Selembar Ladang Manis (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 3 November 2015

Hari itu aku benar-benar bisa mengerti arti seorang sahabat, seorang sahabat yang selalu ada, yang selalu ada ketika aku dalam masalah, dalam suka dalam duka, iya Kasih adalah sahabat terbaikku, sahabat yang tak pernah aku akui bahwa dia adalah seorang sahabat sejati.
“eh, Ella, aku tanya boleh?”
“tentu, tanya aja, bukannya kamu itu tukang nanya ya,”
“kamu kemarin cemburu kan sama gia, gara-gara Nathan?” ujar Kasih yang mulai menggelitikku.
“hah, aku cemburu, udah deh jangan rusak suasana hatiku dengan ngomongin Gia ataupun Nathan, kalaupun aku suka sama Nathan memangnya kenapa?”
“hahaha, tuh kan ketahuan, ye Ella suka Nathan,”
“heh, kutu buku gak suka nggoda-nggoda aku,”

Aku benar-benar tak menyadari satu sisi seorang sahabat, dia peduli, bahkan ia tahu tanpa aku memberitahu bagaimana perasaanku. Sejak hari itu, aku mulai bersyukur dengan Tuhan, aku mulai berterima kasih pada Tuhan karena ia mengirim seorang sahabat, sahabat baik. Aku berjanji apapun yang dia minta aku pasti akan menurutinya, walaupun aku tahu dia, Kasih tak akan pernah meminta apapun kepadaku. Bahkan ilalang tahu bagaimana perasaanku, pagi itu cerah, hari itu membuatku benar-benar bahagia. Bahkan aku juga telah melupakan segala susahku, segala pertanyaanku mengapa Tuhan menakdirkan hidupku dengan orangtua yang sudah berpisah, justru aku bersyukur mungkin jalan untuk berpisah adalah jalan yang terbaik, sekarang yang harus selalu ku ingat adalah Kakek dan Nenekku, yang mau membesarkan aku.

Nathan aku tahu dia sangat perhatian padaku, tapi aku tak yakin jika dia menyukaiku tapi apapun itu aku tak berharap lebih dengannya, aku hanya menganggapnya sebagai teman sejawat, teman satu hobi, dan bahkan teman tim dalam kompetisi yang akan berlangsung lusa depan. Sore itu sepulang sekolah, aku ada latihan karate, aku tak meminta Kasih untuk membuntutiku, aku sadar dia bukan kacung, dia bukan pembantu, dia juga bukan ajudanku, tapi dia adalah sahabatku, aku tak sepantasnya melakukan hal itu kepada sahabatku sendiri.

“gimana perasaan kamu menjelang kompetisi?” Tanya Nathan padaku.
“kompetisi, entahlah aku tak tahu tapi menurutku biasa aja?” ujarku, segampang mungkin aku menjawabnya.
“oh iya, kamu teman sekelas Gia ya, aku dengar kamu habis kena masalah dengannya?”
“memangnya kenapa? dia pacar kamu apa? sampe-sampe kamu harus interogasi aku?”
“bukan begitu, sepertinya dia baik, walaupun agak centil sih,”

“jadi kamu menyimpulkan kalau aku ini buruk?”
“bukan begitu, ehm,”
“ah, aku rasa kamu sama-sama nyebelin dengan Gia,” aku amat kesal, saat Nathan selalu menyebut nama Gia, apalagi yang lebih membuatku kesal adalah dia menyebut Gia baik, ah dia belum tahu saja, seperti apa gadis yang berpura-pura baik itu.

Sore setelah latihan aku lantas pulang, aku tak meminta sopirku untuk menjemput, Kasih bilang sore hari adalah waktu yang tepat untuk melihat kedamaian dengan senja, senja sore yang menawarkan siluet-siluet oranye, yang membiaskan bayanganku, yang mengibarkan bayanganku dalam sepoi-sepoi angin, dan sore itu aku ingin mencoba merasakan hal yang dikatakan Kasih.

Aku melewati trotoar, berjalan seolah aku tak berjalan, aku bahkan merasa tak ingin berhenti dan cepat-cepat tiba di rumah, apalagi saat aku rasakan hembusan angin yang menerpa kemejaku, semuanya, benar-benar aku tak bisa membuatnya dalam kata-kata. Namun aku tak menyadari, jika Nathan sedari tadi sudah membuntutiku di belakang, aku baru menyadarinya ketika ada sebuah bayangan yang terbias dan sejajar dengan bayanganku. Aku terhenti untuk sejenak dan menoleh ke arah Nathan, yang ku lihat hanya tersenyum ragu.

“ada apa? kamu bukan perampok kan yang harus membuntutiku?”
“hah tentu bukan, ehm aku hanya ingin minta maaf, sepertinya tadi siang ucapanku menyinggung perasaan kamu?”
“iya, memang sangat menyinggung, tapi karena kamu sudah meminta maaf, jadi aku maafkan,”
“karena rumah kita sejalan, aku boleh menemanimu?”
“ya terserah kamu,”

“oh iya, kamu sudah berapa lama berteman dengan Kasih?”
“belum lama? kenapa?”
“oh tidak apa-apa, oh iya, apa dia sudah punya pacar?” pertanyaan yang fatalnya aku tak mendengarnya.
“hah, apa, bisa kamu ulangi aku tak mendengarmu,”
“oh, ehm maksudku, semoga persahabatan kalian langgeng,”
“ehm, iya,”
Ya lagat jutekku memang tak berubah, tapi aku senang, aku senang karena dia gentle dan mau meminta maaf denganku. Aku berharap walaupun aku takut berharap, mungkinkah dia punya perasaan yang sama dengan yang ku rasakan, tapi aku tak tahu.

Tak ku sangka lusa itu datang juga, aku tak pernah merasakan aku takut dan perasaan keringat dingin ini datang tiba-tiba padaku. Oh iya ada kabar bahagia, kemarin Kasih jadi mendapat juara kedua dalam olimpiaade MIPA tahunan itu, dia bilang dia kecewa karena tidak bisa mempersembahkan piala yang paling besar di ajang bergengsi itu dan hari ini dia berpesan padaku agar aku membawakannya piala yang paling besar dalam kompetisi karate ini.

“aku harap kamu bisa ngasih piala yang paling besar buat aku, dan jangan ulangi lagi kesalahan terfatal aku ya, kesalahan karena gak bisa dapetin piala yang paling besar buat kamu,” ujarnya yang nerocos, kayak kereta.
“iya, iya bawel, aku itu bukan Kasih tapi aku Emanuella, jadi jangan remehin aku ya,”
“sip, semangat buat kamu ya,” ujar Kasih.
“wah lagi ngasih support ya?” support aku juga dong?” kata Nathan asal nyeplos.
“iya, iya pasti,” ujar Kasih.

Aku bertekad aku pasti akan mendapatkan piala yang terbesar, dan itu janjiku pada Kasih, aku pasti membawanya. Aku sangat semangat hari itu, aku benar-benar semangat. Dan rasanya aku benar-benar beruntung karena tidak melewatkan sebuah kesempatan seperti ini. Benar kata Kasih, jika aku harus menunjukkan siapa aku yang sebenarnya, aku harus bisa bangkit, aku harus melawan rasa keterpurukanku. Jantungku berdebar kencang saat namaku Salma EmanuElla dipanggil masuk dalam arena pertandingan. Nathan memberi support padaku, dan yang pasti pelatihku, dia tahu jika aku begitu gugup.

“semangat Ella, kamu pasti bisa, kamu pasti bisa,” ujar Nathan berbisik kepadaku, yah aku benar-benar hampir layu saat melihat senyumnya, aku rasa harapanku, kepada Nathan semakin lebih selain untuk Kasih ini juga untuk Nathan aku pasti dapatkan kemenangan ini.

Dan tak pernah aku sangka, aku benar-benar membawa piala yang paling besar, Nathan menang 2 set dalam 3 round pertandingan sedangkan aku, aku langsung menang 2-0 telak.
“hah, kita menang, kita berhasil, selamat! selamat Ella,” ujar Nathan menggebu, kali ini aku benar-benar merasa puas dengan diriku, entah kenapa aku begitu senang, karena aku merasa kerja kerasku kali ini tak sis-sia, dan bisa berguna untuk membanggakan sekolah ini. Aku benar-benar bahagia.

“iya-iya, aku senang,” balasku.
“Ella, kamu menangis?” Tanya Nathan.
“nggak, aku gak nangis, aku cuman terlalu seneng aja,” ujarku dan Nathan lantas memelukku, aku lihat saat itu dia benar-benar bahagia, aku benar-benar melihat kebahagiaan di dirinya. Aku tak percaya hari itu, namun ada yang lebih tak aku percaya lagi.

Di Mobil.
“Ella kamu tahu? aku baru kali ini melihat kamu tersenyum,”
“hah, kenapa?” ujarku bingung.
“gak apa-apa, selama kenal kamu, aku sedikit pun tak pernah melihat kamu senyum, kalau kamu tersenyum kamu cantik loh, makanya jangan jutek lagi,”
“apa sih sok tahu banget,” balasku sedikit tersipu.
“oh iya, aku boleh tanya sesuatu?”
“Tanya aja, aku bukan artis yang minta bayaran kok,” jawabku asal nyeplos.
“Kasih, apa Kasih udah punya cowok?” pertanyaan Nathan sentak membuatku, bergetar.

“aku punya janji, jika aku menang dalam kompetisi ini, aku mau nembak dia, dan piala ini ingin aku persembahin buat dia,” yah dugaanku benar-benar, tak tahu harus bagaimana, aku merasa aku bergetar, secara tidak langsung cintaku tak mungkin terbalas, tapi kenapa harus Kasih, tidakkah dia tahu aku juga menyukainya, tapi kenapa dia menyukai sahabatku sendiri.
“ell, ell, hai,” ujarnya sembari melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku.
“ehmm, kasih, dia belum pernah punya cowok,”
“hah, yang benar?” makasih ya ell, makasih ell,” ujarnya sembari lagi-lagi ia lempar senyum bungah kepadaku, hari itu aku benar-benar tak punya mood untuk membicarakan Nathan bahkan memikirkannya saja aku enggan.

Pagi ini aku di sekolah dalam mood yang tidak baik, meskipun ada beberapa temanku yang datang padaku dan mengucapkan selamat atas kemenanganku, tapi aku masih belum melihat sosok Kasih, mungkin dia sedang ada di kelas membaca-baca buku, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada Kasih soal Nathan tapi lebih baik aku diam saja, mungkin cinta gak harus aku miliki, mungkin dia bukan jodohku. Tapi selain ada yang mengucapkan selamat padaku, beberapa dari mereka ada yang memandangku sinis, benar-benar sinis, apalagi semua orang yang memandangku sinis usai dari madding di sekolah.

“eh kenapa sih?” tanyaku pada salah seorang teman.
“tuh lihat aja sendiri di mading,”
“ada apa di mading?” tanyaku, lantas aku ke mading untuk melihat apa yang ada di sana. Kala itu aku benar-benar shock saat aku tahu sebuah pengumuman yang membuatku benar-benar dijudge sebagai cewek gak bener.

“Salma Emanuella, dasar loh, kamu bilang aku jal*ng, kamu sendiri juga jal*ng, busuk banget sih loh” ujar Gia.
“ini pasti kerjaan kamu kan?”
“iya itu emang kerjaan aku, tapi aku dapat info itu dari guide loh, eh bukan sih sahabat loh si Kasih, aku baru tahu kenapa kamu mau ikut kompetisi itu, itu karena ada Nathan kan, cowok yang kamu suka,” ujar Gia, dan entah tak senganja atu tidak, tiba-tiba Nathan datang dan bertanya ada kerumunan apa.

“Nathan, oh kebetulan ada kamu, kamu, Ella itu suka sama kamu,” ujar Gia, aku benar-benar mulai bergetar, rasanya aku tak bisa berdiri, rasanya aku benar-benar ingin jatuh, aku malu, apalagi aku tahu Nathan gak pernah suka sama aku.
“kamu tahu, dia mau ikut kompetisi itu karena ada kamu than, dasar,” tambah Gia, Nathan hanya memandangku, aku masih tertunduk aku tak sanggup mendongakkan kepalaku lagi, bahkan air mata di pelupuk mata ini hampir tak kuasa aku bendung.

“Ella, kamu gak apa-apa kan?” ujar Kasih yang tiba-tiba datang di kerumunan. Aku sungguh tak percaya Kasih mengatakan semuanya kepada Gia.
“gak usah sok peduli,” ujarku pada Kasih.
“Ella maafin aku, dengerin penjelasan aku dulu,” ujar Kasih.
“aku gak butuh penjelasan kamu, kamu bukan sahabatku lagi!!”

Hari itu aku merasa dalam satu titik aku amat terpuruk, cintaku yang tak terbalas, sahabat yang mengkhianatiku dan semuanya itu membuatku tak ingin lagi kembali ke sekolah. Hari itu aku bolos sekolah dan pulang ke rumah, tapi tak ku sangka saat aku di rumah ada Ibuku, Ibu yang lama tak pernah datang kepadaku.
“Salma, kenapa?” kenapa kamu bolos?”
“ngapain nanya, gak usah sok peduli, selama ini kemana aja?!” ujarku sinis.
“Salma maafin Mama, bukan maksud Mama buat ninggalin kamu, tapi ini demi kebaikan kamu,” ujarnya.
“Salma, Mama ke sini mau ngomong sama kamu, besok Ibu mau pindah ke austria, pemerintah minta Ibu jadi dubes di sana, apa Salma mau ikut sama Mama?” Mama ingin merawat dan kamu tinggal sama Mama,” ujarnya, “kalau salma mau, Mama yang akan urusi semua surat kepindahan kamu, kamu gak usah khawatir,” tambah Mama.

Dan hari itu aku memutuskan untuk ikut bersama Mama, aku pergi tanpa menyelesaikan masalahku, aku pergi tanpa mendengar penjelasan dari Kasih, aku juga mengganti semua nomor hp-ku, dan menonaktifkan semua akun sosialku, aku benar-benar memutuskan persahabatan dengan Kasih. Tapi aku benar-benar menyesal, aku menyesali semuanya, aku menyesal tak mendengar penjelasan darinya, namun saat aku tahu semua sudah terlambat aku malu mengakui kesalahanku, aku tahu dari Nathan, dia menjelaskan semuanya kepada, dia mengirimiku email, satu-satunya akunku yang gak aku nonaktifin.

“Dear Salma Emanuella,
Sebelumnya aku minta maaf, aku gak tahu soal perasaan kamu, aku benar-benar minta maaf, Ella sebaiknya kamu jangan menyalahkan Kasih seperti ini, dan tiba-tiba pergi tanpa memberi kabar, aku lihat dia sangat menyesalinya. Tapi sebenarnya kamu harus tahu, Kasih melakukan semua itu karena dia ingin melindungi kamu, hari dimana kita ikut kompetisi, Gia akan menyebarkan rumor soal kamu, Gia bilang kamu adalah l*sbi karena kamu gak pernah pacaran, saat Kasih tahu dia langsung keceplosan, dan mengatakan kalau kamu suka sama aku. Aku bukan membela Kasih, aku tahu juga bukan dari Kasih, ada salah seorang temanku yang tahu kejadian saat hari itu. Dan soal perasaanku, aku tak ingin merusak persahabatan kalian, kalaupun aku mengatakannya, aku pun sudah tahu jawabannya, Kasih pasti akan menolakku, persahabatan itu lebih penting dari apapun Ella, maaf kalau aku ikut campur.
Nathan Saputra,”

Dan kini sudah 8 tahun, 8 tahun aku tak pernah menemuinya, 8 tahun yang panjang, 8 tahun yang sepi bagiku, entah aku harus memulai dengan mengatakan apa jika aku bertemu dengan Kasih, kabar yang aku dengar, dia juga baru kembali menyelesaikan studynya di singapura, aku benar-benar bangga dengan sahabat seperti dia. Yang pasti aku harus meminta maaf padanya.

Sudah 3 jam aku menunggu Kasih di salah satu Universitas swasta di Jakarta, aku dengar dia masih ada kelas, kasih sekarang adalah seorang dosen matematika. Aku dengar lagi dia sudah banyak mendapatkan penghargaan, tapi hari ini aku tak memberitahunya, aku ingin memberikan kejutan padanya. Tak berselang lama, aku melihatnya, dia berbeda, dia jauh lebih cantik, dia bukan kutu buku yang selalu aku jadikan pecundang lagi, dia dosen dengan banyak penghargaan dan gelar, aku malu, aku malu untuk menyapanya, tapi aku tak mungkin menghindar lagi darinya.

“maaf, apa saya bisa berbicara sebentar dengan Ibu Kasih?” sapaku, ku sapa dia, tapi dia hanya tertegun, menatapku tanpa henti dari ujung kakiku hingga ujung kepalaku, dan aku tak tahu apa yang sedang ia cari, belum sempat aku mengulang pertanyaaanku, dia lantas memelukku erat, mengatakan kata maaf berulang-ulang padaku.
“Ella, aku minta maaf aku benar-benar menyesali semua yang aku lakukan, aku minta maaf,” ujar Kasih, aku menitihkan air mataku, aku juga menyesali semua perbuatanku, mengapa aku tak mendengarkan dia, aku menyesal.
“Kasih, jangan katakan maaf lagi, harusnya aku yang minta maaf denganmu, aku yang harusnya minta maaf kepadamu,” ujarku, “maaf baru 8 tahun aku kembali, maafkan aku, maaf,” ujarku.

“Ella jangan minta maaf lagi, kamu gak salah,” ujar Kasih.
Tak ku sangka, Kasih tak pernah berubah, dia tetap sahabat terbaikku, sahabat yang aku miliki yang terbaik dan yang selalu ada.
“oh jadi bulan depan kamu akan bertunangan?” ujarku, pada Kasih.
“iya, tapi tenang, aku tak akan mengambil Nathan dari kamu kok,”
“ah kamu, jangan bicarakan dia, oh iya, kamu harusnya tahu, jika sebenarnyaa Nathan yang suka sama kamu,” ujarku, pada Kasih.

“iya aku tahu, dia bilang saat hari perpisahan di SMA, tapi kamu juga harus tahu apa yang dia katakan kepadaku,”
“apa, apa memangnya?”
“dia memang suka denganku, tapi dia sangat kehilangan kamu, kehilangan kejutekkanmu, dan ingin melihat senyuman kamu, lagi,” ujar Kasih.
“benarkah? ah sudahlah jangan bahas itu, aku malu,” ujarku.

“Nathan? benarkah dia merasa kehilangan saat aku pergi, tapi kenapa dia tak pernah mengatakannya?” Hari ini harusnya aku menyelesaikannya juga, tapi biarlah, yang pasti aku tak mau berharap lebih lagi kepadanya.

The End

Cerpen Karangan: Eni Sri Wahyuni
Blog: irsine.blogspot.com

Cerpen Selembar Ladang Manis (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Butuh Kepastian (Part 1)

Oleh:
Malam itu, aku tidur dengan berlapis selimut yang membuntal tubuhku. Ya, aku sedang sakit, gejala tifus itu membuatku harus tetap berbaring di kamar, tanpa hp, TV, apalagi makanan enak.

Penyesalan

Oleh:
4 tahun, mungkin bukan waktu yang singkat tuk mengenal seseorang. Ridwan faisal adalah sosok seseorang yang sangat tulus, baik dan sangat menyayangiku. Apapun akan dilakukannya untuk membuatku bahagia. Tapi

Cinta Mu Bukan Untuk Ku (Part 1)

Oleh:
Kalimat itulah yang selalu ku bisikkan dalam hatiku sepanjang kebersamaan kami. Menikah denganya mungkin adalah kesalahan terbesar dalam kehidupanku. Bagaimana aku bisa tiba-tiba hidup bersamanya, andai saja tidak ada

Meet Again

Oleh:
Aku menunggu disini, di sebuah danau yang airnya sangat tenang. Menunggu matahari terbenam karena di tempat ini aku bisa melihat dengan sempurna sunset. Disini tempatku menengkan diri, tempatku saat

Negeri Berlian

Oleh:
Ini hari ulang tahunku dan aku mengajak ketiga sahabatku Azza, Radita, dan Naila kita sudah berteman lama saat ulang tahunku sudah selesai kita buka kado bareng-bareng. Walaupun aku yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Selembar Ladang Manis (Part 2)”

  1. Ahmus says:

    Nice story…
    Sy suka dgn karakter Kasih yg slalu menjaga nama Persahabatan mskipun udah terpisah lama..
    Terus berkarya ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *