Sandi AZ Dan Ikatan Persahabatan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 1 December 2015

Kota Samarinda terlihat memukau dengan sungai mahakam-nya. Aku merasakan begitu. Aku kini, duduk di atas dermaga, di sebuah bangku panjang. Menikmati sajian senja berupa sunset. Yang ditemani dengan awan kelabu dan langit mega merah. Juga dalam genggamanku, sebuah catatan masa lalu. Aku baca buku itu pada halaman yang ku tandai. Isinya tentang sebuah kisah yang diceritakan olehnya, berupa pengalaman yang tak terlupa dalam sel neuron-nya, saat liburan panjang, yaitu:

Hari itu, aku dan kawanku -Yusuf- duduk di bangku taman sekolah, dengan lantai berupa rumput gajah. Di bawah sejuknya hasil oksigen beringin. Sambil menikmati segelas teh hangat dan belaian angin sepoi-sepoi. Awan putih bak kapas mengambang di langit biru. Putih bersih. Mentari pun begitu, menampakkan sinarnya dengan angkuh dan menyilaukan mata, namun, kami terlindung rimbun beringin. Sekeras apapun sang surya berusaha, takkan mampu menerobos langit-langit rimbun beringin. Begitu juga, yang dikatakan Ibnu ‘Athaillah, ‘menggebunya semangat, tak akan mampu menerobos benteng takdir’. Ia tak tahan dengan keheningan, ia mulai memecahnya dengan cerita berharga.

“Waktu itu adalah liburan kenaikan kelas. Aku dan Ayahku pergi ke daerah paling timur Indonesia, Papua, yang terkenal dengan burung dewatanya. Kami Check-In di bandara Adi Sutjipto, Jogjakarta. Setelah Check-in, kami menunggu beberapa menit di ruang tunggu, hingga, tibalah pemanggilan untuk menaiki pesawat. Kami beranjak dari bangku tunggu, lalu, berjalan menuju pintu ke luar menuju pesawat. Kami berjalan, di lapangan penerbangan, berupa lapangan luas yang dicor, dengan sekitarnya berupa hutan yang membatasi lapangan penerbangan. Matahari tak nampak, hanya gumpalan hitam dan langit putih. Barangkali, sebentar lagi gerimis turun. Kami bergegas naik ke pesawat, dan duduk sesuai yang tertera di tiket. Di dalam pesawat, aku duduk memandangi pemandangan luar, lewat kaca. Guna, meninggalkan kesan dalam hati, agar menentramkan kalbuku. Dan memejamkan mata, sejenak pun boleh, aku ingin istirahat, rasanya lelah menunggu dan menunggu.”

Ia menelan ludah, lalu kembali bercerita, “Tak ku sadari, pesawat sudah lepas landas, aku terbelalak, lalu, mengusap-usap mata. Ku lihat Ayah sedang membaca majalah, aku mengambil earphone dan MP3, aku ingin mendengar musik sambil memejamkan mata lagi, aku terlelap. Berselang tiga puluh menit kemudian, aku terkaget dan terperangah, melihat sesosok lelaki bertubuh kekar tepat di sampingku -sedangkan Ayahku, duduk di seberang kiriku, dan berkulit sawo matang itu memegangi lehernya, mengaduh dan mulutnya ke luar busa. Terlebih, aku mendengar jeritan seorang wanita dan menangis sesenggukan di belakangnya. Aku kaget, tak tahu apa yang harus ku lakukan. Aku pun melepaskan sabuk pengaman, dan berlari ke arah pramugari dan pramugara yang sedang duduk di belakang.

Mereka langsung memberitahu peristiwa itu pada pilot, dan apa ada seorang dokter di situ. Ku lihat, ada seseorang lelaki paruh baya yang mengangkat tangan, kelihatannya dia seorang dokter. Ia bergegas menuju korban dengan cepat. Lalu, memeriksa korban dan sebuah botol air minum dalam kemasan yang ada di depannya itu, ia berkata, “Kelihatannya ia keracunan, dan racunnya adalah racun ular laut, bisa tolong ambilkan segelas teh?” katanya saat memeriksa dengan nada suara yang tinggi, lalu merendah. Beberapa detik kemudian seorang pramugari membawa sebuah teh. Yusuf berhenti sejenak, lalu menukas. “aku yakin, kawan, itu adalah penawar racun ular laut, ya, teh itu adalah Tanin.”

Ia melanjutkan, “Setelah memeriksa, dan memberikan Tanin itu, ia bergumam, namun, terdengar oleh orang di sekitarnya, “Syukurlah dia selamat, kelihatannya, ada orang yang membawa racun ular laut lalu mengoleskannya ke balik tutup botol yang berisi air putih berkemasan ini, yang ada di depan korban ini, dan, pelakunya ada di antara semua penumpang.” Ada seseorang lelaki paruh baya tegap, memakai jas berwarna hitam, dan dasi berwarna biru bergaris putih, dan memakai celana hitam formal, yang berdiri beranjak dari tempat ia duduk, lalu, mulai membuka bibirnya.

“Ya, benar kata dokter itu,” Selanya, “Tapi, bolehkah aku tadi memeriksa identitas korban?” Tanyanya.
“Ya, tentu, saja,” kata sang dokter, “Namun, siapa engkau?”
“Aku seorang polisi,” Tandasnya.
“Baiklah.” Ia lalu merogoh saku celana dan kemeja yang dipakai korban, dan menemukan semacam kartu tanda penduduk, dan surat izin mengemudi, tertera di situ namanya dengan lengkap dan jelas.

“Jadi, korban adalah seorang pesepak bola di salah satu tim di yogyakarta? Apa adakah di sini, kerabatnya? Atau kawannya? Atau orangtuanya?” Lalu, ia melanjutkan, “Namanya, Davish Rosh, umur sembilan belas tahun, dan seorang pesepakbola.” Setelah polisi, yang bernama Joe L, -sempat ku lihat di dadanya terdapat semacam papan nama itu tertera namanya- berbicara, sekitar tiga orang yang duduk di belakangnya, mengangkat tangan dan memperkenalkan dirinya. Pertama, seorang perempuan, yang mengaku pacarnya -Davish Rosh- yang bernama, Renita Clody, berumur tujuh belas tahun, memakai jaket hitam terbuka, dan memakai celana jeans. Berambut hitam pekat sebahu, bertubuh sekitar dua inci lebih pendek dari Davish, dan berkulit putih. Terlihat di matanya, sepertinya, ia menangis sesenggukan atas kepergian pacarnya, namun, ia adalah tersangka!

Kedua, seorang lelaki, teman satu tim, yang bernama, Roni Oscar, seumur dengan korban, teman semasa SMU, berambut lurus cepak, tinggi tegap, berkulit Tropis, dan terlihat gagah saat ia memakai jaket hitam tebal, celana formal berwarna hitam dan bertopi mafia berwarna hitam. Dia mengaku, adalah teman karib atau bisa dibilang sahabat korban, juga, ia adalah tersangka, dan, ia juga yang memberikan air dalam kemasan itu. Itulah yang ia akui.

Dan, yang terakhir, kali ini adalah seorang lelaki yang terlihat misterius, pendiam, sorot matanya mengisyaratkan kebencian, namun, jika ia berbicara, nadanya lembut-sopan, beraksen madura dan menghanyutkan, namanya adalah Tony Nugraha, berumur dua tahun lebih tua dari Davish, dia adalah koleganya, berkulit gelap, berwajah tirus, dan bertubuh tinggi, namun, agak bungkuk. Dia mengaku bahwa, ia sembari tadi duduk diam di kursinya dan mendengarkan sebuah lagu di earphone.

Setelah semua identitas tersangka diambil, maka, polisi itu hilir mudik mencari bukti, pertama, di bawah kursi Oscar, Tony dan Clody. Lalu, kedua, ia mencari sebuah semacam surat yang memungkinkan untuk dijadikan bukti, dan ketiga, menggeledah seluruh tas, tersangka dan tentunya korban. Akhirnya, penyelidikan menemukan setitik cahaya terang untuk berhasil, polisi itu menemukan semacam surat yang penuh dengan teka-teki. Berisi sandi, dan bahkan itu tak bisa diketahui tersangka. Surat itu berisi semacam puisi:

Bibir berbunyi menyanyikan sebuah lagu simphonI
Telinga berdenging hanyut dalam suara steriL
Aplaus tangan berjari lima, kini, enaM
Sungguh, sebuah ironi, yang berpijaR

Sepertinya, polisi tampak kebingungan membaca surat yang berisi kode itu, aku pun memutar otakku, mengingat-ingat, mungkin, barangkali ada hubungannya dengan semacam kegiatan, aku lalu angkat bicara.
“Kak, apa Kakak itu menggeluti sebuah kegiatan?”
“Ya, ia bercerita padaku, bahwa, ia menyukai PRAMUKA!” kata seorang wanita yang mengaku pacar korban.

Ya, tentunya aku tahu, sandi itu sepertinya hanya bisa dibaca dalam dua arti sandi, yang pertama, Sandi AZ, dan kedua, Sandi AN. Dan, sebuah betapa mustahilnya, jika itu adalah sandi Morse, Sandi Jam, dan Sandi Kotak. Namun, sekitar hanya dua atau tiga persen saja. Karena, kemungkinan dua sandi itu -Sandi AZ dan Sandi AN. Aku lalu, mendelik pada Bapak. Ia cukup tegang, keningnya mengeluarkan keringat dingin, sama sepertiku. Tapi, aku mulai menguasai diri, aku malangkah menuju polisi yang bernama Joe itu. Dan berbisik.

“Pak, kemungkinan, sandi itu bisa dibaca dalam dua arti sandi, yaitu, sandi AZ dan AN, bisakah aku meminjam surat itu? Aku akan menunjukkan cara membacanya, lalu, beberkan analisis Bapak, di depan publik dengan sepasang bibir polisi itu,” kataku dengan pelan sambil memicingkan mata kiriku.
“Oke,” katanya sambil mengacungkan jempolnya. Ia lalu memberikan surat itu, aku pun menorehkan sesuatu yang menjadi arti sandi AZ dan AN. Tapi, hanya satu yang ku tulis yaitu, Sandi AZ. Yang artinya, A = Z (A sama dengan Z, B sama dengan Y, dan seterusnya), yaitu, sebagai berikut:

A sama dengan Z; B sama dengan Y; C sama dengan X; D sama dengan W; Esama dengan V; F sama dengan U; G sama dengan T; H sama dengan S; I sama dengan R; J sama dengan Q; K sama dengan P; L sama dengan O; M sama dengan N -begitu juga sebaliknya.

Aku menebalkan huruf I, L, M, dan R, karena itulah yang tertera di suratnya, aku yakin, polisi itu tau artinya. Benar saja, ia mengerti apa yang aku tulis, dan membisikkannya di indra pendengaranku, tegas dan jelas, namun, hanya aku dan polisi itu yang mendengar, tidak terkecuali Tuhan.
“Jadi, jika, A sama dengan Z, berarti, I sama dengan R, L sama dengan O, M sama dengan N, dan R sama dengan I, jadi pelakunya adalah orang itu, betulkan, dik? Terima kasih atas bantuannya,” aku hanya mengangguk kecil dan tersenyum.

Dan membalas, “ya, benar, namun, aku tau semua itu dari Bapakku, dia yang mengajarkanku cara membaca sandi-sandi sulit, tapi, jangan libatkan aku saat kau melakukan analisis, betulkan, Yah?” Ayah terperangah kaget, lalu, mendeham dan menjawab, “Ya, tepat sekali.”
Setelah, berbicara padaku, ia membeberkan analisisnya di depan semua tersangka itu. Sebelum ia berbicara, aku melihat ada sebuah borgol di saku belakangnya, aku heran, bagaimana bisa?

Polisi itu mulai membuka bibirnya, “aku tahu siapa pelakunya, sandi ini semakin bisa dibaca, dan, karena, korban adalah seorang yang aktif dan menggeluti kegiatan Pramuka dilihat dari cara membacanya, A sama dengan Z, berarti, berarti, I sama dengan R, L sama dengan O, M sama dengan N, dan R sama dengan I, berarti pelakunya adalah kau, RONI, Roni Oscar!” kata polisi itu dengan tegas, sambil menunjukkan surat yang aku coret dengan sandi AZ tadi.
“Apa buktinya?” Oscar membela dirinya.
“Tak ada bukti di sini, sebab, kau mencampurkan racun ular laut itu di balik tutup botol, dan, sarung tangan yang kau gunakan untuk mengoleskannya telah kau buang sebelum kau berangkat ke bandara. Begitu juga dengan botol yang berisi racun ular laut, tetapi, sisik ular laut masih menempel di sarung tangan atau di mana saja saat kau mengambil racun itu dari tubuh ular itu.” Oscar menunduk lemas.

“Bagaimana bisa? Bukankah kau adalah sahabat yang paling dekat dengan Davish?” kata Renita, dengan sedikit isak tangisnya.
“Sukar dipercaya -kau dan Davish adalah dua orang yang bekerja sama dalam tim, dan terlihat akrab, tapi, kenapa kau melakukan ini, apa betul yang dikatakan polisi itu?” kata Tony.
“Ya, benar, akulah pelakunya, buktinya sudah aku singkirkan, dan aku tak tahu jika itu adalah sandi yang menunjukkan akulah pelakunya,” Oscar berkata dengan menunduk, dan terlihat setetes air mata di sudut matanya.

“Aku membunuhnya, karena, dulu, ia pernah melakukan kesalahan saat mencetak gol, padahal, saat itu adalah saat yang paling aku impikan untuk menang di liga seJogja. Terlebih, ia juga mengambil Renita dari pelukanku, dan tersenyum sinis seolah tak berdosa, ku rasa, cintaku bertepuk sebelah tangan, sebuah kejahatan yang menurutku sudah merusak diriku, dan orang yang aku sayangi.” Ia menjelaskan dengan terisak.
“Tapi, mengapa engkau semudah itu mengakui kejahatanmu?” Tanya Polisi itu.
“Karena, aku ingin mendekam seorang diri di penjara dan tak ingin dibayangi rasa cemas, penyesalan dan kebencian pada semua orang!”

Setelah itu, Polisi yang bernama Joe itu, mengeluarkan borgol dan memasangkannya di kedua tangan milik Rony Oscar, dan polisi itu duduk di samping Oscar. Kolega Davish itu pindah di tempat polisi itu duduk tadi. Tak berselang lama, pengumuman dari pilot terdengar, sekitar 45 menit lagi kami akan mendarat di bandara, di daerah Jayapura. Rasa senang di dadaku berbuncah, aku menitikkan setitik air mata, dan menghampiri Bapak, aku memintanya untuk duduk di sebelahku, aku lalu melihat ke jendela. Sebuah pemandangan hijau pepohonan dari angkasa terlihat begitu memesona, aku terpukau, terkesima, dan memujinya. Namun, segala puji bagi Tuhan Semesta Alam. Saat aku duduk tegap menghadap ke depan, terdengar suara rintihan, mungkin berasal dari Davish. Terdengar samar-samar ia memanggil Roni, dan dokter yang tak dipanggil itu datang mendekat ke arah Davish.

“Pak, bisakah saya meminta tolong?” Kata Davish dengan suara samar.
“Boleh saja,” kata dokter itu.
“Tolong panggilkan.. Rony Oscar.”
Dokter itu terkejut, dan berjalan ke arah Oscar dengan kaki bergetar.
“Anda dipanggil oleh Davish.”
Mendengar itu, Oscar pun terkejut dan mendatangi Davish dengan wajah memelas.

“Ada apa kau memanggilku?” Tanya Oscar.
“Aku ingin meminta maaf padamu, karena aku yang merencanakan ini, walau yang menaruh racun di botol itu adalah kau, tetapi, aku sudah menduga itu saat aku berkunjung ke rumahmu pada hari ini, makanya, aku menyuruh seorang dokter yang tadi memeriksaku, untuk berada di pesawat ini, aku ingin memberi hadiah dan mengucapkan selamat ulang tahun untuk sahabatku tercinta. Maaf juga, atas semua kesalahan yang aku lakukan padamu, sebagai tanda permintaan maafku, bukalah tasku, di situ terdapat sebuah barang seadanya yang dapat aku berikan padamu, di hari ulangtahunmu, jika ingatanku tidak salah, hari ini adalah hari ulangtahunmu, bukan?”

Lalu, Oscar melangkahkan kaki menuju tas Davish, ia menemukan di situ, sebuah novel yang dulu sangat ia inginkan. Ia terharu melihat apa yang dilakukan Davish padanya. Ia merasa malu atas apa yang ia perbuat pada Davish. Lalu, dengan melepas topi mafia miliknya, ia memeluk Davish, dan membisikkan, “Terima kasih, kawan. Kau adalah sahabat terbaikku, maafkan aku, karena aku telah meracunimu,” kata Oscar.
“Aku sudah tahu, jika kau melakukan itu, maka agar aku dapat menebus kesalahanku, ku minum racun itu dengan senang hati.”

Mendengar itu, Oscar mulai terisak, mataku berair, kisah persahabatan yang membuatku terharu, sebuah kisah yang membuatku teringat, jika aku pernah melakukan kesalahan pada semua kawanku dan semua orang yang pernah aku sakiti, kini, ku tanamkan dalam hatiku, sebuah pepohonan rindang, saat aku menceritakan ini pada kawanku -Imran. Aku melihat jam tangan logam milikku, sudah 45 menit, benar saja, pesawat turun dari ketinggian dan turun di bandara, di daerah Jayapura. Beberapa menit kemudian, aku melihat Davish bersama kedua orang temannya, turun dari pesawat itu, namun, Oscar dipandu seorang polisi itu, polisi itu melihat ke arahku dan memicingkan mata sembari menempelkan senyum di bibirnya, aku membalas dengan senyum lebarku.

Usailah sudah kisah yang mengingatkanku pada arti persahabatan. Dengan ku tanamkan rasa saling asih, saling cinta, dan berbicara dari hati ke hati, percaya sesama teman tanpa meragukan kebenarannya, maka, kokohlah persahabatan.” Yusuf menyelesaikan cerita itu dengan menepuk pundakku, sambil terkekeh. Namun, matanya terlihat berkaca-kaca.

Aku tutup buku itu dengan setetes air mata. Ku pandangi sungai mahakam, masih mengalir dengan tenang tak ada riak, tetapi deras. Sekitarku telah gelap, maghrib mulai menjelang. Terdengar panggilan-panggilan penyeru untuk membuktikan siapa saja yang tebal imannya, untuk datang ke sebuah bangunan tempat muslim beribadah, aku ingin menuju masjid. Saat aku setengah berdiri, tiba-tiba seorang yang aku kenali suaranya berbicara dengan nada menyindir.
“Mau ke mana, kawan lamaku?”
“Mau ke.. masjid,” lalu aku menoleh, rasa haru kembali muncul, aku mengusap-usap mata, aku ingin membuktikan bahwa penglihatanku tidak salah, orang itu duduk di belakangku, ya, tepat di belakangku. Dengan kemeja lengan pendek warna biru muda dan celana jeans, tak ketinggalan, kacamata hitam menutupi kedua matanya. Aku terperangah kaget, dan merespon.

“Eh, Yusuf? Kenapa kau di sini? Kapan datang? Seingatku, kau ke sini sudah dua tahun yang lalu,” kataku.
“Aku ingin mengejutkanmu, makanya aku kemari, mari ke masjid dulu, nanti ada kejutan lagi!” katanya dengan senyum sinis miliknya. Dia selalu begitu, memberikan kejutan pada teman dekatnya, termasuk aku.

Cerpen Karangan: Rasyad Fadhilah
Facebook: Rasyad Fadhilah
Lelaki kelahiran Sleman, Yogyakarta, pada 11 Februari namun, kini tinggal di Tanah Grogot -adalah seorang siswa SMPN 1 Tanah Grogot yang duduk di bangku kelas VII, juga penyuka sastra dan sepak bola. Ia mencoba untuk menguntai kata dengan kosa kata yang dimilikinya, juga dengan ilmu yang diterima neuron-nya sehari-hari. Dan menjadikannya sebuah cerita pendek. Di samping suka menulis cerpen, ia juga suka bermain futsal maupun sepak bola bersama kawannya. Lelaki penggemar club sepak bola Real Madrid CF dan FC Barcelona, juga tim sepak bola nasional Spanyol, Brazil, dan Indonesia ini dapat disapa melalui akun facebook: Rasyad Fadhilah, akun twitter: @RasyadFadhilah1.

Cerpen Sandi AZ Dan Ikatan Persahabatan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dreams

Oleh:
Kulihat kristal cair akan mendarat di telapak tanganku. Beberapa detik benda itu tepat membasahi tanganku, hingga seluruh tubuhku. Dalam sekejap, tubuhku telah kering kembali. Aku terhenyak, mengingat sejak kapan

Pencarian

Oleh:
Belum sempat masuk ke dunia mimpi sania sudah dikejutkan oleh suara dering hp yang cukup membuat siapapun terganggu. “Halo?” Sapaku di awal pembicaraan “Apa kau sudah tidur? Maaf menganggu

Hati Kecil yang Tertinggal

Oleh:
Ahsan menarik nafas sejenak, membuangnya seketika. Hatinya masih tampak labil meski ia sudah berusia kepala dua. Serta-merta ia masih teringat peristiwa tak terlupakan 5 tahun lalu saat ia diseret

Oh Tuhan Siapa Dia?

Oleh:
Pagi itu wajahku terasa panas seolah terbakar, memaksa kedua mataku terbuka. Tampak kilauan cahaya kemuning menerobos masuk dari sela-sela gorden kamar kosku, “Hmm aku bangun kesiangan lagi”, gumamku dalam

I Miss You Yoona

Oleh:
Yoona terbaring lemah di kasur rumah sakit. Ia mengidap kanker otak stadium 2. Menurut dokter, kanker Yoona sudah termasuk parah. Orangtua Yoona selalu mendoakan yang terbaik untuk Yoona. Pada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *