Sebuah Rahasia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 26 May 2016

Hari masih pagi sisa-sisa embun malam masih menetes di pucuk daun. Gerbang pintu sekolah terbuka lebar. Beberapa anak ku lihat mulai memasuki gerbang sekolah. Ku lempar pandangan ke sudut-sudut sekolah. Masih sepi. Hanya terlihat beberapa tukang kebun membersihkan daun-daun yang berguguran karena hujan dan angin semalam. Dengan langkah gontai ku ayunkan kakiku menuju kelas tempatku mengais ilmu. Ku lihat beberapa temanku, sudah berada di kelas sedang mengerjakan PR yang seharusnya dikerjakan di rumah. Dasar Pemalas. Tak ku sadari tanganku masuk ke dalam laci mejaku. Terasa ada sesuatu yang mengganjal di sana. Pelan-pelan ku tarik sesuatu itu, ‘dag-dig-dug’ jantungku. Ternyata sebuah amplop berisikan surat kecil. Tertuliskan untuk sahabatku. Ku lirik teman-temanku, ku berharap tak ada yang melihatku. Aku takut sekali. Ku buka amplop itu sambil bertanya-tanya dari siapa gerangan. Berdebar-debar jantungku. Kata demi kata ku baca dengan menghayatinya. Aku jadi sedih.

“Za, kamu sebagai sahabatku, aku mohon untuk merahasiakan surat ini.” Aku jadi makin penasaran.
“Aku tahu kalau Riko menyukaiku, dia pun juga menyukaiku.” Aku sangat senang membaca kalimat ini.
“Tapi, aku tidak bisa untuk bersamanya. Karena aku berbeda dengan wanita lainnya.” Aku bertanya-tanya, apa maksud dari kalimat ini. Aku jadi bingung. Lalu aku lanjutkan membaca.

“Aku punya penyakit jantung yang sangat berbahaya. Apabila aku di dekatnya, jantungku akan berdebar-debar. Jantungku sangat sensitif dengan hal itu. Oleh karena itu, aku tidak pernah mendekati Riko.” Aku sedih membacanya. “Besok adalah hari dimana aku harus menjalani operasi. Apabila Tuhan masih memberiku kehidupan, aku akan terus hidup. Tapi, apabila Tuhan menginginkan aku untuk kembali, aku akan kembali kepada-Nya.” Air mataku memberontak ingin ke luar, namun aku mencoba menahannya. Dan melanjutkan paragrap terakhir dari coretan tangan Diana. “Aku mohon kau merahasiakan semua ini dari Riko. Aku tak mau dia bersedih akan hal ini. Tertanda sahabatmu, Diana.”

Aku jadi makin sedih. Air mataku menetes membasahi baju seragamku. Aku tak menyangka Diana merahasiakan hal sebesar ini dariku. Dengan langkah lemas, aku memberikan amplop ini kepada Reza. Tubuhku yang lemah, aku sandarkan pada tembok yang ada di pojok belakang kelas. Selesai membaca surat itu, Reza mendatangiku dan berkata, “Kamu yang kuat ya, Ko. Mungkin ini yang ditakdirkan oleh Tuhan kepada Diana.” Dia menenangkan. Aku tak menjawabnya, aku hanya tersenyum kepadanya.

Bel penutup sekolah telah berbunyi. Aku yang sembari tadi bersedih, mulai melayangkan langkah untuk meninggalkan sekolah. Sampai di rumah, aku langsung masuk kamar dan menguncinya. Ku buka ponselku dan memandangi fotoku dengan Diana saat kami bersama. Aku teringat canda dan tawaku bersamanya dulu. Berjam-jam aku mengingat kenangan kami. Hingga aku lupa untuk makan dan terlelap dalam tidur. Keesokan harinya, ada berita yang mengguncang telinga dan hatiku. Aku sangat sedih mendengar hal itu. Seakan semua tulang yang menyangga tubuhku runtuh seketika. Aku lemas tak berdaya. Tersebar berita bahwa Diana tidak dapat diselamatkan dalam operasi tadi pagi. Aku sungguh tak percaya bahwa orang yang sangat aku cintai meninggalkan aku lebih dulu. Dan surat yang aku baca kemarin adalah coretan Diana yang terlahir kali. Aku tak mampu menahan air mata ini.

Melihat kesedihanku, semua teman sekelas mencoba menenangkanku. Berbagai cara mereka lakukan untuk membuatku tersenyum. Akhirnya akupun luluh setelah melihat Reza dikerjai oleh teman-teman. Pulang sekolah aku langsung menghadap ke komputer jadulku. Semua kesedihan aku curahkan kepadanya. Seharian aku mengetik sebuah ceritaku saat bersama Diana. Air mataku hampier menetes saat menulisnya. Keesokan harinya, karyaku ku tunjukkan kepada Reza. Dia membaca sambil berjalan ke bangku paling belakang. Terlihat bola mata Reza berkaca-kaca, seperti orang mau menangis.

“Ceritamu ini bagus sekali, Ko. Aku sangat menyukainya.” Kata Reza sambil mengusap air matanya.
“Aku boleh minta filenya?” Tanya Reza sambil mengembalikkan ceritaku tadi.
“Boleh. Nih.” Aku memberikan flashdiskku yang berisi file karyaku.

Dua hari kemudian Reza memberi sebuah surat kepadaku. Surat itu seperti surat resmi dari sebuah perusahaan. Surat itu berisi bahwa ada sebuah perusahaan penerbit buku yang menyukai ceritaku. Akan diterbitkan dan dipasarkan menjadi novel ke seluruh Indonesia. Aku sangat bahagia. Lalu Reza berkata, “Ko, kamu sangat hebat. Aku sangat bangga padamu. Aku percaya, di sana Diana pasti juga bangga terhadapmu. Dan Diana akan sangat senang kalau sekarang menjadi penulis.” Aku terdiam, sekejap aku menjadi sedih. Aku memeluk Reza dan berkata, “Thanks ya, Reza. My best friend.”

Cerpen Karangan: Ahmad Dwi Ary
Facebook: Ahmad Dwi Ary
Nama Lengkap Ahmad Dwi Ary Suhendratno. Asal Kediri. Sekolah di SMA Negeri 5 Kota Kediri.

Cerpen Sebuah Rahasia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabatku

Oleh:
“cepetan Nia! nanti kita ditinggal” tegur sahabatku Dian yang lari dengan memegang tanganku dengan erat. Setelah sampai di dekat angkot aku dan Dian segera menaiki angkot tersebut dan kemudian

Ku Yang Tersakiti

Oleh:
Alfi dan Agas adalah seorang sahabat mulai dari kecil. Mereka selalu bersama dalam suka maupun duka. Namun perasaan persahabatan berubah menjadi rasa cinta ketika Alfi mencintai atau memiliki perasaan

Malam Minggu

Oleh:
Waktu itu, tepatnya pada malam minggu Ajeng dan Alya syafi berencana pergi jalan-jalan. “lay, jalan yuk” ajak alya. Dengan muka sok asik ajeng menjawab “ah sibuk gua, tapi ya

Strength And Compassion

Oleh:
Di sebuah kota terdapat 2 orang anak yang bersahabat sejak smp. Namanya adalah princess dan paris. Ke mana pun mereka pergi, selalu bersama. Sekarang mereka telah duduk di kelas

Sesosok Monster

Oleh:
“Dan peringkat pertama kelas kita pada semester pertama ini diraih oleh…” ucap Bu Vira secara perlahan. Semua murid tampak duduk dengan rapi dan tenang. Tak ada seorang pun yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *