Selamat Tinggal Sahabat


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 3 May 2013

Saat jam istirahat. Robi, Darwin, dan Coki seperti biasa mereka pergi ke kantin. Mereka adalah 3 sahabat yang sudah merajut persahabatannya dari SD sampai sekarang mereka kelas 3 SMA, begitu panjang perjalanan persahabatan mereka. Bisa di bilang mereka sudah seperti keluarga. Walaupun sudah lama bersahabat, mereka sama sekali tidak pernah bersitegang satu sama lain. Mereka selalu akur layaknya sekelompok semut. Mereka juga memiliki kisah cinta yang sama-sama tragis. Mereka tidak pernah mendapat pasangan yang cocok. Sekalinya mereka dapat cewe cantik tapi tidak setia. Oleh karena itu mereka termasuk golongan jones (jomblo ngenes) paling berpengaruh di sekolah (dikumpulkan dari survey ke sepuluh wanita di sekolah.).

Di kantin..
Mereka bertiga sangat lahap menyantap makanan yang dipesannya. Robi, yang sudah menghabiskan 1 mangkok bakso, tidak sengaja melihat Lala yang sedang membeli pop ice. Lala itu cewek yang cantik, kulitnya putih, rambutnya hitam pekat sebahu menghiasi kepalanya. Robi melihat Lala sampai sampai mulutnya terbuka lebar. Dia sangat kagum kepada Lala. Dia berhayal andaikan dia bisa menjadi pacarnya dia pasti sangat senang bukan kepalang. “woii bengong ajah lu Rob, pake mangap mangap segala lagi” ujar Coki sambil memukul pundak Robi hingga membuyarkan lamunan Robi. “ahh apaan si lu ngagetin gue ajah. Coba deh Cok lu liat tuh cewek yang lagi mesen pop ice di warung bu tini” ujar Robi sambil menunjuk kearah Lala. “mana mana? Oh si Lala?” tanya Coki. “Iya Lala” ujar lagi Robi sambil menganggukkan kepalanya. “kenapa emang? lu suka sama dia? Lu mau jadi pacarnya? PDKT gituh?” tanya Coki lagi sambil mengernyitkan dahinya seakan tidak percaya kalo Robi bisa suka sama Lala. Siapa yang nggak kenal Lala? Cewek cakep yang juteknya minta ampun. “iyaa kayanya gue suka sama dia cok, dia tuh cantik, manis, walaupun sedikit jutek tapi gue yakin dia baik kalo kitanya kenal sama dia” Ujar Robi dengan penuh keyakinan. “Tapi lu mau kan bantuin gue dapetin nomornya?” ujar Robi lagi. “Hmm gimana ya? coba Gue tanya Darwin dulu dah” ujar Coki sambil membalikkan tubuhnya kearah Darwin yang sedang asyik dengan BBnya. “Win, lu mau bantuin Robi deket sama Lala nggak?” Tanya Robi. “Bantu? Gimana ya? Gua paling nggak suka nih kalo berurusan dengan cinta cinta gini. Tapi karena lu temen gue Rob, gue bakal bantu lu dah” ujar Darwin. “nah gitu dong ini baru temen gue” ujar Robi kesenengan. “Tapi ntar kalo udah jadian traktir ya Rob?” saut Coki tiba tiba. “oke itu mah gampang kawan!! Lu mau minta apa ajah gue penuhi”. KRINGGG KRINGGG bunyi bel tanda masuk kelas.

Keesokan harinya Darwin dan Coki mencari cari informasi tentang Lala ke seluruh penjuru sekolah. Robi yang seperti raja menyuruh anak buahnya mencari informasi tentang calon permaisurinya Lala, dia hanya duduk manis di kursinya menunggu informasi yang di dapatkan Darwin dan Coki.
Darwin dan Coki pun mendapat informasi tentang Lala dari teman baiknya Tari. Tari yang mereka temui di kantin. Tari membeberkan semua data-data dan fakta tentang Lala. Sebelumnya Tari tidak mau memberi tahu informasi tentang Lala tapi Coki dengan segala akalnya mampu menaklukkan Tari. Tari di sogok dengan uang selembar 10 rebu. Tari benar benar tau segalanya tentang Lala. Setelah Tari panjang lebar membeberkan informasi tentang Lala. Darwin dan Coki pun segera menemui Robi yang sedang duduk manis di kelas.

Di kelas. Darwin dan Coki melihat Robi yang tertidur lelap meletakkan kepalanya di atas meja. Mereka pun membangunkan Robi. Robi terkejut lalu terbangun sambil mengelap cairan yang keluar dari mulutnya (iler).
Melihat Robi sudah terbangun Darwin menceritakan semua informasi tentang Lala kepada Robi. Panjang lebar ujar Darwin membuat Robi sedikit bingung. Sudah semua informasi di beri tahu kepada Robi. Robi merasa masih ada yang kurang dengan Informasi itu. Informasi yang menurut Robi ini sangat vital untuk mendapatkan Lala. Tapi apa? Robi berfikir sejenak mengheningkan pembicaraan. Oia Nomer handphone!!. “lu dapet nomor handphonenya nggak?” tanya Robi. “ya ampun Rob gue lupa. Gmana nih?” ujar Darwin. “ah lu gimana si, yau dah minta lagi dah sono, lu tadi minta informasinya sama siapa emang?” ujar Robi sambil menggaruk garuk kepalanya karena kecewa. “gue tadi ama Coki minta sama Tari, tapi kalo minta sama Tari harus bayar 10 rebu dulu” ujar Darwin dengan tampang memelas. “ya udah nih ceban, lu minta nomor telpon Lala sama Tari” ujar Robi sambil mengeluarkan selembar uang dari dalam dompetnya. “segini doang? Uang transportnya mana?” sela Coki sambil mengelus ngelus perutnya seakan akan memberi petunjuk kalo dia sudah lapar kepada Robi. “ah ya udah nih ceban lagi, sama ajah lu berdua kayak Tari”.
Nomor handphone Lala pun sudah digenggaman walaupun tadi sedikit ada keributan tentang harga nomor itu. Tari sebelumnya mematok harga 15 rebu. Tapi dengan kegigihan Coki, ia berhasil menawar hingga jadi 5 rebu.

Di basecamp..
Basecamp yang terletak tidak jauh dari halaman belakang rumah Robi yang dulunya digunakan sebagai gudang tempat meletakkan barang barang bekas. Gudang itu sudah di modifikasi sedemikian rupa menjadi lebih menarik dan bersih oleh ayah Robi supaya dapat digunakan sebagai tempat berkumpul Robi, Darwin, dan Coki. Ruangannya memang tidak terlalu besar, hanya berukuran 3 x 2 meter. Di dalamnya hanya ada bed cover satu, sofa yang ukurannya tidak terlalu besar berada di samping Bed cover , lalu ada tv 24 inchi, Dan Di dindingnya yang berwarna merah cerah membuat ruangan ini lebih indah apa lagi dihiasi dengan foto-foto kenangan mereka bertiga dari sejak di bangku SD, seperti foto saat mereka sedang lomba pramuka waktu di kelas 6, ada juga foto saat kelulusan SMP yang sedang coret-coretan, dan paling tidak mungkin dilupakan yaitu foto saat mereka memenangkan lomba festival Band.

Mereka bertiga sangat sibuk dengan kegiatannya masing masing. Darwin sibuk online di laptop milik Robi, Coki juga sedang asyik dengan ps 3 nya yang dari tadi main bola kalah mulu, dan Robi lagi sibuk ngakal si Lala. Robi memberi tahu kalau ke Darwin dan Coki kalau Lala sudah mulai terlihat suka dengannya. Di tambah dengan sekarang Robi dan Lala memakai kata “aku” dan “kamu” kalau sedang BBMan.

Singkat cerita Robi dan Lala pun jadian. Hari demi hari mereka lalui bersama dengan romantis layaknya seperti pasangan yang sudah lama jadian padahal mereka baru 3 minggu pacaran.
Robi lupa dengan janjinya kepada Ciko dan Darwin kalau akan mentraktir mereka sepuasnya. Tapi Robi tidak menganggap itu serius. Kalau Ciko dan Darwin menagih janjinya, ia hanya bilang besok, besok, dan besok. Robi seperti kacang yang lupa dengan kulitnya. Semenjak pacaran dengan Lala, kehidupan dan perilaku Robi berubah drastis, dari yang jarang ngumpul bareng bareng, kalau di ajak ngeband banyak alasan ini itu, dan semangat belajarnya pun mulai menurun karena setiap jam pelajaran Robi tidak pernah fokus, dia selalu sibuk BBMan dengan Lala, padahal jarak Lala dan Robi hanya berjarak 10 m dari kelasnya karena kelas Robi yang berada di X A tidak jauh dengan kelas X C tempat Lala berada.
Hari ini Darwin dan Ciko ingin latihan futsal. Tapi karena biasanya mereka latihan futsal berangkat bareng Robi. Ciko pun mencoba menelpon Robi. Ketika di telpon, lagi lagi Robi menolak dengan alasan ingin mengerjakan tugas tapi sebenarnya Robi ingin nonton ke bioskop dengan Lala. Darwin dan Ciko pun pergi latihan futsal tanpa Robi.

Dua bulan pun berlalu. Robi masih pacaran dengan Lala. Persahabatan Robi dengan Ciko dan Darwin pun sudah mulai retak. Itu semua sebab perilaku sombong Robi. Ia semakin lama semakin lupa dengan dari mana ia mendapatkan Lala. Dia melupakan semua perjuangan tanpa jasa dari Ciko dan Darwin untuk mendapatkan informasi tentang Lala. Robi lupa segala galanya tentang persahabatnnya semenjak Ia dibutakan oleh cinta. Memang benar cinta itu buta hingga membutakan persahabatan Robi dengan Ciko dan Darwin. Sebutan kepompong bagi mereka sebagai sahabat sejati sudah tidak pantas bagi mereka.
Semenjak perilaku Robi yang akhir-akhir ini berubah. Ciko dan Darwin tidak pernah marah sedikit pun dengan Robi. Mereka malah kasihan dengan Robi, mereka ingin Robi yang dulu, Robi yang nggak sombong. Robi yang ramah, Robi yang solider tapi semua itu sepertinya sulit terwujud. Mereka pun hanya bisa berharap.

Besok, Robi ulang tahun. Ciko dan Darwin ingin memberi sureprize kepada Robi. Oleh karena itu mereka berdua pergi ke toko kue. Mereka melihat lihat kue yang cocok untuk diberikan ke Robi besok. Ciko akhirnya memberikan saran ke Darwin kalau beli blackforest saja. Darwin pun setuju dengan saran ciko.
Kue ulang tahun sudah di beli. Ciko dan Darwin melanjutkan menuju toko olahraga. Mereka berdua ingin membelikan sepatu futsal untuk Robi. Walaupun Robi sudah memiliki tiga sepatu futsal tapi tidak ada salahnya mereka membelikannya lagi. Mereka pun menyusuri toko olahraga itu. Di sana banyak sepatu sepatu bagus yang tertata rapih di raknya. Darwin menemukan sepatu yang pas untuk Robi. Ciko pun mengiyakan pilihan Darwin itu. Darwin dan Ciko pun segera membayarnya ke kasir.

Setelah selesai membeli kue dan kado untuk ulang tahun Robi besok. Mereka bergegas menjemput mobil Ciko di parkiran. Diperjalanan mereka mendengarkan musik kesukaan Ciko “Granade” yang dinyayikan oleh Bruno Mars. Tapi karena Darwin tidak suka dengan lagu barat karena tidak mengerti bahasanya, ia pun mematikan musiknya. Ciko kesal dan mencoba menyalakannya lagi. Tapi dimatikan kembali oleh Darwin. Ciko bersih kerasnya menyalakannya lagi. Keributan kecil pun tidak terjadi. MATIKAN!! NYALAKAN!! MATIKAN!! NYALAKAN!!. Tiba tiba dari arah yang berlawanan ada truk tronton melaju sangat cepat. Ciko yang mengemudikan mobil segera membanting stir kekanan tapi tiba tiba bus pariwisata melintas dengan kecepatan tinggi dan menabrak mobil Ciko.
JEGERRRR!!! BRUKKK!!! Mobil yang dikemudikan Ciko berputar 3 kali di udara lalu terpelanting ke tengah jalan. Bus yang menabrak mobil Ciko hanya bagian bempernya saja yang rusak. Ciko dan Darwin yang berada di dalam mobil keadaanya sangat kritis dengan seluruh tubuh berlumuran darah hingga saat perjalanan menuju kerumah sakit mereka menghembuskan napas terakhir.

Keesokkan harinya di sekolah, Robi sangat lesu seperti tak ada niat hidup lagi. Di hari ulang tahunya dia sangat kecewa karena tadi malam hubungannya dengan Lala kandas. Lala mutusin Robi tanpa sebab. Robi sangat ingin hari ini berbagi ceritanya ke Ciko dan Darwin. Tapi ia tidak enak kepada Ciko dan Darwin karena selama ini ia sudah jarang berkumpul. Tapi dia mencoba apapun resikonya nanti.
Sampai pelajaran di mulai, perasaan Robi mulai tidak enak “kenapa Ciko dan Darwin belum datang?” tanya Robi dalam hati. Biasanya mereka tidak pernah telat datang ke sekolah. Sampai akhirnya bu yuni (guru BP) masuk keruang kelas dan memberitahu kalau Ciko dan Darwin meninggal dunia tadi malam karena kecelakaan. Seketika ruang kelas hening mendengar apa yang dikatakan Bu Yuni tadi.
Air mata Robi tidak dapat di bendung lagi. Dia sangat sedih dengan kepergian kedua sahabatnya itu. Ia benar benar menyesal dengan kelakuannya dulu saat masih pacaran dengan Lala. Dia lupa kalau memiliki kedua sahabat yang sangat baik kepadanya. Robi pun hanya tertunduk menangis memandang permukaan meja yang tertulis coretan dari tipe-x bertuliskan “CIKO-ROBI-DARWIN”. Ia langsung teringat dengan Ciko yang menulis tulisan di meja itu saat sedang bosan dengan pelajaran matematika.

Ciko dan Robi dimakamkan bersebelahan. Lagi lagi Robi tidak dapat membendung air matanya. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya saat gumbukan tanah menutupi jasad Ciko dan Robi. Hingga taburan bunga menghiasi gumbukan tanah itu.
Robi segera meninggalkan makam kedua sahabatnya itu sambil tersunguk-sungguk. Ibu Ciko tiba tiba menghampiri Robi sambil membawa kotak dengan bungkusan yang sudah tidak beraturan bentuknya (setengah rusak). “Ini titipan dari Ciko dan Darwin” ujar Ibu Ciko sambil menyerahkan kotak itu. “ini apa bu?” tanya Robi bingung sambil mengambil kotak yang diserahkan Ibu Ciko. “buka saja nak Robi” ujar Ibu menyuruh Robi. Robi pun membuka kotak yang sudah setengah hancur itu. Ternyata di dalamnya ada sepasang sepatu futsal yang di beli Ciko dan Darwin kemarin.
Robi tersenyum kecil dengan butiran air yang mengalir dari pelupuk matanya. Ia tidak menyangka kalau Ciko dan Darwin masih setia dengannya walaupun ia sangat cuek dan tidak dapat di sebut sahabat lagi untuk mereka. “nak Robi, ibu pulang dulu ya” ujar Ibu Ciko meninggalkan Robi.

Robi kembali menghampiri makam kedua sahabatnya itu lagi sambil menenteng sepasang sepatu futsal. “Ciko, Darwin. Maafin gue ya, selama ini gue udah ngelupain kalian berdua karena gue sibuk dengan Lala. Gue orang yang ga tau terima kasih, gue bener bener nyesel dengan semua ini andaikan waktu bisa di ulang, gue nggak bakal ngelakuin itu semua. Tapi itu nggak mungkin terjadi kalian sudah pergi jauh di alam sana. Gue akan selalu doain kalian berdua dan gue nggak akan pernah lupa dengan semua yang pernah kita lakukan dari kecil hingga sekarang. Makasih juga sepatu futsalnya, gue suka banget. Gue pulang dulu ya Ko, Win. Semoga kalian tenang di sana” ujar Robi panjang lebar membuat ia menangis lagi. Robi pun pergi meninggalkan makam Ciko dan Darwin dengan semua kenangan yang pernah mereka lewati bersama..

-TAMAT

Cerpen Karangan: Paskal Gameryo
Blog: paskaljourney.blogspot.com
siswa smk grafika desa putera
umur 16 tahun

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Penyesalan Cerpen Persahabatan Cerpen Sedih

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 Responses to “Selamat Tinggal Sahabat”

  1. Andy says:

    Terharu bangettt :-(

  2. defy says:

    sumpah!! nangis baca nya:”(

Leave a Reply