Sebatas Mimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 27 May 2017

Jika aku tidak mencintainya. Percayalah, aku pasti sedang berbohong.
“Sa.. kita ketemuan yuk.. kangen ni” seru suara di ponsel milikku. Itu Maya, teman semasa SMA ku. Dia adalah sahabat termanis sedunia, dia baik, pemberani, dia cute juga dan yang jelas aku menyayanginya.
“oke.. di mana, May? Tapi sehabis pulang kerja ya.. sekitar jam 4 gimana?” sahutku.
“pas! Kita ketemuan di cafe Cendrawati. Ada surpise untuk lo, May. See you cantik..” Maya memutuskan teleponnya. Maya pasti sengaja mematikan teleponnya dengan cepat supaya aku tidak bertanya-tanya tentang surpise itu. Ahh Maya.. dia memang pandai membuat siasat untuk masalah yang berbaur dengan kejutan. Kira-kira apa ya?
Dengan semangat 45, aku melanjutkan pekerjaanku. Hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk bisa keluar dari kantorku dan bersiap-siap bertemu dengan sahabat yang paling aku rindukan. “Maya.. I am coming” batinku.

Akhirnya waktu yang aku dan Maya nantikan tiba juga. Kami berpelukkan dengan semangat. Cium pipi kanan, cium pipi kiri, ketawa tidak jelas, itu yang kami lakukan saat ini. maklumlah.. namanya juga sahabat yang saling merindukan.
“ttet..teret…” seru Maya dengan mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya. Kejutan! Itu kejutan untukku katanya. Aku tersenyum dengan bahagia.
“seru!! seru!! seru!!… apaan ni..” sahutku histeris sambil menyambar kotak yang dipegang Maya. Kotak itu tipis dan berbungkus warna pink, ada sedikit gambar bonekanya juga. Sangat cute.
“lo pasti seneng deh, Sa..”
Aku membuka kotak pink itu dengan -sangat–teramat- hati-hati. Aku merasakan darahku mengalir dengan derasnya. Saking groginya. Setelah kubuka.. jantungku serasa merosot sekarang. Bukan lagi grogi, melainkan patah hati. Aku diam cukup lama. Tapi kemudian tersenyum dengan bahagia. Aku tidak tahu, entah itu benar-benar senyuman bahagia atau karena terpaksa.. yang jelas, kotak itu berisikan masa depan Maya. Dan aku juga terlibat di sana.
“Undangan!” teriak Maya kemudian.
“pernikahan lo sama Irfan ya?” ucapku sok tegar. Padahal batinku sedang menjerit setengah mati. Ternyata hubungan mereka sudah sejauh ini. aku larut dalam lamunanku.

6 tahun yang lalu..
“Irfan! Irfan!.. Calissa… astaga! Dia ganteng banget.. namanya Irfan, calon kakak kelas kita di sini, Sa” teriak Maya histeris di kantin sekolah. Astaga memalukan! Semua mata tertuju pada kami, tepatnya pada Maya sendiri sih.
“what?? Tetangga baru lo itu kan?” sahutku juga sedikit histeris. Mau tidak mau. Yah kulakukan supaya Maya tidak sendirian menanggung malu dilihati banyak orang.
Maya mengangguk mantap. Dia mulai mengoceh tentang ketertarikannya pada Irfan. Sebenarnya aku juga tidak tahan ingin bertemu dengan orang yang berhasil memikat hati Maya. Setahuku, baru kali ini dia kelihatan seperti orang yang sedang jatuh cinta. Baguslah.. berarti dia masih normal. Dulu aku hampir meragukan Maya, karena aku tidak pernah mendapati dia berduaan dengan lawan jenis ataupun cerita padaku soal cowok. Kecuali, kakak laki-lakinya.

Tak berapa lama, orang yang berada di kantin berhamburan keluar. Aku pikir sedang terjadi perkelahian atau apalah, ternyata tidak. Saat aku menanyakan apa yang terjadi, ada yang tiba-tiba berteriak, “sumpah! Dia genteng! Ganteng!” serunya histeris.
Maya dan aku saling menatap kemudian Maya berteriak, “Irfan!” Maya langsung menarik tanganku dan menemui orang yang sedang dihebohkan. Aku dan Maya mungkin kurang beruntung, Irfan sudah berada di ruang kepala sekolah. Selang beberapa saat, bel berbunyi. Maya menghela nafas berat. Bibirnya maju beberapa senti. “tenang.. di rumah kan lo masih bisa ketemu” belaku.

Keesokkan harinya..
Hari ini aku terlambat! Arrkkh.. sial! Aku berlari sekuat tenaga untuk sampai ke sekolah. Ternyata gerbang belum ditutup. Dengan senyuman yang sedikit lega, aku berjalan santai memasuki kelas. “hei! Kamu sudah terlambat masih bisa melenggak-lenggak ya!” ketus guru piket. Astaga.. aku sampai tidak sadar. Memang benar, aku sedikit berlenggak-lenggak. Aku tercengir, kemudian kembali berlari masuk ke kelas. Tanpa tersadar, aku menabrak seseorang. Kami sama-sama terpental cukup jauh. Well.. mungkin tidak segitunya. Aku yang terjatuh, sedangkan orang yang kutabrak tetap berdiri dengan tegap. Sumpah! Aku tidak apa-apa, tapi malunya ini loh! Aku yakin, wajahku pasti sangat merah.

“lo nggak papa?” kata orang itu. Aku mendangak melihatnya. Boleh aku jujur? Aku tidak berbohong, dia manusia paling tampan yang pernah kutemui. Matanya yang hitam pekat dia gunakan untuk menatapku sambil tersenyum manis. Dan.. dia memiliki lesung pipi. Aku pasti akan pingsan, dia menyodorkan tangannya untukku. Aku tidak menjawab apapun, karena aku sudah lemas sekarang. Lemas melihat senyuman indah itu.
“gue bantu ya..” katanya lagi. Dia langsung membopongku naik ke atas. Beri aku kekuatan Tuhan! Aku tersenyum kaku. “maaf ya” itu kata terakhirnya, kemudian dia pergi meninggalkanku. Aku juga. Maksudku, aku juga harus pergi meninggalkan pemuda tampan itu karena aku sudah semakin terlambat jika harus melihat dia lama-lama.

Aku diam-diam memasuki kelas tanpa sepengatahuan guru kimiaku. Berhasil! Maya dan teman-teman yang melihat cara trikku berjalan ini, terkikik pelan. Aku tak menggubrisnya. Yang penting aku selamat.
“kenapa..” kata Maya yang secepat kilat aku meotong pembicaraannya, karena aku tahu dia pasti akan bertanya ’kenapa lo terlambat’
“kena macet.. sumpah! Sumpah ya, may! Gue tadi habis nabrak cowok ganteng! Gila.. gila..” bisikku histeris
“Irfan ya?”
“nggak tahu…” aku diam sejenak. Sebenarnya aku mau mengatakan ’mungkin itu irfan’ tapi segera aku tahan. karena kalau Maya tahu, dia pasti merasa tidak enak karena kami sama-sama mengangumi orang yang sama.
“kayaknya nggak deh. Soalnya aku lihat di bet namanya bukan Irfan” potongku kemudian.
Maya mengangguk. Sykurlah.. dia tidak curiga. Sejak saat itu, entah kenapa aku mulai merasa tidak enak dengan Maya. Aku juga mulai tertarik dengan kak Irfan. Mungkin karena tatapannya. Atau.. kebaikannya. Atau.. ketampanannya. Atau.. ahhh apapun itu, aku tidak akan berlama-lama bertahan dengan perasaan ini.

Lambat laut, aku tidak tahu mengapa Irfan bisa dekat dengan kami. Awalnya aku dan Maya hanya bercanda berteriak menyebuti nama Irfan saat pertandingan basket seminggu yang lalu, ternyata Irfan berterimakasih padaku dan Maya. Hanya aku dan Maya! Padahal ada banyak cewek-cewek yang juga berteriak menyebut namanya. Tapi dia hanya memilih aku dan Maya. Wah. Keberuntunganku! Tidak.. keberuntungan Maya maksudku.

“Sa.. gue mau nanya sesuatu sama lo..” kata Maya
Aku melihat sejenak mata Maya menunggu perkataan selanjutnya, “lo ada suka nggak sama Irfan?” lanjutnya. Aku sontak ingin menyemburkan makanan yang ada dimulutku. Cepat-cepat aku menelannya. “gila lo! yah enggak lah.. gue itu sukanya sama.. ah.. sama Deni!” dustaku. Aku menyebutkan nama orang dengan sembarangan. Jelas-jelas aku tidak tahu siapa Deni itu. Tolong maafkan aku, siapa pun yang orang yang memiliki nama Deni. Sumpah aku tidak bermaksud!
Maya menarik nafas tampak lega, “baguslah! Itu artinya persahabatan kita tetap jalan kan, Sa” seru Maya. Aku tersenyum tampak bahagia. Sebenarnya tidak.

Tuhan pasti tahu perasaanku saat ini. esok harinya Maya datang ke rumahku dan mengatakan dia sudah ditembak Irfan. Sudah kuduga! Irfan memang mendekati kami karena ada sesuatu. Yah sesuatu yang membuat aku putus asa! Irfan ternyata suka pada Maya. Di satu sisi aku bahagia melihat sahabatku bahagia di satu sisi aku menderita, karena cowok yang kutaksir ternyata suka pada sahabatku.

Aku tersentak saat Maya mengejutkanku. Lamunanku buyar seketika “lo kenapa, Sa?” Tanya Maya
Aku langsung memeluknya dengan hangat. “akhirnya lo bisa nikah sama orang yang lo sayangi ya, May” kataku akhirnya lirih.
“thank you so much.. Calissa” Maya membalas pelukanku dengan erat. Aku tertegun saat mendapati pria yang masih mengenakan jas hitamnya berdiri di belakang Maya. Dia Irfan. Dia sudah terlihat semakin dewasa dan cool. Alisnya tebal, rambutnya tertata rapi membuat penampilan pria itu semakin menawan. Aku memejamkan mataku. Kuharap aku sudah melupakannya.
Maya melepaskan pelukanku, “May.. Irfan datang..” bisikku. Maya menoleh ke belakang. Dia tersenyum manis. Sekarang aku harus tampak bahagia! Harus!

“kak.. Irfan..” sapaku.
“jangan panggil kakak dong, Sa…” katanya sambil melonggarkan ikatan dasinya
“baiklah pak Irfan..” ucapku sedikit tertawa.
Dia hanya tersenyum manis.. yah.. sangat manis sampai aku lupa aku ini siapa. Senyuman itu milik Maya bukan aku.

Selesai

Cerpen Karangan: Sanniucha Putri
Facebook: Sanniucha Putri

Cerpen Sebatas Mimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Tanpa Nama

Oleh:
Surat itu ia simpan, ia sembunyikan jauh dari dunia. Surat yang ia tulis tanpa ia niatkan untuk mengirimnya. Dalam surat itu tidak ia sertakan tanggal, tidak ia sertakan nama

Misteri Pesan Dhion

Oleh:
Bruuuk… “aduh sakit”, keluh dita saat mendapati tubuhnya terjatuh dari tempat tidur. Dengan sedikit kesal, dita beranjak dari tempat tidur menuju sofa kesayangannya yang terletak di ruang tamu. Duduk

Sahabat Terbaik

Oleh:
Sinar matahari pagi menelusup celah tirai kamarku, hembusan angin yang sejuk menambah keenggananku untuk beranjak dari tempat tidur. Namun, aku teringat pada satu kewajibanku yaitu pergi ke sekolah karena

Thanks Miko (Part 2)

Oleh:
Aku masih memandangi wajah miko, yang sedikit lebab di pinggir matanya yang aku tampar tadi. Tapi hal membuatku mengalihkan lamunanku ketika tiba-tiba saus di burger miko menempel di hidungnya,

Asmara Persahabatan

Oleh:
Pagi ini seperti biasa aku mulai membuka buku tulisku dengan sedikit mencuri kesempatan untuk melirik Icha teman sebangkuku yang sedari tadi sibuk dengan penanya. Entah mengapa akhir-akhir ini kulihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *