Sepenggal Kisah: Necessary 1st (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 January 2016

Rasa sayang ini akan selalu hangat ketika aku memikirkannya. Dan mereka semua akan selalu bersamaku. Kita memasuki sebuah rumah yang sama. Kita sudah bercengkerama riang di rumah itu dan menjadi sebuah keluarga besar yang bahagia. Namun aku tahu bahwa suatu saat seorang anak akan meninggalkan rumahnya untuk sesuatu yang lebih baik. Maka sebelum kalian pergi dan selagi kita masih bisa menatap satu sama lain. Izinkan aku untuk menuliskan jejak rekaman perjalanan kita. Ia yang ku lihat rupanya dan ku dengar suaranya hari ini. Maka dia yang akan ku kenang meski sudah tak di sini lagi. Karena ketika di perantauan kau merasa lelah dan ingin melepas penat walau hanya sejenak. Atau sekedar menengok keadaan sahabat-sahabat yang telah kau tinggalkan. Manbis akan selalu menyambutmu sebagai sebuah rumah untuk pulang.

Sore itu sudah hampir magrib dan udara dingin Lembang semakin terasa di sana. Matahari telah kembali ke peraduannya ketika mereka datang ke komplek BRSPP Lembang. Beberapa ada yang pakai motor sambil boncengan dan ada juga yang carter angkutan umum. Jarak dari Universitas Pendidikan Indonesia ke BRSPP Lembang juga tidak terlalu jauh. Mungkin sekitar dua puluh menit kalau enggak macet. Napasku sudah mulai tersengal-sengal ketika kami memasuki komplek BRSPP. Semua ini gara-gara Vikrar yang ngebut dari kampus. Kami sempat berhenti di Indomaret di kawasan sebelum pasar Lembang.

“Eh Vik, nyetirnya serem amat! Jangan ngebut dong!” Kataku.
“Iya gitu? Segitu tuh enggak ngebut. Biasanya lebih ngebut dari itu.” Katanya enteng. Eh sialan lo! Segitu dia nikung tajem banget, dia kira trek moto GP apa?
“Jangan terlalu ngebutlah Vik. Serem.” Kataku memaksa.
“Okelah…” Ternyata kata ‘Oke’ tak se-oke kenyataannya. Dia tetep aja ngebut dan bikin aku istigfar sepanjang jalan. Terlihat Farhan dan Aris ada di depan motor kami dan Deda tidak jauh di belakang dengan tongkat kakinya yang dia cangklokin di punggung persis kayak orang bawa samurai di punggung. Aku sempet kaget juga sih, kakinya Deda masih cedera gara-gara kecelakaan sembilan bulan lalu dan ternyata dia masih bisa mengendarai motor.

Kami sempat bertanya pada tentara di depan Pusdikjen tentang BRSPP dan tahunya di depan Pusdikjen itu ya komplek BRSPP. Bego kan?! Kagak dilihat dulu sih! Ketika kami masuk gerbang komplek BRSPP kami langsung melihat bangunan-bangunan semi klasik yang bernuansa krem seperti rumah-rumah Demang zaman dulu. Ada jalan memutar bundar di depan gerbang masuk dan ketika kami mengambil jalur kanan sudah banyak orang yang bersiap untuk masuk ke dalam mesjid. Karena saat itu memang sudah memasuki waktu maghrib. Mereka semua menatap kami dengan tatapan ‘anak mana nih?’ Tapi toh kami terus maju hingga melihat beberapa motor dan satu mobil yang terparkir di salah satu rumah.

Rumah itu rumah yang paling ramai di antara rumah yang lain. Lampunya sudah dinyalakan dan ada beberapa orang yang hilir mudik keluar-masuk sedang menyiapkan perlengkapan acara. Banner besar bertuliskan Necessary 1st sudah tertempel rapi pada dinding di dekat teras rumah. Tak jauh dari sana Dini, Frisya, dan Nadia yang siap menyambut anak-anak yang baru datang layaknya pager ayu di acara pernikahan. Aduh.. yang ini seger bener! Sebelum masuk rumah kami harus tanda tangan dulu. Bahkan di tempat ini aja ada absennya. Rajin sekali.

“Hai Kharisma.. Selamat datang!” Ku dengar suara Anbar menyapaku. Sepertinya dia sengaja berdiri di teras rumah untuk menyambut mereka yang datang. “Hai!” Balasku.
“Makasih loh udah datang.” Katanya. Dia pun menyambut yang lain. Saat datang aku tidak langsung masuk. Aku berdiam di sana, entah sedang apa sebenarnya.

Sesekali ikut menyapa mereka yang sudah berada di sini duluan dan sisanya memperhatikan keadaan sekitar. Bangunannya, pohon, taman, langit, dan banyak lagi. Bangunannya kecil tapi ku rasa cukup untuk menampung sekitar tujuh puluh orang dan ku rasa rumah ini sangat pas. Tidak terlalu besar tidak terlalu kecil. Makin deket makin anget. Ilyas dan Alfi ku lihat sedang mengurus jagung yang nantinya hendak dibakar. Nadiya, Frisya, dan Dini masih sibuk di tempat absen. Bang Indra masih hilir mudik ke sana ke mari, nah yang satu ini emang paling sibuk. Lalu tak lama kemudian Jihan dan Nelson sampai di sana diikuti dengan rombongan yang pergi naik angkot.

“Loh kok itu udah dateng? Argi! Kenapa enggak dijemput? Kasihan, mereka jalan dari bawah!” Aku lupa siapa yang teriak waktu itu. “Oh, mana?” Argi menegadahkan kepalanya ke arah mereka yang datang. “Kenapa gak ada yang ngasih tahu?” Ujarnya. Lagi pula mau ngejemput mereka pakai mobil pun sudah terlambat, jadi Argi duduk lagi deh.

Enggak sampai sepuluh menit kemudian Ades, Della, Frisya, dan lainnya udah foto-foto aja. Lalu yang lainnya ada yang absen terus ada yang ngobrol-ngobrol juga. Sekali lagi aku lihat Anbar sedang menyapa dan mengucapkan terima kasih pada mereka yang baru datang. Begitu juga dengan Bang Indra, meskipun dia sibuk dia masih sempat mengucapkan selamat datang pada yang baru sampai. Sejenak aku merasa kalau kami ini adalah teman yang sudah lama tak berjumpa dan sekarang sedang reuni. Padahal kami baru kenal sekitar dua bulan. Tapi melihat mereka saling meyapa, bercengkerama, dan bercanda riang. Membuatku berpikir hidup ini begitu ajaib. Dalam waktu sesingkat itu Tuhan telah membuat kami bisa sedekat ini. Bahkan tak ada hubungan darah yang mengikat kami dan sekali lagi Tuhan menunjukan caranya yang maniiiss bangeet untuk mempersatukan orang-orang ini.

Udara sore menjelang malam di Lembang begitu menusuk dan kalau diperhatikan ada kepulan asap tipis ketika kami bernapas atau berbicara. Aku pun masuk kedalam rumah tanpa membuka kaos kaki. Ruangan ini terasa hangat menurutku. Lantainya berwarna merah marun. Pintu, jendela, bahkan anak tangganya terbuat dari kayu. Membuat aku pribadi merasa benar-benar seperti berada di rumah. Gitar berwarna putih yang sedari tadi menganggur kini akhirnya dimainkan juga. Ku lihat Stefany mengambil gitar itu dan mulai memetiknya. Tanpa perintah aku berjalan menghampirinya, begitu juga dengan Ades dan beberapa orang yang lain. Kami mulai bernyanyi. Dengan hanya bermodal suara dan petikan gitar aku merasa kalau saat-saat ini benar-benar berarti. Aku baru tahu kalau Stefany jago main gitarnya. Sultan pun mengakui itu.

“Step, entar kamu tampil yah.” Kata Sultan di sela-sela permainan gitarnya.
“Enggak ah, kalian juga bisa kali.” Tolak Stefany.
“Ih siapa? Enggak ada yang bisa.”
“Lah ini sih siapa yang bawa gitar?”
“Ya, kita mah bawa aja.” Sejenak kami tertawa mendengar perbincangan itu. Aneh juga kan kalau bawa gitar tapi enggak bisa mainnya.

“Tuh Bang Ghif, masa kalah sama cewek.” Kata Sultan yang nepuk bahunya Ghifari.

Kami masih bernyanyi dan semakin lama makin banyak yang berkumpul di sekeliling kita untuk sekedar melihat atau ikut bernyanyi. Alfi dan Nelson sudah siaga dengan kameranya, dengan cekatan ia langsung merekam momen ini. Anak-anak yang lain pun ikut bernyanyi dan ikut duduk di lantai. Di antara wajah-wajah yang tersenyum itu tak sengaja ku lihat Bang Indra berdiri agak jauh di belakang. Masih membawa tab dan buku agenda andalannya.

Orang bilang terkadang satu tatapan mata bisa bercerita lebih banyak dari pada mulut yang berbusa, dan hari itu entah keberapa kalinya aku mengakui kalau hal itu benar adanya. Bang Indra sedang tersenyum di belakang. Matanya yang sipit menjadi segaris dan ada beberapa kerutan di sekitar mata dan keningnya. Entah kenapa aku merasa kalau jika ada orang yang paling senang atas berkumpulnya kami semua di sana. Tak lain itu adalah Bang Indra. Tatapan matanya seolah mengatakan. ‘Akhirnya, mereka kumpul juga. Enggak sia-sia kerja keras gue.’

Ia juga seperti seorang bapak yang sedang melihat anak-anaknya berkumpul. Berasa lebaran deh. Tapi beneran, hasil tidak pernah mengkhianati usaha dan jerih payah Bang Indra yang mengajak kami satu-satu untuk ikut kumpul di sini tidaklah sia-sia. Selepas Maghrib kami semua disuruh masuk ke dalam rumah untuk makan malam. Segunung nasi kotak sudah tersedia dan siap untuk dibagikan. Layaknya anak TK yang lagi nunggu jatah makan, di ruangan itu ribut sekali. Ada yang ngobrol tentang pertandingan bola, tentang dinginnya udara Lembang, atau sekedar ngobrol enggak penting. Semuanya bersuara. Kali ini yang memegang acara adalah Dini yang menjadi host pada sesi ini. Berkali-kali ia berteriak agar anak-anak tidak ribut.

“EH! SEMUANYA HARAP TENAAANGGG!” Akhirnya ia Ibu Dini berteriak kencang sekali dengan mikrofon dan semuanya langsung sunyi senyap. “Eh, Ayo anak-anak jangan pada ribut!” Teriak Bang Indra sambil menepuk tangannya. Ia berbicara seperti bapak panti yang sedang menyuruh anak-anak asuhnya agar tidak ribut. Anbar memberikan mikrofon pada Bang Indra. “Sekali lagi saya ucapkan selamat datang… dan terima kasih pada kalian yang sudah menyempatkan hadir dalam acara Nite Ceremonial Solidarity Manbis 2015.” Riuh rendah mengiringi ucapan pemuda itu.

“Tuh kan pada seneng diajak ke sini, yang tadinya enggak mau enggak nyesel kan datang ke sini? Makasih buat panitia yang udah cape-cape nyiapin segalanya, kalian luar biasa… Pokoknya enggak akan nyesel deh. Nah, sekarang kita bakalan makan malem dulu terus setelah salat Isya nanti kita bakalan ada games di api unggun. Gamesnya pasti rame! Malem kita masih panjang guys!” Kata Bang Indra panjang lebar. Lalu mikrofon yang ada di tangannya direbut oleh Anbar.

“Oh iya nanti bakalan ada angket angkatan yang bakalan dibagiin, nanti jangan lupa di isi ya. Semuanya udah pada pegang pulpen, kan?”
“Udaaahh….”
“Pokoknya nanti setelah makan jangan lupa diisi, harus diisi semua dan kalau bisa sih orangnya jangan sama.”
“Oke…” Mikrofon diserahkan kembali pada Bang Indra.
“Nah, kalau gitu ayo kita makan! Selamat makan semuanya…”
Hidangan malam itu cukup sederhana. Hanya nasi dan ayam. Tapi yang paling penting dengan siapa kita bersantap malam itu. Semuanya sama, tak ada yang berbeda. Kami duduk di lantai merah yang sama. Sesekali bercanda di tengah suapan kami.

“Khar, aku udah kenyang gimana dong? Tapi sayang makanannya.” Kata Stefany yang duduk di sebelahku.
“Makan aja, tinggal dikit lagi ini.” Kataku.
“Asli, udah kenyang banget.” Sejenak aku berpikir, tiba-tiba aku teringat kata-kata Luthfi. Dia bilang kalau Vikrar gede makannya, seneng banget makan dan kebetulan Vikrar duduk tak jauh dari kami. “Tuh, Tep kasih aja Vikrar. Dia seneng makan, pasti mau.” Kataku menunjuk Vikrar yang masih khusyuk dengan hidangannya.

“Vikrar! Kamu mau enggak makanan aku? Aku udah kenyang banget, asli!” Kata Stefany yang menyodorkan box nasinya. Pemuda yang senang makan itu menatap kita dengan tatapan sumpeh lo? “Ih, aku teh udah makan empat box, ngabisin punya orang semua. Masa ditambah lagi?” Keluh Vikrar dengan nada bicaranya yang khas.
“Tapi aku kekenyangan, daripada kebuang.” Paksa Stefany. Awalnya nolak tapi toh akhirnya diterima juga. Vikrar… Vikrar…

Setelah kami makan malam, masing-masing dari kami mulai mengisi angket angkatan. Kurang lebih isinya begini:
Ter-ganteng, ter-cantik, ter-cabe, ter-sakiti, ter-ancam punah, ter-hedon, ter-supel, ter-aneh, ter-caludih (dekil), de-el-el. Kembali riuh rendah mengisi ruangan itu. Banyak yang bertanya-tanya apa itu caludih? Kalau kata Alfi caludih itu ‘cantik, lucu deh ih’. Padahal bukan, untung Anbar ngingetin. Caludih itu bahasa sunda yang berarti dekil. Tapi enggak diambil hati kok. Ini cuma buat seru-seruan aja. Jadi no problem at all.

“Stepani, tuh Stepani ter-caludih!!” Dari ujung ruangan Kevin berteriak.
“Jir! Berisik lo Sofi!” balas Stefany. Sofi itu adalah panggilan Stefany buat Kevin. Karena memang namanya namanya Sofian Kevin. “Iya, Si Step tercaludih!” Finki mengiyakan.
“Lo juga Finki. Berisik!” Nih anak kalau udah ngumpul bertiga, udah deh. Ribut….

Tak butuh waktu lama untuk kami mengisi angket angkatan. Sebelum adzan Isya berkumandang angket angkatan sudah dikumpulkan dan kami pun melakukan kegiatan kami sendiri-sendiri sambil menunggu adzan Isya. Ada yang tiduran di kamar karena mungkin kelelahan, ada yang mengobrol di teras, dan juga ada yang masih sibuk dengan pekerjaan panitia. Saat itu aku berada di kamar untuk sejenak merebahkan diri bersama beberapa anak perempuan yang lain. Jujur, tubuhku memang sedikit lelah setelah ber-manuver bersama Vikrar dari UPI ke Lembang tadi. Kepalaku juga sedikit pening.

Sambil rebahan sayup-sayup aku mendengar suara orang-orang bernyanyi dari teras depan. Kepalaku yang pening tidak ku pedulikan, aku tidak mau hanya karena sakit kepala kegembiraan malam ini jadi terganggu. Aku pun melangkahkan kakiku ke luar dari kamar. Ku lihat Nova, Della, Ana, Dilla, dan beberapa orang yang lainnya sedang berfoto tak jauh dari pintu. Awalnya tidak tertarik, tapi lama-lama makin banyak orang yang ikutan foto. Enggak tahan juga, dan akhirnya ikutan.

Kebetulan Nelson datang membawa tripod dan kami pun berfoto ria di tengah ruangan. Saking banyaknya yang ingin ikut foto, terpaksa Nelson harus naik dan bawa tripod-nya ke atas meja. Setelah beberapa kali jepretan dan dirasa sudah puas, kerumunan pun akhirnya bubar. Tapi masih ada yang ingin berfoto rupanya. Tessa, Della, Opi, Bang Indra, Vikrar, dan beberapa yang lain masih penasaran. Mereka berjajar dan mulai berfoto lagi. Aku yang sedang duduk di bangku pun memberikan arahan agar pose-nya lebih bagus.

“Eh, ayo dong gaya Komdis!” Kataku. Memang rasanya kurang kalau tidak di foto dengan menirukan gaya Komdis. Ya, komdis yang akhir-akhir ini menjadi bahan sorotan dan bahasan. Insya Allah bukan ghibah ya, hanya sekedar senang menirukan gaya dan bicaranya. Mereka pun memasang wajah garang dengan tangan terlipat khas komdis. Sorotan mata menantang ke arah kamera. Ku rasa mereka benar-benar menghayati ketika berpose ala komdis.

“Satu… dua… jepret!!”

Bersambung

Cerpen Karangan: Kharisma
Blog: rahmaniakharisma.wordpress.com

Cerpen Sepenggal Kisah: Necessary 1st (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nama Sederhana Yang Membuat Sebuah Harapan

Oleh:
pertama kali gue ngelihatnya di sebuah tempat, gue gak inget persis kapan waktunya tapi gue tau ketika gue ngelihatnya mampu ngebuat gue seperti berada di tempat yang begitu indah.

Power Five Girls

Oleh:
Power 5 girl sebutan bagi sekelompok perempuan muda yang ada untuk saling melengkapi, Bukan kelompok yang ada hanya untuk formalitas bukan ada karena Ikut-ikutn geng di sekolah saat masa

Geng Bando Hitam

Oleh:
Geng ini mungkin terkesan sangat asing, atau aneh. Geng ini terdiri dari empat anak, dua anak cewek dan dua anak cowok. Mereka tengah bersahabat sejak kelas X. Mereka bersekolah

Pertemuanku Dengannya

Oleh:
Aku baru saja ke luar dari gedung sekolahku pada sore itu. Sungguh lelah hari ini, mengikuti pembelajaran sore yang membosankan. “Akhirnya, selesai juga latihan menari sore ini.” Gumamku sambil

Cahaya yang Hilang (Part 1)

Oleh:
Gerbong adalah rumahku. Penumpang adalah langgananku. Tukang asongan, pengamen dan penjaga adalah teman karibku. Suara peraduan antara roda besi kereta dan rel mengawali harapan hidupku hari ini. Entah sampai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *