Sendal Reno

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 6 January 2016

Aku bersama Reno dan Budi berjalan menuju mesjid seperti biasa. Ku pakai sarung hitam motif kotak-kotak kesayanganku lengkap dengan peci hitamnya. Tinggal beberapa meter lagi sampai di serambi mesjid, terdengar iqomah dari pengeras suara mesjid. Segera ku percepat jalanku ke mesjid agar tidak tertinggal. Ku tolehkan kepalaku ke kiri dan ku usap wajahku dengan kedua tanganku dan berdzikir dan berdoa. Usai berdoa aku dan kedua temanku ke luar. Ku lihat orang-orang sedang mengantre memakai sendal mereka. Ku tunggu sampai tak terlalu berdesak-desakkan di sana. Beberapa detik kemudian terdengar omelan Reno.

“Sial, ke mana perginya sendalku?” umpatnya marah.

Ku datangi Reno dan menenangkannya.
“Tenanglah… coba cari lagi, mungkin tertendang” kataku sambil menepuk bahu Reno.
“Iya… kau ini membuat malu kami saja” canda Budi.
“Benaran nggak ada Dra” terang Reno.
“Ya udah, kalau begitu kita tunggu sampai benar-benar tidak ada orang, pasti ketemu” kataku berusaha menenangkan Reno yang sedikit emosian.
Sepuluh menit kami menunggu. Kami kembali mencari sendal Reno yang kebetulan baru. Setelah berputar-putar dari sabang sampai merauke tak juga menemukan sendal Reno. Reno mulai mengomel.

“Kalau begini bagaimana aku pulang, Emak juga pasti akan memarahiku kan?” katanya meluap-luap.
“Ya udah bilang aja sendalmu hilang, beres kan?” balas Budi.
“Terus bagaimana aku pulang, haruskah aku berjalan tanpa alas kaki? Ini 2015, Di” Timpal Reno.
“Ya udah deh No, kamu pakai aja sendalku” kataku memberi solusi.
“Eh… kamu gimana?” kata Reno.
“Udah aku nggak usah pakai sendal juga nggak masalah. Malah sehat ini kan masih pagi.” belaku agar Reno tak merasa tak enak denganku.
“Wah bener juga Dra… kalau gitu kita nyeker aja bareng bareng” sahut Budi mencairkan suasana panas sekaligus memberikan ide yang lumayan anehnya seperti dia.

Kami bertiga akhirnya pulang ke tanpa menggunakan alas kaki. Tak sedikit juga orang-orang yang bertanya Mengapa? Kami hanya menjawabnya dengan senyuman bahkan cekikikan. Namun tak begitu dengan Reno. Dia masih diam seribu bahasa. Mungkin karena tak lama lagi dia akan dimarahi Emaknya.

Siang ini benar-benar panas. Ku tutupi kepalaku dengan sebuah buku yang sengaja tak ku masukkan ke dalam tas. Kali ini aku pulang sendiri. Reno dan Budi sudah pulang. Itu juga karena aku menyuruhnya pulang. Tak mungkin juga mereka menungguku menyelesaikan piket harianku. Kini aku sudah sampai di halaman rumah. Ku lihat Ibu sedang mengangkati jemuran. Ku bantu sebentar Ibu. Tiba-tiba terdengar seseorang memanggilku dari belakang. Suara yang tak asing, Budi.

“Candra…” panggil Budi. Tampak wajah khawatir dari raut muka Budi.
“Kenapa Di?” tanyaku dari balik tumpukan jemuran yang ku bawa.
“Ini gawat… Reno berkelahi dengan Azrul.” kata Budi terengah-engah.
Aku terkejut. Memang ada apa Reno dengan Azrul? “Kenapa?” tanyaku menyimak.
“Tadi Reno melihat Azrul memakai sendalnya yang hilang tadi pagi. Namun Azrul tidak mengakuinya. Kau tahu sendiri Reno kan emosian” terang Budi padaku.

Segera ku letakkan ke dalam jemuran yang ku bawa dan berpamitan pergi dengan Ibu dan langsung berlari ke tempat Reno berada. Lapangan. Ku lihat Reno dan Azrul sudah mulai adu pukulan. Kebetulan tak ada orang yang lewat di lapangan. Sehingga tak ada yang melerai mereka kecuali aku dan Budi. Ku berlari menghampiri mereka berdua. Ku pegang Reno yang terus melawan. Dan Budi memegang Azrul yang juga tak mau kalah. Wajah mereka sudah sedikit ada bekas memar karena tonjokan mereka berdua.

“Kalian ini kenapa? Tak malukah kalian nersikap seperti anak kecil?!” teriakku pada mereka berdua.
“Kau tanya sendiri saja sama pencuri sendal itu!” sindir Reno ketus membuat Azrul tidak terima dan berusaha memukul Reno. Untungnya berhas dicegah Budi.
“Heh… kalau bicara jangan sembarangan!” teriak Azrul.
“Tapi itu bukti nyatanya bukan?” Reno tak mau kalah.

“Ku mohon kalian tenang. Aku tak bisa menangkap apa yang kalian katakan bila terus ribut seperti ini.” leraiku membuat keduannya diam. “Sekarang katakan pelan-pelan”
“Jadi begini Dra, aku sedang berjalan pulang dari warung. Tiba-tiba Reno datang marah-marah dan menuduhku mencuri sendal miliknya. Tapi sumpah… ini sendalku yang baru ku beli. Aku tak tahu tentang sendal Reno. Jika tak percaya kau lihat ukurannya.” Terang Azrul sambil menyerahkan sebelah sendalnya. Ku lihat nomor sendal Azrul 38. Dan setahuku nomor 38 tak akan muat untuk kaki Reno yang besar.

“Ku rasa kau benar Rul” kataku.
“Dra… kau kenapa malah membelanya sih?” teriak Reno tak terima.
“Kau coba saja No kalau muat ini memang milikmu tapi kalau tidak kau harus minta maaf pada Azrul.”
“Dra mana bisa begitu.” Tolak Azrul.
“Tenang saja” Reno mencoba sendal berwarna cokelat yang tadi dipakai Azrul. Dan hasilnya. Kaki Reno terlalu besar untuk sendal itu.
“Terbukti kan?”

Reno tampak malu dan menyesal dengan perbuatannya. Reno pun akhirnya meminta maaf pada Azrul. Dan Azrul pun memaafkan sikap Reno tadi. “Tuh No, jangan asal tonjok aja” seprot Budi pada Reno dengan nada bercanda.
“Iya maaf” Aku hanya tersenyum melihat kelakuan kedua teman sekaligus sahabatku. Tak terasa hari ternyata sudah sore. Terdengar suara Azan Asar menggumandang.
“Sudah Asar, ayo kita salat jamaah di mesjid” ajakku pada kedua temanku dan Azrul.
“Ayo”

Setelah pulang mengganti bajuku aku segera menuju mesjid bersama ketiga temanku. Ku lihat Reno dan Azrul sudah mulai mendingin dan mulai akrab. Aku tersenyum bahagia melihat teman-temanku rukun. Tepat sampai di mesjid terdengar iqamah. Segera kami merapatkan saf dan salat. Usai salat, kami berzikir dan berdoa. Kami ke luar mesjid dan menunggu orang-orang selesai memakai sendal mereka. Tiba-tiba seorang kakek berdiri di depanku dan teman-temanku.

“Ku dengar Nak Reno kehilangan sendalnya?” kata kakek itu padaku dan teman-temanku.
“Iya Kek, kenapa?” jawab Reno.
“Maaf tadi subuh Kakek lupa kalau Kakek tidak memakai sendal. Begitu sampai rumah Kakek bingung, sendal siapa yang Kakek pakai? Maklum Kakek sudah mulai pikun. Pasti Nak Reno bingung mencarinya kan?” terang kakek membuat kami bengongog sekaligus menahan tawa geli.

“Iya Kek tak apa” jawab Reno dan kakek itu pun turun dari serambi dan pergi.
“Tuh No, makannya jangan asal menuduh tak jelas” kata Budi menggurui.
“Terserah kaulah, Di” balas Reno.
“Ye… aku bilangin juga.” kata Budi kesal.
“Sudahlah ayo pulang” ajakku pulang.

Reno tampak bahagia bisa menemukan sendalnya kembali. Tapi saat kami memakai sendal.
“No, kamu jangan bercanda. Kau pasti menyembunyikan sendalku kan?” tuduh Budi sambil tertawa tak percaya.
“Apa maksudmu? Menurutmu kapan aku menyembunyikannya? Sedari tadi kan aku bersamamu” bela Reno.
“Serius?” tanya Budi menghentikan tawanya.
“Jangan-jangan,” kata Reno membuat kami penasaran.
“Kakek tadi!” jawab mereka berdua barengan. Sontak kami melihat kakek yang baru saja meninggalkan kami. Dan terlihat di kakinya sendal Budi.

“Itu…”
“Sendalku…” Segera Budi dan Reno berteriak dan mengejar sang Kakek.
“Kakek…” Aku dan Azrul tertawa geli melihat kelakuan mereka berdua.

TAMAT

Cerpen Karangan: ZiChan
Facebook: Zhizy

Cerpen Sendal Reno merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


20 Menit = Cinta

Oleh:
Pagi itu, hujan turun dengan sangat deras. Tak ada kendaraan yang lewat. Di bawah payung berwarna silver Syila masih terus menunggu angkot ke sekolah. “Duh kalo kaya gini ceritanya

Aku Adalah Aku

Oleh:
Kejadian akhir-akhir ini membuat aku semakin down karena banyak orang yang merendahkan bahkan menyingkirkan aku. Saat aku mau bergabung mereka menolak. Hinaan, cacian, sikap yang tidak pantas, disingkirkan, direndahkan

Kehilanganmu

Oleh:
Air mataku menetes ketika ku dengar kabar itu, aku nggak pernah menyangka dia akan pergi secepat itu meninggalkanku, pergi untuk selamanya. Pergi dengan tanpa kata, hanya dengan senyum simpul

Hujan (Part 1)

Oleh:
Rintik-Rintik hujan yang membasahi tanah kering, bunyi gemericik yang membuat aku tenang dan aroma khas itu mengigatkanku kepada seseorang, seseorang yang membuat aku suka dan senang ketika hujan turun.

Love 1 Month (Part 2)

Oleh:
Pernah suatu ketika saat aku makan bareng bersama Lia dan Nikma di kantin sekolah. Nikma menanyakan satu hal yang sering dia tanyakan padaku, dan bahkan dia juga menanyakannya pada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *