Selembar Ladang Manis (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 3 November 2015

Aku berjalan dalam duniaku, aku berimajinasi dalam mimpiku, aku berbagi dengan diriku, aku, aku ingin memikirkan semua tentang apa yang ingin aku lakukan. Rerumputan ini telah membangunkanku, menyadarkanku dari sebuah keterpurukan yang menjelma menjadi hidup yang amat manis, hidup yang benar-benar aku tunggu setiap harinya. Mungkin aku selalu meneteskan mata, tapi saat ini, saat ini aku tidak ingin lagi, bukankah aku harus menyekanya, harus membasuhnya dan mengusapnya. Hidupku tak mungkin tak bermula, maka cerita indahku bermula ketika aku baru sadar apa yang Tuhan sebut sebagai cobaan, sebagai masalah.

Aku selalu merasa menjadi orang yang amat terpuruk, amat nelangsa, dan merasa aku tak pernah beruntung dalam hal apapun, namun sebenarnya semua itu tidak benar, bagaimana mungkin Tuhan membiarkan hidup umatnya begitu sengsara. Aku berkhayal bahwa aku adalah gadis sempurna, gadis yang benar-benar istimewa, namun sesungguhnya semua itu hanya khayalku. Aku selalu ingin menjadi sempurna selalu ingin menjadi istimewa. Namun aku lebih beruntung ketika aku mendapatkannya dengan langkah yang lebih jauh dari teman-temanku. Aku beruntung, namun keberuntunganku justru yang membuatku tak pernah menyadari tentang hidup, tentang indahnya hidup, tentang manisnya hidup.

Setiap pagi. Baik, kebiasaan burukku bermula ketika aku selalu hidup dalam keinginanku, bahkan aku tak pernah bisa untuk melakukannya sendiri, aku selalu meminta tanpa pernah mengatakan tolong.
“Bibi, bisakan Bibi mencari kaos kakiku, kenapa Bibi ini lemot sekali sih?”
“maaf mbak, Bibi kan masih di dapur,”
“Bibi selalu begitu, alasan Bibi itu klasik tahu, jadi sekarang cepetan ambilin yang ada di lemariku,”

Sesungguhnya aku malu untuk mengingat itu semua, aku benar-benar malu, malu karena aku tak pernah punya sopan santun, berbuat sesukaku, semauku, tanpa pernah memikirkan orang lain dan perasaan mereka. Ketika aku sampai di kelas, aku pun tak pernah memikirkan teman-temanku, beberapa dari mereka aku rasa ada yang menjauhiku, tapi sayangnya aku tak menyadari kenapa aku harus dijauhi. Yah begitulah, tapi aku tak ingin tahu, mungkin di kelas hanya ada seorang gadis kutu buku yang mau berteman denganku, tapi aku hanya menjadikannya pecundang, selalu membuatnya terbully dengan sikapku, dengan olok-olokkanku, sedikit berteriak dan hal-hal yang tak bermoral lainnya, yang bahkan mungkin dalam kehidupan aku tak pernah mengharapkannya. Namun semuanya berubah menjadi berbeda ketika datang seorang murid baru, entah mengapa dia selalu ingin ribut denganku.

Pagi itu aku baru mengenalnya.
“baik, terima kasih untuk perhatiannya, perkenalkan, namaku, Giana priscillia aku baru pindah kemarin dari bogor, semoga kalian bisa menjadi teman baikku, ya, makasih” perkenalan pagi itu, tapi aku tak tertarik sama sekali, aku tak pernah tertarik berteman, kecuali dengan gadis kutu buku yang bisa aku manfaatkan ini. Namun entah kenapa tiba-tiba ia duduk tepat di sampingku, duduk di tempat duduk yang seharusnya kosong sejak semester pertama aku duduk di bangku itu.

“kenapa duduk di sini? ini tempatku,” ujarku,
“tapi kan di sini kosong, apa tempat ini ada yang memakainya?” belum sempat ku jawab, bu Anggun lantas menyelaku dan membiarkan tempat itu ditempati si murid baru.
Perkenalanku dengannya hari itu, bukan perkenalan yang baik, tapi gelagatnya aku rasa dia anak yang baik.
“kasih, kasih, bisa kan kamu ke sini,” panggilku pada kasih.
“kenapa Ella?”
“kau harus memberitahuku untuk mengerjakan soal matematika ini?”
“bukankah kamu lebih pintar mengerjakan soal matematika ini daripada aku,”
“aduhh, kamu mau ngajarin aku atau tidak sih?”

Belum sempat kasih mengatakan iya, Gia murid baru itu tiba dan kemudian duduk di sampingku sembari mengajariku soal matematika yang aku sebenarnya sudah tahu. Aku memanggil Kasih hanya karena aku tak ingin Kasih juga menjauh dariku. Aku tahu meskipun aku hanya menjadikan Kasih sebagai orang yang aku ambil untung saja, tapi aku juga tahu ketulusan dia, aku tahu ketulusan dia yang menerimaku sebagai teman, dia selalu mengatakan aku baik, meskipun aku sering berteriak padanya.

“gimana Ella? kamu sudah mengerti kan?” Tanya Gia sumringah,
“apanya? bahkan dengan memejamkan mata saja aku bisa menjawabnya,” ujarku yang lantas mengajak kasih ke luar ke kantin.
Kesalahan terbesarku pada Kasih yang telah menjadi teman baikku, bahkan sahabat sejatiku adalah, aku selalu membiarkan dia berjalan di belakangku, membuntutiku dan tak pernah membiarkannya berjalan berdampingan dan bergandengan tangan dengannya sebagai sahabat.

“sudah makan aja, ngapain sih kamu pake sungkan-sungkan segala? anggap saja itu imbalan karena aku sudah memanfaatkanmu,”
“justru itu, aku takut orang-orang menganggapku sebagai orang yang memanfaatkan kamu,”
“ah, naïf banget sih kamu? Udah deh gak usah pake ngeles, kalauk kamu gak mau makan itu berarti kamu gak mau temenan sama aku,”
“ah, kenapa sih kamu selalu memaksa, andai kamu gak sesuka hati kamu, pasti mereka suka berteman denganmu,”
“hah, kamu ngomong apa? emang kamu gak suka ya berteman sama aku?”
“bukan begitu,”
“sudahlah, gak usah dibahas lagi, gak penting,”

“Kasih, kira-kira ada atau tidak laki-laki yang suka sama aku?” ujarku pada kasih, namun sesaat Kasih hanya diam, seolah ia sedang berpikir kata apa yang tepat dan tak menyinggung perasaanku.
“manusia diciptakan kan memang untuk mencintai dan dicintai, tapi meski begitu kita tidak harus kecewa dengan cinta, dan,”
“Kasih aku cuman butuh jawaban ada atau tidak, kenapa kamu jawab panjang lebar, aku gak butuh pendapatmu,”
“emm,”
“ya udah gak usah dijawab, gak penting,”

Di sekolah aku mengikuti kegiatan ekstrakurikuler karate, karate adalah bagian dari hobi, hobi untuk melampiaskan segala kekesalanku dengan hidup, kekesalan pada hal yang tak pernah aku tahu sebabnya. Di tempat ini aku menemukan sesuatu yang berbeda, yang selalu membuatku tertarik untuk datang latihan. Sesuatu yang aku tahu, tapi aku tak ingin menyebutnya, sepertinya aku telah menemukan duniaku, duniaku yang bisa aku lihat dari orang lain. Mungkin Kasih tak pernah tahu itu, tapi sayangnya lagatku terlalu membuatnya cepat tahu siapa seseorang itu.

Dia adalah teman yang berbeda kelas denganku, tapi aku sering melihatnya, karena dia adalah salah satu anggota Paskibra di sekolah, dia juga menekuni hobi karate. Aku mengenalnya, tapi aku tak mengenal baik, karena semua logat dan gayanya tak seperti cowok-cowok di sekolah ini, dia berbeda sungguh berbeda. Namanya adalah Nathan kelas 2-a jurusan IPA, termasuk anggota paskibra yang paling diminati cewek di sekolah ini.

Hari Itu. Setelah latihan, sejenak aku beristirahat untuk menghilangkan keringat yang ada di badanku, kali ini tak ada kasih yang membuntutiku, dia sedang ada les tambahan karena dia dipilih sekolah sebagai perwakilan di Olimpiade MIPA bulan depan. Saat itu aku melihat dan aku tahu Nathan menatapku, dia datang ke arahku, bahkan sejenak ia menebar senyum tipisnya, meski sudah 3 bulan aku latihan bersama dengannya, tapi berbicara pun dengannya tidak pernah, aku ragu dengan diriku, aku malu dengan diriku sendiri.

“emm hai, em anu Ella ya, kelas 2-b?” sapanya.
“ah, iya,” aku mulai gelagapan menjawabnya.
“mana temanmu, teman yang selalu bersamamu?” ehm Kasih?” ujarnya.
“Kasih? memangnya kenapa?”
“tidak apa-apa hanya ingin bertanya saja, ehm, sebenarnya aku butuh bantuan kamu,”
“bantuan? bantuan apa? memangnya aku mau membantumu?” sejenak gaya jutekku mulai mempersulit diriku sendiri.

“begini, satu bulan lagi akan ada Kompetisi karate yang ke-15 yang akan diadakan di Bandung, ehm setelah aku tadi ngobrol dengan pelatih, dia ingin mengirim kamu dan aku dalam kompetisi itu, aku diminta pelatih untuk menanyakan apa kamu sanggup ikut kompetisi itu?” sejenak aku terdiam.
Kompetisi? aku memang hobi tapi aku tak butuh dan tak pernah ingin berkompetisi.
“Ella, kenapa diam?”
“kompetisi? entahlah aku pikir-pikir dulu,” ujarku.
“ehm bisakah aku minta nomor hp kamu, mungkin sekadar info untuk menghubungimu?”
“iya, baiklah,” ujarku.

Hari itu, hari pertama aku berbincang dengannya, tapi sayangnya aku tak bisa menjadi gadis anggun dan mengiyakan apa yang menjadi keiinginannya. Tapi sejak itu aku mulai dekat dengannya, dekat sebagai teman. Hampir setiap hari dia menghubungiku, menanyakan sesuatu hal yang terkadang tak pernah penting, bahkan Ayah dan Ibuku saja tak pernah bertanya padaku. Aku suka dengannya, bahkan kesalahaan yang amat fatal bagiku adalah aku terlalu salah mengartikan semua perhatiannya.

“apa kamu jadi ikut kompetisi karate itu?” Tanya kasih, ingin tahu.
“kenapa? kalaupun aku mau mungkin aku sudah menjuarai banyak kejuaraan,”
“jadi, kamu menolak tawaran itu? kenapa? dulu kamu menolak jadi delegasi model sekolah, terus menolak ikut olimpiade, masa kompetisi karate ini juga ingin kamu tolak, harusnya mulai sekarang kamu tunjukkan siapa diri kamu, ell,” ujar kasih menasihatiku.
“gak perlu kamu nasihatin, ayo buruan, ke kantin,”

Seperti biasa, Kasih hanya membuntutiku di belakang, dan bodohnya aku tak pernah memintanya berjalan di sampingku. Belum beranjak aku duduk di kursi, ku lihat Nathan sudah melambaikan tangnnya, dia masih ingin mencoba membujukku untuk ikut dalam kompetisi itu.
“hai, hai Kasih,” sapanya padaku dan Kasih.
“ada apa?”
“aku mau tanya soal kompetisi itu, apa kamu sudah berubah pikiran?” tanyanya.
“iya, Ella pasti akan ikut kompetisi itu, tenang saja, jangan khawatair,” ujar Kasih yang asal nerocos.
“ahh, yang benar, baik, nanti pulang sekolah aku tunggu di ruang karate ya,” ujar Nathan yang lantas pergi tanpa mendengarkan penjelasanku.

“kamu ini apa-apaan sih Kasih, kalau kamu gak mau berteman dengannku, jangan lakuin itu, mending jauhi saja aku,”
“Ella maaf, tapi ini juga demi kamu, ayolah setidaknya jika kamu memang menganggapku sebagai teman, anggaplah ini permintaanku, dan kamu harus penuhi,” ujar Kasih, aku diam, dan ku ingat-ingat kasih memang tak pernah minta apa-apa denganku.
“kau ini selalu membuatku harus membayar hutang, seolah-olah aku telah berhutang denganmu,” ujarku, namun Kasih hanya menyeriangai, dia tahu, jika aku tak bisa menolak permintaannya.

Membalik dari sebuah hobi, ku kembali dalam kandang kelas yang dipenuhi dengan beribu-ribu hal yang menyebalkan, mungkin 1 bulan mengenalnya, dia -Gia- masih terlihat baik-baik saja, tapi 2, dan menginjak bulan ke 3 dia terlihat sungguh menyebalkan, dia selalu pasang muka ramah, tapi padahal dia busuk di belakang, dia selalu memasang muka manis di depan guru, tapi padahal dia sering memperbincangkan guru. Bahkan aku tahu sendiri dia yang megadukan teman sekelasku yang nyontek waktu ulangan kepada pak Haris, sampai-sampai satu kelas kena hukuman.

Dia tahu aku tahu dia mengadu-ngadu, tapi dia malah buat rumor kalau aku yang mengadu karena aku dan Kasih tidak masuk dalam hukuman itu, yah tentu saja hari itu aku dan Kasih dipanggil bp karena ketahuan bolos, aku menyesalinya dan hari itu aku baru tahu bagaimana takutnya Kasih saat aku ajak bolos. Namun untungnya rumor itu segela hilang, karena teman-teman sekelasku memang tahu, aku bukan orang busuk yang suka mengadu-adu.

“Ella, sepertinya aku takut ulangan fisikaku akan dapat nilai buruk,”
“ah, sudah jangan pernah mengeluh denganku, kalau sekali lagi kau mengeluh lebih baik jauhi saja aku,” ujarku pada Kasih.
“ehm, iya maaf,”
“bisa gak kamu jangan mengulang kata maaf itu lagi, aku bosan tahu mendengarnya,” ujarku, saat aku sedang ngobrol dengan Kasih, Gia yang jalannya sudah seperti tante girang, tiba-tiba duduk di sampingku sembari ngajak ngobrol sok asyik.

“Ella, kamu kenal Nathan kan? itu loh anak karate yang biasanya latihan sama kamu, dia juga anak paskibra itu,” ujarnya, aku diam tak ingin menanggapinya.
“kamu tahu dia tadi senyum sama aku, bahkan manggil nama aku, dia kayaknya suka sama aku,”
“ehmm,” aku menghela napas sepanjang mungkin dan rasanya ingin cepat-cepat lari dari kuman seperti Gia ini, “terus apa hubungannya sama aku, penting gak sih kamu ngomongin Nathan ke aku?”
“oh iya kamu tahu gak sih, 2 minggu lagi dia bakal ikut kompetisi karate di bandung,”
“eh, tante girang mending lo jauh-jauh dariku deh,”
“apa? tante girang, lo itu yang tante jal*ng,”
“eh sialan loh, diem ya, mulut lo!!”

Hari itu adalah hari yang tak pernah aku duga, padahal aku tak pernah ingin lagi ikut-ikutan bahkan berkelahi di kelas, tapi hari itu aku cukup puas karena bisa membuat mulut Gia bener-bener dower kayak woody wood peker. Dan hadiahnya adalah surat orangtua, jelas saja aku langsung membuangnya, bagaimana mungkin? kedua orangtuaku sudah bercerai sejak aku masuk bangku SMP, sekarang saja aku hanya tinggal bersama Kakek dan Nenekku, mana mungkin lagi aku meminta Kakek Nenekku yang datang ke sekolah.

“dasar jal*ng, Gia emang bener-bener jal*ng,”
“udah sabar, kayak gak tahu Gia aja, oh iya surat panggilan kamu gimana?”
“gak tahu, udah aku buang di tong sampah,”
“apa? kamu buang? ya udah gimana kalau besok kita bolos, aku punya tempat yang indah banget, tempat yang buat kamu damai,”
“hah kamu ngajak bolos sekolah? gak salah denger?”
“iya, gak salah kok Ella,”

“Kasih, aku ini udah punya image buruk ya, aku gak mau kena masalah dan aku disalahin gara-gara aku, kamu jadi ikut buruk juga”
“iya aku, tahu, udah gak usah bawel, hehehe”
“hah kamu ngomong bawel ke aku, berani ya?”
“iya maaf, ehm ups sorry,”

Hari itu adalah hari yang benar-benar aku tunggu, aku memang belum percaya kalau aku diajak bolos oleh Kasih, gadis kutu buku yang seharusnya hanya membuntutiku tiba-tiba mengajakku bolos. Tapi itu mungkin akan jauh lebih baik daripada aku datang ke sekolah dan bertemu dengan gadis jal*ng, si Gia.
“kamu ingin mengajakku ke mana?”
“sudah ikuti saja denganku, kamu tahu tidak tempat yang banyak ilalang di sini?”
“maksud kamu ladang ilalang yang biasanya buat tempat syuting artis itu?”
“iya bener, kamu belum pernah ke sana kan? ayo ikut denganku, kamu pasti akan menemukan hal baru,”

Ya, aku benar-benar melihat ilalang, ilalang yang terhempas luas tepat di depan mataku, entahlah kenapa aku baru tahu ada oase yang indah di sini yang membentang luas, tempat yang seharusnya bisa aku datangi setiap hari. Di tempat ini benar-benar tempat yang membuat perasaanku damai, aku bisa merasakan suasana angin sepoi yang berhembus, aku bisa merasakan wangi-wangi ilalang, dan aku bisa melihat langit dengan jelas, sejelas seperti sebanyak yang aku ingin lihat. Aku membaringkan tubuhku, membaringkannya hingga aku bisa merasakan diriku sendiri, sembari memejamkan mata dan mengingat kenangan indah yang dulu pernah terjadi dan hanya terlewat begitu saja.

“apa yang kamu rasain sekarang?”
“gak ada yang pasti aku senang, aku bahagia, aku bebas, dan aku merasa jadi diriku sendiri, memangnya apa yang sedang kamu rasain sekarang?”
“aku ingin, aku ingin kamu tetap menjadi sahabatku,” ujar Kasih, sentak aku terenyuh, aku merasa menyesali banyak hal, kenapa dia menganggapku sahabat, padahal aku sering membuat luka padanya, aku sering melakukan banyak kesalahan dengannya.

“sahabat?”
“iya sahabat, memangnya kamu tak menganggapku sebagai sahabat apa?”
“oh, iya kamu sahabatku,”
“kamu sahabat satu-satunya dan yang pasti kamu yang terbaik Kasih,” ujarku lirih dalam hati.

Bersambung

Cerpen Karangan: Eni Sri Wahyuni
Blog: irsine.blogspot.com

Cerpen Selembar Ladang Manis (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Letter to Friend

Oleh:
Namaku Angelica Putri Kariska biasa dipanggil Angel. Aku punya sahabat bernama Laudria Lolita Karisma biasa dipanggil Laura. Aku dan Laura bersahabat sudah sejak lama. Hingga pada suatu hari aku

12 Tahun Lamanya

Oleh:
“Hoaammm” terdengar suaraku pagi itu terbangun dari tidur pulasku. Kupandangi jam dindingku sudah terlihat menunjuk pukul 06.30 aku bergegas menuju kamar mandi karena tidak mau sampai terlambat sekolah karena

Ayunda Mengejar Cinta (Part 1)

Oleh:
Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi, aku terbangun dari tidur pulasku, alarm yang ku pasang malam tadi sudah sangat sukses membuatku terbangun dari mimpi yang menurutku sangat indah untuk

Arrrggghhh!

Oleh:
Di pagi hari yang cerah, aku sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Kurapihkan pakaianku dan ku periksa kembali buku-buku yang akan aku bawa. Dari lantai bawah terdengar suara wanita

Pagi, Maaf Kuselingkuh Dengan Hujan

Oleh:
Dulu, aku cukup setia menyukai pagi. Wujud harapan baru yang mendekap hangat setelah gelap. Ia tak pernah ingkar janji untuk datang. Tapi, setiaku runtuh sebab aku mulai selingkuh karenamu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *