Sang Pujangga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 September 2014

Penghuni SMA Galaxy gempar di siang hari bolong. Bagaimana tidak, si Beni yang cakep dan orangtuanya yang tajir dikabarkan sudah jadian sama Nania anak kelas sepuluh dua. Emang oke juga sih kalau dilihat dari sosok Beni yang cakep apalagi orangtuanya tajir. Tapi bila melihat sisi lain Beni yang tulalit, bisa-bisa seluruh orang yang melihatnya selalu mengelus dada.
Bayangkan, hampir semua mata pelajaran tidak pernah mendapat nilai di atas enam. Belum lagi kalau diajak ngomong, kayak kabel konslet alias nggak nyambung. Sudah begitu, sukanya belagu alias suka pamerin harta orangtuanya yang pejabat. Makanya, semua cowok pada bingung mendengar berita duka itu. Masa, cewek sepinter dan secantik Nania dengan mudahnya takluk pada Beni yang tulalitnya minta ampun itu.

“Gue curiga sama Beni. Pasti ada udang di balik batu” kata Feri, anak kelas tiga IPA dua di kantin. Hari ini dia bener-bener nggak selera makan bakso kantin, padahal biasanya habis tiga mangkok. Sebab dia naksir Nania mati-matian.
“Emangnya kenapa?” tanya Rio, teman sekelas Feri. Kebalikan dari Feri, dia begitu antusias makan bakso. Sudah dua mangkok bakso dilahapnya habis, meski badannya tetap saja ceking kayak pengungsi dari Sudan.
“Masa… si tulalit itu bisa naklukin Nania yang cakepnya kayak Nia Ramadani,” kata Feri lagi.
“Elo.. elo pada ketinggalan kereta sih,” seloroh Doni, salah satu fans Nania juga yang duduk di kelas tiga IPS satu. Bedanya sama Feri, Doni ini cocok jadi detektif. Hampir setiap gerak Nania paham betul. Mulai Nania bangun tidur sampai tidur lagi diselidiki tanpa henti.
“Ketinggalan kereta? Emangnya kenapa?” tanya Feri penasaran.
“Nania tuh bisa takluk sama Feri karena baca surat cintanya Feri,” jawab Doni.
“Hah… mana mungkin si tulalit itu pinter nulis surat?
“Kenapa, elo semua kagak percaya?” tanya Rio.
“Pasti dia nyuruh orang buat nulis cinta,” tuduh Doni.
“Eh… nggak baik nuduh gitu. Just be a positif thinking… man!” kata Rio tenang. Dibanding ketiga temannya, Rio berpenampilan paling cool. Meski paling nggak enak dipandang mata he.. he.. he.. alias nggak cakep. Namun soal kedewasaan dan kepandaian, paling unggul. Hampir tiap semester selalu menempati sepuluh besar di sekolah. Meski begitu, nggak ada satu pun cewek yang naksir. Mungkin saking ceking dan itemnya itu.

“Nah… betul kan dugaan gue,” kata Doni, saat mereka bertiga pulang sekolah.
“Bener apanya?” tanya Feri.
“Nania takluk sama Beni karena surat cinta,” jawab Doni.
“Yang bener. Darimana elo tahu?” tanya Rio heran. Selama ini tidak satu pun orang yang tahu kalau dia si penulis surat cinta dengan imbalan bakso tiga mangkok dan nonton gratis di Cineplex 21 selama seminggu berturut-turut. Kini hatinya mulai dag-dig-dug, takut kalau kedua sohibnya tahu bahwa dia yang menulis surat cinta itu.
“Beni yang cerita padaku tadi pagi. Dasar tulalit, ya tetap tulalit. Gue pancing-pancing dengan memberi pujian, akhirnya tanpa sadar dia ngaku kalau surat itu bukan dia yang buat,” cerita Doni.
“Dia cerita ke elo kagak, siapa yang menulis surat cinta itu?” tanya Rio bimbang. Dia berharap Beni tidak cerita pada siapapun kalau dia yang menulis surat itu.
“Kagak.”
“Kenapa nggak elo pancing lagi?” tanya Feri gemas.
“Gue sudah pancing, tapi dianya yang benar-benar nggak mau ngaku. Katanya sudah perjanjian,” jawab Doni. Hati Rio kembali tenang mendengar pengakuan Doni. Ini berarti, sepulang sekolah dia harus cepat-cepat menelpon Beni agar benar-benar tidak mengaku bahwa dialah yang menulis surat itu. Kalau tidak, pasti identitasnya sebagai Mr X yang terkenal di setiap majalah sekolah, mading dan cerpen-cerpen yang dikirim di berbagai majalah remaja akan terungkap. Rio benar-benar ingin merahasiakan identitasnya supaya dia bebas berkarya.
“Ini tidak boleh terjadi. Aku harus benar-benar merahasiakan identitasku,” pikir Rio.
“Tapi gue yakin, suatu saat akan tahu siapa si penulis surat itu,” kata Doni yakin.
Deg… dada Rio berdesir, kali ini jantungnya mulai dag-dig-dug lagi.
“Elo yakin?” tanya Rio.
“Tentu, siapa sih yang nggak kenal Doni? Gue kan dijuluki detektif ulung,” kilah Doni dengan bangga.
“Iya… gue juga mau bantuin elo Don. Gue penasaran banget nih ama si penulis itu,” sambung Feri, tak kalah semangatnya. Meski mereka menyukai cewek yang sama, tapi tetap kompakan.
“Gimana Rio, elo setuju kan?” tanya Doni.
“Eh… iya.. iya… tapi… itu kan bukan urusan kita?” jawab Rio gugup.
“Bener juga sih elo… cuma siapa tahu dengan terungkapnya Mr X itu, hubungan mereka putus. Itu artinya, gue punya peluang untuk jadi pacar Nania. Ya nggak sih?” kata Feri.
“Iya sih… tapi jangan jahat gitu dong,” usul Rio.
“Bukannya jahat, tapi gue punya niatan nolong Nania tuk ngebuktiin bahwa dia tuh jadi korban penipuan Beni,” kata Doni. Mendengar temannya bersemangat, Rio keder juga. Jangan-jangan suatu saat Doni tahu kalau dialah si penulis itu.
“Gawat, gue harus nelpon Beni,” pikir Rio.

Kali ini SMA Galaxi gempar lagi tentang hubungan Nania dan Beni. Kini terdengar kabar bahwa mereka sudah putus. Tentu saja membuat lega sebagian cowok-cowok yang masih berharap pada Nania.
Selidik punya selidik, ternyata Nania ragu akan kemampuan Beni menulis surat cinta itu. Maklum, ternyata Nania tuh romantis banget. Dari dulu paling demen banget sama cowok yang romantis dan pinter nulis. Makanya, begitu dia dapat surat cinta dari Beni, langsung percaya tanpa diselidiki lebih dulu.
Apalagi dari sumber yang tidak diketahui asal-usulnya, ternyata si pujangga itu adalah penulis di mading dan majalah sekolah adalah orang yang sama. Padahal, Nania sangat suka sekali membaca karya-karya pujangga yang selalu menulis namanya sebagai Mr X itu. Ini menambah semangat Nania untuk segera mencari tahu siapa sebenarnya pujangga idaman hatinya.
Untuk itu Nania membuat sayembara bahwa dia ingin banget pacaran sama sang pujangga itu. Dari hasil pengumuman itu, alhasil, hampir semua cowok pada ngaku kalau dialah si pujangga itu. Namun sudah lebih seminggu, tak ada seorang cowok pun yang berhasil meyakinkan hati Nania.
“Elo nggak pengen ikut sayembara itu Don?” tanya Feri.
“Pengen sih, tapi gue kan bukan si pujangga itu. Malu dong kalau ketahuan kayak Beni,” jawab Doni. “Kalo elo gimana?”
“Sama sih… gue kan nggak bisa romantis-romantisan gitu,” jawab Feri muram. Dia berpikir, andaikan dia tiba-tiba berubah jadi si pujangga itu dan bisa membuktikan pada Nania, betapa bahagia dan indah hidup ini.
“Kalo elu gimana?” tanya Doni. Hati Rio jadi deg lagi, dia khawatir, jangan-jangan Doni memang benar-benar tahu bahwa dialah si pujangga yang dimaksud Nania.
“Sorry, gue nggak ada tampang untuk itu,” elak Rio.
“Siapa tahu, tiba-tiba elo punya bakat jadi pujangga,” hardik Feri.
“Ah… Elo… ada-ada aja,” kata Rio singkat.
“Elo tahu kabar terakhirnya? Nania sudah ngebet banget jadi pacar si pujangga itu. Bagaimanapun tampang dan modelnya,” kata Doni.
“Yang bener?” tanya Feri. Pantas, banyak banget cowok yang mengaku-ngaku sebagai pujangga itu.
“Meski bagaimanapun bentuknya?” tanya Rio tak yakin.
“Iya.”
“Tuh cewekk gila banget. Gue harus berbuat sesuatu nih, semua yang dilakukan Nania dan cowok-cowok gila itu harus dihentikan!” pikir Rio.

Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, hati Rio berdesir-desir menunggu kedatangan Nania. Sejak pagi tadi pikirannya galau membayangkan bagaimana wajah Nania saat tahu bahwa dialah si pujangga itu. Pasti Nania akan marah dan seumur hidup tak akan pernah menyapanya. Rio berharap surat pernyataan bahwa dialah sang pujangga benar-benar sampai di tangan Nania tadi pagi.
Sakit memang bila membayangkan apa yang akan terjadi atas dirinya pada Nania. Tapi bagaimanapun juga, dia harus benar-benar mengatakannya. Bukankah kejujuran itu sangat mahal harganya di jaman seperti ini? Bagaimanapun juga, Rio harus mengatakannya sekarang juga dengan segala resikonya.
“Biar ditampar oleh Nania pun, aku harus tetap mengatakan yang sebenarnya,” kata Rio dalam hati. Diliriknya jam tangannya, hampir lima belas menit dia menunggu kedatangan Nania. Namun hingga detik ini, cewek yang ditunggunya tak nampak.
“Mungkin dia tidak mau datang kesini. Kalau begitu… aku akan berterus terang di sekolah saja besok. Aku akan melakukannya sebagai seorang lelaki… Harus!” pikir Rio.
Tapi, tak berapa lama tiba-tiba gadis yang ditunggunya muncul, sendirian. Benar-benar surprise. Dalam benak Rio, Nania akan datang dengan Voni sohibnya yang juga keren itu.
“Kamu yang bernama Nania ya?” tanya Rio, pura-pura. Yang disapa melongo melihat seseorang menyebut namanya. Apalagi si penanya memiliki wajah-wajah seperti orang Afrika, alias item dan keriting. Meski item begitu, Rio itu manis juga lho, begitu kata mamanya.
“Sedang apa elo di sini?” tanya Nania heran tanpa menyakan siapa nama Rio.
“Gue? Gue lagi nunggu elo,” jawab Rio.
“Elo nunggu gue? Jadi…?” tanya Nania tak percaya.
“Iya… Emang gue yang nulis surat itu. Sorry ya, elo boleh marah sama gue. Tapi.. suwer, nggak ada sedikit rasa untuk berbuat jahat sama elo,” kata Rio mulai meyakinkan. Nania diam saja, dengan seksama dia memperhatikan Rio, mulai ujung rambutnya yang keriting sampai ujung sepatu yang sudah mulai usang.
“Jadi… elo yang bernama Mr X itu?” tanya Nania, masih dengan nada tak percaya.
“Iya… Elo mau bukti? Tapi sungguh Nania, gue nggak ikutan sayembara yang elo adain. Gue cuma pengen ngaku dosa-dosa gue.,” kata Rio. Kemudian dia mengeluarkan surat dan cerpen-cerpen asli yang semuanya sudah pernah dimuat di beberapa majalah, majalah sekolah dan mading. Nania hanya membisu menyaksikan perbuatan Rio, tanpa mampu berkata apa-apa lagi.
“Ini surat yang kutulis untuk elo atas nama Beni. Semalam, gue mencoba mengingatnya. Karena sudah lebih sebulan, jadi banyak bagian-bagiannya yang nggak mirip. Tapi gue yakin, elo masih ingat sebagian,” kata Rio sambil menyerahkan tulisan tangan surat cinta yang pernah diterima Nania.
Dengan rasa tak percaya, Nania menerima surat itu. Kemudian dengan seksama dibacanya surat tersebut.
“Yaa… surat ini mirip sekali dengan yang diberikan Beni untuk gue,” pikir Nania yakin. “Ternyata si pujangga itu adalah Rio.”
“Gimana… elo percaya? Elo mau kan maafin gue. Mulai sekarang gue janji ama elo nggak akan buat surat cinta palsu lagi,” kata Rio.
Nania masih diam mendengar pengakuan Rio. Tak disangka, sang pujangga yang selama ini selalu dinanti karya-karyanya adalah Rio si bintang sekolah yang sederhana sekali. Nania bingung, tak bisa menjawab. Dia hanya memandang Rio, dalam hatinya timbul kekaguman.
Hampir setahun Nania selalu mengamati cerpen-cerpen dan puisi sang pujangga yang menamakan dirinya Mr X. Baginya, Mr X adalah bintang di hatinya. Karya-karya Mr X banyak memuat pesan-pesan positif untuk remaja seusia mereka. Makanya, begitu dia membaca surat cinta yang dikirim oleh Beni, nalurinya berbicara bahwa si penulis sangat mirip dengan gaya bertutur Mr X yang indah, santun, bermakna dan apa adanya. Tidak ada nada rayuan yang tertulis di dalamnya, namun tetap romantis. Nah lu… bingung kan membayangkan surat cinta yang ditulis Mr X alias Rio?
“Nania… elo maafin gue kan? Kalo elo maafin gue, sebentar lagi gue akan pergi dan janji nggak akan gangguin elo lagi,” kata Rio. Dia penasaran banget melihat Nania diam membisu, tak berkata sepatah kata pun. Rio takut kalau Nania tidak memaafkan.
“Eh iya.. gue maafin,” jawab Nania singkat.
“Bener? Thanks banget ya. Kalo gitu, gue langsung cabut aja. Sekali lagi thanks banget elo maafin gue,” kata Rio senang.
“Eit… tunggu dulu… aku masih punya syarat,” kata Nania kemudian.
“Syarat apaan?”
“Syaratnya… elo harus jadi temen gue dan ngajarin gue gimana caranya nulis kayak elo. Sejak kecil gue pengen jadi penulis. Tapi sampe sekarang, nggak ada satu pun cerpen yang bisa gue selesain. Please… tolong gue ya,” kata Nania. Mendengar ungkapan Nania tadi, hati Rio makin girang. Ternyata Nania tidak marah, bahkan mengajaknya berteman.
“Tentu saja.”
Lalu, tak lama kemudian Rio dan Nania berbicara panjang lebar tentang keinginan masing-masing. Rio banyak cerita tentang karya-karyanya yang memang dirahasiakan. Sedangkan Nania bercerita banyak tentang keinginannya menjadi penulis.

Akhirnya, Nania tak jadi marah pada Rio. Dan Rio menjadi lega, karena Nania menawarkan sesuatu yang indah pada dirinya, yakni persahabatan. Bagi Rio, persahabatan dan memaafkan adalah sesuatu yang berharga dari apapun.

Cerpen Karangan: Muhamad Bagja Prasetya
Facebook: https://www.facebook.com/bagja.rizkya
Cerpen Karangan: Muhamad Bagja Prasetya/Santri TEBU IRENG
Facebook: https://www.facebook.com/bagja.rizkya

Cerpen Sang Pujangga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Am I Cinderella? (Part 2)

Oleh:
Aku pun berlari melintasi lorong kelas XII, hingga akhirnya aku berdiri persis di depan pintu kelas XII IPA 5 yang tertutup. Terdengar pembicaraan dan tertawaan keras dari dalam. “Hahaha…

Three True Friends

Oleh:
Grace memandang sahabatnya, Jessie dan Cherries. Mereka sedang bermain bersama Coral. Terkadang Grace iri melihat kedekatan Coral dengan Jessie dan Cherries. Cherries, Grace dan Jessie adalah sahabat baik tapi

Cintaku Semanis Gulali

Oleh:
Aku berjalan keluar dari kelas bersama Bella. Menuruni tangga lalu berjalan lagi melewati taman sekolah sampai akhirnya keluar dari sekolah. Bukan hari yang buruk tapi hari yang cukup menegangkan,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *