Sepatu Berdebu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 12 January 2019

Aku perlahan berdiri, menyingkir sejenak dari kursi dan meja yang dingin, kemudian beranjak pergi menuju jendela di sudut kantor, tempat di mana aku berada. Terlihat dalam bayang-bayang kaca, wajahku sendu. Saat itu, senja tiba ditemani kawanan awan hitam pekat, memayungi langit, menumpahkan jutaan liter air, bercampur dengan angin yang bergelora. Lalu kilatan cahaya melesat, disambut dengan suara guntur, bergemuruh, menggelegar, bersahut-sahutan. Di luar sana, tampak olehku, anak-anak bermain riang di atas tumpukan tanah merah, lengkap dengan seragam sekolahnya, berkejar-kejaran, penuh dengan canda tawa.

Jejak, mungkin hanya kata itulah yang bisa kuingat. Bila kembali ke masa-masa sekolah dahulu, masa dimana era teknologi milenium belum menampakkan gigi taringnya, deretan jejak tersebut tampak lugu berbaris-baris riang di atas jalan yang penuh dengan tanah merah, cair, dan lembut, namun penuh kehangatan. “Lembut”, kata ini nampaknya bisa disandingkan, mungkin lebih tepatnya diterjemahkan seperti bulu angsa yang ditumpuk-tumpuk dalam karung atau bisa jadi seperti kasur busa yang direndam selama tiga hari empat malam, sekali diinjak langsung mengempis sampai ke akarnya. Sedikit berlebihan memang, namun seperti itulah faktanya.

Tak ada yang bisa digambarkan mengenai kondisi jalan itu, selain jalan yang menjadi urat nadi di pinggiran kota, tempat di mana aku dilahirkan. Bila hawa panas datang, maka bersiap-siaplah, engkau akan disambut dengan tarian debu maupun pasir, beradu cepat, berkejar-kejaran, seenaknya saja berlalu lalang. Namun, bila hawa panas itu mudik, maka cukup tenangkan dirimu, menikmati nyanyian pengeran katak dan lembutnya tatapan jalan itu.

Seperti biasa, jejak tersebut selalu muncul dengan terang di musim-musim tertentu. Musim di sini tentunya musim yang berhubungan dengan alam, musim hujan atau bisa juga musim sekolah, musim bercocok tanam, musim nikah, dan yang pasti bukan musim paceklik. “Paceklik”, aduh kata itu selalu menyiksa telingaku, seakan siap membuat aku babak belur.

Sebenarnya aku tak terlalu risau dengan hal itu. Bukan karena gundah atau terpaku dengan keadaan ini, namun suatu hal, sesuatu yang penting dan hal itu adalah sepatu baru. Inilah yang membuatku selalu merasa tersenyum setiap hari menjalani aktifitas.

Hari ini tepat di bulan Januari, hari dimulainya masuk Sekolah Menengah Atas (SMA) setelah libur panjang menghantam. Kala itu, aku telah siap dengan sepatu baru. Tak tahu dengan alasan apa, motif apa, yang pasti secara signifikan, sepatu baru itu telah menyihirku dan juga membuat orang-orang di sekitarku tampak berseri-seri, tersenyum lebar. Satu pelajaran berharga yang bisa kupetik kali ini adalah dengan memakai sepatu baru, orang-orang di sekitar anda pasti berseri.

“Eh, Doni, ayo kita pergi ke sekolah” sapa temanku, Pane namanya. Aku diam saja. Benar firasatku, temanku pasti tersihir oleh sepatu baru ini. Bukan tanpa alasan aku berpendapat demikian, nyatanya selama ini, ia bersikap cuek terhadapku. Maklum selama ini, aku hanya memakai sepatu dari peninggalan abang-abangku. Karena aku adalah anak yang paling kecil, jadi akulah pewaris terakhir dari pewaris kesekian sepatu itu.

Berdasarkan perhitunganku, sesuai dengan pelajaran deret bilangan yang telah kupelajari di sekolah, peluang sikap cuek temanku ini mirip dengan deret bilangan ganjil. Artinya selama satu minggu, tentu dengan dikurangi satu hari libur, berarti hanya tersisa enam hari, dan hari ini hari pertama, seharusnya ia bersikap demikian. Nyatanya aku salah. Ia malah bersikap manis dan ramah menyapaku. Jujur saja, tertegun aku dibelai sepatu ini karena kehebatannya.

Ketika Pane menegurku, ada perasaan senang dan takut aku dibuatnya. Senang karena ia menyapaku. Takut karena ada sesosok menyeramkan berada di sampingnya. Pane kali ini hadir dengan tunggangan barunya, sebuah motor baru dengan keluaran tahun terbaru pula. Awalnya, kondisi motor tersebut baik-baik saja bahkan elok dipandang. Namun karena ia terlalu terobsesi pada modifikasi ekstrim, yang menyebabkan kondisi motornya itu sangat, sangat jauh dari normal, mungkin lebih tepatnya abnormal. Sakit mataku bila lama memandangnya.

Ayahnya adalah pemilik bengkel sekaligus karyawannya. Tentu bakat inilah yang turun dari ayahnya. Tapi tak tahu mengapa, bakat ini tumbuh subur di dalam kepalanya. Entahlah. Yang pasti aku ingat sewaktu kecil, saat bermain bola, kepalanya pernah menyundul tapi bukan bola, melainkan sebuah karung dan karung itu tertulis jelas “pupuk urea”.

Dari keseluruhan body motor, baik tampak samping, depan, maupun belakang, sebagian besar yang tampak hanya tulang, tak ada dagingnya lagi. Setelah mengamatinya sekilas, aku mengerti, ternyata akulah yang gagal paham. Maksud Pane menegurku tak lain dan tak bukan hanyalah untuk memamerkan kuda besinya itu, yang dianggapnya seperti Pegasus, tapi tentu saja dalam kondisi program diet super. Ironis dan mengerikan kadang-kadang. Sudahlah, lupakan itu. Aku tak mau mengingatnya lagi, baik body maupun soal kecepatannya yang sedikit gila. Rasa-rasanya mau copot jantungku, sewaktu menginjakkan kedua kakiku pada pedal pijakan kaki belakang, tentu saja berada dalam lindungan sepatu baru. Tiba-tiba, seluruh organ tubuhku terkejut, rasanya seperti melompat, disentak garangnya mesin motor itu. Kasihan aku melihat sepatu ini, rasanya ia terluka dan trauma. Raungan motor itu ibarat seekor singa ganas yang lapar, bukan karena tidak mendapatkan mangsa untuk dimakan, akan tetapi karena mangsanya yang cerdas, selalu saja lolos dari terkaman. Hal inilah yang membuat si singa diragukan kompetensinya dalam gelar raja hutan, sehingga ia meraung sejadi-jadinya. Nampaknya, aku terlalu dalam membahasnya. Sudahlah. Ambil satu tarikan nafas panjang, sedetik kemudian, telanlah.

Hari berikutnya, aku menolak ajakan Pane. Menolak disini maksudnya secara halus, dengan cara yang bisa disebut wajar yaitu melarikan diri. Sebenarnya antara aku dan Pane bertetangga. Jarak rumahku hanya terpisah sejauh empat rumah di belakang rumahnya. Pada saat itu, di waktu pagi, sesudah fajar bangun dan mentari masih malu-malu membuka tabirnya, aku mengendap-endap, lalu kabur, lari sekencang-kencangnya kemudian menumpang bus kota dan sampai di sekolah. Tak peduli lagi aku soal Pegasusnya yang tidak waras. Tak peduli lagi aku dengan dentuman suara knalpotnya yang masuk ke telingaku tanpa permisi. Tak peduli lagi aku dengan garangnya singa lapar itu yang statusnya masih dipertanyakan. Tapi yang pasti, saat itu, aku telah merdeka, selamat dari kuda besi sialan itu.

Hari-hari berikutnya aku lewati dengan menaiki bus kota menuju sekolah. Berbulan-bulan lamanya aku ke sekolah dengan naik bus kota, seakan-akan aku lupa sudah menunggangi kuda besi yang tidak jelas itu. Namun, hari ini, selagi menunggu di halte, kulihat jelas dari kejauhan, sebuah bus kota terlihat mendekat. Seorang kernetnya turun dengan memakai topi merah menyapaku. Apa yang dikatakannya membuatku hampir ambruk.

“Eh, Doni, ayo kita pergi ke sekolah” katanya pelan. Aku terdiam. Tak mampu aku mengucapkan kata apapun. Rasa-rasanya kepalaku membeku seperti disiram air es. Lama aku mematung memandangi sahabatku satu ini. Ia memang anak yang susah diatur, tapi ia merupakan salah satu murid yang terbaik di sekolah kami.

Mendengar ceritanya, aku terhenyak. Memang beberapa bulan, kami jarang bertemu karena rumahnya telah pindah. Sekolah kami memang sama, tapi tidak di kelas yang sama. Usaha ayahnya bangkrut, dan ia memutuskan membantu ayahnya mencari nafkah. Mengenai sekolah, ia pindah kelas di siang hari. Memang sekolah kami saat itu terdapat kelas pagi dan siang. Belum sempat aku menyampaikan simpati, tiba-tiba dia langsung mengejutkanku.

“Are you ready?” katanya penuh semangat, sambil mengunyah senyum. Secara harfiah, aku mengerti arti kalimat itu. Namun mengenai makna tersiratnya aku masih samar-samar. Ingin aku langsung menanyakannya, tapi ia membuang muka. Sedetik kemudian, sang sopir yang sudah sedari tadi memperhatikan penduduknya hampir penuh, lalu ia membuka perkenalan lewat lagu.

Awal-awal lagu masih kalem, begitu mendengar aba-aba dari sang kernet “go”, semuanya berubah drastis. Bus kota yang kutumpangi, bukanlah bentuk sebuah bus namun menjelma menjadi bus yang dimodifikasi kencang untuk arena balapan. Badanku, tanganku, kakiku, seluruh organ tubuhku, bahkan sepatuku terlihat berpegangan erat, dihentak makhluk yang tak berperasaan ini.

Lagu yang kudengar bukanlah lagu kalem, namun berubah menjadi lagu disco remix, sedikit membuat kepalaku pusing, telingaku menyempit, mataku berputar-putar, namun anehnya, badanku bergoyang-goyang. Memang aneh tapi itulah sensasinya.

Baru kusadari, ternyata inilah makna tersiratnya, yang sejak tadi aku tanyakan. Pantas saja ia membuang muka, pasti ini karena ulahnya. Sahabatku satu ini, masih saja ia mampu menyulam senyum dibalik lukanya. Setelah sampai di sekolah, masih sempat ia berkata, maafkan aku kawan, telah membuat sepatu barumu itu sampai robek tempo hari. Aku hanya mematung, melihatnya pergi meninggalkan debu.

Belasan tahun berlalu, sepatu baruku kini telah lusuh. Kendati lusuh dan layu, dialah yang meninggalkan jejak, tak lekang oleh waktu.

Cerpen Karangan: Muhammad Irsyad
Blog: blogmutiaraku.wordpress.com

Cerpen Sepatu Berdebu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Sejati

Oleh:
Hai namaku Michael Alyesha. Aku masih duduk di bangku kelas tiga SD. Aku mempunyai seorang sahabat ia bernama: Chika jessi, namun aku seiring memanggilnya dengan sebutan chika. Hari-hariku selalu

Bakso Terakhir

Oleh:
Hai.. Nama gue mellody.. Hari ini, habis pulang sekolah.. Gue mau makan bakso di wabak (warung bakso) pak somath, bareng anya. Anya.. Dia itu orangnya asik.. Enak diajak curhat,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *