Seandainya Kau Mencintai Ku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 16 November 2015

Suasana belum begitu sepi. Masih terdapat beberapa siswi yang berkeliaran di sekitar sekolah. Dinara mengambil sebuah tempat duduk di bangku panjang yang terletak di depan kelasnya lalu duduk dan melepaskan tasnya dari gendongannya. Ia mengeluarkan sebuah benda berbentuk persegi panjang dengan warna hitam yang membungkusnya itu dari dalam ranselnya. Ia membukanya secara perlahan dan menekan lingkaran kecil yang berada di pojok kanan atas. Dalam hitungan detik secara otomatis layar berukuran 14 inchi itu hidup dengan sendirinya. Setelah me-refresh laptopnya beberapa kali untuk memastikan bahwa kondisi benda kesayangannya itu baik baik saja, ia segera menyambungkannya ke wifi sekolah.

Tanpa basa-basi ia segera mengarahkan kursornya ke sebuah aplikasi yang biasa digunakannya untuk browsing. Tak berselang lama ia telah tenggelam dalam dunia mayanya dan menjelajahi google untuk browsing tentang tugas geografi yang belum ia selesaikan dan harus terkumpul besok pagi. Dinara duduk sendirian di bangku panjang itu, hanya ada beberapa temannya yang belum pulang dan masih bergurau di depan kelas. Beberapa siswa yang lalu lalang di depannya sesekali memperhatikan Dinara yang tengah sibuk sendirian menghadap laptopnya. Tetapi ia sama sekali tak mempedulikan mereka. Yang ada di otaknya sekarang adalah untuk segera menyelesaikan tugas dan tugas. Sudah hampir satu jam ia terhanyut dalam laptopnya dan bergelut dengan tugasnya.

“Uhh. Akhirnya selesai juga,” Dinara menghembuskan napas lega sembari menekuk nekuk jari jemarinya yang terasa pegal karena harus mengetik sejak tadi. Saat ia tengah beristirahat sejenak, tiba-tiba ada seorang lelaki yang berlalu di hadapannya dan matanya melirik ke arah Dinara. Dinara juga meliriknya sekilas, mata mereka saling bertemu sebelum akhirnya Dinara segera membuang mukanya ke hadapan laptopnya kembali.

“Hey.. wifi-nya nyambung ya?” Tanya sebuah suara tepat di belakang Dinara. Dinara merasa pertanyaan itu ditujukan kepadanya, sehingga ia menoleh ke belakang untuk memastikannya.
“Tanya siapa? Aku?” Dinara balik bertanya pada seorang lelaki yang baru saja berlalu di hadapannya beberapa detik lalu itu.
“Iyalah, di sini yang lagi main laptop cuma kamu doang.” Kata lelaki itu seraya melihat di sekelilingnya.
Dinara pun juga menengok di sekelilingnya. Ya, memang hanya dia yang sedang sibuk bermain dengan laptopnya.
“Iya, ini nyambung. Kenapa?”
“Emm.. aku boleh pinjem bentar nggak?” Lelaki itu bertanya lagi dengan sedikit memohon.
“Buat apa?”
“Buat download bentar kok,”

Sebenarnya Dinara sedikit malas untuk meminjamkan laptopnya kepada lelaki itu. Apalagi dia belum mengenalnya sama sekali. Tapi Dinara ini tergolong orang yang tidak enak hati jika tidak berkenan untuk dimintai tolong. Akhirnya dengan nada sedikit terpaksa Dinara mengiyakan permintaan lelaki tersebut.
“Makasih ya.” Ucap lelaki itu setelah Dinara memperbolehkannya. “Kok kamu belum pulang, kenapa?” Lelaki berkacamata itu mencoba membuka pembicaraan.
“Soalnya tadi masih ngerjain tugas,” Jawab Dinara singkat.
“Ohh.. rumah kamu di mana?”
“Rumah? Emm.. rumahku nggak tak bawa sekolah, hahaha,” Dinara mulai lagi dengan leluconnya.

Gadis itu memang humoris, suka sekali membuat hal-hal yang bisa bikin ketawa. Dalam sekejap, kedua remaja ini mulai akrab satu sama lain. Ada saja hal yang mudah membuat mereka tertawa. Seakan akan mereka ini adalah sepasang kawan lama yang bertemu kembali dan sudah terbiasa untuk bersenda gurau bersama.

Hari yang cukup melelahkan bagi Dinara. Baru tepat pukul 5 sore ia sampai di kosnya. Ia menaruh tasnya di atas lemari dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur, menghilangkan lelah yang berselimut dalam tubuhnya. Ia menikmati waktu berbaringnya seraya mengamati langit-langit kamarnya.
“Oh iya, ngomong-ngomong nama cowok tadi siapa ya?” Tiba-tiba Dinara teringat akan cowok berkacamata yang meminjam laptopnya tadi. Ia sudah bisa akrab dengan lelaki itu, tetapi belum mengetahui namanya sama sekali.

Akhirnya, ujian akhir semester itu berakhir juga. Kini para siswa SMA 55 tinggal menunggu hasil dan di hari-hari bebas setelah ujian ini sekolah mengisi acara dengan mengadakan pertandingan futsal dan voli antar kelas. Dan jadwal dua hari terakhir sebelum pembagian rapor adalah bersih bersih kelas. Hari ini seluruh siswa di kelas Dinara mulai membersihkan kelasnya. Dari menyapu, membersihkan jendela, menata bangku, bahkan mengepel ruangan.
“Rin, ini tolong vas bunganya kamu taruh di luar dulu,” Pinta Lea pada Rinda.
Saat Rinda mengambil alih vas bunga dari tangan Lea, tiba-tiba seseorang menyenggol tubuh Lea dan vas bunga itu terlepas dari tangannya. Rinda belum sempat sampai menangkapnya, dan vas itu jatuh ke lantai. “Praanggg,”

“Eh, kamu ini gimana sih kalau jalan. lihat-lihat dong,” Lea memarahi Rico, orang yang tidak sengaja menyenggol tubuhnya tadi sehingga menyebabkan vas yang dibawanya terjatuh.
“Ma.. maaf, Le. Tadi aku nggak sengaja. Beneran,” Rico memasang muka bersalah.
“Udah-udah. Nggak usah pake bertengkar,” Suara Dinara melerai dari belakang kelas. “Mending sekarang pecahan vas ini cepat kita singkirkan,” Dinara meletakkan kemoceng yang dibawanya dan berjalan menuju ke arah pecahan vas itu.

Dia memunguti pecahan itu dengan hati-hati. Lea, Rinda dan Rico ikut membantunya. Saat tengah memungut, Dinara tidak mengetahui jika di sebelah tangan kirinya ada pecahan besar yang belum dipungut. Tangan kirinya tidak sengaja menyentuhnya dan membuatnya terluka.
“Aww..” Teriak Dinara.
“Ya ampun, Din. Tangan kamu berdarah. Ayo kita ke UKS,” Rinda menarik tangan Dinara dan membawanya ke UKS.

Sampai di UKS, Rinda mengambil sebotol obat merah dan perban dari kotak berlogo tanda plus berwarna merah.
“Hey.. jangan diberi obat merah dulu,” Tiba-tiba suara lelaki dari balik kelambu kamar pria menghentikan tangan Rinda yang akan mengobati Dinara. “Sini ikut aku,” Lelaki itu menarik tangan Dinara ke luar dari UKS. Dia membersihkan darah di tangan Dinara menggunakan air kran di depan UKS.
“Uuhh.. perih tahu,” Keluh Dinara sambil memejamkan matanya.
“Udah nggak apa-apa. Biar cepet sembuh.”

Lelaki itu membawa Dinara kembali ke UKS. “Biar aku aja yang ngobatin,” Kata lelaki itu pada Rinda.
Rinda mengiyakan permintaannya dan memberikan obat merah beserta perbannya kepada lelaki itu, dan dia kembali ke kelas.
“kalau luka itu darahya dibersihin dulu, baru dikasih obat merah terus diperban,” Kata lelaki itu yang tengah membebatkan perban di tangan Dinara.
“Iya, mungkin tadi temenku saking paniknya lupa mau nyuci tanganku,” Kata Dinara yang masih sedikit kesakitan.
“Makasih ya u…” Dinara menghentikan ucapannya saat ia menoleh ke arah lelaki yang tengah mengobatinya itu adalah orang yang pernah meminjam laptopnya sekitar sebulan yang lalu.

Sejak saat itu baru hari ini mereka bertemu kembali. “Kamu kan cowok yang waktu itu.”
“Kamu kan juga cewek yang kemarin?” Lelaki itu melempar senyum ke arah Dinara. “Oh iya waktu itu aku belum sempet tahu nama kamu. Kenalin namaku Ray,” lelaki berkacamata itu meletakkan sisa gulungan perban di meja dan mengulurkan tangannya.
“Aku Dinara,” Dinara menyambut uluran itu. “Deg deg,” Entah mengapa kali ini detak jantung Dinara sedikit berbeda saat tangannya bertemu dengan tangan pria itu. “Makasih udah ngobatin tanganku,” Dinara mengulang ucapannya di awal yang sempat terputus tadi. Baik sekali cowok ini. Gumam Dinara.
“Iya sama-sama,”

“Bolehkah aku meminta bantuanmu lagi?” tanya Dinara.
“Jika aku bisa membantumu.” Lelaki itu kembali menyunggingkan senyumnya.
“Bisakah kau menemuiku esok hari? Sepertinya aku membutuhkan sedikit bantuanmu untuk memperbaiki laptopku. Dan aku rasa kamu mahir dalam teknologi,”
“Emm.. boleh. Aku rasa aku mungkin bisa memperbaikinya,” Jawabnya dengan senang hati.
“Baiklah. Aku kembali ke kelas dulu. Sekali lagi terima kasih,” Dinara beranjak dari tempat duduknya dan melenggang keluar dari UKS.

Di sepanjang perjalanan dari UKS menuju kelasnya, Dinara terus memikirkan lelaki itu. Baik sekali pria ini. Mau mengobati tangan Dinara. Kelihatannya dia juga pria yang ramah. Bahkan dia langsung mengiyakan saat Dinara meminta bantuan. Jujur, belum pernah Dinara diperhatikan seperti ini sama cowok. Ia sangat terkesan dengan kebaikan Ray. Sepertinya gadis beralis tebal ini akan menyukainya.

Keesokan harinya sepulang sekolah, Lelaki berkacamata itu menemui Dinara di depan kelasnya, sesuai janjinya kemaren. Lelaki itu tengah sibuk mengutak-ngatik laptop Dinara, sedangkan Dinara sendiri masih menghadap novelnya yang baru selesai ia baca separuh halaman.
“Insya Allah setelah ini udah nggak error lagi, Din. Jadi kamu nggak perlu bingung-bingung bawa laptop kamu ini ke tempat service,”
“Hmm.. oke-oke, makasih ya. Maaf jadi ngerepotin,” Dinara meletakkan novel yang dibacanya.
“nggak apa-apa kok.” Jawabnya santai. “Nih aku punya film baru,”
Kebetulan ada kursi kosong yang tidak terpakai. Ray mengambilnya dan meletakkan laptopnya Dinara di kursi itu, lalu dia mengambil duduk di bangku panjang yang terletak di depan kelas Dinara dan duduk tepat di sebelahnya. “Ini judulnya Clash Of Titans. Dijamin deh, kamu nggak bakalan nyesel nontonnya,” Ucap Ray memprovokatorinya.

Dinara hanya mendengus saja mendengar ucapan Ray. Matanya tertuju dengan layar laptopnya yang tengah mempertontonkan film yang disebut oleh Ray tadi. Sepertinya film ini memang terlihat sangat menarik. Hampir dua jam mereka menonton film. Dinara terlihat sangat menikmati film itu. Sedangkan Ray sudah pernah melihat sebelumnya, jadi kali ini dia menonton untuk kedua kalinya.
“Din aku ke belakang dulu ya,” Pinta Ray pada Dinara.
Saking asyiknya menonton, Dinara tidak mendengar yang Ray katakan dan membiarkan Ray pergi meninggalkan ia sendiri di depan kelasnya. Beberapa menit setelah Ray pergi, film itu menunjukkan akhir ceritanya. Wajah Dinara terlihat sangat puas setelah melihat film itu. Kepuasan itu berubah menjadi kebingungan saat ia mendapati Ray tak ada di sampingnya. Tak selang beberapa lama Dinara tengah melihat Ray sedang berjalan dari kejauhan.

“Darimana sih?” Tanya gadis itu.
“Nih, aku bawain minuman sama snack buat kamu,” Ray menyodorkan sebotol air mineral dan sebungkus snack.
“Apaan sih? Udah nggak usah,” Dinara menolak.
“Udahlah ambil aja. Mubazir loh kalau nggak mau ngambil.” Ray tetap mengulurkan tangan kanannya yang berisi air mineral itu.
“Lagi puasa,” Kata Dinara berbohong.
“Puasa apaan sabtu-sabtu gini. Toh kalau emang lagi puasa kan bisa kamu makan ntar waktu buka,”

Dinara terdiam. Dia bingung harus beralasan apa lagi untuk menolak pemberian Ray. Dinara merasa sungkan jika harus menerimanya, tetapi di sisi lain dia juga tidak mau dicap sebagai orang yang tidak bisa menghargai pemberian orang. Ray begitu baik padanya. Kemarin dia mengobati lukanya, hari ini dia perbaiki laptopnya. Dan sekarang, dia rela merogoh uangnya untuk mencarikan makanan. Bukankah seharusnya Dinara yang membayar kebaikannya?

“Kok malah ngelamun sih. Buruan ambil. Mau nungguin sampe tangan aku bengkak kayak patung liberty gitu?” Gerutu Ray.
“I.. iya,” Suara Ray membangunkan Dinara dari lamunannya. “Aku ambil. Makasih banyak ya, Ray.” Dinara pun memutuskan untuk menerimanya.
“Sama sama.” Ray mengulurkan senyum kepada Dinara. “Sini aku bukain tutupnya,” Ray menyahut botol air itu dari tangan Dinara. Ia mengetahui tangan Dinara masih diperban dan Dinara tak mungkin bisa membukanya dengan satu tangan.
“Makasih ya,” Dinara mengambil botol itu dari tangan Ray. Lagi-lagi Dinara terpesona dengan kebaikannya.

“Kau pulang sendiri?” Tanya Ray.
“Iya,” Jawab Dinara singkat.
“Kalau begitu aku akan menemanimu.”
“Menemaniku kau bilang? Memangnya kau naik apa?” Tanya Dinara terlihat seperti orang bingung.
“Aku jalan kaki. Sama sepertimu.” Ray mengambil ranselnya.
“Kau orang sini?”
“Bukan. Tapi kostku tak jauh dari tempat kostmu.”

Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang berdua. Dinara tak menolak ajakan Ray untuk pulang berdua. Justru ia malah senang.
“Jadi, kenapa kau memutuskan untuk sekolah di Bogor?” Tanya Dinara dalam perjalanan.
“Aku bosan dengan suasana Bandung. Maka dari itu aku memilih untuk meneruskan sekolahku di sini.”
“Oh gitu,” Dinara menganggukkan kepalanya. “Sepertinya aku sudah sampai di kostku. Bagaimana denganmu? Masih jauhkah tempat kostmu itu?” Kata Dinara yang berhenti di depan sebuah gerbang yang bercat putih itu.
“Tidak, hanya tinggal beberapa meter lagi.” Ucap Ray yang juga ikut menghentikan langkah kakinya di gerbang bercat putih itu.

“Baiklah kalau begitu. Selamat berlibur, Dinara,” Ray tersenyum dan kembali melangkahkan kakinya.
“Oke, makasih udah nemenin pulang, Ray. Hati-hati ya,” Dinara membalas senyum Ray dan melambaikan tangan ke arahnya. Ray pun membalas lambaian itu.
Satu lagi kebaikan Ray. Menemani Dinara pulang. Mata Dinara masih tertuju pada lelaki itu sampai ia telah menghilang dari pandangannya. Benar-benar hari yang menyenangkan baginya. Belum pernah seumur hidupnya ia temui lelaki seperti Ray. Ia memandangi tangan kirinya yang diperban. Tiba-tiba seulas senyum tersungging di pipinya. “Jika bukan karena luka ini, mungkin aku tak akan mengagumimu Ray.” Batin Dinara.

Bersambung

Cerpen Karangan: Ihda Mufida

Cerpen Seandainya Kau Mencintai Ku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I like You, She like You, You like…

Oleh:
“Nay, cepet dong!” keluh Shina, sahabatku. “Iya Shina cerewet!!” ucapku sambil menekankan nada bicaraku. “Yuk Shin!” ajakku. Kami segera naik Taksi yang sudah di pesan Shina. Rencananya, hari ini

Makna Sebuah Piala

Oleh:
“Dasar bocah b*ngsat!!” Teriak pria bertubuh besar itu. Matanya yang sangat tajam dan terkesan sangar mampu membuat bulu romaku merinding ketika sekilas ditatapnya. Tak bisa ku bayangkan seperti apa

Cahaya Untuk Icha

Oleh:
“ aah Riki, basah tahu.. aah udah..” rengekku ketika bermain pistol air bersama Riki sahabat kecilku. Tawa kami bisa jadi tawa paling istimewa di kompleks ini. Rumahku dengan rumah

Kisah Putih

Oleh:
Sesuatu yang dimulai dengan niat baik, maka akan baik pula hasilnya. Sebaliknya juga demikian. Namun jika sesuatu dimulai tanpa disengaja mungkin itu hanya kebetulan yang akan diteruskan jika itu

Kamera Kayu (Part 2)

Oleh:
Pada suatu sore di taman kota mereka dipertemukan. Tak tahan melihat orang yang dicintainya itu disakiti, Bian pun melayangkan tangan kanannya ke wajah Tiar. Tiar yang tidak tahu apa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *