Sepatu Terbaik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 16 October 2016

“bangun, bangun. kita hampir sampe nih. heii” tubuhku diguncang-guncang dengan menyebalkan. membuatku reflek mendorong dan mencubit gumpalan daging yang bisa kugapai
“AWWSS! sial dicubit” kudengar suara menggerutu di sela sela desahan rasa sakit. tubuhku berguncang menahan tawa, lalu.
“AHAHAHA GELII” ada tangan jahil yang membombardir pinggangku. kelitikannya sangat geli sampai aku terbentur kaca jendela.
Mau tidak mau aku membuka mata. kulihat di sebelah kanan ada manusia paling menyebalkan di muka bumi ini sedang terbahak-bahak memegang perutnya.
“lucu?”
“lumayan” gelaknya
Tanganku sudah terjulur siap balas menggelitiknya, tapi ada pramugari menghampiri kami. aku agak takut, takut dilempar dari sini karena membuat kegaduhan pagi-pagi buta
“excuse me, would you to order breakfast?”
Menawari sarapan rupanya. lega.
“yes yes” kata Tari spontan. dia agak malu sebentar karena menyadari suaranya yang sangat bersemangat karena lapar.
“hem, I’m order one toast bread with pineapple jam, croisant, cereal and hot milk” katanya dengan suara yang dibuat stabil mungkin.
“Ok, for you?” tanya pramugari itu padaku.
“I’m order chicken porridge, chicken sausage, croissant with honey and tea”. Tari membulatkan matanya ke arahku, lalu ke perutku.
“Ok, wait a moment please. I’ll insert to your chair”
“thank you” jawab kami berdua.
Setelah memastikan pramugari tadi sudah pergi..
“Lapar?”
“Banget.” jawabku santai. lalu mencari handphone di saku jaket.
“Tapi menurutku toast bread dengan margarin dan over easy egg lebih sehat. Iya kan? aku ingin meralat pesananku bisa tidak ya?” tanya Tari.
“entahlah Tar, aku tak tau apakah kita bisa merubahnya atau tidak. tidak ada bel pemanggil pramugari kan disini? pfff”
Tari memajukan bibirnya sebal. lalu mengintip hp yang sedang kupegang
“Dia mengabarimu?”
“Tidak”
“Lalu untuk apa kau hanya menggeser-geser menu supaya terlihat sibuk?” tanyanya dengan raut wajah menahan tawa
“BUKK!” sebuah bantal tepat meluncur ke wajahnya yang menyebalkan. lalu aku tertawa juga.
Sial juga anak satu ini. bikin malu saja. haha

Kami terpingkal-pingkal tanpa henti pagi itu. menggosip dengan berbagai macam topik. mulai dari kisah cintanya yang menggelikan, tentang teman kami yang menyebalkan, tentang keluarganya, temannya, saudaranya, yang diselipkan lelucon agar tidak membosankan. entah, aku suka mendengar setiap cerita yang ia ceritakan padaku. walaupun sebenarnya tidak penting, aku suka mendengarnya. tidak lama ada tiga koki datang menghampiri kursi kami membawakan hidangan sarapan yang tadi kami pesan.
“thank you sir” seru kami berdua setelah semua makanan telah ditaruh.
Koki itu tersenyum lalu berlalu pergi.
“Aku ingin over easy egg haff” gerutu Tari.
“Sudah, makan saja apa yang ada di depanmu. atau kau lebih suka makan temen? hhahaha”
“SIALLL” Tari tergelak sambil menusukkan sendoknya ke perutku. aku menepisnya.
Kami makan dengan lahap. perut kami sudah lapar sekali walaupun belum lama kami sudah makan mie ayam 57 dengan double pangsit dan tea jus. ya, inilah kami.

“Kau jangan tidur lagi, kita sudah mau sampai di Padang.” katanya lalu menggigit satu croisant besar.
“Benarkah? waw! oke aku tidak akan tidur lagi.” kutelan satu sosis ayam besar “Tahun depan gantian kau yang harus berkunjung ke Pekalongan, oke? kau harus melihat tempat yang bernama Pagilaran. sangat indah!” seruku lalu melahab satu sosis ayam lagi.
“Tenang saja. tapi apa kau tak ingin pergi ke tempatnya? kau dijanjikan akan diajak ke tempatnya untuk dikenalkan dengan keluarganya kan?” godanya sambil menyenggol bahuku. aku tersedak.
Tari terpingkal-pingkal melihatku.
“Hei sudahlah jangan ingatkan aku dengan dia lagi. aku sebal sekali.” gerutuku
“Oke oke sorry hahaha” tapi tidak ada raut penyesalan pada wajahnya, yang ada rasa puas karena meledekku. Aish, benar-benar!

Makanan kami tidak sampai 30 menit telah tandas tanpa sisa. Tari sampai menjilat-jilat sendok yang berlumur selai nanas dan kelihatannya ia masih lapar.
“Hentikan itu Tar, menggelikan sekali”
“Oh, ini lezat! kau mau?” tanyanya tanpa dosa seraya menjulurkan sendok itu ke arahku. aku langsung minggir.
“Yaik! jangan jorok dasar perut dugong”
“Lebay kau ikan pesut” timpalnya.
Aku harus berterimakasih pada dua waiters yang datang tepat waktu disaat sendok bekas jilatan itu hampir menyentuh bibirku saat sedang menguap.
“excuse me” kata seorang waiters yang bermata cokelat seraya mengambil piring-piring.
“its the bill” kata waiters yang lebih tinggi di sebelahnya, bermata cokelat juga.
Tari menghentikan aksinya menyuapiku dengan sendok menggelikan itu dan mengambil bill dengan sopan. aku melihat totalnya dan menyelipkan uang pada bill itu diikuti Tari. Lalu diberikan pada waiters yang lebih tinggi.
“thank you, have a nice trip with us” senyum kedua waiters dan berlalu meninggalkan kami.
Tari melirik ke arahku lalu nyengir.
Dan terjadilah perang bantal di tempat kami.

“kau benar-benar menggelikan! untung saja waiters itu datang. kalau tidak, aku bisa terkena virus jones” ku pegang tangannya dan kugelitik lehernya sampai terpingkal-pingkal.

“Plane will soon landing on Minangkabau Airport” seru suara di dalam pesawat.
kulepas tangan Tari dan dia terbatuk-batuk.
“yey! kita sampaiii” seruku lalu segera merapikan barang-barang.
“pinjam hp mu dong, hp ku lowbat.” pinta Tari “aku ingin menanyakan ayahku apa dia sudah sampai di bandara atau belum”
“ayahmu sendirian?” tanyaku seraya menaruh hpku disebelahnya.
Tik tuk tik tuk
“heii aku bertanyaaa”
“wait. oh tidak tidak, ayahku bersama uni. yak kenapa tema keypadmu alay sekali? dan terlalu kecil. susah untuk mengetik” ejeknya tanpa dosa
“sudah pinjam ngatain lagi!” kupukul keningnya pakai charge hp.
“Anjir sakit.”

Aku mengalihkan pandangan ke jendela, awan awan mulai meninggi. Kabut mulai menipis. Tak pernah kurasakan rasa sebahagia ini, bersama sahabat yang paling kusayangi dan cerita cinta kita masing-masing yang siap menyambut.
Terkadang, kita butuh waktu untuk beristirahat dari makhluk adam yang membosankan. Karna sahabat wanita bisa berperan layaknya saudara bahkan keluarga yang membuat kita lupa apa itu rasanya kecewa dan patah hati. Atau disaat kita sedang tidak akur dengan pasangan kita, sahabat wanitalah yang membuat kita melengkungkan bibir lebar-lebar dan tertawa sepuas hati.

Pesawat yang kami tumpangi telah mendarat dengan aman. perutku terasa mual karena perjalanan landing tadi.
“Ssstt, tul. tul” bisik Tari sambil menyenggol-nyenggol bahuku. Aku makin mual.
“Atul. lihat kesini sebentar.”
Aish, anak ini.
“Ada apa?” Mataku membulat. Sebuah video call dari lineku.
“Siapa lagi ini? rekan kerja? sepertinya aku tidak pernah mengenali wajahnya jika ia satu sekolah dengan kita” wajahnya dekat sekali dengan layar hpku, lalu cepat-cepat kuputuskan panggilan itu.
“Kenapa?” tanya Tari heran.
“Dia rekan kerjaku. biasa, hanya tukang modus.” jelasku santai. “ayo kita turun.”

Angin menyapu wajahku ketika tiba di pintu pesawat. Lapangan luas dengan latar pesawat bertebaran di kejauhan. Kugenggam erat koper pink ku yang lumayan berat. Tidak, ini lebih berat dari sebelumnya. Kenapa begini? sepertinya tadi tidak seberat ini.
“Tul, titip belanjaanku ya. Ntar di bandara ayah yang bawa kok. oke?” bisik Tari sambil menjulurkan jempolnya ke wajahku dengan pede.
Mataku membulat. Gila, ini berat banget cuy.
Kukeluarkan tenagaku yang tersimpan selama ini untuk menarik koper pinkku yang sudah tidak terlihat unyu lagi karena beratnya.
Aish, benar-benar. Dimana Tari? Kepalaku celingukan kesana-kemari seperti anak hilang.
Baru tadi ia berbicara di sebelahku, kenapa cepat sekali menghilang?
Kutarik sekuat kuatnya sampai buku-buku jariku memerah.
Aish, teganyaa.
Srett srett.
Rodanya pasti lecet nih, pikirku.
“Maaf, biar kubantu” aku terlonjak kaget.
Koper pinkku diangkat oleh seorang laki-laki.
Kusipitkan mataku untuk melihat lebih jelas karena sangat silau.
Satu kata yang pertama terlintas di pikiranku, ganteng.
Dia jalan mendahuluiku, lalu kususul di sebelahnya.
Siapa ya, baik banget. pikirku.
“Kemana nih?” tanyanya tepat melihat ke mataku.
“Oh, sebentar” mataku menelusuri seisi bandara. Ah, itu tari. Sedang enak-enakan minum teh botol di kursi. “Itu disana, yang ada wanita baju biru dongker sedang minum teh botol di kursi. tidak apa? koperku berat banget loh?”
“Tidak apa.” jawabnya santai lalu menuju ke arah yang ku tunjuk. “Yang lagi sama bapak-bapak baju putih kan?”
“Iya” jawabku agak canggung. Baik banget sih.

DUG.
“Terimakasih banyak. mau minum dulu?” tanyaku ramah. Tari melotot tanpa kedip melihat pria yang habis membawakan koperku.
“Tidak usah, sama-sama. Kasian tadi kamu susah payah bawa koper seberat ini sendirian. Aku duluan ya” senyumnya manis lalu berlalu pergi. Sepertinya buru-buru sekali.
Tiba-tiba ada yang meremas bajuku.
“Siapa itu? ganteng banget!” rupanya Tari.
“Ada deh” jawabku sambil pasang wajah kusut. Emang udah kusut sih abis panas-panasan tadi.
“Yah iya deh sorry. haha sini belanjaannya biar nggak berat lagi.” ocehnya lalu membongkar koperku tanpa kusuruh. Mengeluarkan tas make up, catokan, sweter, cardigan super panjang, lalu makanan yang kami beli di Toko sebelum berangkat.
Pantas koperku jadi berat banget.

Jarak dari Bandara Internasional Minangkabau ke Bukittinggi akan memakan waktu sampai 2 jam.
Keluar dari bandara, langsung dipamerkan keangkuhan Bukit Barisan di depan mata, sungguh indah, rimbunan pepohonan hijau terlihat dari bandara. Ketika kualihkan pandanganku, lingkungan bandara ini juga indah. Taman-taman terlihat subur dan warna-warni unsur Minang terlihat di ornamen bangunan bandara dan sekitarnya. Bandara ini memang jauh lebih kecil dari Soekarno-Hatta, tapi terlihat sangat terawat.
Perutku sudah lapar lagi untuk kesekian kalinya.

“Tar, apa kita tidak mampir dulu beli makanan? perutku sudah melilit nih” keluhku dengan alasan klasik.
“Tenang, nanti kita coba-cobain makanan khas bukittinggi.” jawabnya santai sambil ngemil kacang
“Kau tidak takut jerawatan?” kulirik kacang itu, ngeri.
“Takut sih, tapi gimana lagi. Cacing di perutku sudah meronta-monta minta sesajen” gelaknya sambil menepuk-nepuk perut. Dasar teman gila haha
“Apa aja makanan khas bukittinggi?”
“Oh banyak. Ada lemang tapai tanpa alkohol, ya. Terus nasi kapau dengan sayuran wajib kol kuning, daun singkong dan dadak rendang (potongan singkong kering dalam bumbu rendang), ditambah ayam rendang dan dendeng batokok.” jelasnya panjang lebar. Perutku semakin lapar.
“terus apalagi?”
“Bubur Kampiun, bubur manis. Isinya campuran lupis, bubur lemu, candil, bubur kacang hijau kemudian disiram santan dan gula merah.”
Glek. “Ohh enak ya” hanya itu respon yang bisa kukeluarkan. Kupejamkan mataku. Aku lapar sekali.
“Terus nanti sore kita ke jam gadang.”
Mataku terbuka. “jam gadang! kapan?”
“Sore aja, lebih enak kalau sore kesana” katanya. Sampah kacang di plastik hampir penuh. Aku ngeri membayangkan jerawat sebesar kacang akan tumbuh di wajahnya.

Cukup panjang jeda kami terdiam di mobil. Aku sibuk melihat suasana di luar mobil. Orang bukittinggi ternyata telah memiliki rambut yang bagus dari kecil. Aku suka sekali melihat rambut mereka ketika dikibaskan ketika sedang bermain. Lucu dan anggun.

Tiba-tiba mobil berhenti. Kulihat papan nama.
PICAL AYANG
Lokasi: Jalan Ateh Ngarai (simpang Ngarai Sianok).
“Turun tul!” katanya bersemangat. Ia lupa kalau plastik sampah kacangnya dia letakkan di pangkuannya dan berserakkan kemana-mana.
“Aduh tar, menghambat waktu makan aja” timpalku sambil memungut kulit-kulit kacang ke dalam plastik.
Selesai dengan pekerjaan yang tidak penting tadi akhirnya perut akan segera terisi.

Aku memesan bubur kampiun, seperti yang dijelaskan Tari di mobil tadi. bubur manis dengan campuran lupis, bubur lemu, candil, bubur kacang hijau kemudian disiram santan dan gula merah. Karena Bapak Duloh (ayah Tari haha) tidak suka bubur, dia coba lontong sayur yang rasanya sih enak, tapi lebih enak lagi kalau kuahnya panas. Selain itu kami juga mencomot beberapa gorengan seperti perkedel, martabak mini dan bala-bala. Masih banyak lagi makanan yang dicoba di sini, diantaranya picalnya yang sepertinya menggunakan mie. Harganya murah pula, semangkuk bubur kampiun dibandrol Rp 6.000,-, lontong sayur tanpa telur Rp 5.000,- dan gorengan Rp 1.000,- per buah.
Kami melanjutkan perjalanan lagi. Mataku mendadak mengantuk sekali. Ini kebiasaanku ketika kenyang. Aku pun tertidur di mobil serasa mobil sendiri.

“Bangunn! atau kutinggal di mobil sampai malam dan kukunci.” ancam sebuah suara menyebalkan lagi yang suka sekali merusak tidur nyenyakku. Kulanjutkan tidurku lagi.
“Udah sampai nih heii bangun!”
Gempa. Sial tubuhku diguncang-guncang keras sekali. Kukira gempa.
“Yakk iya iya.” kugosok-gosok mataku. Lalu mencari sekeliling.
“Koper kita di bagasi. lupa?”
“Oh iya” kenapa aku jadi amnesia seperti ini.
“Ayo turun. Uni ku masak rendang dan lemang”
Kulangkahkan kakiku ke luar mobil. Hal yang pertama kali kulihat adalah HIJAU.
Hijau dimana-dimana. Sejuk. Asri. Alami. Asli. Apalagi kata yang bisa kuungkapkan, aku terpesona oleh ciptaan Tuhan yang sangat mengagumkan.

Koperku dan Tari telah diangkut oleh keluarganya disana. Ketika aku melangkahkan kaki memasuki rumahnya, benar-benar ramai sekali.
Kutundukan badanku dengan sopan dan tersenyum berkali-kali, bersalaman, berkenalan. Lalu Tari mengajakku ke kamarnya yang biasa ditempati oleh dua orang uninya.
“Tulangku serasa copot” keluhnya sambil melompat ke tempat tidur.
“Tulangku serasa bergeser dari tempatnya” susulku melompat ke tempat tidur di sebelahnya.
“Apa sudah ada yang menghubungimu?” tanyanya dengan mata terpejam dan memeluk bantal.
“Banyak sebenarnya, tapi aku malas membalasnya.” kupejamkan mataku. Lelah sekali.
“Kau termasuk beruntung. banyak pria di luar sana yang berusaha mendapatkan perhatianmu, tapi kau malah mengacuhkannya”
Kubuka mata, kutengok ke arahnya. Dia masih terpejam. Kembali kupejamkan mataku.
“Kalau kau tak menyukai orang itu, jangan meladeninya hanya karena kau tak ingin kehilangan penggemar.” jawabku. “karena sebuah respon baik bisa diartikan lebih dari itu. memberi harapan pada seseorang yang tidak kau sukai bagiku hanyalah umpan untuk memanggil karma.”
Tari menghembuskan nafas berat.
“Kau benar.”

Tok tok tok
“Tar?” kubuka mata terkejut.
“Itu pasti uni.” Ia melompat berdiri dan turun dengan malas. Membuka pintu dan bercakap-cakap dengan uninya.
“Tul, ayo kita makan dulu.”
“Kau tidak ingin berganti baju dulu? baumu asem sekali, sungguh. Aku juga sih.” sergahku.
“Sial. Oke uni kita ganti baju duluuu.” Dia menutup pintu dan berlari ke arah koper.

Makanan buatan uninya Tari tidak ada duanya bagiku. Lezat seperti makanan reatoran tapi tetap kental dengan rasa cinta masakan rumahan. Susah dideskripsikan bahkan bawang goreng yang tidak kusukai karena pahitnya kini lahap kucemili karena begitu gurih dan renyah.

Aku berbincang-bincang berusaha mengakrabkan diri di rumah ini. Gaya bicara orang Padang memang agak keras tapi sebenarnya ramah sekali.
Pukul 3 sore aku dan Tari kembali ke kamar setelah menghabiskan berpiring-piring nasi dan bertoples-toples cemilan.
Tanpa perbincangan apa-apa, setelah masing-masing telah terbaring di tempat tidur, kami sudah terlelap begitu saja. Tidak bisa kubayangkan berapa berat yang harus kutanggung nantinya pada tubuhku.

Aku terbangun mendengar kegaduhan di luar kamar. Kuraba ke atas meja mencari hpku.
Ya Tuhan, 9 kali video call. Kurang piknik mungkin dia? kubalas linenya “ada apa?” lalu kumatikan data.
Aish, Tari belum bangun juga padahal sudah sore sekali. apa dia lupa kalau kita ingin pergi ke jam gadang? menyebalkan sekali.
Kulempar sebuah bantal ke punggungnya. Tidak ada reaksi. Dua bantal. Tiga. Lalu kubombardir bantal berkali-kali.
“Kebakarann!! Tarr, awas api di atas kepalamu!! Aaa!” seruku sendirian seperti orang gila.
“Tolonggg! Kakiku terbakar aww!” teriakku namun masih dengan suara yang stabil.
Lalu punggungnya membalik perlahan.
“Please, tul. Sudah berapa kali kau pakai cara itu untuk membangunkanku? benar-benar tidak kreatif.” ujarnya santai. Lalu bangun dan berjalan ke arah pintu dengan kaki terseret-seret malas.
Mulutku masih terbuka karena berseru tentang kebakaran tadi. Baru teringat, dulu di kelas aku selalu begitu untuk membangunkannya, dan selalu berhasil dengan ia terbangun dengan wajah ketakutan yang bodoh. Mungkin sekarang sudah tidak mempan lagi. malah aku yang terlihat bodoh sekarang.

Ku berjalan ke luar pintu. Ternyata orang-orang ramai sedang mengemas barang-barang dagangan yang akan segera diangkut. Orang Padang memang telah berteman dengan profesi berdagang.

Aku membantu seperlunya. seperti membuatkan es teh, menyiapkan makanan sambil sesekali bercanda dengan uni uni yang sangat ramah. dabu disini juga tidak segalak tampang mereka, aku disuguhkan dua bungkus besar yang isinya sate Padang. Nikmat Tuhan mana lagi yang ingin kau dustakan?
Kulahap sate itu di ruang makan belakang, sepi. Jadi aku leluasa untuk makan. Satu bungkus kusisakan untuk Tari.
Karena ia mandi lama sekali, sebungkus besar sate itu habis pun ia belum juga ke luar dari kamar mandi.
Kutengok jam dinding menunjukan pukul 5. Kalau begini bisa malam hari baru sampai di Jam Gadang. gerutuku sambil menyendok sisa bumbu sate yang sayang untuk dibuang.
Klek.
Ah, selesai juga dia.
“Wah, sate Padang kau habiskan sendiri?” tanya Tari dengan wajah memelas.
“Tidak lah, punyamu ada di plastik. Kau ngapain aja di dalam? luluran pakai madu atau mandi susu?” cibirku sambil mengambil handuk di meja.
Dia tertawa geli.
“Jam Gadang tidak tutup di malam hari, dasar alay. Bahkan jika kau ingin menginap di dalamnya dengan memeluk jarum jam sebagai guling. Hahaha” dia merobek plastik hitam itu seperti gorila lapar.
Aku lega mendengar jam gadang masih buka malam hari sekaligus menggeleng-gelengkan kepala ngeri melihat ia yang kelaparan.

Sore menjelang malam di sekitar Jam Gadang. Aku sibuk memasang hp pada tongsis pink yang kubeli di sana. Lucu, ada boneka tedynya.
Lalu kita berfoto-foto tanpa peduli orang-orang melirik beberapa kali. sirik aja, pikirku. nggak punya ya di rumah? wkwk
Lalu aku menarik tangan Tari menjauh dari cabe-cabean Padang yang tanpa henti memandang sinis kami.
“Kita harus makan! Aku lapar lagi.” seruku padanya sambil menelusuri seisi jalan di sekitar jam gadang.
Nah, apa itu? Mataku melihat orang-orang membawa makanan seperti kipas lebar dengan sesuatu di atasnya.
“Hei, ayo kita kesana! makanan apa itu?” seruku pada Tari sambil menunjuk ke arah pedagang pikulan. ada bapak-bapak tua yang sedang sibuk membuat makanan dagangannya.
“Oh, itu krupuk siram. ayo coba!”
Seharusnya sih katanya ini kerupuk siram mie, namun saat itu aku hanya ditawari siram bumbu kacang yang ternyata rasanya mirip bumbu kari. Harganya Rp 4.000,- untuk sepotong kerupuk lebar yang dilumuri bumbu sate/kari. Enak buat cemilan sambil menikmati sunset di sekitar Jam Gadang.
Kulirik Tari yang sedang menggigit krupuk dengan hati-hati agar tidak tumpah siramannya. aku tertawa diam-diam. Bagiku, kami adalah sepasang sepatu. walaupun tidak mewah, apalagi mahal. kami saling, melengkapi walau sering terdapat konflik yang tidak bisa kami pahami.
Walau terdengar berlebihan, tapi aku menganggap kami adalah pasangan sepatu terbaik yang pernah ada. Tanpa salah satu dari kami ada, tidaklah lengkap. Dialah sepatu terbaikku. Kami.

Cerpen Karangan: Syadiatul Jannah
Blog: syadiatul-jannah.blogspot.com

Cerpen Sepatu Terbaik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pertengkaran Pertama

Oleh:
Jumat, 25 Agustus 2013. Seperti biasa hari ini aku pergi sekolah. Aku adalah siswi di salah satu sekolah menengan pertama di kota Pasuruan. Sekarang aku sudah berada di kelas

Obat Rasa Jeruk (Part 2)

Oleh:
Sesaat kemudian aku terbangun aku sudah ada di bangku milikku, kepalaku juga sudah tak sakit lagi, dan pelajaran olahraga telah usai, semua orang telah kembali ke kelas. “Serius Belle?”

Kisah Gokil di SMA

Oleh:
Ku tatap nanar sebuah album foto dengan sampul hijau muda di halaman depan dan sampul hitam di belakangnya. Tampak kusam dan berdebu. Perlahan jari-jemari yang lancip meraba album ini.

Good Day

Oleh:
Langit begitu mendung hari ini, beberapa orang mungkin akan memilih tetap berada di rumahnya. Tapi tidak dengan seorang gadis cantik yang sedang berlari di pinggir jalan itu, di tangannya

Broken

Oleh:
Cinta Perasaan yang amat sakit jika terus menerus kau pendam, namun akan lebih baik kau pendam jika kemungkinan seseorang yang kau suka tak mempunyai perasaan yang sama. Jika cinta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *