Sebuah Harapan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 August 2017

Namaku Dania Fyaniera. Biasa dipanggil Dania. Aku bersekolah di SMA favorit yang ada di kotaku. Tapi, bagiku sekolah favorit atau tidak bukan menjadi yang utama, hal yang paling penting aku akan selalu menjadi yang terbaik dan membuat orang lain bangga atas pretasiku.

Menurut teman-temanku aku itu orangnya (agak) pendiam, kutu buku dan pintar (wuih, sombong he..he..), tapi yang paling menyedihkan aku menjadi bahan ejekan teman-temanku. Entah, apa yang membuat temanku mengejekku, bahkan sampai sekarang pun aku belum mempunyai teman sama sekali. Sedih sekali ya nasibku (hiks.. hiks ingin nangis rasanya). Ceritaku berawal dari sini, simak ya…

“Ibu, aku berangkat dulu.” Kata Dania, “Ya, hati-hati di jalan.” Jawab ibu Dania. Karena aku tidak mempunyai teman bermain, maka aku pergi ke perpustakaan daripada ke kantin. Memang begitu hari-hariku temanku hanyalah benda mati yaitu buku. Ehmm, tapi tak apalah berteman dengan buku sehingga mencurahkan isi hatiku pada buku. Hal yang mengejutkanku adalah juara kelas setiap tahun sehingga membuat temanku iri, entah apa yang dipikirkan teman-temanku, sehingga mereka sering mengejekku.

Ketika aku hendak mencari buku yang akan kucari tiba-tiba muncullah duo ST (Sarah dan Terra), temanku eh, bukan musuh maksudku (Ceritanya kan gak punya teman). “Hey, Dania, apa yang kau cari!” Teriak Sarah, teman sekelasku yang seringkali mengejekku. Sarah dan Terra merupakan komplotan yang paling disegani, menurut mereka kedatanganku di sini menyebabkan kepopularitasannya menurun. Itu yang membuat mereka melakukan itu padaku. “Ter, lihat ini si kutu buku tidak ada kapok-kapoknya dia.” geram Sarah sambil marah-marah, “Ya, kau memang benar Sarah. Mentang-mentang jadi nomor satu di kelas, kita jadi gak terkenal lagi.” ujar Terra di depanku. Seperti inilah kehidupanku sering diejek karena selalu mendapat juara pertama di kelas. Aku hanya diam mematung menatap wajahnya. “Beraninya kau, memang kau ini siapa?” teriak Sarah dengan suara lantang, “Uhh, dasar gak tahu diri, berani-beraninya mengambil yang seharusnya aku peroleh.” sorak mereka sambil meninggalkanku yang masih berdiam diri.

Tet.. tet.. Bel pulang mulai terdengar, aku berjalan menuju rumah seorang diri, di tengah jalan Sarah mulai menhalangi jalanku. “Hah, Dania mau ke mana kamu! Sini!” Gertak Sarah padaku sambil menarik bajuku kemudian mendorongku ke tanah yang basah. Tanpa memikirkan keadaanku sekarang, Sarah pergi begitu saja tanpa ada rasa peduli kepadaku. Dengan langkah yang lambat aku segera bangun dan melanjutkan perjalananku dengan agak terseok-seok.
Ibu kaget ketika melihat kakiku luka lebam seperti itu, ia langsung menuntunku ke ruang tamu “Dania, kenapa kakimu itu?” tanya ibuku dengan cemas. “Tidak apa-apa, bu. Tadi Dania jatuh di taman sekolah.” dustaku sambil menahan rasa sakit kakiku. “Kemari biar ibu obati kakimu agar sembuh.” kata ibu sambil mengobati luka di kakiku, “Lain kali hati-hati kalau berjalan, ya.” aku hanya menggangguk saja mendengar nasihat ibu, sambil menahan rasa sakit di kakiku ini.

Saat ku bangun tidur di pagi harinya—kaki ini semakin terasa sakit dan susah digerakkan. Akhirnya, dengan terpaksa kupaksakan kakiku untuk berdiri, tetapi aku malah jatuh ke lantai. Hal itu membuat ibu yang melihatku terjatuh langsung menolongku “Hati-hati, Dania. Sini ibu bantu.” Ibu menuntunku sampai di meja makan, “Dania, sebaiknya kamu istirahat saja, ibu rasa kakimu semakin parah saja.” Aku hanya menggangguk saja.

Beberapa hari kemudian, setelah kakiku lumayan sembuh. Aku mulai bersiap-siap untuk pergi sekolah. Sesampai ku di kelas, hampir semua murid membicarakan kedatangan murid baru. “Katanya ada murid baru, ya?” Gosip teman-temanku. Semoga teman baru itu ingin menjadi temanku atau bisa saja sahabat… ya kalau bisa sih.

Tet…tet… bel berbunyi cukup nyaring, itu tandanya semua murid wajib masuk ke kelas masing-masing. Datanglah bu guru cantik namanya Bu Rynni, tidak diduga-duga ia masuk sambil menggandeng murid baru itu. “Wah, cantik sekali dia!” puji salah satu lelaki di kelasku, “Wah, cantik seperti bidadari!”. Bahkan, aku pun sangat mengagumi kecantikannya. “Anak- anak, di sini ada murid baru dimohon perhatiannya.” Kata Bu Rynni “Silakan perkenalkan dirimu.” “Perkenalkan namaku Renata Sastraya, biasa dipanggil Renata. Terima kasih dan salam kenal.” ucap Renata sambil memperkenalkan dirinya. “Renata, silakan duduk di samping Dania.” ucap guru sambil menunjuk ke arahku. “Hai, Dania salam kenal. Aku Renata.” ucap Renata sambil mengulurkan tangan kepadaku dengan tersenyum. Kubalas dengan senyum manisku yang ku punya. Sepertinya dia baik, benarkah?.

Bel istirahat telah berbunyi, seperti biasa daripada bengong di kelas sendirian lebih baik ke perpustakaan sambil mengembalikan buku yang kupinjam kemarin. “Dania, kau mau ke mana?” tanya Renata ramah. “Aku mau ke perpustakaan, ehmm kau mau ikut?” tanyaku ragu-ragu. Bukannya menjawab Renata malah menarik tanganku untuk menuju ke perpustakaan.

“Dania, jadi kamu selama ini tidak mempunyai teman?” Tanya Renata serius saat berada di depan perpustakaan, aku hanya mengganggukkan kepala saja. “Bolehkan aku jadi temanmu?” Tanyanya menyakinkanku. Aku hanya diam saja, perasaanku mulai tak menentu, mataku mulai berkaca-kaca mendengar pertanyaannya. Tiba-tiba saja ketika sedang sibuk ngobrol, Sarah dan temannya Terra datang. “Hey, anak sok pintar kenapa kau dekat-dekat dengan anak baru itu? Dia itu gak cocok dengan kau, dasar orang tak tahu diri seperti inilah Dania. Dania… Dania!” cetus Sarah dengan pedas, telinga siapapun yang mendengarnya pasti cepat-cepat tutup telinga. Renata merasa teman barunya itu tidak dihargai oleh Sarah, tetapi aku mencegahnya untuk membalas omongan Sarah. Kalau sampai itu terjadi Sarah mungkin akan memperlakukan Renata sepertiku. “Tapi…?” tanya Renata, “Sudah jangan diteruskan lagi. Memang begitu sikap Sarah terhadapku.”
“Baiklah, tapi jika ada apa-apa jangan sungkan bilang padaku. Biar sekalian kuajar dia.” tutur Renata sambil menahan emosinya yang hampir meledak. Sepertinya, Renata marah dengan sikap Sarah tadi. Apa yang harus aku lakukan sekarang?. Aku saat ini harus bisa mengubah sikap Sarah kepadaku, supaya Renata tidak melawannya. Kalau ada apa-apa dengan Renata aku jadi merasa bersalah serba salah, karena Renata sudah menjadi teman pertama dalam hidupku. Semoga doaku ini terkabul.

Kring.. kring.. alarm jam di kamarku berbunyi. Aku terbangun dari tidur di pagi hari ini. Seperti biasanya, setelah mandi aku langsung ke meja makan. Tentunya untuk makan, apalagi?. Karena ini hari Minggu aku pergi ke rumah Renata. Ini kali pertamanya aku pergi ke rumah teman, sebab selama ini aku tidak mempunyai teman. Ternyata, rumah Renata sangatlah bagus seperti istana yang berdiri kokoh. Aku sampai terkejut melihatnya. Sungguh, aku tidak menyangka bahwa temanku ini mempunyai rumah semegah ini. “Ren, rumahmu indah sekali!” Pujiku sambil melihat-lihat sekeliling rumahnya. Ternyata, di rumah Renata banyak sekali koleksi piala, ehm ternyata Renata pintar juga ya. “Dania, ini pialaku semenjak kelas satu SD hingga sekarang ini. Ngomong-ngomong, kau pernah juara kelas kan, pastinya kau juga mempunyainya, kan?” Tanya Renata ketika sudah berada di kamarnya. “A..ak..ku.. ehm… sebenarnya punya tapi… aku selama ini tidak pernah mengikuti lomba, sebab aku takut teman-temanku malah tambah memusuhiku lagi.” Jawabku dengan air mata yang hampir menetes.
“Sebaiknya, kau ikut lomba saja siapa tahu setelah kau menang nanti teman-temanmu mau menerimamu.” tutur Renata menasihatiku. Hatiku sebenarnya ragu atas pendapat Renata tadi. “Tapi…”.
“Kau harus yakin pada dirimu sendiri Dania, aku tahu kau pasti bisa membuktikannya. Semangat Dania! Semangat!” sorak Renata menyemangatiku “Kau itu pintar Diana. Hanya saja kau terlalu lemah untuk membuktikannya, anggap saja ejekan temanmu itu sebagai penyemangat bagimu. Buktikan pada semua bahwa kau bisa. Jangan mudah menyerah begitu, raih cita-citamu buktikan pada semua bahwa kau mampu.”. Mendengar nasihat Renata barusan hatiku mulai tergugah untuk memperbaiki semua. Mulai sekarang aku harus mengikuti lomba apapun itu janjiku pada Renata.

Hari Rabu telah tiba, aku menunggu Renata yang sedang bersiap-siap. “Yuk, Na!” Seru Renata padaku, “Ngomong-ngomong, Dania minggu depan akan diadakan lomba di sekolah ini, kau ikut ya?” tanya Renata ketika sampai dikelas. “Tapi, aku kurang yakin, ak..ak..ku u takut.” ungkapku menundukkan kepala.
Kukira Renata akan marah mendengar ucapanku tadi, tetapi dia malah menasihatiku. “Kau harus yakin, Dania buktikan bahwa kau bisa. Bisakah kau membuktikan itu pada semua temanmu.”. Aku hanya bisa menganggukkan kepala setelah mendengarnya.

Sedang asyik-asyiknya mengobrol dengan Renata, Sarah beserta Terra temannya datang. “Dania, kau tidak pantas berteman dengan Renata, seharusnya aku yang berteman dengannya bukan kau. Kau tahu apa akibatnya kalau melawanku, hajar Ter.” cetus Sarah sambil menatapku dengan tatapan benci.
Terra menampar pipiku hingga lebam dan Sarah menarik tanganku menuju kamar mandi, serta mendorong dengan kasar. “Kau tau tidak siapa kau itu! Kau itu hanya pembantu di sini jadi kau seharusnya tidak boleh berteman dengan Renata. Mengerti!. Renata sikapmu akhir-akhir ini keterlaluan maka aku perlu mengajarmu.” Amarah Sarah mulai meledak. ia mulai menjambak rambutku, menendang-nendangku, dan memukulku. Hingga kepalaku terasa pusing hingga aku terjatuh dan kepalaku mengalirkan darah segar. Dan aku mulai tak sadarkan diri, sampai akhirnya dia meninggalkanku tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.

Mataku mulai kubuka perlahan, kutatap sekelilingku. Entah aku berada di mana aku tidak tahu. Tapi, sepertinya aku tau di mana ini, ini di rumah sakit benarkah?. Yang kurasakan saat ini hanya kepala ini masih terasa pusing akibat terbentur lantai. Tapi, siapa yang membawaku ke rumah sakit? Apakah itu Sarah? Ah, itu tidak mungkin terjadi. Hatiku mulai bertanya-tanya, ketika itu datanglah seorang perempuan yang wajahnya seperti kukenal. Tunggu-tunggu itu kan Renata teman baikku, kenapa dia ada di sini?.

“Akhirnya, kau sadar juga, istirahat dulu. Kepalamu masih sakit kan?” tanya Renata sambil menata kepalaku agar bisa tidur. “sudah ya Na, aku tinggal dulu aku ke ruang administrasi.”. “Terima kasih atas semuanya. Kau memang sahabat terbaikku.” Ungkapku sambil memegang tangannya. Dia hanya tersenyum mendengarku.

Setelah beberapa hari, aku dirawat akhirnya bisa pulang ke rumah. Selama di sana aku merasa sangat bosan, tetapi untunglah ada Renata yang menemaniku sehingga rasa bosanku hilang. Dia sangat baik kepadaku, aku tidak mungkin bisa membalas kebaikkannya selama ini. Jujur selama di sana aku selalu memikirkannya akankah dia sahabat terbaikku. Ternyata, itu memang benar. Terima kasih Tuhan.

Keesokan harinya aku diperbolehkan ibuku sekolah dengan ditemani Renata tentunya. Sebenarnya, kepalaku masih agak terasa pusing dan perutku terasa mual. “Ren, besok acara lombanya, ya?” tanyaku ragu-ragu. Renata mengganggukkan kepala seraya berkata “Ya, aku ikut lomba itu kok. Kalau kau?” tanya Renata penasaran. “Ehm.. aku juga ikut sama sepertimu.” jawabku. kulihat ia hanya senyum saja saat mendengar jawabanku. Tet.. tet.. bel telah berbunyi, Renata segera mengajakku ke aula untuk mendaftar dan mengambil nomor undian sebelum terlambat.

Setelah mengambil nomor, kami berpapasan dengan Sarah dan Terra, “Kau ternyata ikut juga ya. Sudah mulai belagu ternyata, kau tidak akan menang, kau tau!” ucapnya dengan nada sombong. “Kau!” Erang Renata hendak memukul muka Sarah. Tapi, aku berhasil menahannya. “Sudah, biarkan saja dia.” Nasihatku pada Renata sementara Sarah berlalu begitu saja. “Tapi…” belum sempat meneruskan kata-katanya aku memotongnya “Sudahlah, aku masih semangat kok. Aku akan berjuang. Semangat! Ayo kita harus semangat semoga berhasil.” teriakku bersemangat. Renata yang melihatku hanya tersenyum saja.

Aku berharap semoga Sarah sadar akan semua kesalahannya, dan meminta maaf Renata dan terutama padaku. Itulah harapan terbesarku yamg kupanjatkan setiap hari. Berharap agar Sarah sadar akan perilakunya itu, entah apa yang ada dipikirannya sekarang.

Pagi yang cerah menyambutku dengan mentari yang bersinar terang, aku beserta Renata bersiap-siap mengikuti lomba itu. Aku merasa yakin setelah latihan semalam untuk membuktikan pada Sarah bahwa aku bisa. Karena lomba yang aku ikuti berbeda dengan Renata maka ruanganku pun berbeda dengannya. Dia kelihatan sangat senang sekali, sedangkan aku merasa gugup sekali. Kucoba melihat kesekelilingku agar rasa gugupku berkurang, sambil menunggu namaku dipanggil aku mulai menghafal surat yang kemarin malam aku hafalkan.

“Acara selanjutnya Dania Fyaniera, kepada Dania kami persilakan.” Suara MC mulai menggema di telingaku. Rasa gugupku mulai menyerang, aku berusaha menenangkan diriku agar tidak terlalu gugup. Tanganku juga mulai gemetar ketika namaku dipanggil.
Aku mulai menaiki panggung, rasa gugupku seakan hilang setelah melihat penonton. Aku mulai mengulurkan senyumku pada mereka. Dengan rasa yang mulai menguasai panggung, aku mulai melantunkan surat dengan suara merduku.
“Bismillahir rahmanir rahim….”

Aku melihat semua murid mulai sibuk mendengar ayat suci yang kubaca. Begitu selesai penonton bertepuk tangan dengan meriah “plok plok.”. Riuh penonton dengan mulai menggema. Ketika aku akan duduk di bangku ada seseorang yang tiba-tiba memanggilku “Diana.”, mendengar panggilan itu aku menoleh ke belakang, kulihat Sarah menghampiriku dan langsung memelukku. Itu sungguh diluar dugaanku, bahkan aku pun terkejut melihatnya. “A.kkku…ku.. minta maaf untuk semua. A..k…ku… bersalah padamu Diana, tolong maafkan aku.” Mohonnya padaku sambil menangis terisak. “Sarah, aku sudah melupakan semuanya, lupakan semua lebih baik sekarang kita bersahabat.” jawabku sambil masih memeluknya. Pelukan hangat seorang sahabat mengalahkan kebencian yang ada padanya.

Beginilah akhir kisah hidupku. Sebuah harapan yang menjadi kenyataan yang awalnya aku tidak percaya bahwa keajaiban itu ada. Keajaiban itu muncul ketika kau menunjukkan sesuatu yang mengejutkan dirinya. Aku berharap dia menjadi sahabat terbaikku selamanya.

TAMAT

Cerpen Karangan: Yanda Yuliana F.
nama: yanda yuliana fatin
panggilannya yanda
ini adalah cerpen pertamaku maaf ya kalau jelek soalnya baru pertama kali menulis cerpen.
terima kasih dan salam kenal.

Cerpen Sebuah Harapan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Untuk Seterusnya

Oleh:
“Sya, cepat kesini!” ucapnya dengan suara tegas, namun masih terdengar lembut. “Iya Ni, sebentar”. “Cepatlah! nanti kita telat lo!” ucapnya lagi, sambil berlari, ia menggengggam tanganku. Rambut panjangnya yang

Senja Penuh Keharaman

Oleh:
Waktu berjalan cepat pagi telah berubah menjadi siang kebetulan hari itu adalah hari Jum’at. Setelah itu kami memutuskan untuk mengadakan latihan tambahan guna mempersiapkan pentas seni besok di gedung

Sahabatku Kekuatanku

Oleh:
Pertemuan awal yang indah, Yang membuat aku merasakan dua hal yaitu kebahagiaan dan kesedihan Hujan yang lebat menguyur kota Jambi yang terkenal memiliki Sungai yang terpanjang di sumatera. Di

Sahabat yang Kembali Lagi

Oleh:
Saat Ceni sedang duduk termenung. Rizki datang, Ceni menoleh. Ia sangat senang sekali, ternyata si Rizki kembali lagi. Ia bersorak ria, ia menyapa Rizki. “Hai Rizki.” “Hai juga Ceni.

Hunusan Pedang tak Bermata

Oleh:
Lazimnya malam minggu di ujung bulan desa kecil, ABG hingga dewasa tanggung keluar dari gua beruangnya. Teresa hanya menghabiskan satnitenya bersama Vito dan Arman di ruangan kedap suara, yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *