Senja dan Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 October 2018

‘Jangan sia-siakan hidupmu untuk mengejar seseorang yang hanya membuatmu patah hati, lupakan dan lihatlah ke depan, kamu hidup bukan untuk mengejar orang itu saja.’

Kelvin berjalan dengan langkah besar menuju kelasnya, ia ingin menghindari sesuatu yang baginya adalah bencana yang luar biasa jika sesuatu itu mengganggunya, membuat otaknya memanas dan hampir meledak karena sesuatu itu. Selangkah lagi ia memasuki kelasnya itu, terdengar suara melengking dari ujung sana, Kelvin memejamkan matanya takut, astaga, mati saja ia.

“Kelvin! Tungguin gue dong!” Bukannya menunggu orang yang memanggilnya, ia malah masuk ke kelasnya dan langsung menutup pintu kelas itu, semua orang yang ada di dalam menatapnya dan kembali melanjutkan aktivitas mereka seperti biasanya, mereka sudah hafal suasana ini, setiap hari dan berulang-ulang.

“Hen, bilangin si sinting itu kalo gue belum dateng ya, gue mau sembunyi dulu.” Setelah berkata seperti itu kepada ketua kelasnya, lalu ia berlari ke arah meja guru dan bersembunyi di bawahnya, semua teman sekelasnya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Kelvin dan Cyntia —si sinting yang disebutkan oleh Kelvin tadi,- bagai anak kecil yang sedang bermain petak umpet, Kelvin yang ngumpet dan Cyntia yang mencari, begitulah suasana kelas mereka setiap pagi.

Brak! Pintu yang diganjal oleh beberapa anak laki-laki itu didobrak oleh gadis sinting yang sedang mencari lelaki lawan main petak umpetnya, anak laki-laki yang menahan pintu itu tersungkur ke depan dan mengaduh kesakitan, dasar Cyntia, badan mungil tetapi kekuatan macam Hulk.

Mata Cyntia mulai mencari-cari keberadaan Kelvin, ia sebenarnya sudah tahu di mana Kelvin, tetapi ia ingin bermain-main sebentar, berjalan kesana kemari di area kelas yang cukup luas, mencari di kolong meja semua temannya, dan akhirnya ia bertanya kepada ketua kelas yang sok bijaksana.

“Mana Kelvin?” Ia bertanya dengan nada tenang, ujung matanya terus melirik ke arah kolong meja guru, ada sesuatu berwarna abu-abu dan hitam yang ia yakini pasti Kelvin.

“Belum dateng,” seperti yang telah ia duga, Hendra pasti mejawab pertanyaannya dengan jawaban tersebut, maka dari itu ia melengs meninggalkan Hendra dan mulai berjalan ke arah meja guru.

Sementara Cyntia berjalan menuju meja guru, yang bersembunyi malah mengigil setengah mati, ia tidak mau emosinya meledak karena gadis sinting yang notabenenya adalah sahabat sekaligus musuh yang sangat mengganggunya.

“Ciluk Baaa!” Wajah menyebalkan Cyntia muncul membuat Kelvin terkejut.

Kelvin dengan cepat menetralkan rasa terkejutnya, ia berdecak kesal, lalu keluar dari tempat persembunyiannya itu, seluruh teman-temannya terkekeh melihat pertunjukkan dua anak remaja yang seperti anak kecil yang kurang bahagia saat kecilnya.

“Lo kenapa gak nungguin gue sih?” Cyntia bertanya dengan nada sok merajuk.
“Lo nyebelin, pengen gue tampol.” Kelvin mengibas-ibaskan debu yang menempel pada seragamnya sembari berjalan menuju bangkunya yang terletak di urutan nomor tiga dinding sebelah kanan dekat pintu.
“Tapi ayah kan udah nyuruh lo buat barengan sama gue.”

Kelvin memutar bola matanya malas, ia kadang kesal dengan Cyntia ini, bukan kadang lagi melainkan selalu kesal dengan gadis sinting yang ada di sampingnya ini, selalu mengganggu dirinya dengan suara melengking nan membahana yang dapat membuat telinga orang lain langsung bengkak karena suara Cyntia, belum lagi celotehan atau kegiatannya yang selalu mengganggu Kelvin membuat Kelvin naik darah dan ingin melemparkan gadis sinting ini ke kutub utara agar mati dan tak mengganggunya lagi, kejam memang, tetapi begitulah hal yang terpikirkan oleh Kelvin di benaknya.

“Gue tadi udah nunggu lo ya di depan rumah, kata bunda, lo masih dandan, udah tau muka jelek, mau didandan gimana pun, muka lo masih tetep kek nenek lampir, yaudah gue tinggalin.” Ujarnya cuek, membuat Cyntia berdecak pelan.
“Masih mending gue kek nenek lampir, daripada lo, muka kek pantat panci gosong aja bangga. Udah, lo jauh-jauh dari gue.” Cyntia mengambil spidol di dalam kotak pensil bergambar panda miliknya, lalu memberi batas di tengah-tengah meja Cyntia dan Kelvin.
“Lo ngapain sih? Jelas-jelas lo yang ganggu, kenapa lo yang ngambekan coba?” Kelvin menyingkirkan tangan Cyntia yang sibuk membuat batas pada meja mereka.
“Lo ngatain gue sih!”
Kelvin menggeleng, mimpi apa ia punya sahabat seperti Cyntia ini? Si sinting yang awalnya mengganggu eh ia juga yang merajuk, maunya apa perempuan ini?
Kelvin tidak menanggapi lagi gadis sinting di sebelahnya ini, kepalanya ia hadapkan ke jendela, menunggu bel masuk berbunyi.

Cyntia menunggu dengan bosan di kamar Kelvin, sore ini Kelvin ingin bercerita dengannya, tidak tahu apa yang akan diceritakan Kelvin, sebagai seorang sahabat yang baik ia harus mendengarkan cerita Kelvin, siapa tahu kalau Kelvin ingin cerita mengenai perasaannya terhadap Cyntia.

Pintu kamar Kelvin terbuka dan tampaklah wanita yang usianya hampir setengah abad tersenyum dan menghampiri Cyntia sambil membawa nampan yang berisi susu strawberi dan coklat kesukaan mereka berdua dan beberapa makanan ringan.
“Kelvin belum selesai mandinya, Cyn?” Wanita itu bertanya dengan nada lembut khas keibuan pada Cyntia.
Cyntia menggeleng samar, “belum ma, lama banget si tuyul itu.”

Wanita yang dipanggil mama oleh Cyntia itu tersenyum lebar, anak tetangganya ini yang menjadi sahabat anaknya dari kecil ini memang bisa membuat suasana hatinya bahagia, dengan tingkah dan ucapannya yang asal ceplos saja itu.
“Namanya juga Kelvin, mandi sebentar itu keajaiban,” mama Kelvin meng-iyakan ucapan Cyntia.
“Ma, Cyntia laper. Tadi padahal udah makan dua mangkok mie bakso buatan bunda, tapi laper lagi, mama masak apa?”
“Dasar ya perut karet, mama cuma buat sop dan perkedel, yuk ah kalo mau makan, tinggalin aja tuyul itu.”
Cyntia mengangguk, ia lalu beranjak dari duduknya diikuti oleh mama Kelvin. Belum sempat mereka berdua keluar dari kamar Kelvin, terdengar suara decitan pintu kamar mandi dan suara bass laki-laki bertanya, “mau ke mana kalian?”
“Eh, si tuyul udah selesai mandinya, mau makan bentar ya.”
“Eh, ntar dong makannya, dengerin gue cerita dulu,”

Cyntia berdecak, sedangkan mama Kelvin sudah keluar dari kamar Kelvin, ia tidak ingin mendengarkan perdebatan yang tiada habisnya dari dua anak remaja yang seperti anak kecil itu, lebih baik ia keluar daripada mendengarkan perdebatan tersebut. Di dalam perdebatan dua remaja ini, tidak ada yang mau mengalah sama sekali, kalau sedang bijak saja Kelvin atau Cyntia yang akan mengalah, tetapi kalau otak mereka sedang batu-batunya, jangan harap perdebatan tersebut selesai.

Sepertinya, kali ini Cyntia lah yang mengalah, ia dengan terpaksa menahan rasa laparnya untuk mendengarkan cerita Kelvin si tuyul. Kali ini, Kelvin merasa menang, ia sudah lelah mengalah dengan Cyntia.

“Cepetan elah.” Cyntia berucap kesal sambil melipat tangannya di dadanya dan duduk di kasur empuk milik Kelvin.
Kelvin ikut duduk di kasurnya, ia tersenyum, dan memulai ceritanya.
“Gue lagi suka sama adek kelas, Cyn.” Kelvin memulai ceritanya.

Deg! Entah kenapa terbesit rasa sakit di lubuk hati Cyntia, ia merasa sakit saat tahu Kelvin menyukai orang lain, perasaannya tak terbalaskan. Ia sangat tak menyangka jika Kelvin menyukai orang lain, ia kira perasaannya terbalaskan, rupanya tidak. Percuma saja ia mengejar dan selalu mengganggu Kelvin, ternyata perjuangannya sia-sia. Kelvin menyukai orang lain, itulah faktanya.

Bahu Cyntia diguncang-guncangkan oleh Kelvin, bukannya mendengar cerita dari Kelvin, Cyntia malah melamun dengan pandangan lurus ke depan, sia-sia saja mulutnya berkoar-koar cerita tetapi tidak didengarkan.

“Hah? Kenapa Vin?” Cyntia tersadar dari lamunannya, membuat Kelvin berdecak kesal.
“Lo dari tadi gak dengerin gue cerita, rese ah lo. Gak mau cerita ah gue,” Kelvin merajuk.
“Lebay lo ah, gue dengerin nih, jadi lo jangan ngambekan. Cepetan cerita atau gue tinggal buat makan karena dari tadi gue udah nahan laper dan gue rela nahan rasa laper buat dengerin cerita lo.” Cyntia berujar ketus.
“Awas lo ya gak dengerin gue. Gue lagi suka sama adek kelas, dia orangnya cantik, polos-polos gimana gitu. Gue jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia, Cyn.”
Cyntia memutar bola matanya malas dan mensedah pelan. “Bisa ya lo suka sama orang, gue kira lo gak bisa suka sama orang.” Cyntia mengejek.
“Bisalah, gak kayak lo. Gue lanjut lagi ya. Nah, gue pengen ngungkapin rasa suka gue ke dia Cyn. Sebagai cewek, lo pasti tau kan apa aja yang biasanya disukai cewek. Gue pengen minta bantuan lo buat nyiapin hadiah untuk dia, gue pengen ngungkapinnya secepat-cepatnya.” Kelvin berkata dengan semangat yang menggebu-gebu. Ia sangat bahagia bisa menceritakan hal ini pada sahabatnya, sedangkan Cyntia hanya tersenyum masam menahan rasa sakit hatinya.
“O..oke, tapi lo temenin gue ya. Gue balik dulu.” Cyntia beranjak dari kasurnya Kelvin, sementara Kelvin melongo melihat Cyntia, buru-buru ia menahan tangan Cyntia sebelum ia keluar dari tangannya.

Kelvin membalikkan badan Cyntia yang tengah menunduk, ia heran dengan sikap Cyntia, bukankah Cyntia biasa-biasa saja tadi, kenapa sekarang menjadi muram begini. Ia sangat tahu ada sesuatu yang membuat suasana hati Cyntia berubah tiba-tiba begini, mungkin karena ceritanya kurang menarik.

Dilihatnya gadis di hadapannya yang sedang menunduk, ia meraih dagu Cyntia namun gadis itu menolak, membuat Kelvin semakin terheran-heran. “Lo kenapa sih?” pertanyaan itu meluncur dari bibir Kelvin, ini bukan Cyntia yang ia sebut gadis sinting seperti biasanya, ini bukan Cyntia yang selalu ceria, ini gadis lain bukan Cyntia.

Cyntia hanya menggeleng, melepaskan tangan Kelvin dengan pelan, kemudian berbalik pergi setengah berlari agar Kelvin tak dapat menarik lengannya seperti tadi, ia tidak ingin melihat Kelvin, ia tidak ingin Kelvin melihatnya menangis, ia hanya perlu menenangkan dirinya di kamar dengan setumpuk novel usangnya, hadiah ulang tahun yang diberikan Kelvin untuknya setiap tahun.

Saat turun dari kamar Kelvin, ia melihat mama kelvin yang tengah menunggunya di ruang makan, “mau ke mana Cyn? Gak jadi makan sama mama?” pertanyaan yang dilontarkan mama Kelvin hanya dibalasnya dengan senyuman sayu, lalu berlalu pergi keluar menuju rumahnya.

Pintu kamar Kelvin diketuk lembut oleh seseorang, entah kenapa hatinya sedang kacau sekarang, ia sangat tidak menyukai kalau Cyntia begitu, ia suka Cyntia yang selalu ceria, bukan yang bermuram masam seperti tadi dan tanpa alasan jelas ia meninggalkan Kelvin di kamarnya.

Ia membuka pintu kamarnya dan tampaklah mamanya dengan raut wajah khawatir, sepertinya mamanya ini mengetahui apa yang terjadi pada Cyntia atau hanya melihat penampilan Cyntia dan kemari hanya untuk menanyakan ada apa yang terjadi antara mereka.

Mamanya buru-buru masuk ke kamarnya dan duduk di tepi kasur miliknya, wajah mamanya masih menunjukkan raut khawatir, Kelvin mendekati mamanya dan ikut duduk di tepi kasur samping mamanya.

“Ada masalah apa Kamu sama Cyntia?” Benar tebakan Kelvin, mamanya pasti akan menanyakan hal itu, tetapi Kelvin tidak dapat menjawabnya, ia saja tidak mengetahui kenapa Cyntia tiba-tiba bersikap seperti tadi, diluar dugaannya sekali.

“Kelvin gak tau ma, tiba-tiba dia mau pulang, terus Kelvin tahan, Kelvin tanya kenapa dia Cuma nunduk terus geleng, pergi keluar.” Ungkap Kelvin sekenanya dan sebenarnya.

“Mama lihat Cyntia tadi menangis, mama kira kalian berantem, Kamu tadi bahas apa sama Cyntia, mungkin ada kata-kata yang nyakitin hati Cyntia,” Mamanya bertanya dengan lembut.

Kelvin merasa ia tidak melakukan kesalahan apapun, ia hanya bercerita dengan Cyntia perihal akan mengungkakan perasaan kepada adik kelasnya itu secepatnya, Cyntia juga sudah sepakat untuk membantunya, kenapa Cyntia dapat berubah menjadi muram seperti itu, ia sendiri heran.

“Kamu harus cari tau, perbaiki hubungan kalian seperti biasanya, jangan perang dingin seperti ini. Mama keluar dulu, ya. Kamu pasti tahu jawabannya nanti.” Setelah berkata seperti itu, mama Kelvin keluar meninggalkan lelaki itu yang termenung sendirian.

Esok paginya, tidak ada suara lengkingan milik cyntia yang merasuki gendang telinganya, tak ada lagi gangguan-gangguan dari Cyntia, mereka sebangku namun seperti saling tak kenal, tak ada yang berani untuk memulai pembicaraan, semua makhluk yang ada di dalam kelas merasa heran karena tidak biasanya mereka berdua perang dingin seperti ini, biasanya ada saja keriuhan yang disebabkan oleh mereka berdua.

Sepanjang pelajaran, Kelvin merasa ada yang kurang dalam hari-harinya, sesuatu yang memang harus menjadi santapan paginya, namun sekarang telah hilang. Kemana gangguan-gangguan yang ditujukan untuknya dari Cyntia, mana celotehan-celotehan yang bisa membuat telinganya panas dan otaknya yang hampir meledak, ia kehilangan hal itu, ia sangat merasa kehilangan.

Ia ingin memulai bicara dengan sahabatnya ini, tetapi lidahnya terasa kelu untuk mengatakan satu kata pun, bibirnya seperti ada perekat yang membuatnya terus merapat saat ingin berbicara dengan Cyntia. Hatinya terasa sesak saat Cyntia melengos dan memalingkan wajahnya kalau mereka berpapasan, cukup sudah, Kelvin sudah tidak tahan lagi melihat tingkah Cyntia yang menjauhinya.

Cyntia duduk di halte bus, karena kesibukan OSIS nya, ia jadi pulang terlalu sore, ia cemas apakah ada bus atau taksi yang lewat. Sudah hampir se-jam ia menunggu bus atau taksi, bunda dan ayahnya sudah berkali-kali menghubunginya dan hanya dijawabnya, “urusan OSIS Cyntia belum selesai.” Tentu saja ia berbohong, ia tidak ingin orangtuanya cemas, ia bisa jaga diri.

Tak lama dari itu, rintik hujan mulai menyelimuti jalan aspal. Hawa dingin mulai merasuki tubuh Cyntia, diraba-rabanya tas mencari sesuatu, tetapi nihil. Sial sekali, payung dan jaket tak ia bawa, habis sudah nasib dirinya membeku di halte bus ini.

Terbesit keinginan dalam hatinya untuk menghubungi Kelvin, namun egonya terlalu tinggi untuk meminta tolong pada Kelvin, ia sudah berniat untuk menjauhi lelaki itu, takut-takut perasaannya semakin besar dan semakin ia sakit hati.

Bibir Cyntia mulai pucat, tangan serta buku jarinya mulai terlihat putih, hujan masih terus membasahi jalan, lampi-lampu mulai menyala menerangi sepanjang jalan, tidak ada tanda-tanda apapun taksi lewat.

Cyntia menunduk, lalu mendongak saat ada sinar yang menyinari tepat di wajahnya, ia menyipit, itu motor Kelvin, jelas sekali. Dalam benaknya, untuk apa Kelvin menjemputnya, toh lelaki itu menyukai orang lain, kenapa Kelvin harus repot-repot memperdulikan dirinya?

“Cyntia! Pulang sekarang!” Kelvin turun dari motor dengan keadaan basah kuyup, wajahnya menyiratkan kekhawatiran, tangannya langsung menggenggam lengan Cyntia dan menariknya menuju motor.
“Gue gak mau pulang sama lo! Gue bisa naik taksi, lo duluan aja.” Cyntia menghempaskan tangannya kasar, berujar dengan nada sedikit berteriak karena suara hujan yang menghalangi.
“Bunda nelepon gue, dia cemas banget sama lo, Cyn.”
Cyntia masih tetap dalam pendiriannya, ia menggeleng keras. “Bilangin bunda, kalo gue masih ada urusan di sekolah, lo pulang duluan, gue gak mau pulang sama lo.”
“Gue salah apa sama lo, Cyn? Sampe-sampe lo gak mau pulang sama gue? Gue udah muak Cyn dengan sikap lo yang seperti ini, gue pengen lo yang dulu, Cyn. Yang selalu ganggu gue, yang selalu buat gue marah, gue pengen semua itu terjadi lagi seperti biasa, Cyn.”
“Gak! Kita gak bisa seperti dulu, gue harus jaga jarak sama lo, gue harus pergi jauh dari lo, gue gak mau deket sama lo lagi, selamanya.”
Kelvin tersentak, ia sangat terkejut dengan perkataan Cyntia barusan, ditatapnya gadis itu, wajahnya pucat dan air mata mulai mengaliri pipinya, direngkuhnya tubuh mungil Cyntia membiarkan gadis itu menangis di dada bidang miliknya.

“Kasih tau gue alasannya, Cyn. Gue tersiksa dengan sikap lo yang seperti ini.” Ujarnya dengan nada berbisik.
“Lo suka sama orang lain, Vin. Gue gak sanggup kalo deket dengan lo, hati gue selalu sakit kalau tau lo suka sama orang lain, gue gak kuat.”

Dieratkannya pelukan Cyntia, “gue baru sadar, Cyn. Bukan dia yang gue suka, melainkan gadis yang berada di dalam pelukan gue ini, hidup gue berasa hampa tanpa kehadiran dia, hati gue berdesir sakit setiap dia mengacuhkan gue, dan jantung gue selalu berdegup kencang bila dia di dekat gue.”

Cyntia merenggangkan pelukannya, menatap manik mata Kelvin, mencari kebohongan di sana, namun sepertinya kejujuran dan kesungguhan lah yang ada di manik tersebut.

“I love you my best friend. Jadi pacar sama sahabat gue ya.” Kelvin berbisik lembut, semakin mengeratkan pelukannya.

Di senja ini, hanya hujan dan pepohonan yang menyaksikan mereka, kini Cyntia tahu, usahanya tak sia-sia, perasaannya terbalaskan. Senja dan hujan, terima kasih telah menjadi saksi atas kejadian hari ini.

Cerpen Karangan: Nyimas Fakhriah
Blog / Facebook: Nyimas Fakhriah
Nyimas Fakhriah, 23 Desember 2002, Palembang, Sumatera Selatan.

Cerpen Senja dan Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Elegi Sang Dewi

Oleh:
“Kehidupan itu begitu berharga akan lebih berharga bila kita menggunakannya dengan sebaik-baiknya, tiap detik kita dituntut untuk mengambil keputusan yang terbaik. Pandanglah suatu hal dari banyak sisi.” Kata-kata itu

The Secret Of My Love

Oleh:
Cinta yang dipendam sendirian memang menyakitkan. Orang yang kita cintai, orang yang kita dambakan, orang yang kita perhatikan, orang yang kita pikirkan setiap saat pun belum tentu berbalik memikirkan

Kelulusan dan Perpisahan

Oleh:
Saat-saat yang menegangkan adalah saat dimana Ujian Nasional akan dilaksanakan! Itu menurut teman-temanku. Tapi menurutku, Ujian Nasional sama saja seperti ulangan-ulangan biasa. Yang berbeda cuma soal Ujian Nasional di

Ya Sudahlah

Oleh:
Aku begitu putus asa saat ini. Ingin rasanya bunuh diri. Aku hidup atau mati pun gak berpengaruh banyak bagi orang lain. Alasanku ingin mati yang pertama aku sangat obsesi

Pacar Bukan Untuk Slamanya

Oleh:
Aku sekolah di SMP 9 Pekanbaru. Kami awali hari dengan canda tawa, dan sukacita. Dimarahin guru sudah menjadi sarapan kami setiap hari. Kami gak egois sesama teman, walaupun kami

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *