Satu Cita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 28 May 2016

Tap… tap… tap… Azura tak berhenti memainkan kakinya. Berjalan mondar-mandir dari sudut ruangan ke sudut ruangan lainnya. Wajahnya cemas bercampur harap. Sesekali ia menggigit ujung ibu jarinya. Tak jarang bibirnya komat-kamit melafalkan doa. Ah, bosan aku dibuatnya. Bisa-bisa aku nanti yang digigitnya.

“Sudahlah Azura. Tak perlu cemas begitu! Duduklah sini, tenangkan dirimu!” aku mencoba menghentikan aksi konyolnya.
“Ah, Kay.. Bagaimana kau bisa begitu tenang,” katanya masih dengan wajah cemasnya.
“Lebih baik daripada kau yang mondar-mandir seperti orang bodoh. Atau jangan-jangan kau sudah tak waras?” aku meledeknya.
“Memangnya siapa yang tidak gila kalau berada di posisiku sekarang, ha?”
“Hei, tenanglah sayang. Tidakkah kau lupa kalau aku berada di posisi yang sama denganmu? Dan aku tidak melakukan tindakan seperti yang kau lakukan,” aku membela diri.
“Kau pikir aku tak tahu, kau juga merasakan hal yang sama, bukan? Kau hanya mengekspresikannya dengan cara yang berbeda,”
“Ya, dan itu membuktikan bahwa…”

Kriet… Daun pintu terbuka.

“Hasilnya sudah ke luar, tidakkah kalian mau melihatnya?” Ayen, gadis bermata sipit itu berkata.
“Tentu saja, cepat beritahu kami!” Azura dengan tidak sabarnya mendesak.
“Lihatlah!” Ayen menyodorkan laptopnya.

Tertulis: Rekapitulasi Hasil Babak Penyisihan Kompetisi Karya Tulis Ilmiah: nomor 3. Azura Salsabila, semifinalis.

“Yeay…” Azura melonjak kegirangan ketika tahu namanya tercatat sebagai semifinalis.
“Berisik! Hentikan aksi konyolmu! Sekarang kau sudah seperti orang gila,” aku meledeknya sekali lagi.
Azura malah semakin menjadi. Ia tertawa sendiri dan tak berhenti memainkan kakinya.
“Hei, Kay, kau tidak mau melihat hasil kerja kerasmu?” katanya. Baik, ku anggap itu sebuah ejekan.
“Aku…” aku menggantung kalimatku. “…takut,” kataku pada akhirnya.
“Oh, ternyata ‘Kayla yang pemberani’ bisa takut juga,” ia tersenyum sinis, mengerikan. “Biar aku yang mencari namamu,” katanya sembari menyusuri daftar nama para peserta.

“Bagaimana?” tanyaku.
“Tidak…” katanya.
“Aku tak lolos, ya,” aku menunduk.
“Tidak sia-sia usahamu selama ini…”
“Apa?”
“Kau nomor satu, bodoh!” Azura melempar buku ke wajahku.
“Aduh, sakit, tahu!” aku mencibir.
“Apa gunanya kacamatamu kalau melihat namamu saja kau tidak bisa,” sekali lagi ia meledekku, ku pukul kepalanya.

Aku menatap layar laptop masih dengan rasa tak percaya. Kayla Maulida, namaku, berada di urutan pertama, dengan keterangan, semifinalis. Mataku panas, ou, jangan sampai aku menangis di sini. Aku tak mau Azura melihat air mataku. Ada apa denganku? Seharusnya aku bahagia, bukan? Azura merangkulku yang masih diliputi rasa takjub. “Sudah ku bilang, usahamu tak akan sia-sia, bukan? Sudah ku katakan, kita akan berjumpa lagi. Sekarang kau dan aku adalah rival, yang memperebutkan kursi nomor satu pada kompetisi ini. Aku tak akan kalah darimu, Kayla,”

“Lihatlah, Rine! Sepasang sahabat dengan satu cita,” ku dengar Ayen berkata pada Corrinne yang tanpa ku sadari sudah berada di dekat kami.

Aku tertawa sementara air mata berlinang membasahi wajahku. Aku tersenyum dalam tangisku. Sedang Azura tertawa keras, masih dalam kegilaannya. Ayen dan Corrinne memandang kami dengan sepasang senyum. Ah, hari yang bahagia. Sepasang sahabat dengan mimpi yang sama. Empat sekawan yang bersama menjalani suka duka, pahit manis kehidupan. Bersama kami berlari, mengejar satu cita.

Cerpen Karangan: Na

Cerpen Satu Cita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Princess Pegasus

Oleh:
Setiap peri di negeri pony pasti memiliki seekor kuda. Mereka akan mendapat kuda mereka sendiri setelah lulus dari Pony Princess Academy School. Aira sekarang duduk di tingkat 3 Pony

Luthfi Arrahman

Oleh:
Aku cepat-cepat meraih tasku, “nggak makan dulu, Anya?” tanya Mama yang sedang mengoles roti dengan selai “Nggak sempat, Ma, sudah telat, Anya pamit ya, assalamu’alaikum” aku setengah berlari menuju

Temanku Yang Setia

Oleh:
Aku melihatnya. Aku melihat seekor kucing atau mungkin seekor anak anjing, sepulang bermain ternyata aku melihat seekor anak anjing yang sedang duduk dan aku melihat tidak ada seekor anjing

In My Eyes

Oleh:
Di mataku? Apa yang ada di mataku? Pupil, kornea mata, lensa, iris, retina dan bagian-bagian mata lainnya. Tapi ada yang spesial dengan mataku. Sebelumnya perkenalkan aku Putri Callista. Seseorang

Kisah ku

Oleh:
Aku hanya lah seorang gadis remaja yang mempunyai banyak teman, sahabat dan aku adalah seorang remaja yang otaknya gak pintar-pintar juga, lumayan lah. Aku berusia 17 tahun dan aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *