Semanis Lolipop

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 November 2016

“Ooh tidak, rasanya badanku benar-benar remuk seharian ini.”
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi di segala penjuru ruangan. Bagi gadis manis satu ini, bunyi bel barusan sangat membuatnya bisa bernapas lega. Bagaimana tidak? Dua tugas di mata pelajaran yang berbeda, juga ulangan mendadak di mata pelajaran yang dibencinya sukses sudah membuat hari ini sangat buruk baginya. Ingin rasanya ia cepat merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya.
Poppy, teman sebangkunya yang mendengar desahan kecil tadi lantas tertawa ikut merasakan. “It’s awful day, right? Eh Ra, lo langsung pulang abis ini?”
Gadis tadi, yang bernama Aira Nathania Arkama -biasa disapa Aira atau Rara- masih asyik menyenderkan kepalanya di meja tempat duduknya.
“Bisa nggak langsung sampai rumah aja? Nggak perlu jalan kaki gitu,” Poppy yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng. “Lelah ini hayati.”
Sambil merapikan bukunya ke dalam tas, Poppy tertawa lagi. “Udah yuk, cabut. Eh, gue duluan ya, Ra. Udah dijemput. Oh iya, lo kan katanya mau minta belajar bareng Azka kan?”
Astaga. Aira lupa satu janji itu.

“Maaf, Liat Azka nggak?” tanya Aira pada teman-teman sekelas Azka. Faktanya memang dirinya dan Azka beda kelas. Bahkan, jarak kelas mereka terlampau jauh.
Nyaris semua yang ditanya olehnya hanya menggeleng.
“Huh, kemana sih itu cowok. Lagi dicari aja susah.” Dumel Aira.
Langkah Aira menuntunnya ke perpustakaan sekolah. Mungkin cowok bertubuh tinggi itu ada disana.
“Hm, Cesi, liat Azka lagi di perpustakaan nggak?”
Yang ditanya malah tertawa. “Azka? Perpustakaan? Ya! Yang benar saja. Cowok macem dia mana pernah sih betah ke perpustakaan? Aneh lo nanyanya.”
Entah kenapa Aira malah kesal cewek di hadapannya satu ini berkata seperti itu tentang Azka. Memang sih Azka yang notabene bukan tipikal cowok kutu buku, jarang untuk ke perpustakaan. Tapi tetap saja, Aira tidak suka ada yang berpikir seperti yang dikatakan Cesi tadi.
Ada satu tempat terakhir yang Aira yakin kalau Azka ada disana. Yap. Tempat tongkrongan Azka yang letaknya di dekat ruko-ruko depan sekolah. Tapi oh astaga! Yang benar aja cewek alim macem Aira melangkahkan kakinya ke tempat seperti kandang ular itu?
Aira paling benci tempat tongkrongan yang isinya geng sekolahnya itu.

Dengan langkah ragu, juga tangan yang terus memegang erat rok abu miliknya, Aira terus bergerak menghampiri tempat tongkrongan itu. Dilihatnya banyak cowok yang sedang duduk di luar warung tersebut. Banyak yang ia tak kenal karena mereka kebanyakan kakak seniornya.
“Permisi kak,” ucap Aira pada satu cowok yang tengah menghisap rok*knya dengan tenang. Baru saja Aira mengeluarkan suara, cowok yang lainnya langsung ikut menatapnya seolah bertanya mau-apa-lo-kesini. Ditatap seperti itu membuat Aira tambah cemas. “Di dalem ada Azka nggak ya?”
“Azka?”
“Lo ceweknya Azka? Widih bisa juga Azka cari cewek.”
“Ah masa sih? Nggak percaya gue.”
“Eh, kok pada dodol sih. Itu cewek udah ketakutan begitu juga,” sela seseorang membuat Aira tertolong. “Azka ada di dalem kok. Kalau mau langsung cari ke dalem aja.”
Aira menggigit bibir bawahnya ragu. “Hm..”
“Oh, gue tahu maksud lo,” potong cowok itu lagi. “Bentar ya, gue panggilin dulu.”

“Ai, maafin gue dong.”
“Sstt. Stop panggil aku ai. Nama aku itu Aira bukan Ai. Atau kau bisa panggil aku Rara.”
“Tapi enakkan Ai daripada Ra. Pasaran tau.”
“Tapi tetap aja aneh, Azka,” ucap Aira lagi penuh penekanan. “Nanti bisa ambigu di dengarnya.”
“Ambigu gimana coba?” seketika Azka menyerigai. “Ahh, jangan bilang lo mikir kalau itu panggilan kesayangan gitu?”
Berkata seperti itu, Aira semakin malu. “Azka!!”
Azka malah makin tertawa geli. “Ya udah, biar lo nggak ngambek, gue beliin permen deh.”
“Lolipop?” semangat Aira muncul tiap hal yang berkaitan dengan permen kesukaannya itu.
“Heran gue kenapa cewek kayak lo suka permen kayak gitu.” Ucap Azka yang melihat Aira masih semangat mengemut permen lolipop yang barusan ia belikan untuknya.
“Azka mau coba?”
Yang ditanya hanya memutar kedua bola matanya dengan malas. Hal itu membuat Aira terkekeh pelan.
“Azka,” panggil Aira lagi. “Makasih ya.”
“Buat?” balas Azka balik menatapnya.
“Udah bikin aku semangat lagi.”

“Duh, kita mau kemana sih, Ai?”
Tanpa menghiraukan pertanyaan Azka yang dari tadi tak ada bedanya, Aira masih tetap kekeuh menarik lengan kanan milik cowok itu.
“Sstt, bawel. Ikut aja.” Jawab Aira dengan singkat.

Jam masih menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Dan setengah jam lagi bel istirahat akan berbunyi. Azka yang tadi sedang asyik makan di kantin dengan kawan akrabnya sambil mengisi waktu kosong -karena tak ada guru yang masuk ke kelas- dibuat terkejut dengan kedatangan Aira dan langsung menarik tangannya seperti ini.
Karena tak biasanya Aira sering menyapanya di sekolah, apalagi seperti ini.

“Kita sampai.” Ucap Aira akhirnya.
“Mushola?” heran Azka. “Aira, kan waktu dzuhur masih lama. Duh, balik ke kantin lagi ya. Gue masih laper tau.”
“Ih, Azka tuh yang bandel,” balas Aira. “Jam istirahat kan belum tiba, tapi kau malah makan duluan di kantin. Daripada begitu, mending kita sholat dhuha. Lebih ada manfaatnya tau.”
“Hah? Tumben amat peduli.”
“Terserah,” Aira memicingkan matanya. “Jangan bilang kau nggak pernah sholat dhuha ya?”
“Ya.. ya pernah lah. Tapi ya jarang,” jawabnya jadi acuh tak acuh. “Ya udah ayo. Tunggu apa lagi?”

Dua puluh menit kemudian.
“Lo nggak balik ke kelas, Ai?”
“Hm, kau duluan aja kalau mau. Ini aku masih harus ngerjain tugas presentasi kelompok yang bakal ditampilkan nanti di jam pelajaran terakhir.”
Alis Azka berkerut. Lalu ia duduk di dekat Aira yang fokus pada layar laptopnya. “Tugas kelompok?
Aira hanya mengangguk. “Duh, masih banyak lagi yang belum lengkap materinya.”
“Hei, dengerin gue,” ucap Azka membuat Aira balik menatapnya. “Tugas kelompok itu dikerjain bareng-bareng. Bukan hanya lo yang kerja.”
“Hm iya sih, cuma.. aduh, udah nggak keburu waktunya, Az. Lagipula nggak apa-apa kok aku yang kerjain.”
“Aira,” panggil Azka lagi. “Kenapa harus lo yang capek kalau mereka hanya bisa santai nunggu hasil? Kenapa lo mau ngorbanin waktu dan tenaga lo demi mewakili nilai mereka? Nggak bisa selalu begini, Aira. Lo nggak harus begini terus.”
Aira menghela napasnya. Ucapan Azka menyadarinya telak.
“Tapi aku cuma nggak mau karena sikap mereka.. nilai aku juga ikut hancur, Az. Selama ini, aku cuma ngelakuin apa yang aku bisa. Hanya itu. Apa aku salah?”
Azka menggeleng. “Lo nggak salah. Tapi jalannya nggak harus begini. Lo cuma terlalu baik, Ai.”
Aira cemberut karena lagi-lagi cowok itu memanggilnya dengan sebutan yang ia tak suka, tapi ia mulai terkekeh pelan karena sejatinya Aira tak bisa lama untuk memasang wajah kesalnya.
“Ya udah, sini gue bantuin.”
“Emangnya kau bisa?”
“Ya! Gini-gini gue jago dalam hal ini loh,” sahut Azka tak mau kalah. “Liat ya, gue bakal buat presentasi ini sebagus mungkin.”
“Kau baik juga ya, Az.”

Nanti pulang sekolah temenin aku ke kafe ya. Lagi ada diskon loh. Lumayan ngisi waktu sebelum les piano. -Aira.
Setelah puas mengirim pesan itu kepada Azka, cewek itu kembali menatap buku kimianya dengan cemas.
‘Kayak ada yang aneh. Ngapain aku peduli dengannya coba?’
Setelah dipikir-pikir lagi, Aira segera mengenyahkan pikiran aneh itu.

“Kau nggak pesan minum?” tanya Aira setelah kembali ke tempat duduk mereka.
Azka hanya menggeleng sambil fokus pada layar handphonenya.
Sambil menyesap minumannya, Aira bergumam. “Serius banget sih.”
“Yoi lah wifi di sini kencang banget nih, Ai!” seru Azka kelihatan bahagia banget. Aira sangat tahu kebiasaan Azka yang senang banget kalau dapat wifi gratisan.
Aira mencibir, “dasar cowok nggak modal. Eh, Az, ajarin fisika dong. Kau kan jago.”
“Apaan jago?” dia tertawa. “Kenapa nggak minta ajarin Vino? Ehh.”
“Ih apaan sih. Kenapa jadi bahas dia?”
By the way, Vino itu memang cowok yang lagi dekat dengan Aira. Azka pun tahu hal itu. Sikap Aira yang selalu menutup-nutupi hal yang berkaitan dirinya dan Vino, itu membuat Azka senang sekedar untuk menggoda Aira.
“Jadi, mana yang mau lo tanyain materi fisika?”
“Oke, yang ini no 5.”
“Ini mah tinggal dimasukkin ke rumusnya. Tapi, hm harus ada yang diolah dulu sih beberapa. Eh, ini soal mah kayak tingkat olimpiade.”
“Kalau yang ini bagaimana caranya, Az?”
“Nah, abis gini, eh tunggu, salah deh. Bukan begini.”
“Duh, yang bener gimana sih, Az. Malah tambah pusing tau,” dumel Aira yang mulai penat. “Ck, kayaknya kau nggak cocok jadi guru deh, Az.”
“Nah, itu dia!” serunya sambil geleng-geleng. “Duh jadi haus, bagi dong minumnya!”
“Ish, beli sendiri dong.”
Mereka pun tenggelam dalam canda tawa itu.
“Hm, Ai,”
“Jangan panggil aku Ai, Azka.”
“Oke, Aira, gue mau tanya satu hal.”
“Awas aja kalau aneh-aneh.”
Azka tertawa pelan. “Kayaknya lo betah ya temenan sama gue?”
“Hmm, aku juga heran,” Aira ikut tertawa. “Jujur aja, aku udah lama melihatmu. Tapi baru kali ini aku benar-benar bisa merasa dekat denganmu. Yeah, dalam artian berteman denganmu, Az.”
Azka menyunggingkan ujung bibirnya.
“Bisa kasih gue satu alasan?”

Aira masih asyik dalam imajinasinya menulis sebuah cerita. Dari semua cerita yang pernah ia buat, tak ada seorang pun yang tahu kebiasaannya satu itu. Kecuali Azka.
Yeah, cowok itu malah kepo dan sedikit mendukung hobby cewek itu.
“Pasti lagi nulis ya?” suara itu muncul seiringan dengan tubuh Azka yang kini ada di hadapan Aira.
Aira segera menutup buku berharga miliknya itu. “Nggak kok.”
“Lo nggak jago bohong, Ai.”
Aira mengerucutkan bibirnya sebal. Ia sangat malu kalau ketahuan lagi menulis cerita. Apalagi tulisannya dibaca oleh orang.
“Hm, judul pertama ‘Waktu’, terus cerita yang aneh menurut gue yang judulnya ‘Dilema’, lalu yang gue inget ada ‘Before You’, ‘Play With Me’, hm.. ah iya ada juga yang judulnya ‘Miracle’,” ujar Azka seolah-olah sambil mengingat semua itu. “Kalau yang sekarang, judulnya apa, Ai?”
Aira masih terkejut dengan ucapan Azka barusan. “Kau mengingat semua judul cerita yang kubuat? Wow. Aku tak percaya loh, Az.”
“Udah coba lo terbitin?”
Aira menggeleng sambil tersenyum pahit. “Nggak perlu kali.”
“Yah, sayang dong. Kan nanti kalau terkenal, lo bisa tulis nama gue di halaman thank to sebagai orang yang selalu mendukung lo. Hehe.”
Aira lantas tertawa keras. “Pede sekali kau ya, Az! Haha.”
“Dih, dibilangin juga.”
“Makasih ya, Az.”
“Buat?”
“Udah mau peduli dan buat aku ketawa hari ini.”
Alis Azka terangkat sebelah. “Kenapa lo sering banget bilang makasih ke gue disaat gue merasa itu bukan hal yang berlebihan?”
Aira menyunggingkan senyuman manisnya. “Aku rasa kau udah tau alasan untuk pertanyaan seperti itu, Az.”
“Oh iya? Okay, let tell me about another reason.”
“Karena mungkin aku cocok aja ngobrol denganmu. Kau juga pernah bilang, sesuatu hal bisa terjadi tanpa kita duga sebelumnya, kan?” Jelas Aira. “Hei, apa kau yang malah merasa terganggu denganku, Az?”
Azka menyentil kening Aira pelan. “Loh, kenapa harus gue yang terganggu? Santai aja, Ai.”
“Oh astaga, dan harus sampai kapan aku memperingatimu untuk tidak memanggilku Ai, Azka?”
Azka menyeringai, “kalau gue bilang sampai lo bisa berhenti makan permen lolipop, gimana? Sanggup?”
“Hei!” Aira memukul lengan cowok itu dengan canda. “Kau mengejekku ya, Az?”
“Gue nggak sejahat itu kali,” Azka tertawa lalu mengeluarkan sebuah permen dari saku seragam sekolahnya. “Nih. Tadi gue nggak sengaja beli.”
“Halah,” cibir Aira sambil senyam-senyum. Ia segera mengemut lolipop itu. “Bilang aja kali kalau peduli. Eh, kok permennya ada dua?”
“Hm, sekali-kali gue mau mencobanya,” jawab Azka dengan ragu. “Nggak salah juga, kan?”
Aira tak bisa berhenti tersenyum melihat kelakuan Azka hari ini. Sedari dulu, Azka selalu menolak tiap Aira menawarkannya permen lolipop. Padahal Azka yang sering membeli lolipop itu untuk Aira. Azka juga selalu bilang kalau cewek itu seperti anak kecil yang bahagia mengemut permennya.
“Kenapa sih lo suka banget sama permen ini?”
“Hm, karena warnanya cerah. Bikin semangat liatnya,” jawabnya. “Bentuknya juga lucu. Rasanya manis banget.”
“Yeah, seperti dirimu.”
“Apa?! Hm, sejak kapan kau berani menggombal, Az?”
Karena sampai kini Aira pun masih bertanya-tanya. Kenapa harus Azka? Orang yang selama ini selalu ada buatnya disaat ia mencoba berharap yang lain.
Yeah, meskipun begitu, Aira kini menyadarinya. Semoga hari-harinya berlanjut terus bahagia dan penuh warna seperti tiap kali ia memakan permen lolipop ini.
Juga di saat bersama Azka seperti ini.

Cerpen Karangan: Anggita Azizah Amalia
Facebook: facebook.com/anggita.a.amalia
Hello^^
Aku harap kalian suka ceritaku satu ini ya^^
Yang mau lebih akrab dengan karya-karyaku yang lain, yuk temui aku di wattpad: AnggitaAzizah.
trimss

Cerpen Semanis Lolipop merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mungkinkah Dia?

Oleh:
Namaku Weinsly lengkapnya Weinsly Widyagirta Sabrina. Aku biasa dipanggil Winny karena nama panggilanku yang terlalu rumit jadinya aku dipanggil Winy. Aku saat ini sekolah di sebuah Sekolah Menengah Atas

Cinta Tak Berbalas

Oleh:
“Gimana, enak gak minumannya?” tanyaku pada Sheila. “enak dong, ini kan minuman kesukaanku” jawab Sheila, sambil meminum jus dari sedotannya. “Pulang yuk, sudah kenyang nasi goreng nih” kataku. “ya

Kado Terindah Dari Sahabat

Oleh:
“rina slamat ulang tahun ya!” Semua anak pasti bicara seperti itu. kata-kata yang sangat membosankan bagiku. mereka merasa bahagia dikala aku bahagia. tapi dikala aku sedih tak satu pun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *