Sepotong Roti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 16 December 2015

Langit cerah matahari merangkak naik semakin tinggi. Burung pipit hinggap di pepohonan bersiul menghangatkan hari. Udara segar ku hirup dalam dalam hingga terasanyaman di hati. Apalagi temanku membawa secangkir teh hangat sari wangi. Ku reguk teh itu perlahan tapi pasti. Terasa nikmat menghangatkan tenggorokanku ini. Sepotong roti berlapis selai strawberry, menemani sarapan kami. Dengan lahap kami santap roti ini. Tidak perlu makan nasi pagi ini, cukup sepotong roti untuk mengganjal lapar di perut kami. Yang penting badan kami terisi nutrisi.

Tetapi temanku terlihat gelisah. Dia seperti disergap bingung dan resah. Aku tepuk pundak dan duduk di sampingnya. Aku menduga-duga kenapa dia. Tapi dia tidak memulai pembicaraan. Aku menunggu dia memberi pertanyaan. Kami seperti kekasih yang sedang dibalut kemarahan. Karena kami hanya saling bertatap dan bergelut dalam keheranan. Mata dia kosong menerawang. Hembusan napasnya berhembus panjang. Detak jantungnya berdetak kencang. Bak topan menerjang sejurus kemudian dia membuka mulut dan memulai pembicaraan.

“Roti? apa mungkin kuat?” tanya temanku heran.
“iya kuat! tenang saja” jawabku meyakinkan.
“oh..” jawab dia singkat. Nadanya kecut seolah dia meragukan.

Aku tidak menolak mentah dengan sikap protes jawaban itu. Aku anggap dia sedang menggerutu. Toh akhirnya mau tak mau sudi tak sudi kami harus memakan roti itu. Tapi tidak lama. Belum satu detik. Temanku diam membisu tak berkutik. Mata dia terus mendelik. Hingga aku tergelitik untuk bertanya tanpa koma dan titik.
“kenapa kamu? ragu” tanyaku.
“tidak! aku cuma tidak yakin.” jawab dia singkat.
“sudah mau tak mau makan saja.” perintahku.
“tapi…” potongnya.
“tapi apa? kamu ragu? sudah ini bekal kita yang tersisa.”

Dia terhentak dan matanya terbelalak. Mungkin dia kaget melihat sikap dan kataku yang galak. Aku dan dia tidak tahu siapa yang menolak. Aku marah karena dia selalu resah dan aku bersikap galak. Tak ada suara di antara kami berdua yang sama terhentak. Kami dirundung kemelut yang tak sudah di benak. Temanku bersikap protes, terlihat di delikan matanya yang judes. Mulut memang bersua pedes. Tapi aku tahu dia menolak mentah amarahku. Mimik muka dia seolah memberi penjelasan. Dia tak enak dimarahi. Aku bergelut di dalam kalut hatiku karam di laut dan terhempas gelombang.

“roti? masih ada satu lagi gak?” tanya dia.
“ada! tuh satu lagi.” jawabku menunjukkan salah satu roti.
Dia mulai menggerakkan tangan. Menjamah roti yang satu lagi di meja makan. Mataku mendelik membuang ke arah selatan. Perlahan tapi pasti bak harimau siap menerkam kijang jantan. Roti itu dilumat habis oleh dia yang memang sedang kelaparan.

“syukur!” ucapku lega.
“syukur kenapa?” tanya dia.
“syukur. Roti itu kamu makan. Berarti aku tidak membuat dosa hari ini.” jawabku.
“aku mengerti. Terima kasih.” ucapnya sembari bersalaman.
Akhirnya. Dia mengerti. Dia mengambil hikmah dari sepotong roti. Ini pelajaran nurani yang harus diresapi dan diilhami dalam hidup di dunia ini.

Cerpen Karangan: Anzar Rahadian
Facebook: Anzarahadian

Cerpen Sepotong Roti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenyataan

Oleh:
Angin bertiup sangat kencang. Awan hitam mulai menampakan sinarnya sedikit demi sedikit. Aku masih saja terus bertahan di bawah rerimbunan pohon tempat biasa ku mencurahakan isi hati, walaupun awan

Antara Kita

Oleh:
Dalam sebuah keterasingan aku berjalan kaku. Aku tak ingin menoleh sedikitpun ke belakang. Aku ingin terus menatap masa depan. Tapi di depan sana banyak sekali tikungan. Sebenarnya dalam hati

Kisah Sepotong Kue Brownies

Oleh:
Andai kejadian ini tak terjadi, dia pasti tak akan bersikap seperti ini padaku. Andai dulu kisah ini tak terukir, pasti dia tak kan meninggalkanku berlarut dalam sepi. Kini kebersamaanku

Cinta Bersegi

Oleh:
Dari kejauhan terdengar bunyi bel sekolah yang menandakan jam pelajaran akan segera dimulai, para siswa berlari agar tidak terlambat melewati gerbang, begitu juga aku dan rendi, kami berlari sekencang

Nay, Sang Teratai

Oleh:
Seseorang mengguncang tubuhku. “Yash! Bangun!” Aku menggeliat, menepis tangan yang mengguncangku itu sambil masih terpejam. Mataku masih berat untuk dibuka, kantuk masih menguasaiku. “Yash! Aku mau bicara penting, nih..

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *