Sarung Dari Dito

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 17 February 2014

Aku menatap sarung dari kejauhan. Bermotif kotak-kotak, berwarna merah dan jingga. Itu adalah sarung pemberian sahabatku, Dito. Dito kini sudah pergi ke Singapura, karena ayahnya ditugaskan disana. Kata Dito saat memberikan sarung ini padaku, dia bilang, “Andi, jaga sarung ini baik-baik yaa. Jangan sampai hilang. Buat kenang-kenangan. Jangan lupa.. nanti kalau kamu sudah dikhitan kamu pakai ini ya,”
Aku menintikkan air mata. Dito memberiku sarung yang kegedean ini saat aku duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Sekarang, aku sudah duduk di kelas XI-C di SMA. Tapi.. aku belum dikhitan. Karena aku takut. Sudah beberapa kali Mama membujukku. Tapi tetap saja aku keras kepala.
Malu sih malu. Tapi mau bagaimana lagi? Aku duduk di kasur, memperhatikan sarung pemberian Dito. Kira-kira.. Dito sekarang parasnya bagaimana yaa? Dito, maafkan aku. Aku belum melaksanakan amanah darimu.

Ringtone handphoneku berdering. Ternyata dari Didi, temanku. Begini isi sms nya,
Hei! elo mau ikut gak ke toko buku? nyari CD kabaret. Kalau elo mau, gue tunggu di terminal. Biasaa.. terminal disana,
Aku manggut-manggut pertanda mengerti. Segera saja, aku mengganti bajuku. Siap deh! Aku berjalan menuju terminal yang tak jauh dari kompleks rumahku. Disana, sudah ada Didi, Raka dan Kroto. eh? kroto itu julukannya. Namanya, Raffy.

“Hey bray! ayo kita ke toko buku,” ucap Didi. Tak lama bus datang. Semua masuk ke dalam bus itu.
Di dalam bus, kami semua bercakap-cakap dengan serunya.
Tinn.. tin..
Bus berhenti di sebelah kiri. Aku, Didi, Raka dan Raffy turun dari bus. Kita berempat menyebrang sebelum masuk ke salah satu toko buku di kotaku.
“Eh, kita berpencar aja nyari CD kabaretnya,” usul Raffy. Semua mengangguk. Jadi, semua mencari CD kabaret sendiri-sendiri.

Pukul dua belas siang pas, semua kumpul lagi di lantai dasar. Aku berjalan menuju buku-buku bestseller. Buku-bukunya cenderung tebal. Bukannya mencari CD kabaret, aku hanya melihat buku-buku yang dipajang di rak sebelah utara. Aku mengambil buku berjudul ‘Kabaret cinta di Putih abu-abu’. Juga ada lambang best seller. Ah, sepertinya seru. Saat aku kembali berjalan, aku bertabrakan dengan seseorang.
“Eh? lo kalau jalan liat-liat dong! Wooi..” protes laki-laki itu. Menujrutku, dia sebaya denganku.
“Maaf,” sahutku pendek. Kami kesal, namun bertatap muka.
Di pikiranku… eh? laki-laki itu…
“DITO!” seruku.
“ANDI!” balas Dito.
“Eh, udah lama ya kita enggak ketemu,”
“Iya. Ceilah.. kamu bahasanya udah ‘lo’ gue segala lagi,”
“Hehehehe.”

Aku dan Dito duduk di kursi.
“Masih adakah sarung pemberianku?” tanya Dito.
“Kok gak bilang gue?” aku balik bertanya. Dito tersenyum tipis.
“Masih kok,”
“Kamu udah dikhitan belum? pasti udah kan.. selamat yaa,”
Aku tersenyum. Aku brebohong.

“Eh, udah jam dua belas nih. Aku duluan yaa…” kataku berpamitan. Aku segera berkumpul di lantai dasar.
Ternyata, Didi sudah menemukan Cd Kabaretnya. Kami sgera membayar CD Kabaret itu.

Di rumah..
“Andi, tadi ada pak pos. Nih suratnya,” Mama memberikan sepucuk surat. Dari siapa ya? hmmm… rupanya dari Dito. Katanya, dia mau bertemu denganku. Tapi memakai sarung pemberiannya.
Aku bersemangat. Aku memakai sarung itu dan meminta antar Pak Ryan, sopir keluargaku. Pak Ryan membawaku ke taman. Aku berlari. di sebuah tikar, ada Dito.
Dito meminta aku berbaring. Nah lho? Dito juga ikut berbaring. Aku dan Dito melihat pelangi yang indah. Tapi tiba-tiba ada dokter yang mondar-mandir.
“Sini pak,” ucap Dito. Dokter itu segera mengeluarkan alatnya.
Oooh.. aku mau dikhitan. Ohh noo.. aku berlari. Ada mama dan papa yang mencegah. Aku mengangis. Aku takut..

Cerpen Karangan: Andi Firrizqi
semoga cerpenku dimuat, dan diterima sama temen-temen pembaca

Cerpen Sarung Dari Dito merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


You’ll Never Know

Oleh:
Matahari mulai memunculkan sinarnya di ufuk timur bumi, tanda hari kini sudah pagi. Ayam-ayam berkokok serentak membangunkan orang orang yang masih terlelap dalam tidur mereka. Carla terbangun dari tidur

Kisah Dibalik Jendela Kelasku

Oleh:
Kawan namaku Vania Amaira Putri. Aku sih biasa dipanggil sama teman-teman Vani. Temen-temenku bilang aku tuh orangnya bawel, ribet, suka heboh sendiri, tapi baik kok, katanya sih aku tuh

Seribu Makna Sebuah Kanvas

Oleh:
Sebuah Surat Untuk Hiruka, Oktober 2013 Hei, aku tidak tahu untuk apa aku menulis surat ini untukmu. Sebuah surat tak beralamat. Aku memang tidak akan mengirimkannya. Rasanya mustahil mengirimkannya

Jalan-jalan Si Empat Sahabat

Oleh:
Ada 4 sahabat yang sangat akrab bernama Ira, Rina, Nisa dan Zahra. Mereka bersahabat sudah dari kecil. Orangtua mereka pun juga bersahabat. Rumah mereka pun juga bersebelahan. Itu membuat

Buku Misterius

Oleh:
Namaku Linda. Aku sekolah di Story Schools. Kami hanya membaca dan mengarang cerita. Kali ini aku dan sahabat sahabat ku berlibur di vila. Semoga tidak menyeramkan. “Berangkat sekarang yuk”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sarung Dari Dito”

  1. kutu buku says:

    Hahahaha..Lucu banget lhoo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *