Semuanya Karenamu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 September 2016

“Apa maksud lo mundur dari pertandingan?”
“Gue nggak sanggup! Gue takut, Fel!”
Seketika kepalan tangan Felly mengarah ke pipi Bram.
“Fel udah, Fel!,” lerai Billy saat melihat Felly mengarahkan kepalannya untuk yang kedua kalinya.
“Asal lo tahu Bram, bertahun-tahun gue menunggu turnamen ini! Berhari-hari gue manghabiskan waktu untuk memetik gitar itu dan menciptakan Falk untuk turnamen itu! Dan, sekarang lo menghacurkan mimpi gue hanya karena down melihat seseorang di turnamen?! Seharusnya lo buktikan dong ke dia kalau lo bisa menang?! Bukan jatuh kayak begini! Apa masih kurang gue nyiksa lo buat telat makan dan mengurangi waktu eskul untuk turnamen itu?! Woy, sadar bro!!!,” bentak Felly dengan badan yang terus memberontak dari tangan kekar Billy yang menahannya untuk menyakiti Bram.
Bram hanya terdiam dan terkulai lemas. Sedangkan Billy masih berusaha untuk menenangkan Felly yang tengah larut dengan kemarahannya.

Yah, untuk yang pertama kalinya, Felly marah seperti itu. Bahkan, sampai ia menyakiti rekannya sendiri. Biasanya, ia hanya terdiam saat marah. Sebesar apapun ia marah. Dan, hal tersebut membuat Riska membeku melihat rekasi Felly setelah perkataan Bram.

Felly Anggi Wiraatmaja. Kapten band Pro Tecno yang tengah melakukan perjalanan untuk merebut kejuaraan nasional band terbaik. Setelah tiga tahun silam peritiwa itu. Pristiwa yang menghancurkan segalanya tentang Felly. Tidak. Bukan Felly saja yang merasakan kehancuran itu. Melainkan, Bram sang drummer, Billy sang pemegang bazz, dan Riska sang pianis. Mereka bertiga kewalahan untuk menciptakan lagu tanpa kehadiran Felly. 16 Desember. Itulah tanggal yang akan selalu menghancurkannya. Kapanpun itu, tanpa menoleransi kondisinya.

“Bram, kasih kita kesempatan untuk mengambil gelar singa liar lagi. Setelah, keterpurukan Felly! Gue mohon, Bram,” kata Riska yang baru bisa mulai berbicara setelah melihat tingkah Felly yang mengejutkan.
Bram hanya menggelengkan kepalanya. Dan, hal tersebut membuat Felly semakin marah dengan tingkahnya. Riska pun menghalanginya dengan menekuk lutunya di depan Bram yang tengah duduk lemas.
“Asal kalian tahu, gue kembali karena kalian dan dia. Gue berani melakukan ini walaupun sakit karena kalian. Gue berani untuk bangkit karena kalian. Yah… mata kalian yang penuh harapan akan kehadiran gue di sisi kalian. Dan lo tahu Bram, lo adalah faktor utama kembalinya gue. Gue tahu, jauh di dalam hati lo harapan terbesar kembalinya gue adalah lo! Bram, setelah kepergian Arka, gue ngerasa kehilangan semuanya. Gue ngerasa sendiri. Sama seperti lo yang sekarang, Bram. Arka membuang gue karena dia nggak mau gue hancur karena terlalu fokus dengan hubungan kita. Tapi Nina, dia membuang lo karena lo kalah dari Alex di permainan drummer individual terbaik, kan? Kenapa nggak lo buktikan dengan kemenangan kita? Gue udah merasakan kehancuran karir gue setelah kepergian Arka tiga tahun silam. Dan sekarang, lo mau menghancurkan mimpi temen-temen lo? Lo nggak sendiri Bram. Lo punya tempat untuk bersandar dan bangkit. Untuk petama kalinya gue memohon kepada seseorang dan untuk yang ke sekian kalinya, gue mengharap kehadiran lo,” oceh Felly dengan mengulurkan tangannya kepada Bram yang masih menatap Felly dengan mata yang sembab.
Air mata terus berjatuhan dari pelupuk mata Bram. Begitu juga Billy dan Riska, setelah mengingat perjuangan Felly untuk menyentuh gitarnya lagi setelah jari Felly menghancurkan gitarnya. Tangis deru mereka terus terdengar hingga ke sudut ruangan studio musik. Mata mereka tertuju ke arah Bram. Berusaha berjalan menyusuri relung hatinya. Membukanya dengan harapan, dan keyakinan walaupun itu hal yang tidak memungkinkan.
Namun, apa daya setelah Bram menatap tajam mata Felly. Yah… mata yang penuh dengan derita selama tiga tahun. Namanya yang tersebar di mana-mana, harus terhapus kembali hanya karena ulah satu orang saja. Bram pun semakin menangis dengan suaranya yang penuh sesak. Menahan beban sakit hatinya karena kepergian orang yang disayang. Beratnya telapak tangan saat meraih hangatnya kasih sayang seorang teman membuatnya berdiri tegak dan berjalan ke arah drummer miliknya. Memulai permainan melodi dengan stiknya. Mencoba mengingat cord musik yang telah mereka ciptakan bersama. Dan, di sanalah mereka menyatukan hati mereka.
“Bram, thank’s!,” seru Felly di tengah kegiatan latihan mereka setelah acara tangis menangis antara satu dengan yang lainnya.

Pengkhianatan dan juga kepergian seseorang adalah salah satu faktor yang membuat Felly harus menghilangkan gitarnya, suaranya, serta semua kemampuannya yang berhubungan dengan gitar. Saat media sosial menanyakan keberadaannya serta penggemar yang menunggu datangnya suara emas Felly, ia hanya mampu menutup mata dengan tetesan air mata.
Bagaimana tidak, ia bermain gitar untuk orang yang disayang. Ia menciptakan lagu untuk Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Cinta pertamanya. Dan, seseorang yang telah mengenalkan Felly tentang kehidupan. Serta, sahabatnya yang telah menghianatinya dengan menyebarkan rumor buruk tentang Felly. Bagaimana Felly tidak frustasi dengan hal itu, dikala mana kejadian itu tiba di saat waktu yang sama.

Hari-harinya terlewati dengan pikiran yang menumpuk, hati yang penuh sesak, mata yang sendu, senyum yang pudar, dan hawa tubuh yang layu. Jiwa raganya yang tersiksa membuat ia terjatuh setelah mengahncurkan gitarnya. Berlutut di depan hadapan dunia. Bahkan, selama tiga tahun itu, Felly tidak pernah menyentuh senar gitarnya. Padahal, sebelum kejadian itu, hampir setiap hari ia bermain gitar. Sampai-sampai ia membawa gitarnya ke atas tempat tidur dan membawa gitarnya ke dalam mimpi. Yah… mimpi berdiri di atas panggung broadway.
Namun, semuanya telah kembali seperti semula saat Felly dapat melihat mata binar itu. Yah… Pertemuan di Sekolah Menengah Atas setelah melewati masa Sekolah Menengah Pertama. Ia kembali pada dirinya dengan langkah demi langkah. Presentase kambalinya setelah ia mendengar suara itu. Suara yang selalu ia rindukan setiap waktu.
Walaupun, ia harus tersiksa dengan bisunya mulut mungil Arka. Pertemuan mereka di MOS membuat kondisi mereka berubah, down. Itu pasti! Bagaimana tidak, hubungan yang terjalin erat dengan cinta satu sama lain berubah menjadi dingin hanya dengan satu hentakan.
Bisu dan membisu, itulah hubungannya setelah masa SMP. Hatinya yang terus menyeruak ingin memanggil nama Arka, terjerat dengan egois yang mendalam. Membuat, Arka mengerti akan maksud Felly. Semakin jauh Arka menghindar kepada Felly. Hal yang membuat Felly semakin benci, benci, dan benci. Dan, disanalah rasa itu timbul. Dendam. Rasa yang bercampur antara benci, rindu, dan cinta.
Ia membalaskan dendamnya dengan menerima uluran tangan Bram untuk bergabung di dalam band Pro Tecno dan mencoba untuk bangkit. Melampiaskan kemarahannya dengan meodi-melodi gitar yang menggelegar dan membawa sebongkah kejuaraan dengan genggaman erat tangannya. Bukan membalaskan dengan kekuatan fisik.
Mengingat kehidupan. Yah.. kehidupan hanya sekali. Saat kita terjatuh, kita tidak akan sadar akan keadaan kita. Tak akan pernah bisa mengingat, bahkan berfikir jernih. Kita akan terpacu pada satu masalah. Itulah masalah yang akan selalu hadir di dalam setiap diri manusia.
Saat kita terikat dengan permasalahan, kita akan lupa akan tempat sandaran. Kita akan menggelar tangis tanpa menerima uluran tangan orang yang siap mengulurkan tangannya. Bahkan, kita bisa lupa akan kasih sayang orangtua yang siap memberikan kasih sayang itu kapanpun kita membutuhkannya.

Kehidupan adalah salah satu anugerah bagi setiap insan. Kehidupan ibarat kertas putih. Dimana, kertas tersebut akan menjadi indah saat kita bisa menghiasnya dengan torehan pena yang berisi keindahan. Namun, kehidupan tak seindah yang kita bayangkan. Kehidupan akan penuh dengan liku.
Mengingat kata menghindar. Liku bukanlah untuk kita hindari, melainkan untuk kita hadapi. Semakin cepat kita berlari dari liku kehidupan, semakin cepat liku itu mengejar kita. Dan, sebaliknya.
Dengan penuhnya liku kehidupan, disanalah warna hidup yang kita miliki akan muncul. Tak seharusnya kita mengeluh atas takdir lika-liku kehidupan. Karena, dengan lika-liku kehidupan itulah kita belajar. Yah.. belajar dari sebuah peristiwa. Seperti kebanyakan orang yang mengatakan, bahwa pelajaran terbaik adalah saat kita belajar dari sebuah peristiwa.
Saat peristiwa itu menghancurkan kita di tengah kita mempelajarinya, itulah tugas bagi kita untuk bangkit. Sebesar apapun kita berusaha untuk bangkit, apabila kita tidak mempunyai tekad dan kemauan, semuanya akan sia-sia. Bahkan, kita bisa menghabiskan waktu itu dengan hal-hal yang tidak berguna. Terutama, masa lalu.

Setiap manusia selalu menginginkan untuk melupakan masa lalu yang begitu pahit. Tapi, kenapa harus dilupakan? Bukankah kita bisa belajar dari masa lalu? Itulah nyatanya. Masa lalu biarlah masa lalu. Tidak peduli sepahit apapun masa lalu itu. Jadikan masa lalu itu sebuah maha karya, dan tulislah kisah hidup di lembaran yang kosong. Yang tengah menunggu kita menuliskan sesuatu yang baru. Hal yang tak pernah kita lakukan sebelumnya.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi.

Cerpen Semuanya Karenamu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semoga Berjodoh

Oleh:
Tria Yolanda, dia adalah wanita remaja yang sangat pintar. Dia selalu menjadi kebanggaan semua orang mulai dari orang tuanya, guru di sekolahnya pun sama bangganya karana ria selalu mendapatkan

Tentang Kita

Oleh:
Tutt tuuttt, suara kereta menandakan hendak berangkat ke tujuan. Gue dan sahabat gue duduk di gerbong ke tiga. Temen gue yang satu ini cukup the best. Kalau aja rumah

Sahabatku Berubah

Oleh:
“hai zid” panggilku kepada sahabatku yang bernama zidny “hai juga lala” jawabnya kepadaku “zidny nggak kerasa ya dikit lagi kita berpisah” aku yang tampak sedih karena tidak bisa ketemu

Dia Misteri

Oleh:
Serentak ku terarah pada pandangannya. Wajahnya yang oval dan kulitnya yang sawo matang, menjadi pendukung suasana. Mungkin tak ada alasan bagiku untuk menolaknya, seorang kapten tim basket yang menjadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *