Seandainya Kau Mencintai Ku (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 16 November 2015

“Dinara, tunggu,” Teriak seseorang dari lapangan basket.
Dinara menoleh ke arah suara yang sudah tidak asing lagi baginya. Tampak Ray tengah berlari menuju ke arahnya.
“Din, aku mau ngomong sama kamu,” Ucap Ray dengan terengah-engah.
“kalau mau ngomong ya ngomong aja,” Dinara bersikap acuh tak acuh pada Ray.
Ray mengatur napasnya, “Aku rasa akhir-akhir ini kau sering menjauh dariku. Kau jarang menemuiku, setiap aku menghampirimu di kelas sepulang sekolah, kau selalu tidak ada. Kau juga jarang membalas chatku di sosmed apapun. Bahkan hanya waktu waktu tertentu kau membalas pesanku. Kenapa, Din?”

“Aku sibuk dengan tugas tugasku.” Dinara menjawab sekenanya.
“Ku rasa bukan itu alasanmu,” Ray tak percaya dengan jawaban Dinara.
“Aku hanya ingin kau tidak terlalu memperhatikanku,”
“Tapi kenapa?” Tanya Ray heran.
“Jika memang kau mencintai Marsya, lalu kenapa kau begitu memperhatikanku? Bukankah dia yang seharusnya lebih kau perhatikan?” Suara gadis beralis tebal itu terdengar semakin meninggi.
Lelaki itu hanya terdiam menunduk. Mencoba membetulkan kacamatanya yang sama sekali tidak bermasalah. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakannnya pada gadis yang telah menjadi sahabat dekatnya itu. Ray menyadari, jika dirinya memang lebih memperhatikan Dinara daripada Marsya, gadis yang ia dambakan.

“Kau marah padaku karena kau menyukaiku kan?” Bukannya menjawab, Ray justru melontarkan pertanyaan gila ini kepada gadis itu.

Gadis beralis tebal itu tercengang saat mendengar pertanyaan itu ke luar dari mulut Ray. Wajahnya yang semula merah padam karena ingin marah berubah menjadi dingin dan berkeringat. Begitu pula telapak tangannya terasa dingin. Dinara tak berani menatap Ray. Ia tak tahu harus menjawab ya atau tidak dari pertanyaan Ray itu. Rasanya Dinara ingin pergi saja dari tempat itu dan melarikan diri dari pertanyaan Ray yang terasa begitu mencekik urat lehernya. Dinara membalikkan tubuhnya dari hadapan Ray dan melangkahkan kakinya berusaha pergi dari hadapan Ray. Tetapi suara Ray menghentikan langkahnya.

“Kau boleh pergi setelah kau menjawab pertanyaanku,” Ray mendekat ke arah Dinara. “Aku tahu kau selalu berkata jujur padaku. Dan kali ini aku juga meminta kejujuranmu.”
Dinara menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. “Iya, aku menyukaimu,” Dinara menjawabnya dengan tegas. Dia teramat sangat malu, tetapi ia tak ingin terlihat seperti orang bodoh di hadapan Ray.
“Kau mau kemana?” Ray mencengkeram tangan Dinara yang hendak pergi lagi. Cengkeramannya begitu kuat sehingga membuat Dinara kesusahan untuk melepaskannya.

“Terima kasih atas kejujuranmu. Aku ingin menepati janjiku. Aku akan mengajakmu mengelilingi Bandung hari Minggu besok. Dan kau harus mau karena ini janjiku padamu.”
“Tapi Ray…” Dengan cepat Ray membungkam mulut gadis itu dengan tangan kirinya.
“Aku tidak akan melepaskan tanganmu sebelum kau mengatakan bahwa kau mau ikut denganku besok,” Ray masih mencengkeram tangan Dinara yang sejak tadi berusaha melepaskan diri.

Ray memang pernah berjanji pada Dinara bahwa ia akan mengajak Dinara keliling Bandung saat ia pulang dan akan membawanya ke sebuah taman yang indah. Yang pasti tidak akan pernah dilupakan oleh Dinara. Dinara memang sangat ingin pergi ke Bandung. Rasanya ia sangat menyayangkan jika menolak ajakan Ray hanya karena kejadian sore ini.
“Baiklah, aku ikuti permintaanmu.” Dinara membuang tangan Ray yang sedari tadi membungkam mulutnya. “Tapi lepaskan tanganku,” Ujarnya sedikit kesal.
Ray tersenyum riang dan melepaskan tangan gadis yang sejak tadi terus menerus menekuk wajahnya itu.

“Nyebelin banget sih jadi orang,” Dinara berkata dengan kasar. Kekesalannya pada Ray terlihat semakin memuncak. Ia pun langsung bergegas pergi dan mengabaikan panggilan dari Ray.
“Sampai jumpa besok, Din,” Teriak Ray dan melambaikan tangan ke arah Dinara yang mengabaikan lambaian itu. Dia tidak mencegah Dinara lagi. Bahkan tak mempedulikan Dinara yang tengah kesal padanya. Justru ia malah tersenyum bahagia. Bahagia karena ia bisa bertemu dengan Dinara lagi setelah beberapa hari yang lalu mereka sempat merenggang.

“Jadi benar kau menyukaiku?” Tanya Ray menggoda Dinara. “Aku sudah menduganya,” Ucap Ray tersenyum dan melirik ke arah Dinara.
Dinara hanya diam saja. Wajahnya masih terlihat kesal. Tapi di balik kekesalannya itu tersimpan rasa malu. Dan satu lagi, dia merasa bahagia karena hari ini dia bisa pergi ke Bandung, berdua bersama Ray.
“Entahlah. Tapi aku merasa nyaman saat kau berada di dekatku,” Dinara pun membuka mulutnya. Diam hanya membuatnya terlihat seperti orang sakit gigi.
Ray hanya tersenyum mendengar pengakuan Dinara. Dinara tidak bisa mengartikan senyuman itu. Membuat ia merasa lebih malu dan gugup.
“Ini sungguh taman yang indah. Apakah kau sudah pernah mengajak Marsya ke sini?” Dinara mengalihkan pembicaraan. Walaupun ia tahu mungkin jawaban dari pertanyaannya akan kembali membuat dadanya terasa sesak.
“Tidak.” Ray menggelengkan kepalanya. “Aku belum pernah mengajaknya jalan. Setiap di dekatnya aku selalu merasa gugup. Mungkin saat itu aku terlalu cepat mengatakannya,” Ray tertunduk.

Sepertinya ia merasakan kekecewaan pada dirinya. Mendengar jawaban Ray, Dinara merasa sedikit lega. Tapi ia ikut sedih ketika melihat wajah Ray yang lesu. Dia bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh pria berkacamata yang duduk di sebelahnya ini. Mencintai orang yang ia tidak tahu apakah orang itu juga mencintainya. Itu yang Ray rasakan. Tapi bukan hanya Ray, Dinara pun mengalaminya. Tetapi Dinara tahu jika ia mencintai orang yang telah mencintai orang lain. “Seandainya kau mencintaiku, Ray.” Begitu batin Dinara.

“Kau menyukai keduanya?” Tanya Laras mengambil posisi duduk di sebelah Ray. Dia kaget sekaligus penasaran dengan cerita Ray.
“Awalnya aku hanya menyukai pemilik suara emas itu. Tapi ternyata sekarang aku justru menyukai keduanya. Dan aku tak tahu siapa yang harus aku pilih,” Ray mengetuk-ngetukkan pensilnya di atas meja.
Laras, personil Green Band yang pandai memainkan gitar ini mencoba membantu menyelesaikan masalah yang ada di otak Ray, teman sekelasnya. Dia tahu persis bagaimana perangai gadis pemilik suara emas itu dan juga sang pemilik jari yang paling indah memainkan tuts tuts keyboard itu, karena mereka satu grup sejak kelas X.

“Semuanya terserah kau, Ray. Tanyakan pada hatimu.” Laras menumpangkan tangan kirinya pada bahu kanan Ray. “Kau lebih memilih untuk mengejar cinta yang kau tak tahu kapan kepastian akan menemuimu, karena sampai detik ini pun cinta yang kau tunggu tak memberikan jawabannya. Atau mungkin kau lebih memilih cinta yang sekarang telah ada di hadapanmu, yang mungkin benar-benar bisa membuat dirimu lebih bahagia.”
Ray terdiam sejenak. Mencoba mencerna setiap kalimat yang ke luar dari mulut Laras barusan. “Baiklah. Aku ambil saranmu.” Suara Ray terdengar bersemangat. Sepertinya dia telah menemukan jawabannya.

Laras melepaskan gitar kesayangannya itu dari gendongannya. Ia mengambil sebotol air mineral dan meneguknya dengan cepat.
“Kau mau minum?” kata Laras seraya menyodorkan sebotol air mineral yang tadi diminumnya kepada Dinara.
“Thanks sob.” Dinara tersenyum dan meraih botol itu dari tangan Laras.
“Aku harap pertemananmu dengan Marsya tetap baik-baik saja,” Ucap Laras yang telah duduk di sebelah Dinara.
“Apa maksudmu?” Dinara meletakkan botolnya. Ia nampak bingung, tetapi juga kaget dengan apa yang diucapkan Laras terhadapnya.

“Aku mengetahui semuanya, Din. Dan aku tidak akan berpihak kepada siapa-siapa karena kalian berdua sama-sama teman baikku.”
“Ray bercerita kepadamu?” Dinara mulai mengerti maksud Laras. “Apa saja yang ia ceritakan?”
“Semuanya aku mengetahuinya,” Laras menoleh ke arah Dinara. “Bahkan aku mengetahui hal yang tidak kau ketahui,”
“Hal yang tidak aku ketahui? Apa itu?” Tanya Dinara semakin penasaran.
“Kau akan mengetahuinya nanti,” Laras hanya tersenyum dan beranjak pergi meninggalkan Dinara yang masih duduk terpaku sendirian.

“Hal yang tidak aku ketahui.” Itu yang Dinara pikirkan sejak kemarin. Dia tidak tahu harus menanyakan satu kalimat itu kepada siapa. Laras tak mau memberitahunya. Begitu pula dengan Ray. Tapi esok hari Ray berencana kembali mengajak Dinara ke taman terindah di Bandung itu lagi. Mungkinkah itu jawaban dari hal yang tidak Dinara ketahui? Dinara semakin bingung. Sebenarnya apa yang telah terjadi. Yang masih ia pikirkan sekarang adalah perkataan Laras kemarin sore. Tentang hubungan pertemanannya dengan Marsya. Apakah akan baik-baik saja? Pasti akan baik-baik saja. Karena jika memang Marsya juga menyukai Ray, maka Dinara akan baik-baik saja. Dia tidak akan merebut Ray dari Marsya. Baginya, menjadi kawan baik Ray dan berada di dekatnya itu sudah cukup untuk membuatnya bahagia.

“Kau menceritakan semuanya kepada Laras?” Tanya Dinara yang sudah duduk di kursi panjang bercat putih.
“Ya, aku menceritakan semuanya,” Ray masih berdiri mengamati puluhan merpati yang terbang dari sarangnya menuju menara air mancur. “Semuanya termasuk hal yang tidak kau ketahui,” Ray meneruskan ucapannya sambil duduk di sebelah Dinara.
“Hal yang tidak aku ketahui.” Dinara mengulang kalimat itu. Kalimat yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman. “Laras juga berkata seperti itu padaku,”
“Kau tahu apa itu hal yang tidak kau ketahui?” Ray menghadapkan tubuhnya ke arah Dinara sebelum ia meneruskan perkataannya.

Tingkah Ray yang menghentikan ucapannya begitu saja membuat Dinara semakin penasaran. Ia menoleh ke arah Ray yang kini tubuhnya sudah menghadap kepadanya. Mata mereka saling bertemu. Persis seperti saat Dinara memandang matanya saat mereka pertama kali bertemu dulu. Tapi pandangan ini jauh lebih dalam, lebih bermakna. Jantung Dinara sepertinya berdetak lebih kencang. Tangannya mulai dingin dan badannya bergetar. Tatapan Ray saat itu terlihat sangat dalam. Oh Tuhan, seandainya tatapan itu mematikan, pasti Dinara sudah tak sadarkan diri saat ini.
“Hal yang tidak kau ketahui itu adalah…” Ray meraih kedua tangan Dinara, “Aku mencintaimu,” Ray mencium kedua tangan Dinara yang dingin itu.

Dinara seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan Ray dan apa yang sekarang tengah berada di hadapannya. Dulu dia pernah mempunyai harapan jika suatu saat Ray akan menyatakan perasaannya di hadapan Dinara. Dan kini mimpi itu terwujud. Terkadang impian yang terwujud secara tiba-tiba itu lebih beresiko dari penyakit serangan jantung. Buktinya, saat ini mulut Dinara terasa kelu, tak bisa berucap apa-apa. Tubuhnya terasa lumpuh dan tak bisa digerakkan. Rasanya dia ingin jatuh pingsan tapi ia akan malu berat jika pingsan di tempat umum seperti ini.

“Tapi bukannya kau menyukai…”
“Aku memang menyukai Marsya,” Kata Ray memotong ucapan Dinara. “Tapi aku juga menyukaimu. Aku memilihmu karena kau mencintaiku, dan mungkin kaulah orang yang benar-benar bisa membuatku bahagia,”
“Kau benar… mencintaiku, Ray?” Suara Dinara sedikit kaku.
“Sepenuh hatiku,” Kata Ray meyakinkan.

“Bagaimana kau bisa mencintai orang sepertiku, sedangkan aku saja tidak tahu mengapa kau mencintaiku,”
“Kau tidak tahu, aku pun juga tidak tahu bagaimana aku bisa mencintaimu. Mungkin benar jika cinta itu tidak harus dengan alasan. Yang aku tahu, aku mencintaimu karena kau adalah seorang Dinara,” Ucap Ray tersenyum bangga dengan perkataannya. Alasan yang begitu sempurna. “Bantu aku melupakan dia,” Ray memegang kedua bahu Dinara.

“Apa yang bisa ku lakukan untuk membantumu?” Dinara bertanya dengan keheranan.
Ray tersenyum kepada Dinara, “Kau hanya perlu melakukan satu hal,”
“Satu hal?” Dinara kembali bertanya.
“ya, hanya satu hal. Jadilah kekasihku,” Kata Ray seraya memeluk Dinara. “Berjanjilah kau akan selalu bersamaku dalam keadaan apapun. Aku mencintaimu Dinaraku,” Ray menguatkan pelukannya, seakan-akan ia tak ingin melepaskan seorang Dinara dalam hidupnya.
“Aku pun mencintaimu, Ray,” Dinara membalas ucapan lelaki berkacamata itu. Tanpa sengaja butiran kristal membasahi pipinya.

“Aku tak pernah meminta pada Tuhan untuk dipertemukan denganmu. Semua ini adalah kehendak-Nya. Saat aku mengenalmu, aku merasakan itu adalah sesuatu yang biasa. Layaknya aku mengenal lelaki lain. Namun seiring berjalannya waktu, aku melihat kita begitu dekat. Bahkan aku tak menyadari jika kedekatan kita berimbas pada hatiku. Hatiku yang mulai menyukaimu. Setiap berada di dekatmu, aku merasa nyaman. Semua waktuku saat bersamamu, tak pernah ingin aku lupakan.”

“Aku merasakan perih saat aku mengetahui kau telah menyukai gadis lain. Tapi hatiku merasa lega, saat akhirnya kau mengetahui perasaanku yang sesungguhnya. Meskipun aku tahu, tak akan ada harapan lagi untukku bisa bersamamu. Perlahan, tanpa berniat untuk terlalu menjauhimu, aku pun bisa merelakan perasaanku. Tapi suatu ketika kau memberitahuku tentang sebuah hal yang tidak aku ketahui. Dan hal yang tidak aku ketahui itu adalah, ‘kau mencintaiku’ Bukan sebuah pelarian, tetapi karena kau merasa akulah yang mungkin benar bisa membahagiakanmu. Terima kasih Ray, aku pun mencintaimu.”

Tamat

Cerpen Karangan: Ihda Mufida

Cerpen Seandainya Kau Mencintai Ku (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Fatah Kafah Cinta

Oleh:
Terdengar suara engsel pintu saat seseorang memasukinya. Ruangan yang banyak mengenang akan sebuah perjuangan yang tak berarti bagi mereka. Yah.. kemenangan yang selalu datang hanya teranggap sebagai sebuah debu

Hikayat Penciptaan Bintang

Oleh:
Dulu ketika peri peri hidup di bumi dan jumlah manusia masih sedikit, pada batang pohon oak berdaun rindang dalam belantara, tinggallah peri yang selalu durja. Tiap hari kerjanya hanya

Keynes (Part 1)

Oleh:
Aku pernah berpikir, apakah cinta bisa membunuhku? Bagaimana caranya ia bisa membuatku menutup kedua mata, berjalan tanpa arah dan melepaskan nyawaku untuk berkelana dalam kegelapan? Aku ingin tahu. Satu

Hitam Putih November

Oleh:
Pertengkaran antara aku dan dia di bulan Juli membuat hubungan kami berakhir. Hubungan yang kami jalin selama dua puluh bulan ini harus berakhir karena keegoisan kami berdua. Rasa cemburu

Sayap Malaikat Surga

Oleh:
Aku adalah seorang photographer sebut saja namaku Bagus, ini cerita sebelum aku masuk penjara. Aku pemuda yang sudah beristri, istri saya bernama Widia, aku dan dia menikah muda pernikahan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Seandainya Kau Mencintai Ku (Part 3)”

  1. Raihanur says:

    Woo.. Bgus ceritax kk..
    Aq suka nii 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *