Sekarang, Ada Seseorang Yang Ingin Kuajak Bicara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 26 July 2018

Aku duduk termenung di bawah pohon rindang di dekat sekolah. Punggungku bersandarkan batang kayu besar nan kokoh. Hari mulai senja, matahari perlahan kembali ke peraduannya. Langit cerah warna jingga kekuningan terlihat sangat indah. Hari ini cukup melelahkan. Aku memejamkan mata menikmati angin musim gugur berembus lembut, membawa suasana damai. Pikiranku perlahan-lahan menjadi jernih, beban-bebanku pun sedikit berkurang. Hingga aku tak kuasa menahan kantuk. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah.

“Haru, sudah pulang?” Ibu tersenyum. Aku hanya mengangguk.
“Cepat mandi, keburu malam.” kata Ibu “Setelah itu segera makan malam.” Aku hanya mengangguk lagi.

Aku memandangi langit malam berbintang. Aku suka sekali memandangi langit, setiap memulai hari aku selalu mendongakkan kepala untuk melihat langit. Terlebih lagi langit biru cerah. Bagiku memandang langit membuat aku lebih tenang dan percaya diri.

Aku, Yuki Haruna. Biasa dipanggil Haru. Aku seseorang yang bisu. Aku tidak dapat mengucapkan kata-kata. Seseorang yang bisu itu dapat berbicara. Berbicara di dalam hati, oleh karena itu ‘tidak dapat mengucapkan kata-kata’ bukan berarti tak dapat berbicara.

Aku bisu karena kecelakaan kereta saat kelas 3 SMP. Kecelakaan yang merenggut nyawa kakakku. Aku hanya ingat saat itu aku dan kakakku pergi liburan ke rumah nenek. Hanya kami berdua, karena Ibu dan Ayah berjanji akan menyusul beberapa hari kemudian. Namun kejadian itu malah terjadi. Kakakku yang sangat perhatian, sabar merawatku saat kecil, penuh kehangatan yang selalu ada bersamaku, kini telah tiada. Aku selalu merindukan sosok kakakku itu.

Pagi hari, aku mengayuh sepeda menuju sekolahku. Sekarang aku kelas 2 SMA. Aku tak punya teman. Aku dulu punya teman namun mereka perlahan-lahan meninggalkanku. Mereka lebih memilih anak normal lain untuk diajak bicara, dan bukan sepertiku. Aku sering memilih menyendiri di taman belakang sekolah, di bawah pohon sambil menggambar atau pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Aku memang kesulitan bergaul sejak kecelakaan itu. Aku menjadi penyendiri, berbeda dengan diriku yang periang saat kecil dahulu.

Sekolah hari ini telah usai, saat di perjalanan pulang aku memutuskan menuju ke taman. Aku pun duduk di salah satu ayunan kayu. Seketika aku ingat, saat aku kecil hingga SD aku dan kakakku sering bermain di sini bersama seorang teman masa kecilku setelah pulang sekolah. Aku kembali mengingat kembali masa itu. Saat-saat terakhir bersama teman masa kecilku.

“Kakak, ke sini main ayunan bersamaku!” kataku penuh semangat. “Kai juga ke sini!”
“Iya, kakak ke sana.” kata kakak sambil berlari.
“Aku juga.” kata Kaizaki, teman masa kecilku. Aku biasa memanggilnya Kai. Kami berdua duduk di kelas yang sama dan sekolah yang sama dari kecil. Orangtua kami sangat akrab. Juga rumah kami saling berhadapan yang dipisah oleh jalan.
“Ayo kita main sama-sama.” kata kakak sambil tersenyum. “Kakak dorong, ya.”
“Kak, jangan cepat-cepat mendorongnya!” kata Kai sedikit teriak. Tetapi kakakku malah menambah kecepatan mendorongnya.
“Hahaha, kurang cepat?” tanya kakakku sambil tertawa.
“Iya… kak. Iya!” jawabku bersemangat.
“Kak, sudah cu..kup, ka..k. Hhhh. Hhhh,” kata Kai dengan wajah masam. “Aku pusing, kak.” pinta Kai dengan pasrah. Kakakku menghentikan mendorong.
“Hahaha, masa Kai enggak kuat sih,” kataku sambil tertawa. “Wajahmu lucu.”
“Apa lucunya coba, orang pusing malah tertawa,” balas Kai dengan ekspresi cemberut. “Dasar, aneh.”
“Soalnya lucu, makannya ketawa.” jawabku dengan asal. “Kamu itu juga aneh.”
“Apa katamu? Awas ya.” Kai berlari mengejarku.
“Eh, kalian ini. Kakak mau pulang. Kakak tinggal lho,” kata kakak sambil berlari keluar taman.
“Kak, tunggu. Kak!” Aku dan Kai menyusul berlari.

Sore itu terasa menyenangkan sekali. Kami bertiga tertawa bersama sambil bercanda. Bagai bayi yang mungil tertawa dengan lugunya. Meskipun aku dan Kai sudah kelas 6 SD, dan kakakku kelas 2 SMP, kami tak peduli. Aku menyadari memang bahagia itu sangat sederhana.

Hari demi hari, bulan demi bulan terus berlalu hingga diadakannya Ujian Akhir. Karena sibuk akan menghadapi ujian. Aku dan Kai jarang bertemu di taman. Kami lebih sering bertemu di sekolah. Hingga hari kelulusan pun tiba. Liburan sekolah setelah ujian tiba dan aku tidak melihat Kai sejak hari kelulusan di sekolah.

“Ibu, kenapa ya Kai akhir-akhir ini jarang kelihatan?”
“Kai kan pindah ke rumah neneknya di lain prefektur, karena orangtuanya ada alasan pekerjaan.” jawab Ibu santai.
“Apa, Bu?”
“Kai pindah, memang kenapa? Apa Kai enggak memberitahumu?”
“Enggak, Bu.” jawabku singkat dengan suara lirih kemudian langsung ke kamar.
Betapa kesalnya waktu itu, kenapa Kai tidak memberitahuku? Kenapa Kai pergi begitu saja? Bahkan aku tinggal di rumah yang berada di depan rumahnya tak tahu. Apa Kai betul-betul pindah?

Aku menyadarinya setelah beberapa hari kemudian. Rumah Kai sepi tak berpenghuni dan aku menemukan surat di kotak pos depan rumah. Kuambil amplop berwarna biru dengan gambar awan di tengahnya. Di sudut amplop tertulis untukku. Kubuka amplop tersebut perlahan. Dan aku hanya menemukan satu baris kalimat pendek.

“Haru, Gomen-ne Aku tidak memberitahumu. Sekali lagi Gomen-ne Haru.”

Di akhir amplop tertera nama pengirimnya, yaitu Kai. Sahabat masa kecilku. Sejak hari kelulusan, aku tidak pernah bertemu dengan Kai lagi.

Hari ini hari libur. Aku membantu Ibu melakukan pekerjaan rumah. Orangtuaku sangat menyayangiku. Aku tahu itu, meskipun mereka sangat terpukul karena kehilangan anak sulungnya, mereka selalu berusaha demi aku yang kini anak mereka satu-satunya. Aku beruntung memiliki orangtua seperti mereka, yang selalu mengerti keadaanku.

Sore hari, aku memutuskan untuk keluar jalan-jalan. Dengan bahasa isyarat aku meminta izin kepada Ibu. Langit hari itu sangat cerah, gumpalan awan-awan kecil dengan perpaduan warna cahaya mentari sore jingga dan kuning keemasan terlihat menyatu. Aku berjalan melewati taman tempat biasanya aku bermain bersama kakak dan Kai. Taman terlihat sepi. Tempat yang menurutku pantas untukku. Kemudian aku pun duduk disalah satu ayunan. Sambil mengeluarkan buku sketsaku. Aku mulai menggoreskan pensil gambar ke lembaran kertas putih, menggambar wajah kakakku sambil tersenyum.

Kemudian aku terkejut ada seseorang yang menepuk pundakku. Aku refleks berdiri dan balik badan sambil menjauh. Di depanku terdapat seorang anak laki-laki sepantar denganku. Anak itu tersenyum. Aku seperti kenal dengan senyuman itu. Senyuman yang hangat dan menenangkan. Hanya ada satu orang yang kupikirkan saat itu. Aku pun memastikan, dengan gerakan-gerakan lincah tanganku. Dalam batinku.
“Apakah kamu, Kai?”
Namun percuma, mungkin anak itu kebingungan melihat gerakanku. Aku pun bergegas untuk pulang.

“Tunggu!” seru anak itu. “Apa kamu masih ingat? Haru?… Aku Kai” Langkah kakiku berhenti. Aku dalam posisi membelakangi sumber suara tersebut. Aku tetap tak berbalik badan. Aku tak tahan mendengar suara itu, aku langsung berlari meninggalkan taman. Padahal aku merasa aku harus tetap di sana.

Sampai malam, aku terus memikirkan kejadian sore itu. Perasaan kesal tak karuan namun air mataku menetes perlahan. Padahal tak ada yang perlu ditangisi. Aku berusaha untuk tak menangis. Tapi apalah daya, air mata terus menetes.

“Haru, cepat ke bawah, makan malam!” suara Ibu terdengar. Aku segera menghapus air mataku dan turun ke bawah. Saat di meja makan aku terus memikirkan Kai.
“Cepat dimakan, kenapa melamun?” tanya Ibu. Aku hanya menggelengkan kepala.
“Apa kamu sudah bertemu Kai? Tadi kesini saat kamu pergi. Kai mencarimu.” Aku menganggukkan kepala.
“Ibu tahu, kamu kesal kan sama Kai?” Aku terdiam.
“Apa karena Kai tak pernah bicara denganmu sejak dia pindah?” Aku tetap terdiam.
“Tapi, Kai itu selalu peduli denganmu. Dia anak yang baik. Kurasa Ibu perlu menjelaskan.” Dalam pikiranku aku bertanya-tanya menjelaskan apa?
“Dulu, waktu kamu dirawat di rumah sakit karena kecelakaan dan dalam keadaan tak sadar. Kai mengunjungimu. Ibu yang memberitahu. Kai setiap hari datang. Padahal Ibu memintanya tak sesering itu, karena Ibu tahu Kai juga sekolah. Dan Kai hanya berkata kalau dia luang. Kai meminta Ibu untuk tak bercerita ke kamu. Juga saat Ibu dan Ayah mengunjungi pemakaman kakakmu, Ibu bertemu dengan Kai.”
Malam itu aku terus memikirkannya.

Seminggu berlalu dan aku jarang keluar rumah kecuali saat sekolah. Hari ini hari Sabtu. Sepedaku rusak jadi aku pulang dengan berjalan kaki. Aku melewati taman, karena itu merupakan satu-satunya jalan menuju rumah. Aku lihat seorang anak sedang duduk di ayunan kayu. Ya, itu pasti Kai. Sendirian di taman. Saat itu dalam diriku sedang bergelut. Setengah diriku ingin segera pulang, dan setengahnya lagi ingin menemui Kai.

“Haru!” teriak Kai. “Aku merindukanmu!” Aku terkejut menoleh. Aku yang semula berdiri di kejauhan mendekat. Kami berdua duduk di ayunan kayu di sore hari yang cerah itu. Beberapa menit suasana sepi, tak ada yang berbicara. Kemudian Kai berbicara.
“Haru, bagaimana kabarmu?” kata Kai sedikit canggung. Aku terdiam menunduk memandangi tanah berpasir.
“Haru, apa kamu masih kesal padaku?” tanya Kai
Aku hanya mengangguk. Dalam hati aku ingin memarahinya habis-habisan. Namun kutahu keadaanku dan berusaha mendengarkannya.
“Gomennasai, Haru. Aku tak bisa memberitahumu saat itu. Saat di mana aku hilang darimu tanpa kabar.”
“Gomennasai, aku malah tidak ada di saat kamu sendiri dan kesepian.” Aku mengambil notes-ku, kutulis yang ingin kukatakan.
“Apa kamu tahu keadaanku saat ini? Aku bisu Kai.”
“Aku tahu. Itu pasti sulit.” suara Kai melirih “Sudah 2 tahun sejak kecelakaan itu aku berusaha menerima kalau kakakmu tiada, dan syukurlah kamu masih sehat sampai sekarang”.
“Ibu sudah cerita semua, kenapa kamu merahasiakan kedatanganmu di rumah sakit waktu itu?”
“Karena waktu itu aku merasa bersalah, pergi tak memberitahumu dan tak memberi kabar padamu dan juga kakakmu. Gomen. Aku takut. Aku memang pengecut ya?”
Aku menggelengkan kepala. “Aku juga merindukanmu, Kai,” “Aku terus menunggu kapan kita bisa bertemu lagi.” Wajah Kai memerah.

“Ka.. kamu, sudah memaafkanku?” tanya Kai. Aku mengangguk.
“Terimakasih, Kai.”
“Terimakasih, untuk apa?” tanya Kai.
“Terimakasih, kamu masih mau menemuiku.” Kai tersenyum, aku pun tersenyum.
“Kenapa kamu enggak pakai isyarat saja? Aku sudah belajar tentang itu padahal.”
“Kenapa enggak dari tadi, sih ngasih taunya?” Jawabku sambil memelototinya sambil tertawa.
“Juga saat awal bertemu di taman minggu lalu, kenapa kamu langsung pergi, sih?”
“RAHASIA” Kai giliran memelototiku, kembali tertawa.

“Kamu tahu, aku akan kembali sekolah di sini! Jadinya aku akan terus sama kamu.” kata Kai sambil tersenyum.
“Benarkah? Kenapa tiba-tiba?”
“Kamu ingin tahu?” “ha? ha? mau tahu? RAHASIA.” Kai tersenyum, alisnya terangkat. Aku menggelitikinya. Lalu kami tertawa bersama.

Sore itu awal hari menyenangkan berikutnya bersama Kai. Kai telah mengembalikan diriku yang sebenarnya. Kai dan aku saling menyemangati satu sama lain. Sejak hari itu kami selalu bersama, dan aku menyadari betapa nyamannya diriku saat aku bersama Kai. Senyum indahnya dan penuh kehangatan kini bisa kulihat lagi. Sekarang, ada seseorang yang ingin kuajak bicara dan aku tidak pernah sendirian lagi.

Cerpen Karangan: Hardian Ridho Alfalah
Blog / Facebook: Hardian Ridho

Cerpen Sekarang, Ada Seseorang Yang Ingin Kuajak Bicara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


45 Derajat Senyummu Merubah Arah Kompasku

Oleh:
Pada saat itu hari sabtu Sepulang sekolah, aku merencanakan mengajak sacna, andika untuk berkemah di gunung manglayang, jelas mereka pun mau karena kami bertiga memiliki hobi yang sama, kami

New Student And Love (Part 1)

Oleh:
Sebuah obrolan hangat menyelimuti kelas XI-1 di Rouran Senior High School. Mereka membicarakan apa? Ada 3 murid baru katanya! Sang Guru memberitahu bahwa akan ada murid baru hari ini.

Sepenggal Kisah: Necessary 1st (Part 1)

Oleh:
Rasa sayang ini akan selalu hangat ketika aku memikirkannya. Dan mereka semua akan selalu bersamaku. Kita memasuki sebuah rumah yang sama. Kita sudah bercengkerama riang di rumah itu dan

Cintaku Kau Terlantarkan

Oleh:
“Ham, aku sayang sama kamu. Aku… Aku cinta sama kamu…” Kata-kata gadis cantik itu masih terlintas di pikiran seorang pemuda ini. Ya pemuda itu adalah Ilham. Ucapan dari sang

Obat Penawar Atau Racun? (Part 1)

Oleh:
Bel istirahat berbunyi. Astrid sedang membawa nampan berisi satu mangkuk bakso dan satunya lagi milik Salsa, mi ayam dengan extra pangsit tanpa sayur dan kuah. “Makasih, Astrid. Taruh aja,”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *