Senja Terindah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Mengharukan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 22 September 2017

Aku sendirian. Ya. Aku sendirian. Sendirian menatap mentari terbit, begitu pula menyaksikan mentari senja. Tak ada seorang pun yang menemaniku. Tak ada yang bisa. Aku tak tertarik pada orang-orang yang hanya datang ketika butuh. Aku benci orang seperti itu.

Aku selalu berusaha untuk menjalani hidupku sendirian. Tanpa siapapun. Karena bagiku, lebih baik mengerjakan semuanya sendirian daripada harus repot bekerja sama dengan orang yang belum tentu peduli dengan apa yang dia kerjakan.
Aku menjalani kehidupanku dengan normal. Kecuali satu hal, aku tidak begitu mempedulikan statusku sebagai makhluk sosial. Jika kalian melihatku tersenyum atau bahkan tertawa, mungkin langit akan berubah merah saat itu juga. Senyum dan tawaku adalah hal paling mustahil yang pernah dibayangkan orang-orang yang kini berada di sekitarku. Hal mustahil yang memang tak pernah terulang lagi sejak saat itu. Saat-saat menyakitkan itu.

“Irfa! Bisa tolong kerjakan soal di papan tulis?” tanya guru yang membuyarkan lamunanku.
Aku langsung menuju ke depan kelas. Mengerjakan soal yang tertera sangat jelas di papan tulis dan menjawabnya dengan benar dalam waktu singkat. Tanpa banyak bicara, aku kembali ke tempat dudukku. Tak peduli tatapan seorang perempuan yang aku tau dari tadi memperhatikanku. Entah siapa dia. Aku tak tau.

Sore sepulang sekolah, aku mampir ke sebuah taman yang berada antara rumah dan sekolahku. Aku menatap ke sebuah kolam yang dalam di pinggir taman itu. Aku tak pernah mengerti kenapa kolam yang dalam itu bisa berada di sana. Yang aku tau hanyalah, kolam itu telah merenggut nyawa temanku. Sahabat terbaikku. Lifya.

Kala itu, Mila, teman sekelasku tiba-tiba mendorong Lifya masuk ke dalam kolam yang dalam itu. Aku yang tau bahwa Lifya tak bisa berenang segera berlari ke arah kolam untuk menolongnya. Namun, teman-teman Mila menahanku. Memegang tanganku kuat-kuat agar aku tak bisa menolong Lifya.
“Apa yang kalian lakukan? Lifya tak dapat berenang.” Teriakku melihat Lifya yang tak lama lagi akan tenggelam. Mila dan teman-temannya hanya tertawa.
“Yang benar saja anak itu tak dapat berenang. Dia hanya berpura-pura. Mencari perhatian orang sekitar. Kau lihat saja! Sekarang dia menjadi pusat perhatian di taman ini.” Kata Mila sambil tersenyum puas. Tak peduli Lifya yang mencoba minta tolong.

Namun yang paling menyayat hati saat itu adalah tak ada seorang pun di taman itu yang mau menolong Lifya. Meskipun mereka melihat Lifya berteriak minta tolong, berusaha keluar dari air. Tak seorang pun menolongnya. Mereka hanya melihat, menunjuk-nunjuk ke arah Lifya.

“Tolong selamatkan dia!” Teriakku sekuat tenaga. Kuyakin banyak orang di taman itu mendengar suaraku. Namun tak ada seorang pun yang menolong Lifya. Tak seorang pun. Mereka justru berlalu. Meninggalkan Lifya yang mencoba menyelamatkan diri.

Hingga pada akhirnya Lifya tak keluar lagi dari air. Barulah teman-teman Mila melepas tanganku. Aku langsung berlari kencang dan loncat ke dalam kolam. Mencoba menyelamatkan Lifya. Orang-orang di taman itu sekali lagi hanya melihat. Tanpa rasa peduli sedikitpun.
Tapi usahaku tetap sia-sia saja. Meskipun aku berusaha mengeluarkan air dari tubuhnya, tetap saja, air itu sudah terlalu banyak. Bahkan ketika aku berhasil membawa Lifya ke rumah sakit terdekat, dokter berkata bahwa Lifya telah kehilangan nyawanya. Tak lama setelah Lifya dimasukkan ke unit gawat darurat.

“Hei, Irfa!” kata seorang perempuan yang tiba-tiba duduk di sampingku dengan senyuman manisnya.
Aku menghapus air mataku yang mulai jatuh. Berusaha terlihat baik-baik saja. Melihat ke arah perempuan itu. Menatapnya dengan tatapan ‘kenapa kau kemari? Lebih baik kalau kau pergi.’ Tapi dia tak peduli.
“Kita sekelas. Aku duduk tak terlalu jauh darimu. Namaku Zahra. Kuharap kita bisa menjadi teman baik.” Katanya tetap dengan senyuman manisnya. Aku memalingkan tatapanku. Melihat kembali ke arah kolam maut itu.

“Apa yang kamu lihat, Irfa? Kolam itu?” tanyanya tanpa peduli aku yang tak suka jika dia berada di dekatku.
“Aku punya kenangan buruk di kolam itu,” lanjutnya. Sejenak aku kaget.
“Kejadiannya sudah cukup lama, sih. Ketika aku kecil. Ibuku tenggelam setelah menyelamatkan aku yang tidak bisa berenang.” Katanya terdiam sebentar. Dia tak peduli aku yang tidak merespon ceritanya.
“Ibuku tak bisa berenang. Tapi karena harus menyelamatkan putrinya yang belum bisa apa-apa, ibu terpaksa harus masuk ke dalam kolam yang dalamnya melebihi tiga kali tinggi badannya sendiri. Dan tak seorangpun yang sepertinya berusaha menyelamatkan ibuku. Hingga kemudian ayahku datang, melihat anaknya yang menangis di pinggir kolam dan seorang wanita yang berusaha keluar dari kolam itu. Meminta tolong.” Dia mulai menangis.
“Ayahku terlambat. Ibu tak terselamatkan. Sampai sekarang aku penasaran apa yang ada di dalam kolam itu hingga tiba-tiba bisa merenggut nyawa ibuku.” Katanya menangis sambil tersenyum tegar. Aku hanya diam. Dia memiliki kisah yang mirip denganku.

“Eh? Kok jadi curhat gini, ya? Maaf, Irfa. Aku benar-benar sedih setiap kali melihat kolam itu. Meskipun saat itu aku masih kecil, aku mengingat jelas bagaimana ibuku tenggelam di kolam itu” katanya sambil menghapus air matanya. Tetap berusaha tersenyum. Tanpa aku sadari, air mataku juga menetes. Mengalir ke pipiku.
“Ayo kita pulang, Irfa! Sudah terlalu sore.” Dia menarik tanganku. Entah kenapa, saat itu aku menurut saja. Pulang ke panti asuhan tempatku tinggal. Tempat perempuan itu tinggal.

Panti asuhan tempatku tinggal tak begitu jauh dari taman itu. Berjalan 5 menit, maka panti asuhan akan terlihat di ujung jalan. Sepanjang perjalanan, aku kembali mencerna cerita yang dilontarkan perempuan aneh itu. Siapa tadi namanya? Ara? Rara? Zahra? Entahlah.
Kisahnya membuatku semakin membenci orang-orang di sekitarku. Membenci semua orang di seluruh penjuru kota. Membenci teman-temanku. Membenci semua orang. Hanya ada satu orang yang tidak aku benci. Ibu pengasuhku di panti asuhan. Hanya dia yang aku percaya dan tidak pernah aku benci. Selebihnya, silahkan kau fikirkan sendiri.

Tolong jangan pernah berfikir aku ini seorang anak yang baik di panti asuhan. Seperti yang aku ceritakan tadi, aku kurang menyadari bahwa aku ini makhluk sosial. Jadi aku hanya mengerjakan rutinitas seperti tak ada orang lain di sekitarku. Menjalani semuanya sendirian. Meskipun di sekelilingku ada banyak anak yang tertawa riang. Perempuan itu salah satunya.
Aku menjadi tak peduli pada orang-orang di sekitarku semenjak peristiwa kematian Lifya yang kurang masuk akal itu. Jika orang-orang di sekitar tidak pernah peduli, kenapa aku harus peduli pada mereka? Kalaupun mereka peduli, sampai sejauh mana mereka akan merubah hidup kita? Tak mungkin jauh berbeda kan? Semua orang hanya peduli pada dirinya. Dirinya selalu nomor satu dibandingkan orang lain.

“Anak-anak, sudah mainnya. Ayo masuk dulu. Ada yang mau bunda sampaikan.” Kata pengurus panti. Semua anak-anak masuk. Termasuk aku. Termasuk Zahra. Kalau aku tak salah, itu nama perempuan itu.
Tak lama setelah kami semua berkumpul di sebuah ruangan yang tak terlalu luas, bunda mulai membuka pembicaraannya. Sangat panjang. Penuh basa basi. Tapi intinya, panti asuhan ini akan ditutup. Pemerintah ingin menggusurnya dan membangun pusat perbelanjaan yang baru. Sudah kukatakan tadi. Manusia itu memang tak berperasaan.
Coba saja kau bayangkan. Bagaimana mungkin ada manusia yang tega menggusur panti asuhan? Tempat anak-anak terlantar tanpa orang tua? Apakah masih ada hati nurani di dalam diri mereka? Ataukah hati itu telah mati? Tak bisakah mereka sedikit memikirkan perasaan orang lain?
Aku membenci mereka semua. Aku benar-benar membenci mereka semua.

Dihari-hari terakhir kami menempati panti asuhan itu, Zahra selalu mendekatiku. Menceritakan kehidupannya, mengapa ia bisa terdampar di panti ini 2 minggu terakhir. Dia menceritakan segalanya. Meskipun dengan tangis, dia tetap berusaha tersenyum tegar. Seolah tak ada hal yang sangat menyakitkan di antara segala kisah-kisahnya itu.
Dia mengulangi aktivitasnya untuk duduk di sampingku, bercerita, dan berusaha menghiburku setiap harinya. Tanpa lelah. Entah apa yang ada difikiran anak itu. Padahal aku tak pernah meresponnya.

Namun, lama kelamaan, ada satu hal yang kurang kumengerti. Aku suka mendengar ceritanya, melihatnya tersenyum dan tertawa meskipun diselingi air mata. Dia terlihat begitu kuat di hadapanku. Tapi tetap saja, senyumnya tak menular sama sekali padaku. Apalagi tawanya.

Hingga hari kami harus meninggalkan panti asuhan itu tiba. Kami dipindahkan ke panti-panti asuhan lain di kota yang sama. Namun aku dan Zahra saat itu tak langsung menuju panti tujuan kami yang kebetulan sama. Aku dan Zahra justru kembali ke taman. Menatap kolam maut yang membunuh orang yang kami sayangi.

“Kau lihat kan, Irfa! Manusia itu memang kejam sekali, ya? Masa panti asuhan digusur begitu saja.” Katanya mengomel. Tapi kemudian dia terdiam.
“Irfa, aku ingin bertanya.” katanya. Aku hanya menoleh. Melihatnya.
“Apa aku ini temanmu?” aku hanya mampu terdiam beberapa saat setalah dia menanyakan itu. Pertanyaan aneh. Tapi aku justru mengangguk pelan. Ya. Dia memang teman yang baik, bukan?
“Apa kamu bisa sedikit keluar dari rasa sedih dan bencimu dengan kehadiranku?” tanyanya lagi. Aku menggangguk. Dia tersenyum.
“Memang percuma melawan orang-orang yang memang tak peduli pada sekitarnya. Tapi membenci orang-orang yang tak peduli itu jauh lebih buruk daripada orang yang tidak peduli sama sekali. Itulah kenapa harusnya kamu berlaku baik pada orang di sekitarmu.” Aku merekam dengan baik apa yang dikatakannya.
“Lagipula kan ada aku. Yang baik, imut, cantik, manis, dan menyenangkan ini.” Katanya sambil nyengir. Tertawa.
“Aku akan menjadi teman terbaik yang kamu punya Irfa. Kamu tau kan betapa ajaibnya kehadiran sahabat? Ia mampu merubah hidupmu. Jadi, kamu gak perlu sedih lagi. Kita akan selalu bersama, Irfa. Kita akan menatap mentari terbit dan senja bersama setiap hari. Jadi, kalau kamu mau cerita sama aku, cerita aja, ya?” katanya panjang lebar. Tapi aku hanya diam. Hanya melihatnya.
“Irfa, kamu pasti bakalan cantik banget kalau senyum. Bidadari di kahyangan sana pasti iri deh ngeliat kamu kalau kamu bisa ketawa. Aku jamin itu!” kata Zahra menghiburku. Menggodaku.

Tanpa kusadari sepenuhnya, senyum terukir di bibirku. Senyum pertama setelah bertahun-tahun lamanya. Langit tiba-tiba berubah merah jingga. Indah sekali. Aku menatap langit. Apa langit benar-benar harus memerah ketika aku tersenyum?

“Kayanya kalau kamu ketawa, langit senja bisa berubah jadi warna pink deh, Fa.” Katanya sambil melirikku.
“Bagaimana kau tau apa yang kupikirkan?” tanyaku kaget.
“Aku tau apa saja yang kau fikirkan. Meskipun kau hanya menatapku begitu.” Katanya sambil tertawa meledekku. Aku hanya bisa memasang wajah jengkelku.

Zahra berlari meninggalkanku sambil menjulurkan lidahnya. Aku mengejarnya cepat. Takkan kubiarkan anak itu meledekku begitu. Awas saja dia!

Lifya, Tuhan mengirimkan penggantimu. Di bawah senja terindah dalam hidupku ini, aku berjanji. Aku akan kembali menjadi sahabat yang baik. Sahabat terbaik yang pernah ada.

Cerpen Karangan: El
Blog: rafikaelmutiah.blogspot.com

Cerpen Senja Terindah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sekilas

Oleh:
Sejenak ku luangkan waktuku untuk mengulang kembali rutinitas ini lagi. Ya, melukis. Dimulai dari menggoreskan setitik cat hitam pada kuas ini ke kertas kanvas tepat di hadapanku. Perlahan ku

HappySad

Oleh:
Kali ini kita akan menceritakan kisah persahabatan 4 kacang. Cukup unik nama persahabatan kami. Dengan beranggotakan saya nadine, tania, lucie dan adel. Kami semua satu kelas dan kami bersahabat

Aku Tidak Bisa Sempurna

Oleh:
Aku bersimpuh kaki bertelanjang kaki bersembunyi di balik selimutku yang tebal, hari ini masih sama seperti kemarin, apa besok akan berubah? Pertanyaan itu terkulum di mulutku yang kering, jam

I Am Strong

Oleh:
Tahun ajaran baru, dimana anak-anak kembali ke tempat yang membosankan dan menakutkan ya tentu saja Sekolah. Sekolah ini dikenal dengan siswa-siswanya yang berprestasi dalam bidang bela diri yaitu karate.

Cahaya Untuk Icha

Oleh:
“ aah Riki, basah tahu.. aah udah..” rengekku ketika bermain pistol air bersama Riki sahabat kecilku. Tawa kami bisa jadi tawa paling istimewa di kompleks ini. Rumahku dengan rumah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *