Senja di Ufuq Barat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 28 October 2012

Teriakan anak2 berhaburan, memecahkan keheningan malam yang sunyi. Bertebaran dari sebuah surau di dekat parit, dengan seorang pengajar yang sudah cukup umur…, di sinilah mereka mendapatkan ilmu agama. Jhajang dan Wawan adalah dua sahabat yang sangat akrab. Dua orang sahabat ini, berjalan bergandengan tangan, memaduh persahabatan. Malam itu, suara jangkrik, dengan dihiyasi teduhnya rembulan malam, mereka bernyanyi di sepanjang jalan…
“langkahku semangkin lelah, berjalan menyusuri…
“mondar mandir, di keramayan kota…
“hati yang bingung, lamaran kerja ditolak…
“Tak tahu kenapa mungkin kurang syaratnya…
Tawa mereka menambah keakraban, malam yang begitu indah pun harus memisahkan mereka di pertiga persimpangan…, mereka harus pulang ke rumah mereka masing2…, malam pun menjadi sunyi, jangkrir2 pun bersaut-sautan.
“kukuruyukkk…”
Suara ayam membangunkan seisi desa yang hijau akan kekayaan alam. Masyrakat berbondong-bondong untuk melakukan aktivitas mereka sehari-hari. Anak-anak pun bertebaran menujuh sekolah yang amat jahu dari desa mereka. Jhajang dan sahabatnya Wawan pun menuju sekolah yang jauh itu. Tawa dua sahabat ini selalu memecah hari2 mereka, sehingga rasa leti, penat pun tak pernah mereka rasakan, walaupun mereka harus berjalan kaki tiga sejauh 3 km dari desa mereka, itu semua mereka lakukan di setiap hari-hari sekolah.
Tak sadar, sekolah yang mereka tuju pun sudah di depan mata. Sekolah dasar yang sederhana, dengan tembok yang mulai roboh, cat yang mulai memudar dan guru yang sedikit. Dari sekolah inilah, dua sahabat ini mendapatkan ilmu, dari yang awalnya mereka tak tahu menjadi tahu, begitu pun teman2 yang lain, dari mulai pelajaran sampai selesai pelajaran. Mereka tak pernah surut untuk menambah ilmu, agar kelak mereka bisa menjadi orang-orang yang berguna, untuk masyrakat terutama untuk diri mereka sendiri.
Bel berbunyi…, anak-anak bertebaran untuk pulang ke rumah masing-masing. Dua sahabat ini pun pulang dengan berjalan kaki seperti biasanya. Canda dan tawa selalu terpancar dari wajah mereka, hingga mereka sampai ke rumah mereka masing-masing.
Jhajang: Wan, entar main yukk??
Wawan: hemm..yah..tunggu aku di rumah mu yahh??
Jhajang: yahhh..
(perbincangan dua sahabat itu pun berakhir, mereka pun bersiap-siap untuk makan siang)….
“siang menjelang sore, Jhajang dan Wawan bermain di sebuah lapangan, yang kebanyakan anak-anaknya seusia mereka untuk bermain. Permainan yang mereka mainkan itu, berragam, dari main buah karet, kelereng, anjing-anjingan, dan masih banyak lagi permainan yang mereka ikuti. Keasikan bermain, sore pun datang. Mereka pun berhaburan untuk meninggalkan lapangan yang banyak akan pohon-pohon karet. Jhajang dan Wawan, dua sahabat ini pun pulang. Di sepanjang perjalanan, dengan pakaian yang kotor dan rambut acak-acakan..
Wawan: Jhang, tamat sekolah ini kamu mau ke mana??
Jhajang: hemm…ngak tahu Wan..emang kenapa??
Wawan: engak..denger-dengernya kamu mau ke Palembang yahh??
Jhajang: kata Mak sihh gitu,,,tapi aku ngak tahu juga…liat ajah besok…hehe…
Perbincangan itu pun, membawa mereka sampai ke rumah, dua sahabat ini pun berpisah di pertiga persimpangan.
Malam pun tiba, hari-hari mereka habiskan untuk belajar, membuat perkerjaan rumah (PR) sampai tetidur di rumah mereka masing-masing, maklum malam itu mereka libur mengaji. Malam pun berlalu, pagi pun menyapa desa yang penuh akan pohon-pohon karet ini. Terlihat dari kejahuan, Jhajang berjalan menuju rumah Wawan, dengan keaadan yang rapih disertai derasan air mata…
Jhajang: assalamualaikum…(dengan tersedu-sedu)
Wawan: waalaikum sallam…(sambil membuka pintu rumahnya..)
Jhajang: Wan, Jhajang pamit…(air matanya selalu menetes…)
Wawan: (*bengong..tak tahu apa-apa, Wawan langsung memeluk temannya)
Ada apa Jhang?? kok nangis?…
Jhajang: ini..Wan..Jhajang harus pergi ke Palembang ma Emak, kata Emak, kami ngak balik-balik kesini lagi…
Wawan? air mata nya pun mengalir, betapa tidak..temanya yang sudah lama dia kenal harus pergi dengan tiba-tiba..tangisan pun memenuhi ruang di pagi yang cerah itu..
Wawan: yahh..sudah..Jhajang kalau sudah pergi dan tak balik kesini lagi, jangan lupa ma Wawan yahh??
Jhajang: yahh…Jhajang pamit dulu…
Wawan pun mengantarkan Jhajang sampai terminal di dekat desanya, dengan keadan yang kusut.
Jhajang? dengan melambaikan tangannya..) dadah sob…
Wawan: dadah..hati-hati di jalan…
Jhajang: yahh.. jangan lupakan persahabatan kitaaa (di atas mobil yang di tumpanginya)
Wawan: kamu juga…(dengan air mata yang mengalir deras di kedua pipinya)
Mobil yang di tumpangi sahabat pun berlalu,di persimpangan menuju ke pelembang. Wawan pun melihat mobil bus yang ditumpangi sahabatnya itu, sampai tak terlihat lagi, sesudah itu baru dia pulang..
Hari-hari dijalani dengan sendiri, kesepian selalu menyelimuti hati Wawan. mungkin ini adalah yang terbaik baginya dan sahabatnya. Perpisahan harus memisahkan mereka.
Pesan moral: ”perpisahan bukan akhir dari persahabatan…”

Cerpen Karangan: Gustiawan

Cerpen Senja di Ufuq Barat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jalan-jalan Si Empat Sahabat

Oleh:
Ada 4 sahabat yang sangat akrab bernama Ira, Rina, Nisa dan Zahra. Mereka bersahabat sudah dari kecil. Orangtua mereka pun juga bersahabat. Rumah mereka pun juga bersebelahan. Itu membuat

Teman

Oleh:
“Teman untuk bersuka banyak. Namun teman untuk berduka tak ada.” Dulu sebelum menjadi diriku yang sekarang, kukira teman-temanku yang banyak ini hanya ada pada saat aku bahagia. Awalnya tak

Teman Tapi Musuh

Oleh:
Namaku Fadila Billa biasa di panggil Billa. Aku sekolah di SD 22 aku memiliki sahabat karib yaitu Renita, Ayu, Ina, Tya, Yuni. Semenjak di kelas 6 dan menginjak semester

Last Letter

Oleh:
Aku berdiri di depan rumahku. Menunggu sahabatku datang. Sepertinya pagi ini dia terlambat. Yah dia yang setiap harinya berangkat ke sekolah bersamaku. Pria yang selalu di dekatku. Aku menyukainya?

Pelangiku Yang Telah Hilang

Oleh:
Aku menunggu pelangi datang dalam derasnya hujan. Derasnya hujan memberiku harapan datangnya dia. Hujan semakin deras, namun dia tak kunjung datang. Semakin derasnya hujan, aku ragu akan kedatangannya. Bahkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *