Senja Merah Jambu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 23 April 2016

Kata orang, sahabat itu adalah tempat di mana kita bisa menjadi diri sendiri seutuhnya. Gila segila-gilanya, malu semalu-malunya, namun satu hal yang tidak pernah bisa dilakukan, yaitu marah semarah-marahnya. Namaku Kenya, dalam bahasa Krama Inggil (bahasa Jawa dengan tingkatan yang paling tinggi) berarti gadis. Aku memiliki seorang sahabat baik sedari kecil bernama Lintang. Namanya berarti bintang. Dan sesuai dengan namanya, dia adalah bintangku. Lintang adalah bintang penerang di hari-hariku, ia adalah guru, sahabat, sekaligus rival yang paling ku sayangi. Dia adalah gadis yang manis, berperilaku baik, dan menyenangkan.

Aku bertemu Lintang sejak SMA. Aku yang lemah dalam Matematika dan hitung-hitungan, secara tak terduga bertemu Lintang yang sangat cerdas dalam menalar angka-angka sialan itu. Lintang terlihat tanpa kesulitan, nilainya tak pernah kurang dari delapan. Sungguh, kadang aku ingin menangis melihatnya sepintar itu. Bukan.. Bukan.. Bukan terharu.. Tapi ada rasa cemburu, dan kecewa kepada diriku sendiri, kenapa aku tak bisa seperti dia. Tapi kemudian keadaan mendekatkan kami. Berawal dari tugas kelompok, Lintang mengajari banyak hal. Aku bisa? Tidak.

Sesabar apa pun sahabatku itu mengajariku menaklukkan angka-angka menyebalkan itu, aku tetap tidak bisa. Berbeda dengan Lintang, aku suka menggambar sedangkan dia tidak. Aku suka bernyanyi, mengarang, dan segala sesuatu berbau seni, namun Lintang tidak. Sama seperti aku yang mengagumi kecerdasan matematisnya, Lintang mengagumi bakat seni dan karya-karyaku yang menurutnya menarik. Sejak remaja, kami tak terpisahkan. Lintang tahu semua kisahku, cinta pertamaku, apa yang aku suka dan tidak, begitu pun aku terhadapnya. Kami seperti dua sisi mata uang, Yin dan Yang, siang dan malam, seperti itulah penggambarannya. Saling melengkapi namun berbeda. Hal itu terjadi sampai kami lulus SMA.

Selepas SMA, aku pergi merantau ke Jakarta. Meninggalkan Lintang sahabatku. Awalnya aku dan Lintang saling berkirim kabar, namun seiring waktu berlalu kami dipisahkan oleh kesibukan kami masing-masing. Belum lagi aku menemukan sahabat baru, seorang laki-laki jenaka yang selalu bisa membuatku tertawa. Namanya Bayu, yang berarti angin. Bertahun-tahun berlalu aku dan Bayu semakin dekat. Sama seperti saat aku bersama Lintang, bersama Bayu aku bisa bebas membuka siapa diriku, bercerita tentang apa saja dalam hidupku. Bayu sangat istimewa. Matanya teduh, ia konyol tapi tetap berprinsip teguh. Bayu mempunyai minat yang sama sepertiku. Ia mencintai musik. Ia mahir memainkan bermacam-macam alat musik. Aku sering melihatnya membagi ilmunya kepada teman-temannya. Mulai dari bermain gitar, drum dan piano.

Di mataku Bayu sempurna. Perlahan-lahan perasaanku terhadap Bayu berubah. Aku jatuh cinta padanya. Aku sering mencuri-curi pandang terhadapnya. Sudah lima tahun lamanya aku dan Bayu bersahabat dengan sangat dekat. Dan ini melelahkan. Di satu sisi aku ingin jujur atas perasaanku, di sisi lain, persahabatan ini terlalu indah untuk aku hancurkan. Aku galau. Pikiranku kacau. Bayu dengan sangat elegan telah mencuri hatiku. Rasanya sesak sekali. Di saat-saat seperti ini, tiba-tiba aku merindukan Lintang, sahabatku. Aku mencari-cari kontaknya, menjelajahi media sosial dan bertanya kepada banyak orang tentang keberadaan sahabatku.

Setelah dua minggu pencarian, akhirnya aku menemukan Lintang sahabatku. Aku meneleponnya, aku bercerita, menangis, tertawa, dan berbagi semua hal yang menyesakkan hatiku. Aku ingat waktu itu aku menelepon Lintang dari jam 21.00 hingga subuh menjelang. Lintang dengan sabar mendengarkan. Dan Ia pun bercerita, bahwa dia telah dijodohkan dengan seorang pria asli Jakarta bernama Panji. Aku takjub sekaligus bahagia. Aku mengungkapkan rasa syukur dan dukunganku semoga pria yang dijodohkan dengan sahabatku, adalah pria yang benar-benar akan menjaganya sepenuh jiwa. “Ah, tak terasa rupanya kami telah dewasa.” pikirku. Pada akhir pembicaraan kami, Lintang memintaku mengungkapkan perasaanku pada Bayu. Dan kisahku pun dimulai.

Suatu pagi di pesisir barat Pulau Jawa, “Kenya, nonton yuk! Rame-rame.” Ajak Bayu. Aku terdiam sesaat. Bagaimana mungkin aku menolak, menonton adalah hobiku ditambah lagi, ada Bayu! Tapi kemudian dengan keteguhan hati, aku menjawab, “Hmm.. Nggak dulu deh, Yu.. Gue ada acara.” Kataku bohong.
Bayu melongo, Ia mendekatkan wajahnya kepadaku dan menatapku heran, “Tumben! Nggak punya duit ya? Udah gue bayarin aja.” Aku merasa mati kata. Aku menggelengkan kepalaku sekuat yang aku bisa hingga terasa pusing. “Gue ada duit. Tapi gue lagi ada perlu.. Bye!” sahutku sambil berlari menjauh.
Setengah jam kemudian aku sampai di kamar kostku yang mungil. Ku rogoh saku celanaku, ku ambil dua lembar uang seratus ribuan dan buru-buru ku masukkan ke dalam celengan ayamku. Ku tandai kalenderku. Hari ini adalah tepat 2 bulan sebelum tanggal ulang tahun Bayu yaitu tanggal 23 Juli.

2 Minggu kemudian.
“Kenya! Lo ke mana aja? Dichat nggak dibales, ditelepon nggak diangkat. Ngeselin lo!” Bayu menampakkan muka sebalnya di depanku.
“Kepoo..” jawabku menggodanya.
“Kenya, gue mau ngomong..”
“Apa, Yu?”
“Lo kenapa? Ada masalah?”
“Nggak ada, Yuu..”
“Hm.. Oke!”
“Yu, sorry, gue pergi dulu ya..”
“Hei, Kenya! Kenya!”
Aku berlari riang ke kostku, menenteng gitar yang baru aku beli lalu sesegera mungkin berangkat ke tempat Pak Iqbal. Kenalanku yang sangat mahir bermain gitar.

Satu bulan kemudian. Lintang meneleponku dia mengabariku untuk datang ke suatu tempat di daerah Serang untuk acara yang katanya istimewa, tepat pada tanggal 23 Juli.
“Haaa? 23 Juli? Waduhh.. Ngg.. Gimana ya, Lin..”
“Kamu nggak bisa ya? Kalau begitu aku akan undur acaraku. Aku tunggu sampai kamu bisa.” Jawab Lintang tenang.
Aku diam sebentar. Mengumpulkan pikiranku. “Nggak usah Lintang, aku bisa.. Aku akan datang.” Jawabku riang.

H-21.
“Gimana, Pak Iqbal? Sudah OK?” kataku penuh semangat.
“Kece badai, Non!”
Aku nyengir sukses. Jari-jariku terasa pegal dan perih. Pak Iqbal mengangguk-angguk sambil menyeruput kopi panasnya.

H-14
“Kenya, ada waktu nggak? Gue mau kasih kabar bahagia,”
“Hm? Kabar Apa Bayuu?”
“Tanggal 23 Juli nanti nggak ada acara kan?”
Aku diam..

“Hmm.. Awalnya sih nggak ada, tapi sekarang udah ada..” kataku menggoda.
Sejenak ku lihat semburat sedih di wajahnya. “Ya udah, nggak jadi deh..” kata Bayu.
Aku menggedikkan bahuku kemudian merangkul bahu sabahatku yang ku cintai ini.
“Gini Yu, tanggal itu, gue mau ke tempat sahabat gue. Dia lamaran hari itu. Maaf ya, Yu..” jelasku sendu.
Bayu mendelik kaget. “Lamaran? Temen lo? Kok bisa.. Kebetulan gitu ya..”

“Kebetulan? Maksudnya?” tanyaku. Entah kenapa perasaanku mulai tidak enak.
“Tanggal itu, gue juga mau la..” Ponsel Bayu berdering kencang. Membuat kami berdua tersentak kaget. Bayu menerima teleponnya, dan terdengar serius. Sementara aku, bingung dan merasa kaku atas suasana asing antara aku dan Bayu yang sekarang.
“Bayu, sorry gue mau pulang. Udah sore.”
“Oh.. Ok..” Jawab Bayu terlihat bingung.

23 Juli
Aku mematut diriku di depan cermin. Wajahku kuyu. Semalaman aku tidak bisa tidur entah kenapa. Aku bersiap hendak berangkat ke rumah Lintang. Ku langkahkan kakiku dan sejenak ku pandangi gitarku. “Ah, bawa sajalah.. Semoga masih sempat..” kataku dalam hati. 3 jam perjalanan akhirnya aku sampai di sebuah desa kecil. Tempatnya sejuk dan tenang. “Kenya!” seru Lintang seraya berlari memelukku. Spontan aku balas memeluk Lintang. “Lintang! Kamu cantik banget!” Sore itu wajah Lintang begitu cantik. Wajahmu bersemu merah dan tawa menghiasi sepanjang ceritanya.

“Hei, mana calon suamimu?” tanyaku antusias.
“Lintang, kamu sudah siap?” sebuah suara terdengar sangat akrab di telingaku. Refleks aku menengok ke belakang dan rasanya terjawab sudah kenapa alasanku tidak bisa tidur semalaman.
“Bayu..” ucapku kaget.
“Kenya!” seru Bayu kaget.

Bayu terlihat kaget, sedangkan Lintang terlihat bingung. “Ah.. Tentu saja, Bayu Aria Panji Nugroho. Dua nama yang sepengertian kami berbeda, ternyata adalah orang yang sama.” Sadarku dalam hati. Lintang yang cerdas segera menangkap ada yang tidak beres dengan sikapku. Ia beringsut mendekatiku, memegang tanganku dan berbisik dengan wajah cemas namun penuh pengertian, “Kenya, apakah Bayu-mu itu dia?” Tubuhku terasa kaku. Mungkin lebih baik kalau aku langsung menguap atau hilang, atau tak pernah ada dalam skenario hidup mereka. “Kenya?” panggil Lintang lirih. Aku merasakan betul ada kekhawatiran yang ia sembunyikan. Menangis. Aku ingin menangis. Lidahku kelu. Tapi tidak! Aku tidak akan merusak kebahagiaan sahabatku. Aku menarik napas dalam-dalam, mengukir senyuman disaat aku merasakan wajahku keras seperti batu.

“Bukanlaah, Lintaang.. Bukaaan..” dustaku sambil tertawa. Aku menatap mata Lintang, aku tersenyum. Tak mau memberi celah bagi Lintang dan kecerdasannya menyelidiki hatiku lebih dalam. Ku lihat Lintang tersenyum lega. Binar matanya kembali. “Selamat yaa, cieee.. Dilamar cieee..” godaku sambil mencubit hidungnya kemudian memeluknya erat. Lintang tersenyum bahagia. Kali ini ia beringsut mendekati Bayu dengan malu-malu. “Jadi, Kalian saling kenal?” Bayu menatap Lintang dengan lembut.
“Iya. Sudah sangat kenal malah.” Jawabnya sambil tersenyum.

Tak butuh waktu lama untukku memahami apa yang sedang terjadi. Dan untunglah kewarasanku masih bisa ku pertahankan hingga tidak sampai merusak suasana. Selanjutnya semua berjalan seperti roll film hitam putih. Semuanya muram. Aku menarik bibirku lebar-lebar yang entah kenapa aku sadar aku terlihat seperti mayat hidup yang menyedihkan. Memaksa hatiku mengikuti dan menerima setiap prosesi dan kenyataan pahit di depan mataku. 3 Jam lamanya. Aku makan, minum, dan bercengkerama bersama mereka dan keluarganya. Bayu menceritakan bagaimana mereka bisa bertemu secara singkat dan memutuskan untuk langsung menikah. Aku hanya tersenyum pasrah. Rasa-rasanya luluh lantak. Hatiku luka di sana-sini. Sudah luka, disiram air garam pula rupanya.

Malam itu aku tidak menginap di rumah Lintang di Serang. Aku minta izin untuk kembali ke Jakarta selepas maghrib, dengan alasan pekerjaan. Padahal alasan sebenarnya adalah karena aku masih sayang dengan diriku sendiri dan tak ingin membiarkan lukaku semakin lebar. Tidak ada seorangpun tahu. Hanya aku dan Tuhan. Lintang memohon-mohon agar aku tetap singgah, begitu pun Bayu. Tapi untuk pertama kalinya, dengan tegas aku menolak dia. Dan Bayu pun hanya bisa pasrah mengetahui aku yang keras kepala.

“Bayu, jaga Lintang. Lintang, jaga Bayu.” Aku tersenyum dan merangkul mereka berdua sebelum kemudian sanak dari keluarga Bayu mengantarku ke terminal Bus menuju Jakarta. Di dalam bus malam itu aku menangis dalam diam. Melepaskan segala rasa yang telah ku pendam lima tahun lamanya. Ku peluk gitarku dalam-dalam. Aku ingat saat Bayu bertanya, “Kenya, itu gitar siapa?” Lalu ku jawab malu-malu, “Ini hanya barang titipan.”

Ancol, 24 Juli
Hari ini aku bolos kerja dengan alasan sakit. Aku paksakan bekerja pun percuma, karena aku sedang patah hati. Tapi aku tak mau menjadi manja dengan seharian menangis di kamarku. Ku tatap gitar yang ku beli dan telah ku pelajari dua bulan lamanya. Ku keluarkan ia dari tasnya. Gitar ini.. Awalnya Lintang sendirilah yang menyarankan aku untuk membeli gitar -kemudian mempelajarinya- kemudian dengan PD-nya aku harus “menembak” Bayu dengan bernyanyi sambil bermain gitar di hadapannya -namun kini pupus sudah. Ku tatap gitarku kemudian ku tatap jemariku yang sudah kapalan. Ku posisikan gitarku senyaman mungkin lalu mulai memainkan laguku. Ku nyanyikan sebuah lagu lama dari The Beatles yang sarat akan kepasrahan dan pengharapan.

When I find myself in times of trouble
Mother Mary comes to me
Speaking word of wisdom “Let it be”
And in my hour of darkness she is
Standing right in front of me
Speaking word of wisdom “Let it be”
Let it be, Let it be, Let it be, Let it be..
Whisper word of wisdom, Let it be

And when the broken hearted people, living in the world agree
There will be an answer, Let it be
And when the night is cloudy
There is still a light that shines on me
Shine until tomorrow let it be..
Let it be, Let it be, Let it be, Let it be..
There will be an answer let it be..

Aku diam sejenak. Menghirup udara sebanyak mungkin da menghembuskannya.
“Mbak, kamu suaranya bagus.. Mirip teman SMA saya..”
Aku menoleh dan kaget setengah mati. “Natan?!”
“Kenya? Ini bener kamu? Yang dulu ngirimin surat cinta ke aku pake cap bibir pas kelas 1 SMA?”
“Sialan!” umpatku dalam hati. Hening. Satu menit kemudian aku terbahak-bahak lega.
“Iya, aku Kenya. Loh, kok kamu bisa ada di sini?”
“Perjalanan dinas. Kebetulan ya.” jawab Natan sambil tersenyum tenang. Ia mendudukkan dirinya di atas pasir, di sampingku dan perlahan mengambil gitarku untuk ia petik perlahan-lahan.

Kami diam beberapa saat. Suasana perlahan mencair. Kami saling bertukar cerita berjam-jam lamanya, termasuk kisah piluku dan anehnya aku tak lagi menangis, justru kini diselingi derai canda dan tawa kami. Semburat senja merah jambu menemani kami bernostalgia. Natan tidak menghiburku, ia justru mengejek dan menertawai kepecundanganku. Tapi kemudian, ia mengungkapkan kekagumannya atas kemampuanku mengendalikan diri dan keberanianku mengungkapkan perasaanku padanya di masa lalu, dengan cara yang konyol. Natan tidak jahat, namun ia tahu, aku bukanlah gadis yang suka dihibur dengan kata-kata mutiara, atau hal menye-menye lainnya.

Ia mengenalku sebagai perempuan yang tangguh dan pemberani yang dulu pernah mengungkapkan cinta kepadanya melalui surat konyol yang sebenarnya adalah ide dari sahabatku Lintang yang pada waktu itu sama sekali tidak digubris olehnya dengan serius. Lalu pada akhirnya, Tuhan selalu punya cara untuk menghibur umatnya. Karena sungguh ada tertulis, ia dekat dengan orang-orang yang patah hati, dan Ia menyembuhkan orang-orang yang remuk jiwanya.

“Natan, sebenarnya jodoh itu apa ya?” tanyaku masih sambil menerawang jauh memandangi Laut Jawa.
“Entah. Mungkin itu kita.”

TAMAT

Cerpen Karangan: Maria Puspitasari
Facebook: Maria Caecilia Puspitasari
Karyawati, 25 tahun. Ini adalah kali kedua mengirimkan karya ke cerpenmu.com

Cerpen Senja Merah Jambu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Salahkah Dengan Cinta

Oleh:
Kasih … Aku mengenalmu tanpa sengaja. Menjalani kebersamaan, hingga Allah menanamkan benih cinta yang belum tepat waktunya, untuk menguji keimanan kita. Hingga kita terlena akan hakikat cinta tersebut. Memaknai

Cinta Belum Halal Tak Pantas Dimiliki

Oleh:
Sekolahan masih sepi, hanya beberapa siswa saja yang sudah datang. Nurul, gadis berjilbab anak kelas XII Sosial 3 melangkahkan kakinya menuju ruang kelas. “Hemm.. Sepi belum ada orang”, batinnya

Sahabat Terbaik

Oleh:
Sinar matahari pagi menelusup celah tirai kamarku, hembusan angin yang sejuk menambah keenggananku untuk beranjak dari tempat tidur. Namun, aku teringat pada satu kewajibanku yaitu pergi ke sekolah karena

Rifki

Oleh:
Wajahnya tampak lelah, bajunya bisa dibilang cukup kotor, walaupun berbau cukup wangi. Tangan kanannya memegang erat tas jinjing yang entah apa isinya, sementara tangan kirinya memegang map yang kutebak

Sayap Sayap Bento

Oleh:
“Sepertinya aku tidak kuat lagi, Ian.” Tubuhnya yang lunglai jatuh ke tanah. Peluhnya mengalir deras, terik matahari telah membakarnya habis habisan. Berjam jam ia berlari mengitari desa, memacu kakinya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Senja Merah Jambu”

  1. Cerpennya ngena banget bikin baper hehehe, kenya bener bener kuat salut deh bagus cerpennya 🙂

  2. Ilyas Ibrahim Husain says:

    Cerpennya bagus, keren dan menyentuh. Hebat buat penulisnya

  3. imel says:

    Cerpenya bagus… 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *