Sebuah Harapan Untuk Nya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Mengharukan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 10 October 2018

Seorang perempuan berambut sebahu mendorong pintu kayu bergaya minimalis itu. Melangkah masuk dengan langkahnya yang lunglai.

“Sori, gue telat.”

Semua pandangan mata menatap ke arahnya yang berdiri dengan tampang malas. Penampilan yang biasanya terlihat rapih kini berubah menjadi berantakan.

Keempatnya bengong melihat penampilan leadernya. Perempuan itu masih berdiri menunggu seseorang mempersilahkan duduk.

Ayu salah satu dari anggota mereka menggelengkan kepalanya seperti mengingat sesuatu yang harus dikatakannya. “Ah ya.. duduk, Lu.” kata Ayu mewakili yang lainnya.

Lura, nama perempuan itu. Leader dari grup dance di sekolahnya, dia datang ke kafe ini untuk membicarakan perlombaan dancenya sore nanti. Mereka mengcover dance girlband korea yakni Red Velvet dengan lagu Rookie. Lura punya harapan yang sangat ingin dicapainya, yakni menjadi juara satu agar grup dancenya bisa tampil di acara dance yang ada di salah satu stasiun televisi.

Waktu terus berputar, hingga akhirnya waktu yang ditunggunya tiba.

Mereka duduk di lantai, pandangannya fokus ke depan mendengarkan pelatihnya berbicara.

“Pokoknya kalian harus fokus, kompak dan semoga kalian juara satu ya.” kata Kak Veni mengakhiri percakapan, “Eh sebentar, Lura mana?” lanjutnya setelah melihat salah satu anak didiknya tidak ada.
“Sori, gue telat.” kata Lura tiba-tiba muncul di balik tubuh Kak Veni.
Dara berdiri, dia kesal kenapa akhir-akhir ini Lura selalu datang terlambat. “Lo tuh leader di sini, seharusnya lo datangnya lebih rajin dari kita, bukan malah terlambat.” cetus Dara melipat tangannya di dada.
“Sori, tadi ada urusan penting yang harus gue urus.” kata Lura. Kali ini dia menjawab santai, tidak dingin seperti biasanya.
Dara maju selangkah. “Urusan penting?! Lebih penting mana sama perlombaan dance kita?” bentaknya, membuat Lura menunduk bahkan tidak menjawab.
“Ra, udahlah.” kata Ayu menarik tubuhnya ke belakang
Dara menengok ke belakang sekilas, tepatnya mendelik. “Katanya kita harus datang tepat waktu, tapi apa? Lo melanggar, ini bukan pertama kalinya lo terlambat. Lo sadar nggak sih?!” teriakan Dara semakin menggelengar di setiap sudut ruangan ini.

“Kepada peserta nomor 3 silahkan bersiap-siap.” Suara host terdengar di speaker yang tertempel di dinding.
Kak Veni berjalan ke tengah. “Sudah-sudah, sebentar lagi kalian tampil. Fighting ya!”
Semua mengangguk dan berjalan mengarah panggung, mereka langsung membuat formasi. Tak lama lagu Rookie dari Red Velvet terdengar, dan mereka mulai menari.

Gerakan demi gerakan mereka tunjukan pada semua orang yang hadir di dalam ruangan ini, dan suara tepukan meriah terdengar menggelegar di setiap sudut ruangan. Mereka mencondongkan badannya ke depan dengan kompak.

“Akhirnya gue bisa dengar suara tepuk tangan meriah juga.” kata Mika tersenyum lebar sambil menatap yang lainnya.

Lura tersenyum bahagia. Entah apa yang harus dikatakannya pada Tuhan, dia sangat berterima kasih karena masih bisa mengikuti acara dance yang dia inginkan dari dulu.

“Semoga kita juara satu ya.” kata Lura pada yang lainnya.

Mereka hanya tersenyum tanpa jawaban, semuanya fokus ke depan, menunggu komentar dari juri. Tapi tiba-tiba senyuman Lura hilang sekejap ketika melihat ke bawah, setetes darah meluncur mengotori lantai. Pandangannya mengabur dan seketika penglihatannya menggelap, tubuhnya ambruk seketika.

Keempat anggotanya menatap ke arah Lura yang sudah tak berdaya, mereka berjongkok untuk menggapai kepalanya.

Ayu menepuk-nepuk pipinya. “Lura.. buka mata lo.”

Kak Veni yang melihat kejadian itu pun langsung naik ke atas panggung, menggoyang-goyangkan tubuhnya. “Lura bangun.” tapi Lura tidak merespon sama sekali, “Pak, tolong Pak! Panggil ambulan.” sambung Kak Veni ketika merasakan denyut nadinya yang tak beraturan.

Seketika suasana menjadi ricuh saat suara sirine ambulan mendekat, petugas ambulan segera mengangkat tubuh Lura ke atas bangkar dan diberi bantuan pernapasan.

“Kalian tunggu di sini. Kakak antar Lura, semoga dia baik-baik saja.” kata Kak Veni tergesa-gesa.

Kak Veni masuk ke dalam ambulan, dia menggenggam erat tangan Lura yang mulai dingin. “Bertahan ya, Lu.”

Tak butuh waktu lama, Lura sampai di rumah sakit dan pada saat itu juga Kak Veni melepaskan genggamannya walau berat. “Lu bertahan, kamu pasti kuat.” teriak Kak Veni saat bangkar yang membawa Lura masuk ke dalam UGD.

Selang beberapa menit, dokter yang menangani Lura keluar. Kak Veni yang duduk di pojokan segera menghampiri Dokter laki-laki tersebut.
“Gimana kondisi Lura?” tanya Kak Veni khawatir. Dokter memperlihatkan wajah sedih, tampangnya tidak memungkinkan jika Lura baik-baik saja.
“Bagaimana kondisi anak saya dok? Dia baik-baik saja kan?” tiba-tiba saja orangtua Lura sudah berada di samping Kak Veni.
Dokter menghelai napas dan mengembuskannya perlahan. “Maaf.. kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain.” Dokter itu menunduk, “waktu kematiannya pukul 18.30.”
Luna teriak histeris. “Pasti dokter bohong kan? Lura masih hidup kan, dok?” tanyanya mengoyang-goyangkan tubuh dokter.
Rano menarik tubuh Luna ke dalam pelukannya, “Sudah Ma, sudah.. Lura sudah tenang di surga.”
“Engga Pa, Lura masih hidup.. Dia nggak mungkin ninggalin kita secepat ini. Kalau saja tadi Lura tidak bolos kemoterapi, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.” Luna menangis sejadi-jadinya ketika melihat anak satu-satunya terbujur kaku di atas bangkar, wajahnya pucat dan sekujur tubuhnya dingin.
Sedangkan Kak Veni hanya diam tak mampu berkata apa-apa saat anak didik dancenya yang baru saja datang menghampirinya yang tertunduk lesu.

“Kak Veni kita juara pertama!!” teriak Sandra berlari mengarahnya, diikuti yang lainnya. Kak Veni hanya menatapnya tanpa suara dan satu tetes air mata meluncur di pipinya.

“Lura..” ucap Kak Veni pelan. Keempatnya langsung bengong dan menengok ke arah orangtua Lura yang menangis histeris.

Mereka melangkah masuk ke ruang UGD, alangkah terkejutnya saat mereka melihat dengan jelas wajah Lura yang pucat. Tubuh mereka seketika menegang, kakinya lemas bahkan Ayu sampai terjatuh ke lantai.

“L-Lura..” Sandra memegang tangannya lalu menciumnya, sangat dingin.

Dara menutup mulutnya menahan tangis, sedangkan Ayu berbisik di hadapan telinga Lura. “Lu.. harapan lo terkabulkan, kita juara satu.” katanya mencoba untuk tidak menangis tapi mustahil, Ayu menangis karena tidak bisa menahan air matanya yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.

Kalau Mika jangan ditanya lagi, dia menangis histeris sambil memeluk tubuh Lura yang sudah terbujur kaku tak berdaya. “Lu, kenapa secepat ini? Gue baru aja mau nunjukin piala hasil jerih payah kita selama ini.”

Dara mencium keningnya. “Lu, kemenangan ini kita serahin ke lo. Semoga lo tenang disana ya.”

TAMAT

Cerpen Karangan: Firan
Blog / Facebook: firanoviani
Seorang perempuan yang lahir ke dunia untuk merangkai kata-kata menjadi sebuah cerita yang tercipta dari imajinasinya.

Cerpen Sebuah Harapan Untuk Nya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maukah?

Oleh:
Pertemuan pertama kita saat duduk di kelas 9 Ingat pertama dulu, kau duduk di sampingku Aku juga ingat, kamu adalah orang yang paling tak ku suka dulu. Kamu banyak

Pancake and Milkshake

Oleh:
Alexa sedang berjalan-jalan bersama mom dan dad-nya di sebuah mall di Los Angeles, As. “Mom, aku mau beli ini” kata Alexa manja. “Ya ambil saja” balas Mom. Alexa mengambil

Terima Kasih Untuk Kenangan Kita

Oleh:
Hi semuanya, namaku Arina Salsabila biasa dipanggil Arina. Aku kelas 4 dan bersekolah di Girl & Boy International School singakatnya GBIS. Aku mempunyai sahabat yang sangat perhatian padaku, mereka

Akhir Petualangan

Oleh:
Aku menutup pintu kamar. Ku rebahkan tubuhku di kasur busa di tempat tidur. Mengambil HP dan memutar lagu Maudy Ayunda, Perahu Kertas. Aku sangat menyukai lagu itu. Itu salah

Mimpi untuk Dunia

Oleh:
Hari ini tanggal 11 september 2012, 6 buah handphone terus berbunyi tepat pukul 00.00 wib. Satu… dua… tiga…. Mimpi untuk Dunia….. itulah suara keenam sahabat berteriak di sebuah perkampungan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *