukannya Fitri yang ke luar tapi Ibunya yang ke luar.
“Pagi nak Satria, ngapain ke sini?”
“Bu ada Fitri di dalam?”
“Oh Fitri, Fitri ada di dalam tepatnya di dalam kamarnya. Sudah dari kemarin malam dia gak ngomong sampai pertunangannya dengan Yoga saja dibatalkan.”
“Boleh saya masuk Bu?”
“Silakan nak Satria, ajak Fitri bicara ya.”

Aku sudah mengetuk pintu kamar Fitri berulang kali, tapi tidak ada jawaban. Aku terus mengetuk pintu kamarnya sambil memanggil namanya, tapi tetap saja tidak ada jawaban. Hingga hilang kesabaranku, akhirnya aku memutuskan untuk menobrak pintu kamarnya. Dobrakan pertama tidak berhasil, kedua dan ketiga juga, dan dobrakan keempat berhasil. Setelah pintu terbuka, aku sontak terkejut sampai jantungku mau copot.

“Fitri!!!” teriaku sekencang mungkin sampai Ibunya datang juga. Aku menangis dengan sekeras mungkin melihat tubuh Fitri yang tegeletak di kasurnya dengan penuh dengan darah.
“Aku bisa berkata–kata lagi selain meneteskan air mataku yang membasahi pipi kirnya. Tidak ku sangka hal ini terjadi, sahabat yang paling ku sayangi telah tiada gara–gara kebencian yang merasuki tubuhku.
“Fitri maafkan aku Fitri, aku tidak bermaksud melakukan hal itu untuk membuatmu melakukan perbuatan ini. Aku hanya ingin kamu tahu saja, tapi tidak aku sangka kamu berani melakukan perbuatan ini. Maafkan aku telah merusak perasaanmu terhadap Yoga, aku sangat minta maaf. Dan ada hal ingin aku katakan sebelumnya bahwa aku Cinta kamu Fitri.”

1 Maret 2014, hari di mana Fitri dimakamkan, dengan mengenakan pakaian adat istiadat Bali, aku mengikuti acara pemakaman Fitri. Rasa bersalah masih melekat di dalam hatiku, aku sangat bersalah kepada orang–orang telah mencintai Fitri dan lebih menyakitkan hari ini merupakan ulang tahun Fitri yang Ke-17 tahun. Pemakaman sudah selesai dilaksanakan, semua orang sudah pergi dari tempat pemakaman hanya tinggal aku dan Yoga yang masih berdiri tegak di depan makam Fitri.

“Dia adalah cewek termanis yang pernah ku miliki, dia adalah cewek paling tegar yang pernah ku miliki, cewek yang paling baik dan paling peduli terhadap sesama yang pernah ku miliki. Aku sangat bahagia di hari pertama aku dan Fitri jadian, tapi tak bisa ku bayangkan hari ini bisa terjadi, rasanya hari pertama itu adalah kemarin. Asal kamu tahu Satria, sebenarnya Firti hanya salah paham kepadaku, dia mengira aku selingkuh terhadap orang lain, tapi sebenarnya cewek yang ia anggap selingkuhanku adalah adikku sepupuku yang sering manggil aku dengan kata sayang. Hah, aku tidak bisa menahan rasa sakit ini terlalu lama.” Ucap Yoga sambil menaruh cincin pertunangannya dengan Fitri di makam Fitri dan ia langsung pergi.

Aku hanya berdiam diri dan meneteskan air mata melihat kenyataan ini. Aku sangat menyesal melakukan hal itu sampai menghancurkan kehidupan sahabatku. Rasanya aku telah menghancurkan dunia ini. Aku meletakkan sebuah surat pemberian dari Fitri di samping cincin dari Yoga.

“hai Satria, sekarang tanggal 22 Januari 2014, jam 14.30 kamu tahu gak hari ini, hari apa? Jangan sampai kamu lupa hari ini! Hari ini adalah ulang tahun persahabatan kita ketiga. Aku tidak menyangka, kita sudah bersahabat sejak tiga tahun lalu. Aku masih sangat ingat tiga tahun yang lalu kita masih duduk di bangku kelas satu SMP, di saat kita masih unyu–unyu. Aku sangat bahagia bisa memiliki sahabat seperti kamu, mudah–mudahan persahabatan kita tetap terjaga hingga kita bisa meraih mimpi kita masing-masing atau bisa sampai kita tua. Tapi kamu harus janji dalam persahabatan, kita tidak boleh mencintai satu sama lain karena kita adalah keluarga.
Salam manis,
Fitri.”

Cerpen Karangan: Febri Setiawan
Facebook: Febri Setiawan

Cerpen Salah Paham merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Titik

Oleh:
Sudah seminggu sahabatku, Dinda meninggalkanku. Bukan pergi untuk satu dua hari, tapi untuk selamanya. Ya, dia meninggal dunia. Karena penyakit itu, penyakit hati yang menggerogoti tubuhnya. Ternyata, lama sebelum

Setetes Embun di Pipimu

Oleh:
“Hahaha..” Suara canda sepasang kekasih yang sedang bercanda ria dengan teman-teman mereka di kantin sekolah. Memang pantas mereka menjadi sepasang kekasih, sangat cocok, dan hampir-hampir mereka mempunyai kesukaan yang

Di Rumah Tuhan

Oleh:
Rembulan tempias sebarkan sinarnya, mencoba menembus celah-celah pekat langit malam. Berharap kan terang benderang bak mentari mendera bumi dengan sinar cerahnya. Perlahan awan pun mulai berarak, wujudnya tak terlalu

Coba Lihat Langit Biru di Atas Sana

Oleh:
“Coba lihat langit biru di atas sana.” Kata-kata itu selalu terngiang di otakku, berputar-putar dan diulang-ulang berkali-kali. Kata-kata sederhana tetapi begitu istimewa untukku. “Setiap kali kamu sedih, coba lihat

Friendship or Love (Part 3)

Oleh:
Beberapa hari berlalu. Keno berencana untuk mengajak Nawala bertemu hari ini setelah beberapa hari sebelumnya ia sibuk dengan pekerjaan. Keno membuat pertemuan dengan Nawala dengan alasan untuk kesempatan bisnis

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *