Semu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 21 April 2016

Bersama hela desah angin.

“Lagi apa?”
“Mau gak jadi sahabatku?”
“Bintang yang indah,”
“Aku suka hujan.”
“Aku nggak bisa,”
“Ya. Aku pun tahu jawabannya,”

“RIO!”

Akhirnya dia menoleh. Untuk kesekian kalinya namanya diteriakkan dengan lengkingan yang sama, bunyi yang sama, dan oleh orang yang sama. Sekarang lelaki itu menyerah, putus asa menulikan indera pendengarannya. Dia menengok ke belakang di mana sumber suara itu berasal. Gadis kecil itu terkikik pelan menatapi sosoknya yang jauh bermeter-meter jaraknya. Rio mendecih. Setengah bercanda.

“Hati-hati, Yo!” teriaknya bersisian dengan kikikkannya yang belum usai. Rio hanya bisa mengacungkan jempolnya, pertanda dia akan baik-baik saja. Sigap, Rio membalikkan badan, mencengkram kuat-kuat pegangan tas hitamnya, dan berjalan menunduk menatapi bebatuan beserta debuan tanah yang tersodor di hadapan sepatunya. Ckckckck, Shilla. Tanpa sadar, lelaki mungil itu tersenyum pelan membayangkan si gadis tadi. Dan inilah senyum pertamanya.

Gadis polos itu berdiri setengah tersenyum memandangi punggung temannya yang semakin lama semakin menjauh dari pengamatan matanya. Kemudian, dia terkikik lagi memandangi tas hitam itu, yang sebentar lagi akan benar-benar hilang dari jangkauan matanya.

“Shilla, ayo, pulang!”
Shilla terlonjak kaget, menatap Mamanya, “Eh, Mama udah jemput ya?” tanyanya polos. Saking asyiknya menatapi Rio, sampai-sampai Shilla sendiri tidak sadar kalau Mamanya sudah datang. “Udah, yuk, pulang!”

Wanita paruh baya itu berjongkok merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, Shilla meringis bahagia, berlari-lari menyongsong pelukan erat Mama. Mama memeluk malaikat kecilnya dengan erat, menciumi kepalanya penuh sayang, “Ayo pulang.” ujarnya kemudian setelah adegan kecil ibu dan anak yang dramatis itu selesai. Mama berdiri, malaikatnya menggapai jemari Sang Mama. Merengkuhnya erat-erat seakan takut Mamanya akan pergi.

“Shilla, tadi siapa?” tanya Mama sembari berjalan.
“Teman, Ma.” jawabnya tanpa memandang Mamanya.
“Namanya?”
“Rio, Ma. Mario Stevanus.”

Shilla mengenal Rio semenjak dia memasuki kelas TK-nya, dan menjadi penghuni tetap bersamanya di kelas TK-nya. Rio memang pindahan. Tidak tahu dari mana, Shilla tidak begitu ingat. Setelah Rio tinggal di sini satu minggu, Shilla dan mereka akhirnya tahu, Rio pendiam. Kosakata yang dia keluarkan sangat terbatas. Hanya ‘Hm’ dan ‘Oh’ sisanya dia utarakan dengan bahasa tubuhnya.

“Rio, main yuk?” Keke anak manis berkepang dua, yang kebetulan teman TK-nya juga mengajaknya bermain, Rio merasa namanya dipanggil, tidak segera menjawab. Menunduk. Dia masih menekuni corat-coret gambar khas anak TK-nya yang hampir selesai. Seraya menunduk, Rio berusaha menajamkan fungsi gendang telinganya, mengecek apakah Keke benar memanggilnya atau tidak.

“Rio, main yuk!” ulang Keke lagi. Ternyata benar. Suara melengking itu ditujukan kepadanya. Rio mendongak, mengernyit sebentar, melihat perempuan hitam manis yang sedang menatapnya meminta jawaban. Rio balas menatapnya ragu, akhirnya menggeleng lemah. Tanpa ulasan senyum persahabatan.
“Kenapa enggak mau?” tanya Keke lagi. Masih kukuh berharap Rio mau ikut bermain petak umpet dengan teman-teman yang lainnya. Rio menggeleng dengan cara yang sama tanpa mengklarifisikasikan alasannya. Dia rasa, ini tidak membutuhkan alasan. Lagi pula hanya permainan petak umpet biasa. Rio sudah pernah memainkannya dulu, sekali barang dua kali.

“Ya udah deh.” sungutnya kecewa. Dia berbalik pergi. Rio mengangguk puas, melanjutkan gambarnya.
“Yo, main basket yuk?”

Dia menggeleng lagi ketika Nebby memanggilnya mengajak bermain. Nebby mengernyit menanyakan sebuah alasan, tetapi Rio tidak membeberkan alasan apa pun, dia hanya menggeleng. “Yo, mau ikut beli somay gak? Ada tukang somay favorit Dea loh di gerbang!” Lagi-lagi, dia menggeleng setiap kali ada yang mengajaknya bermain. Tanpa senyuman, tanpa alasan. Begitu seterusnya. Hidupnya kosong. Seperti cangkang mati tanpa tuan rumah yang kini pergi.

“Lagi apa?”
Tak menjawab.
“Lagi apa?”
Tidak bersuara.
“Kok diem? Kamu lagi apa?”
Tidak menimpali sepatah kata pun. Masih betah bungkam.

Shilla risih. Dia mendesah sedikit, “Rio, kok gak jawab sih? Kamu lagi apa? Kenapa di kelas sendirian? Kenapa enggak main aja di luar?” Akhirnya dia merespon. Hanya gedikkan bahu acuh. Ya. Setidaknya dia menyadari bahwa Shilla ada di depannya, mengajaknya berbicara.
“Kamu lagi apa, sih?” tanya Shilla kemudian, setelah dia menduduki bangku kosong di sebelah Rio tanpa persetujuan Rio sama sekali.
“Yo, seharusnya kamu mau dong main sama aku, Keke, Bimo, Nebby, Angel, Dea…., kamu kan di sini kesepian jadinya,”

Rio mengerjap. Menatap kosong buku gambarnya. Entah kenapa, lontaran gadis mungil ini membuatnya sedikit sendu. Apalagi dengan uraian kata tentang betapa kesepiannya dirinya. Memang, dia kesepian. Tetapi, tidak sedikit pun terpikir olehnya rasa sepi yang dirasakannya akan turut dirasakan oleh gadis mungil yang tidak mengerti apa arti sepi itu sendiri. “Daripada kamu di sini… kamu nggak punya siapa-siapa, dan nggak bakal bisa mengenal mereka,”

“Lagi apa?”
Diam. Bungkam.
“Lagi apa?”
Hening. Kesenyapan yang luar biasa memakan waktu yang ada.
“Lagi apa, sih?”
Nadanya dia tinggikan, seolah dia marah. Ah, ya, ya. Marah. Sedikit. Tidak juga. Dia hanya kesal. Ya, sebatas rasa kesal biasa, akibat teracuhkan.

“Yo,”

Barulah dia menoleh. Lucu sekali. Dia menoleh sigap, seolah-olah terlonjak kaget. “Tahu nggak?” Mulutnya menggerakan ucapan ‘apa’ tanpa suara. Matanya menatap jengah.
“Temenku udah punya sahabat, yang kayak di tv-tv itu loh. Mau gak kamu jadi sahabat aku?”

Rio menaikkan alisnya tidak percaya, berniat membuka mulutnya, tetapi buru-buru Shilla menyanggahnya, “Mau ya? Gak apa-apa dong, sekali-kali kamu punya sahabat,”
Rio berpikir sebentar, dipandanginya lekat-lekat gadis mungil di matanya. Dia gadis biasa saja. Dengan rambut berkepang dua yang sederhana. Tetapi… tidak ada salahnya untuk mencoba bukan? Lagi pula dia belum pernah mempunyai sahabat seperti yang dikatakannya. Mungkin dia bisa mengerti arti sebuah persahabatan, jika dia memiliki sahabat. Maka, Rio mengangguk seraya tersenyum.

Hingga akhirnya, mereka pun tidak sadar. Kelopak-kelopak bunga di sana semakin menua, seiring bertambah usia. Begitu pun mereka, mereka pun sama. Mereka tumbuh berkembang beriringan kuntum-kuntum benih rasa yang mulai mekar.

Shilla duduk di atas genting rumahnya, bersisian dengan Rio. Setiap malam minggu, mereka sering duduk di atap rumah Rio yang tingkat ini. Baik Shilla atau Rio bebas membicarakan apa saja. Tentang masa lalu yang menggelikan, materi pelajaran yang memualkan, kejadian-kejadian di sekolah yang aneh, tentang harap-harap yang belum terselesaikan, atau apa saja yang terlintas di benak mereka bebas diekspresikan. Dalam cakrawala malam, angin berhembus tenang. Bintang-bintang mulai menghiasi malam yang semula kosong.

Dan Rio bergumam, “Bintang yang indah,”
Shilla menoleh kepadanya, dilihatnya Rio yang sedang tersenyum samar melihat bintang-bintang di atas sana. Shilla mengikuti pandangan Rio, akhirnya dia tersenyum juga, “Iya, bintang yang indah,”
“Kalau aku lagi kesepian, aku sering lihat bintang. Kata Mamaku, buat hati tenang,”

Shilla mengiyakan dalam hati, ditatapinya bintang-bintang itu. Sekarang pandangannya tentang bintang berubah. Sekarang Shilla bisa tahu pasti, bintang-bintang di sana pasti ada untuk menghibur hati-hati mereka yang kesepian. Seperti hati segelintir orang yang sendirian. Semisal Rio. Semakin Shilla lamat-lamat menatap bintang, bintang itu berkerlap-kerlip manis kepadanya. Pengamatannya kepada bintang berubah kepada kekaguman. Dan karena itu, Shilla suka kepada bintang.

Hujan turun lebat kali ini. Sangat lebat. Butiran-butirannya tidak halus lagi menghujami bumi, tidak bersahabat. Angin dan gemuruh guntur memang tidak ikut mengiringi datangnya hujan kali ini, tetapi tetap saja hujan terlalu lebat. Anehnya, Shilla menyukainya. Dia menyukai setiap hujan yang turun. Rinai-rinainya yang basah seolah-seolah meluruhkan semua beban yang dipikulnya, menciptakan semangat yang baru di hatinya. Jika semuanya, di hari esok akan baik-baik saja. Dia bisa bebas tertawa, tersenyum, menari bahkan berteriak di bawah hujan, karena saat itu mereka tidak sadar benar apa yang Shilla lakukan. Menangis pun tidak masalah, tangisnya akan tersamarkan dengan datangnya hujan. Teriakannya pun akan bersahut-sahutan dengan kelakar guntur, tidak ada yang bisa memarahinya. Dia pun beranggapan hujan memiliki sesuatu ajaib dalam dirinya, dia kagum kepada hujan sama seperti kekagumannya kepada bintang. Hujan dan bintang itu karunia.

“Yo,”
“Hm?” Rio mengangkat dagunya sedikit. Menautkan alisnya lagi.
Shilla memandang hujan yang mengalir ke jendela kelasnya. Hatinya berasa ringan memandangnya, tidak tahu kenapa.
“Aku suka hujan,”

Rio tersentak terkejut. Tetapi beberapa detik setelahnya dia kembali lagi wajahnya yang datar. Shilla menyadari keanehan ekspresi Rio, kembali mengulang kalimatnya, “Aku suka hujan. Kamu suka nggak, Yo?” Shilla baru pertama kali melihat ekspresi Rio yang benar-benar berbeda. Dia hanya menatap kosong tetes-tetes hujan yang membasahi buminya. Kemudian dia menjawab pelan menggantung, berasa dia tidak ada di dunia ini berada di belahan bumi yang lain di dunia antah berantah.

“Nggak, aku benci hujan…”
“Kenapa?”
“Mamaku pergi waktu hujan.”

Kosong. Pandangan matanya tetap kosong. Rio berbeda, dia seperti kembali lagi ke masa lalu dimana dia kehilangan Mamanya. Menelusuri kelamnya masa lalu yang selalu dia tutup-tutupi di depan semuanya. Dia diam. Shilla ikut terdiam, ikut merasakan kekalutan Rio. Terbesit juga sedikit rasa bersalah menyinggung masa lalu ‘itu’ tetapi… biarlah, pasti luka itu akan terobati. Biarlah hening ini yang mengisi waktu kelam di kala hujan.

Mungkin sebuah rasa itu ada, tapi terkadang seseorang belum mengerti karenanya..
Mungkin sebuah rasa itu ada, tapi terkadang mereka malah mengacuhkannya..
Mungkin sebuah rasa itu ada, tapi terkadang dia terlambat menyadarinya…
Tinggalah, sesal-sesal yang semestinya tidak perlu ada..

Shilla memandang Rio dengan pandangan mata yang kosong. Semuanya sangat abstrak di matanya. Shilla tidak menyadarinya. Terlebih malam natal itu. Malam natal. Tidak ada kado-kado meriah, pohon cemara berhiaskan pernak-pernik imut, ataupun salju. Shilla hidup di tanah tropis Indonesia, tidak mungkin salju turun seperti di benua Eropa sana. Tetapi dia membuat semuanya dengan indah, seperti natal-natal yang seharusnya. Pula menciptakan kebimbangan jauh dari pikirannya yang lalu. Dia datang ke rumah Shilla malam natal. Seperti kebiasaan, dia mengucapkan salam, masuk ke dalam rumah, berbasa-basi dengan orangtua Shilla, dan duduk di atap genting rumah Shilla. Di sana pula dia mengakuinya.

“Shilla,”
“Ya?”
“Boleh ya aku jujur ke kamu?”

Shilla mengangguk dan tersenyum ceria seperti biasanya. Sedikit aneh juga Rio berbasa-basi dulu kepadanya. Apalagi tatapan Rio yang lurus dan begitu intens menatapnya. Tidak seperti biasanya. “Shilla, aku emang gak bisa buat kata-kata romantis. Tapi, malem ini aku cuma minta ke kamu, untuk ngerti perasaan aku. Aku yang sayang sama kamu, Shilla.. Sejauh ini kita sahabatan, dan sejauh ini juga aku ngerasain perasaan ini. Aku enggak tahu kamu punya perasaan yang sama apa enggak, tapi… kamu mau kan jadi pacarku?”

Shilla sedikit ternganga dengan ucapan Rio tadi. Dia masih sulit mencerna perkataannya, dan kejujuran yang ada di dalam matanya. Shilla tidak tahu. Sejauh ini juga, Shilla memang merasakan hal yang sama. Tentang perasaan terlarang yang semestinya tidak boleh tumbuh dalam hatinya. Perasaan yang seharusnya tidak untuk dinikmati, tetapi dimusnahkan. Sayangnya, sejauh ini Shilla tidak berusaha memusnahkan perasaannya, justru memeliharanya. Membiarkan rasanya itu mengakar kuat-kuat di hatinya. Hingga akhirnya dia dihadapkan dengan Rio yang memiliki perasaan yang sama, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ingin sekali bisa dengan Rio… tetapi tidak mungkin. Ini salah. Kesalahan besar jika dia menerima Rio. Itu akan menjadi bumerang baginya, baik Rio ataupun Shilla malah akan merasakan sakit yang teramat sangat jika sampai memiliki hubungan khusus. Itu gila. Maka, Shilla hanya mematung di tempat. Dia tidak menjawab apa-apa. Memberikan Rio tatapan yang kosong pergi berpetualang entah ke mana.

“Shilla?”
Tidak sanggup menjawab apa-apa. Shilla merasa kaku. Tubuhnya sama-sekali tidak bisa bergerak. Aliran darahnya terhenti di sini. “Shill? kalau gitu… aku tunggu sampe besok, ya.”

Dia pergi. Sempat terbesit dalam hati Shilla kebahagiaan yang masuk ke celah-celah hatinya. Dia sangat bahagia tahu Rio juga sayang padanya, tapi itu percuma saja. Besoknya, dia menagihnya. Dia menanyakan jawaban atas pengakuan itu. Shilla sama sekali belum menyiapkan jawaban apa-apa. Dia bimbang. Jika iya, dia akan masuk ke dalam jurang. Jika ia jawab tidak, dia akan tersandung.

Dengan keragu-raguan Shilla hanya bisa menjawab sekenanya, “Aku nggak bisa,”
“Ya. Aku pun tahu jawabannya,”
Shilla gigit bibir bawahnya, hatinya terasa nyeri mendengarkan jawaban Rio yang pasrah itu. Shilla kuat-kuat berpura-pura tegar, mengimbuhkan, “Aku nggak bisa, maaf. Kita punya perbedaan. Perbedaan itu gak ada titik temunya.” Shilla tersenyum paksa, menahan air matanya yang akan merembes. Jangan sekarang. Jangan terlihat rapuh. Dia bisa, dia akan baik-baik saja. Ini keputusan yang terbaik. “Udah aku duga, kamu lebih milih Tuhan daripada aku. Aku tahu.”

Ya. Begitulah. Itulah perbedaan yang tidak ada titik temunya. Awalnya, Shilla memang tidak ingin memandang Rio dan perbedaan itu. Lama-kelamaan, akhirnya dia terusik juga dengan perbedaan itu. Dia dulu tidak pernah tahu mengapa, jika dia berdoa dengan menengadahkan kedua tangan, dan Rio berbeda. Dia berdoa dengan cara yang berbeda. Sekarang perbedaan itu jelas di matanya. Sayang sekali, kepingan hatinya yang lain sudah patah menjadi remah-remah yang tidak berarti. Besok-besok-besoknya, dia menunggu sosok Rio. Menunggu dan terus menunggu. Tetapi dia tidak tahu ke mana. Dia hilang. Lenyap begitu saja. Rio, apakah sedalam itu aku menyakitimu? Bukan Rio yang sakit, dia juga sakit. Kalian harus tahu itu. Saling mencintai, dan tidak bisa bersama.

– Shilla.

Pertama kali aku mengenalnya ketika aku menjejakkan kakiku ke area masa taman kanak-kanak yang menggelikan. Aku masih teringat dengan ekspresi dinginnya yang tersirat jelas ketika memasuki kelas. Kemudian dia berkenalan di depan kelas tanpa sebuah senyuman. Dia pendiam, ku rasa. Memang benar: hari-hari berikutnya dia tidak berkawan. Dia menolak siapa pun yang mengajaknya bermain tanpa alasan yang jelas. Dan aku sadar, entah dorongan dari mana aku mendekatinya. Menawarkan kepadanya untuk bersahabat denganku, yang sejatinya aku buta tentang persahabatan.

Definisinya saja tidak tahu sama sekali, tapi berani-beraninya aku menawarkan kepadanya untuk menjadikannya sahabat? Aneh, kan? Dan aku ingat ketika dia mengenalkan kepadaku aneka benda-benda langit. Tentang bintang. Dia menyukai bintang. Aku menyukai hujan. Dia membenci hujan. Dan kepingan hatinya yang terluka ketika mengatakan alasan mengapa membenci hujan. Aku masih mengingat itu semua. Kenangan demi kenangan itu tercipta. Mengisi hari-hariku yang mengabu, menjadikannya warna-warni kehidupan yang nyata, dan manis. Serba-serbi tentang dunianya. Rupa-rupa tentang duniaku. Dan hati kami bersatu.

Dia mencintaiku. Aku pun demikian. Aku dan dia tidak mungkin menjalin sebuah hubungan. Karena perbedaan itu. Bukan salahku, dan bukan salah dia, tetapi kenapa aku dan dia yang harus merasakan sakit yang sama? Ingin aku menyalahkan takdir. Mengapa kepercayaanku dan dia harus berbeda, dan tidak bisakah aku dan dia itu bersama? Mungkin benar. Tuhan memang satu. Kita tak sama. Sampai kapan pun jejak ini akan terpijak aku dan dia tetap tidak sama. Jalanku berbeda. Dua arah yang berlawanan, sesuatu yang tidak bisa disatukan. Di sinilah aku mempertahankan cinta yang sia-sia. Dalam diam aku menunggunya kembali. Menghapus rasa sakitku. Seharusnya tidak seperti ini. Dia telah pergi, dan cintaku semestinya bisa mati.

Tidak mudah menghapus rasa
Tidak mudah menunggu asa
Tetapi aku ada,
Entah untuk menunggu apa
Dan ini sia-sia, ku rasa
I love u, Mario Stevanus.

Cerpen Karangan: Dita Ayu Maharani
Facebook: Dita Ayu Maharani

Cerpen Semu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Misteri

Oleh:
Suatu pagi yang mendung, seorang perempuan cantik yang bernama Bella melangkah kakinya untuk pergi ke luar rumah, ia berangkat sekolah di SMK Negeri 1 Tg. Selor. Bella adalah anak

Ku Tak Menyangka

Oleh:
Kenalkan nama ku Mei, Aku memiliki sahabat yang bernama Syifa dan Aryanda. Aku adalah anak orang miskin, Ibu ku adalah pembantu di rumah Sahabat ku Syifa, walaupun begitu Syifa

Kupu Kupu Senja Hari

Oleh:
Kepalaku menengadah. Menatap langit yang berwarna jingga. Kupu kupu indah dengan sayap biru cerah terbang melintas di depanku. Kuangkat jemariku. Kupu kupu itu terbang mendekat, terdiam di ujung jemariku.

Professor Stepbins

Oleh:
Hari ini aku berjalan menuju kampus dimana aku kuliah untuk yang semester 3. tak banyak yang aku lakukan pada kegiatan kuliah, berangkat kuliah, selesai di kampus duduk bersama teman-teman,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *