Secerah Mentari Seindah Embun Pagi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 19 July 2016

Rasa haru membungkus kalbu. Air mata telah berderai entah sejak kapan. Dua orang gadis saat ini sedang melepaskan seluruh rasa rindu mereka masing-masing. Takdir membawa mereka ke pertemuan indah ini. Cahaya mentari mulai terlihat dari ufuk timur. Semburat merah keunguan terpancar jelas. Perlahan cahaya itu memanjat naik ke langit yang dihiasi migrasi burung. Begitu indah. Pantulan cahaya mentari mengenai setetes embun di helaian daun. Semuanya berlalu cepat. Sepuluh tahun telah dilewati. Entah bagaimana mesin waktu bekerja. Dua gadis itu seperti terlempar ke masa lalu. Lorong waktu seolah terbuka.
Ya, sepuluh tahun silam…

Cahaya sang fajar menelisik masuk melalui celah jendela kamar yang ditempatinya. Tak ayal gadis remaja berumur tiga belas itu langsung membuka kedua matanya. Gadis itu melirik ke arah jam dinding di sudut kamarnya yang berukuran 5 x 6 meter tersebut. “pukul delapan” gumamnya. Beruntung ia sudah menunaikan shalat shubuh sebelum akhirnya ia memutuskan melanjutkan tidurnya. Tari, begitulah orang-orang memanggil gadis yang bernama lengkap Mentari Amanda Khairunnisa tersebut. Hari ini hari Minggu. Sudah menjadi tradisinya bahwa ia akan melanjutkan tidurnya setelah shalat shubuh lantaran hampir setiap malam Minggu ia akan mengisi blog miliknya dengan karya tulisnya.
Sementara di desa kecil pinggiran kota ada seorang gadis remaja yang sebaya dengan Tari sedang tergopoh-gopoh mengangkat karung-karung berisi bahan tekstil. Peluh terus menetes di pelipisnya. Untuk usia sebayanya harusnya ia menikmati masa masa remaja yang indah, tapi masa remajanya harus direnggut oleh keterbatasan ekonomi yang mengharuskannya bekerja demi membiayai hidupnya dan keluarganya. Embun. Nama yang terlalu indah untuk seorang buruh pabrik tekstil sepertinya. Binar matanya yang menyejukkan bak embun pagi seolah menolak takdir yang dijatuhkan pada Embun. Tapi justru dari kerja keras itulah yang membawanya menuju kehidupan yang lebih baik dan juga pertemuan dengan seseorang yang tidak akan pernah ia lupakan.

Sementara itu, di kamarnya yang luas bak kamar bangsawan, Tari masih ditarik oleh gravitasi tempat tidurnya. Sampai akhirnya ada seseorang yang mengetok pintu kamarnya. “tok tok tok…” “masuk saja” ujar Tari malas. “Tari, ayahmu mengajakmu ikut dengannya” ucap Ibunya yang baru saja masuk ke kamarnya. “Pergi kemana bu?” tanya Tari yang sekarang sudah menyingkirkan selimut yang tadi ia pakai. “Ke pabrik tekstil pinggiran kota itu.” Jawab Ibunya. “Untuk apa ayah kesana bu? Lagipula bukankah ayah baru kesana dua minggu yang lalu?” tanya Tari yang mulai penasaran. “Ayahmu mau menemui kawan lamanya. Kamu ikut saja. Siapa tahu kamu bisa mendapat teman baru disana. Lagipula kamu belum pernah kesana, kan?” jelas Ibu Tari panjang lebar yang diakhiri dengan senyuman itu. “Ya sudahlah. Tari akan ikut. Tari juga bosan dengan kehidupan kota yang seperti ini saja.” Akhirnya Tari memutuskan ikut ayahnya ke pabrik tekstil yang ada di pinggiran kota tersebut. “Kalau begitu cepat kamu bersiap-siap. Ayahmu sudah menunggu di bawah.” Ujar Ibunya sembari berlalu dari kamar Tari. Tari pun mengangguk.

Sesudah bersiap-siap, Tari pun langsung menuju ke lantai satu -karena kamarnya berada di lantai dua. “Ayah, aku sudah siap. Ayo kita berangkat.” Ajak Tari pada ayahnya yang sedang membaca koran di sofa ruang tamu. “Kamu sudah sarapan?” tanya ayah Tari yang masih membaca koran. “Belum. Nanti Tari makan di mobil saja. Tari sudah bawa sarapannya di tempat makan” jawab Tari sambil menunjukkan sebuah tempat makan yang ada di tasnya. “Baiklah, kalau begitu ayo kita berangkat.” Ajak ayah Tari sambil melipat korannya dan menenggak habis kopi yang ada di meja ruang tamu. “Tari pamit ke Ibu dulu ya Yah. Ayah tunggu di mobil. Nanti Tari menyusul” Tari pun berlalu ke dapur sementara ayahnya pergi ke garasi untuk mengeluarkan mobil. “Ibu, Tari berangkat dulu ya.” Ujar Tari sambil mencium tangan ibunya. “Iya. Jaga dirimu Tari.” Jawab Ibunya. Setelah itu Tari pergi ke garasi dan berangkat menuju tempat yang nantinya akan Tari rindukan.

Sementara di lain tempat, Embun masih sibuk dengan pekerjaannya. Baju yang ia kenakan penuh debu dan juga peluh. Embun adalah seorang yatim-piatu. Kedua orangtuanya meninggal saat ia berumur empat tahun. Sekarang ia telah diangkat menjadi anak salah satu mandor di pabrik tekstil tempat ia bekerja. “Embun, nanti tolong kamu siapkan minuman dan juga camilan. Bapak akan kedatangan tamu.” Perintah pak Jaya, selaku mandor sekaligus ayah angkat Embun. Embun yang baru saja menenggak segelah air minum langsung mengangguk. “Baik pak, nanti Embun siapkan. Bapak panggil Embun saja nanti.” Ujar Embun sambil mengusap dahinya yang penuh dengan peluh. Embun pun menyiapkan apa yang dipinta oleh bapaknya. Menyiapkan minuman dan juga camilan. Satu pekerjaan yang akan ia rindukan nantinya.

Tari dan ayahnya sudah hampir sampai di pabrik tekstil. Selama perjalanan Tari hanya sibuk memainkan ponselnya ataupun membaca novel yang ia bawa. Sesampainya di pabrik tekstil, Tari dan ayahnya turun dari mobil dan masuk ke pabrik. Seseorang telah menunggu ayah Tari di depan pintu pabrik. “Selamat datang Husain.” Sambut orang di depan pintu tersebut. “Dengan senang hati, Jaya” jawab pak Husain atau ayah Tari. Kedua pria itu kemudian bersalaman dan langsung masuk ke dalam pabrik. “Embun, cepat bawakan air dan camilannya.” Seru pak Jaya dari ruang tunggu pabrik. Beberapa detik kemudian Embun muncul sambil membawa minuman juga camilan dengan sigap. “Ini pak, silakan minumnya dan camilannya. Saya permisi dulu.” Setelah menyuguhkan minuman dan camilan, Embun kembali ke tempat pekerjaannya. “Tunggu!” seru seseorang kepada Embun. Lantas Embun langsung menengok ke belakang. “Ya? Saya?” jawabnya bingung. “Ini, barusan handukmu jatuh.” Ujarnya. “ehm, terima kasih. Perkenalkan namaku Embun.” Sapa Embun pada orang yang mengambil handuknya tadi. Embun mengulurkan tangannya sambil tersenyum. “Namaku Mentari. Kau boleh menyebutku Tari.” Jawab Tari sambil menyambut uluran tangan Embun sekaligus tersenyum. “Omong-omong maukah kamu ikut denganku? Aku punya tempat yang bagus untuk bersantai. Sebagai rasa terima kasihku tadi.” Ajak Embun ramah. Hening sejenak. Kemudian Tari mengangguk. “Baiklah. Tapi sebelumnya aku akan izin pada ayahku dulu. Kamu tunggu saja disini.” Tari berlalu ke Ayahnya dan kemudian kembali lagi. “Ayo ikuti aku.” Ajak Embun. Tari mengikuti Embun di belakangnya.

“Kita sudah sampai.” Perlahan tapi pasti, mereka berdua sekarang berada di atap pabrik. Dimana dari sini mereka bisa melihat seisi kota. Bahkan saat sang fajar menerabas ufuk timur pun bisa terlihat dari sini. Ataupun saat sang fajar meluncur ke ufuk barat juga dapat terlihat. “Tempat apa ini?” tanya Tari sambil melihat sekeliling. “Ini adalah tempat terfavoritku. Saat aku merasa lelah ataupun resah, aku selalu menenangkan diri disini. Walaupun tidak ada gunung ataupun laut tapi pemandangan terbit dan terbenamnya matahari juga cukup dari sini” jelas Embun panjang lebar. “Sepertinya ini tempat terbaik untuk mencari ketenangan.” Ujar Tari. “Aww..” Tanpa sengaja Tari tersandung seutas tali dan tubuhnya terjerembab jatuh dari atap. Beruntung Embun sigap mengenggam tangan Tari. “TARI! PEGANG TANGANKU!” seru Embun panik. “ya tuhan, lindungilah teman baruku ini. Aku tak ingin kejadian seperti dulu terulang lagi.” Batin Embun. Beruntung Tari berhasil ditarik ke atap. Mereka berdua masih shock lantaran ketinggian pabrik kurang lebih 10 meter. Tetapi mereka tidak tahu bahwa itu baru awal perjuangan mereka. Hening. Mereka akhirnya kembali ke bawah.

Saat ini Embun dan Tari berada di kamar Embun. Mereka saling membisu. “Maafkan aku, seharusnya aku tak mengajakmu tadi.” Embun mulai terisak. “Itu bukan salahmu. Seharusnya aku tak ceroboh tadi.” Tari merasa bersalah, tetapi Embun lebih merasa bersalah. Ingatannya kembali ke masa lalunya. Masa-masa dimana ia sangat menyesali perbuatannya hingga sekarang. Sara. Satu nama yang selalu membuatnya takut, menyesal. Kejadian itu, delapan tahun yang lalu. Tapi klise tersebut masih terbayang jelas di pikiran Embun.

“Sara, bukankah ini indah? Seluruh kota terlihat dari sini.” Seru Embun. “Iya, aku sangat suka ketinggian. Pasti matahari terbit terlihat jelas dari sini.” Seru Sara tak kalah senangnya. Sara dan Embun, dua anak berumur lima tahun yang selalu bermain bersama. “Aww..” kaki Sara tersandung seutas tali yang ada didekat kakinya kemudian tubuh mungilnya terjatuh dari gedung setinggi 10 meter itu. Naasnya Embun tak sempat menggapai tangan Sara. “EMBUN!!” itu seruan Sara yang terakhir. Selanjutnya hanya terdengar teriakan orang di bawah. Sara tewas di tempat. Embun kecil ketakutan. Ia tidak mengerti apa-apa. Yang ia tahu hanyalah sahabatnya, Sara telah pergi dari dunia. Sejak saat itu atap pabrik menjadi tempat bersejarah bagi Embun.

Embun masih saja terisak. Isakannya makin kencang. Tari juga turut sedih. Ia baru saja mengenal Embun tetapi rasanya seperti sudah bersahabat sejak lama. Tari merasa dirinya sebagai Sara. Tari juga menyesali dirinya yang ceroboh. “Sudahlah, bukan salahmu. Yang sudah lalu biarkanlah. Simpan saja. Cukup jadikan kenangan. Sekarang kita ada disini, di masa kini, sekarang, bukan dulu. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa mulai yang baru. Ada aku disini. Aku siap menggantikan posisi Sara.” Tari memeluk Embun. Menenangkannya. Isakan Embun terhenti. Ia mengusap air matanya. Tersenyum. Walaupun Tari juga memiliki masa lalu yang kurang lebih sama menyedihkannya dengan Embun, ia tak ingin berlarut larut dalam masa lalunya. Ia lebih memilih menyimpannya sendiri. Selalu tersenyum.

“Embun, bapak ketemu kakaknya Sara didepan. Barusan bapak disuruh manggil kamu. Sana cepat ke depan. Jangan dibiarin aja.” Seru pak Jaya dari ambang pintu kamar Embun. Embun dan Tari pun bergegas ke depan pabrik. “Sara punya kakak?” tanya Tari di sela-sela langkah mereka menuju depan pabrik. “Iya, Sera namanya. Selisih umurnya hanya satu tahun.” Jawab Embun santai. Tari hanya ber-oh ringan sembari mengangguk. Tak sadar mereka telah tiba di ambang pintu pabrik. Sera berdiri di pintu sebelah kiri.
“Hai Sera.” Sapa Embun. “Hai.” Sapa Sera singkat. Raut wajah Sera memunculkan raut peperangan. Sudah jelas dari awal Sera tak rela adiknya tewas. Ia masih terus mempermasalahkannya hingga kini. “Ada apa Ser?” tanya Embun memecah keheningan. “Aku akan membuka kasus Sara lagi. Aku masih merasa Sara belum tewas.” Sera bersikukuh bahwa ia tak rela Sara tewas. Namun memang kenyataannya begitu, ia juga tak bisa menolak takdir. “Kasus itu sudah selesai sejak dulu. Kau tidak bisa memutuskan segalanya sendiri Sera.” Jelas Embun yang mulai kesal. “Aku tak terima adikku mati begitu saja!” seru Sera dengan wajah merah padam. “Sara sudah tewas delapan tahun lalu. Kau mau apa? Takdir tak bisa kau cegah. Mau sampai kapanpun kau bersikukuh takkan bisa mengubah keadaan!” bentak Embun yang berusaha mengontrol emosinya. “Ini siapa?! Apakah ini pelakunya?!” seru Sera sambil menunjuk Tari. Tari kesal. Tangannya sudah mengepal. “Pelaku apa HAH?! Asal kau tau, aku orang baru. Jangan sembarangan memfitnah yang bukan-bukan!” seruan Tari tak kalah kencang dari seruan Sera sebelumnya.
“Ada apa ini?” tanya seseorang. Ternyata itu adalah orangtua Sara dan Sera. “Bukan apa-apa bu.” Jawab Sera sambil menunduk. “Tari? Kau Tari, kan?” tanya ibu dari Sera. “I.. iya. Ada apa ya?” tanya Tari bingung. “Kau lupa dengan Ibu? Saya guru designmu saat kelas empat SD. Saya bu Rafa. Ingatkah?” jelas bu Rafa. Tari masih berusaha mengingat-ingat. “Ah iya, bu Rafa yang dulu pernah Tari janjikan akan Tari buatkan baju itu?” tebak Tari. “Iya, kau benar. Apa kau benar-benar akan membuatkan saya baju?” canda bu Rafa. “Designnya sudah ada bu, hanya saja Tari belum bisa menjahitnya.” Jawab Tari serius. “Bagaimana kalau Embun saja yang menjahit? Embun paling pandai kalau masalah jahit-menjahit. Bagaimana, Embun?” tanya bu Rafa pada Embun. “Tapi Embun tidak punya mesin jahit, bu.” Jawab Embun bingung. “Masalah peralatan jangan khawatir. Kalian mau? Embun? Tari?” tanya bu Rafa meyakinkan. Hanya butuh tiga detik Embun dan Tari mengangguk.
“Permisi, masih ada orang disini. Halo.” Sapa Sera yang masih disana. Lantas yang lain melirik ke arah Sera dan mereka tertawa bersama. “Embun, maafkan aku tadi. Aku sangat tidak rela atas kematian adikku. Juga Tari, maafkan aku memfitnahmu tadi.” Sera pun meminta maaf. Embun dan Tari hanya mengangguk dan tersenyum.

Ternyata pertemuan Embun dan Tari yang pertama itu harus ditutup dengan perpisahan yang cukup cepat. Embun dibiayai sekolahnya di luar negeri hingga kuliah oleh bu Rafa ke Inggris. Sementara Tari sejak awal memang akan diberangkatkan ke Amerika oleh orangtuanya. Jadi mau tidak mau mereka harus berpisah. Antara Inggris dan Amerika, bertahun-tahun mereka akan berpisah dan entah kapan akan bertemu lagi.

10 tahun kemudian…

From: 081256438xxx
Message: Tari, ini aku Embun. Aku sekarang lagi ada di indonesia. Kamu udah pulang juga kan? Bisa ketemuan ga? Sekarang aku tunggu di markas ya.
“Embun…” lirihnya ringan. Ia sangat bahagia akan bertemu sahabatnya itu. Hampir saja ia menangis namun ia kuatkan dirinya.
To:081256438xxx
Message: Tunggu aku ya, aku segera kesana. Tunggu aku, Embun. 🙂

Hari ini Embun dan Tari akan bertemu. Tak terbayang seberapa besar rasa rindu mereka berdua. Kurang lebih mereka berpisah selama sepuluh tahun. Mereka berpisah antara dua negara yang berbeda. Juga di benua yang berbeda. Walaupun sang fajar belum keluar dari persembunyiannya tetapi Embun dan Tari sengaja bertemu sebelum sang fajar menampakkan dirinya. Mereka ingin melihat sunrise atau matahari terbit bersama-sama. Di atap pabrik tekstil yang kini sudah berpindah tempat di pusat kota. Walaupun begitu atap pabrik tekstil yang lama tetap menjadi tempat favorit mereka karena disitulah pertama kali Tari dan Embun mengobrol berdua. Benar-benar berdua tanpa siapapun.

“Embun…” panggil Tari pada seseorang yang sedang berdiri di pinggir atap pabrik. Pastilah itu Embun, tak salah lagi. “Tari…” Embun balik memanggil. Tari pun menghampiri Embun dan berdiri bersisian di pinggir atap pabrik. Suasana sangat sunyi. Hening. Isakan mulai terdengar, sekarang kedua gadis itu berpelukan. Rasa haru membungkus kalbu. Air mata telah berderai entah sejak kapan. Dua orang gadis saat ini sedang melepaskan seluruh rasa rindu mereka masing-masing. Takdir membawa mereka ke pertemuan indah ini. Cahaya mentari mulai terlihat dari ufuk timur. Semburat merah keunguan terpancar jelas. Perlahan cahaya itu memanjat naik ke langit yang dihiasi migrasi burung. Begitu indah. Pantulan cahaya mentari mengenai setetes embun di helaian daun. Semuanya berlalu cepat. Sangat tak terasa.

Sepuluh tahun berlalu, gadis remaja tanggung usia tiga belas kini telah menjelma menjadi gadis dewasa yang baru saja meraih kesuksesan di bidangnya masing-masing. Dua gadis remaja tanggung yang masing-masing memiliki masa lalu yang menyakitkan, maupun yang diceritakan ataupun yang disimpan. Kini mau bagaimanapun masa lalu mereka, asalkan meraka yakin bahwa mereka takkan sendiri. Mereka akan memiliki masa depan yang secerah mentari, juga seindah embun pagi.

Cerpen Karangan: Inez Jade Kayla
Facebook: Inez Jade Kayla

Cerpen Secerah Mentari Seindah Embun Pagi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Friendship or Love (Part 2)

Oleh:
Setelah mereka berdua selesai merapihkan berkas-berkas yang berserakan di lantai, wanita itu terdiam sejenak dan menghela napas seolah sedang menenangkan diri. “Kamu gak papa?” tanya Keno dengan penuh perhatian.

Semanis Lolipop

Oleh:
“Ooh tidak, rasanya badanku benar-benar remuk seharian ini.” Bel pulang sekolah baru saja berbunyi di segala penjuru ruangan. Bagi gadis manis satu ini, bunyi bel barusan sangat membuatnya bisa

Kotak Kecil Penuh Cinta

Oleh:
Suasana hiruk-pikuk, ramai, asap kendaraan, klakson angkutan umum dan suara bising yang ditimbulkan kenek angkot menjadi rutinitasku dan aku hampir terbiasa dengan itu di kota kecil tempat kelahiranku, kota

Andai Waktu Bisa Kuputar

Oleh:
Dan jika waktu dapat kuputar kembali mungkin aku akan kembali ke masa lalu. Masa lalu dimana aku dan dia masih bersatu, bersama menjalin sebuah persahabatan yang kini telah terhalang

Langkah Tuk Gapai Mimpi (Part 1)

Oleh:
Hai, namaku Fida. Elfida Alimah. Aku murid SMAN I Surakarta yang sekarang baru saja menginjak garis awal. Alias kelas X. Rincinya lagi, kelas X MIPA II. Kelas terbersih paling

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *