Sepucuk Surat Terakhir Untuk Sahabatku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 7 July 2016

Hai guys kenalin nama aku Delona Azzahrah, biasa dipanggil Zahrah. Aku bersekolah di SMPN 2 Harapan Bangsa. Aku punya sahabat namanya Tari, Vita, Avila dan Denata. Kami bersahabat sejak kelas 4 SD. Di antara keempat sahabatku, menurutku vita sahabat terbaikku. Dia selalu ada disaat aku butuh. Banyak kisah yang telah kami lalui bersama. Kami selalu bersama senang maupun duka, kami tak pernah terpisah. Namun persahabatan kami mulai retak sejak kami mengenal cinta.

Pagi hari di sekolah
Ting ting ting bunyi bel jam pelajaran pertama. Aku pun segera masuk ke kelas bersama denata dan avila.
“pagi anak anak” kata bu guru sembarib masuk ke kelas bersama seorang anak yang sebelumnya tak pernah kulihat di sekolah ini.
“pagi bu” serentak kami
“kalian kedatangan murid baru, kenalkan nama kamu!” Kata bu guru menyuruh anak itu
“hai teman teman kenalkan namaku Aditya Adnan Khiar, panggil saja Adit, senang bertemu kalian semua” kata anak baru itu dengan sopannya
“Adit kamu boleh duduk!” Ucap bu guru
“apa aku boleh duduk disini? Soalnya nggak ada lagi bangku yang kosong” kata adit kepadaku
“iya, silahkan” jawabku singkat
Setelah bel berbunyi, aku dan teman temanku segera pulang.

Keesokan harinya saat aku ingin menjawab pertanyaan dari guru tiba tiba Adit mengangkat tangannya kemudian menjawab pertanyaan dari guru. Aku sangat kesal sebelum adit datang ke sekolah ini hanya aku yang dapat menjawab pertanyaan dari guru guru. Adit telah merebut perhatian guru dariku, kini semua guru hanya memperhatikan adit dan melupakanku. Aku sangat kesal melihat gaya adit yang selalu mencuri perhatian guru dengan bersikap baik dan sopan kepadanya. Aku sangat membenci adit, karena dia nilaiku berkurang.

Keesokan harinya saat aku datang terlambat ke sekolah tiba tiba adit memanggilku dari arah belakang
“zahrah! kamu udah selesai nggak kerjain pr? Tolong ajarin aku soal nomor 3 dong!” Kata adit kepadaku
“aku udah selesai, kamu kan pintar kenapa minta ajar sama aku nanti kamu salah lagi terus marahin aku” jawabku sedikit jutek
“kamu kenapa sih selalu menghindar dari aku, apa aku salah sama kamu? Aku ingin jadi sahabat atau teman kamu” kata adit
“asal kamu tau yah semejak kamu datang ke sekolah ini nilai aku menurun. Dulu aku juara kelas dan semua guru memperhatikanku tapi sekarang semua guru sudah melupakanku.” Kataku dengan nada suara yang sangat keras
“oh jadi itu alasannya kamu selalu menghindari aku. Aku minta maaf zahrah! Aku hanya ingin menjadi sahabatmu, kita dapat belajar bersama sama. Jika aku tidak tau kamu dapat mengajariku begitupun dengan sebaliknya” kata adit menjelaskan
“kamu nggak usah pura pura baik di hadapan ku” kataku marah kepada adit kemudian aku pergi meninggalkan adit.

Setelah jam istirahat tiba aku segera ke kantin bersama sahabatku.
“zahrah kamu kenal nggak sama anak baru itu, oh my god dia keren banget! Kata orang dia pintar, baik dan sopan, apa benar begitu?” Kata vita memulai pembicaraan
“iyss, maksud kamu adit?” Jawabku
“apa? Namanya adit, kamu punya nomor handponenya nggak?” Kata vita berbelit belit
“ya ampun vita kamu lebay banget sih. Aku nggak punya, aku cuma sebangku sama dia” kataku
“apa? Kamu sebangku sama adit? Zahrah pliese mintain aku nomor handponenya dong!” Kata vita memohon
“isss nggak ah, aku nggak mau, malas banget. Dia tuh mau dibilang baik, pintar dan sopan sama siswa di sekolah ini” kataku dengan kesal
“zahrah kamu kenapa sih nggak suka banget sama adit?” Kata avila secara tiba tiba
“aku nggak suka sama gayanya yang pura pura baik dan sopan di depan semua orang. Dia udah buat nilai aku menurun, dan semejak dia datang ke sekolah ini semua guru melupakanku!” Jawabku dengan sangat kesal
“bilang aja kamu iri sama adit, dia kan memang pintar, baik dan sopan.” Sambung denata
“kalian apa apaan sih bukannya dukung aku malah dukung dia” kataku marah sambil meninggalkan kantin dan teman temanku

Setelah bel berbunyi akupun segera pulang. Sesampai di rumah aku hanya mengucapkan salam dan tidak berkata apa apa. Saat aku berada di kamar aku merasa sangat lelah, tak beberapa lama kemudian aku pun tertidur.
“tok tok tok, sayang ayo bangun ada teman mu yang mencarimu!” Kata mamaku yang membangunkan ku
“hoaam, siapa ma?” Jawabku
“mama nggak tau katanya nama dia Adit” jawab ibuku
“apa? adit” kata ku sangat keget. Akupun segera berlari menuju ruang tamu dan menemui adit
“hai zahrah, aku boleh nggak belajar bareng sama kamu. kita kan besok mau ulangan, ada beberapa soal yang tidak aku ketahui!” Kata adit saat melihatku
“aku udah bilang jangan pernah ganggu aku, pergi sana!” Jawabku dengan muka merah
“eh zahrah kamu jangan kasar begitu dong, teman kamu datang untuk belajar malah kamu usir” kata ibuku yang datang secara tiba tiba
“ayo nak adit silahkan duduk! Tante bikinin teh dulu yah” sambung ibuku
Ibuku pun segera masuk ke dapur lalu membuatkan minuman untuk adit.

“zahrah kamu tau nggak rumus soal nomor 3 ini?” Kata adit sembari duduk diruang tamu
“yang ini? Gampang banget, kamu kalikan dengan yang ini kemudian hasilnya kamu bagi dengan yang ini.” Kataku menjelaskan kepada adit
“oh gitu caranya” kata adit sambil menganggukkan kepalanya
“kalau yang ini kamu tau nggak?” kataku bertanya kepada adit
“kalau yang ini aku tau soalnya ibuku sudah memberitau rumusnya, ibuku kan guru jadi dia juga tau” kata adit sambil menerangkan

Saat itu aku dan adit belajar bersama, padahal aku sangat membencinya. Tapi mengapa sebelum adit datang kehidupku banyak hal yang tidak aku ketahui tapi kini aku mengetahui semuanya karna adit telah mengajarku. Besok aku akan ulangan semuanya sudah ku persiapkan.

Keesokan harinya aku bangun pagi kemudian berangkat ke sekolah dengan hati yang ceria karna aku telah belajar dengan giat. Setelah ulangan selesai pak guru segera memeriksa ulangan kami dan hasilnya aku dan adit mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Aku senang sekali berkat adit nilaiku dapat meningkat. Mulai hari ini aku memutuskan untuk meminta maaf kepada adit dan menerima permintaan persahabatannya.
“Adit!” Teriakku memanggilnya
“apa?” Jawab adit dari panggilanku
“aku minta maaf dit! aku salah ngertiin kebaikanmu, mau kah kau menjadi sahabatku?” Kataku tersenyum kepada adit
Dan mengulurkan tanganku
“iya tidak apa apa, jika kau bersedia aku juga akan bersedia menjadi sahabatmu!” Jawab adit sambil tersenyum manis kepadaku
Sejak saat itulah aku dan adit bersahabat. Kami menjalin persahabatan dengan begitu baik. Setiap hari kami belajar bersama, jika aku tidak tau adit mengajariku begitupun sebaliknya. Hari hari kami lalui bersama suka maupun duka.
Hari ini sahabatku berkumpul di rumah sambil membuat stick pisang. Kami selalu mengadakan acara untuk menjalin persahabatan yang lebih baik.

“zahrah, kata orang kamu dekat banget sama adit?” Kata vita memulai pembicaraan
“aku tuh sama adit sahabatan, makanya kami dekat! Kamu mau nomornya kan? Ini aku kasih” Jawabku dengan jelas sembari memberi nomor adit kepada vita
“zahrah siapa sih nggak cemburu, punya sahabat dekat sama orang yang kita suka” sambung tari sinis
“kalian nggak percaya banget sih, aku sama adit cuma temenan, nggak lebih! Saat ini aku lagi berusaha buat bikin vita dan adit jadi teman dekat!” Ucapkku dengan nada suara yang tinggi
“zahrah aku minta maaf! Aku nggak bermaksud buat kamu marah” kata tari kepadaku
“iya nggak apa apa, aku cuma mau kalian tau kalau aku nggak nyakitin vita. Aku dekat Sama adit karena aku ingin mereka jadian” kataku mengusap air mata. Walaupun sebenarnya didalam hatiku aku juga mencintai adit. Bagaimana tidak setiap hari adit selalu bersamaku, senang maupun sedih kami tak pernah terpisah.
Saat mendengar kataku tadi vita menangis sambil memelukku. Tari, Avila, dan Denata juga ikut menangis, kami pun saling berpelukan. Sebuah kisah persahabatan yang sudah lama tak pernah kurasakan kebersamaan dalam suka maupun duka.

Sore hari di taman, tempat kami biasa nongkrong
“dit” Kata ku memanggil adit yang tengah sibuk dengan gitar kesayangannya
“apa?” Jawab adit singkat
“kamu tau tidak? Vita suka sama kamu!” Kataku. Tapi aku tak melihat reaksi sedikitpun dari adit
“sebenarnya aku sudah tau, perhatian dia ke aku tuh lebih dari teman” jawab adit dengan wajah polosnya
“nah kamu udah tau, kenapa kamu nggak ungkapin perasaan kamu ke dia?” Tanyaku pura pura tidak tau
“perasaan apa?” Kata adit bingung
“perasaan cinta kamu ke vita, gimana kalau besok? Tenang aja biar aku yang atur semuanya!” Kataku mendesak adit
“tapi zahr!” Jawab adit yang belum selesai berbicara
“kamu bersiap jam 11! Aku akan mempersiapkan semuanya. Jika bukan untuknya lakukan untukku, please!” Kataku berteriak yang memotong pembicaraan adit sembari berlari menuju luar taman
Aku pun segera meninggalkan taman itu. Begitu sakit yang kurasakan di hatiku membuat seseorang yang aku cintai menyatakan perasaannya kepada sahabatku sendiri, hal itu akan terjadi besok Pagi. Aku yakin adit akan menuruti permintaanku, karena aku adalah sahabat terbaiknya di antara keempat sahabatku. Aku pun segera menelepon vita untuk memberitaunya bahwa besok kami akan berjalan jalan ke taman dan mengajaknya ikut bersama kami.

Keesokan harinya saat aku sedang bersiap siap untuk hari yang ditunggu vita, tiba tiba teleponku berbunyi.
“halo, kamu udah siap?” Kata denata melalui telfon
“iya aku udah siap, aku tunggu kamu di depan rumah yah?” Tanyaku
“nggak usah, aku udah ada didepan rumah kamu nih! Avila juga ada bersamaku” kata denata dengan jelas
Aku pun segera ke depan rumah untuk bertemu dengan Denata dan Avila. Setelah berbincang kami sepakat untuk menjemput vita bersama sama.

Sesampai di taman vita sedikit heran mengapa tamannya terlihat sepi. Saat vita berjalan sendiri aku, Avila dan Denata bersembunyi di balik semak semak. Tak beberapa lama setelah kami bersembunyi vita dikejutkan oleh adit, kemudian adit membawa vita ke suatu tempat, dimana ia akan menyatakan perasaannya kepada vita.
“vita, a a aku sayang sama kamu, k kamu mau nggak jadi pacar aku?” Kata adit gugup
“iya aku mau, aku juga sayang sama kamu!” jawab vita tersenyum
Saat ini hatiku benar benar hancur tapi aku harus tegar dengan semua yang telah terjadi. Entah mengapa aku tersenyum melihat mereka bahagia. Tapi seketika air mataku menetes, segera ku hapus perlahan demi perlahan. Setelah itu, kami pun kembali dari persembunyian kami dan segera menuju tempat dimana adit dan vita Berada. Setelah vita melihatku dia langsung memelukku
“zahrah makasih yah” kata vita memelukku dengan sangat erat
“iya sama sama” jawabku membalas pelukan vita
Kami pun saling berpelukan dalam kebahagian dan kesedihan yang kami rasakan di dalam hati kami masing masing. Sejak saat itulah aku dan vita tidak pernah bertengkar lagi.

Sebulan telah berlalu, Kami tetap menjalin persahabatan seperti dahulu, suka dan duka kami lalui bersama. Tapi tidak dengan adit, aku selalu menghindarinya. Jika aku selalu bersama dengannya pasti vita akan cemburu karena itulah aku menjauhi adit. Aku tidak ingin persahabatanku dengan vita dan teman temanku yang lainnya putus hanya karena seseorang yang vita sayangi.

Pagi yang cerah disaat aku bersiap ke sekolah tiba tiba aku merasa pusing dan badanku terasa panas. Seketika handponeku berbunyi dan ternyata Tari meneleponku
“halo zahrah, kamu tunggu aku yah! Kita berangkat ke kampus barengan” kata tari
“maaf tar kayaknya hari ini aku nggak ke kampus” jawabku agak lemas
“kamu kenapa zahrah suara kamu lemas banget?” Tanya tari heran
“Iya nih, kepala aku juga pusing dan badan aku terasa panas” jawabku sembari memegang kepalaku
“ya ampun zahrah kamu harus dibawa ke rumah sakit. kamu tunggu aku yah, aku akan segera kesana!” kata tari berbelit belit
“tapi…” tari langsung mematikan teleponnya

Setelah menuggu beberapa lama, Tari akhirnya datang bersama Avila dan Denata. Aku tidak tahu mengapa ada Avila dan Denata, mungkin karena itulah Tari sangat lama. Saat di perjalanan aku menceritakan semuanya kepada teman temanku
“guys sebenarnya sakit di kepalaku ini udah lama aku rasain tapi baru kali ini rasa sakitnya nggak bisa aku tahan” kataku memulai pembicaraan
“astaga zahrah, kamu kenapa nggak pernah kasih tau kita” kata avila kaget
“aku takut vila” kataku singkat
“udah kalian tenang aja, semoga ini bukan penyakit yang parah!” kata denata menenangkan

Sesampai di rumah sakit, aku pun segera masuk untuk segera diperiksa. Setelah itu dekter pun kemudian menemuiku
“maaf dengan saudari Delona Azahrah?” kata dokter Fahri
“iya ada apa dok?” Jawab ku khawatir
“apa sakit di kepalanya sudah lama?” Tanya dokter fahri
“iya dok tapi baru kali ini rasanya sakit banget” kata ku cemas
“dari hasil pemeriksaan tadi, anda mengidap penyakit kanker otak stadium akhir” kata dokter fahri dengan seriusnya
“apa? Kanker otak stadium akhir?” kataku kaget
Dokter hanya mengangguk, dia tak berkata apapun lagi. Aku segera meninggalkan rumah sakit bersama teman temanku.
Aku tak percaya dengan semua ini, aku tak pernah menyangka sakit yang ku derita akan separah ini. Hidupku tinggal sebentar lagi, aku tidak akan bertahan lama. Aku tak dapat membayangkan bagaimana bisa aku menderita penyakit yang mematikan ini. Aku hanya dapat terdiam dengan semua kenyataan ini. Setiap kali teman temanku selalu bertanya mengapa aku menjadi pendiam, padahal biasanya aku yang selalu membuat lelucon konyol yang membuat mereka tertawa terbahak bahak. Aku tak memberitau tentang hal ini pada teman temanku. Aku tidak ingin mereka sedih dengan diriku karena penyakit yang kuderita.

Tiga bulan telah berlalu. Aku tak tau mengapa aku dapat bertahan selama ini. Yaah ini kuasa tuhan yang telah membuatku hidup sampai sejauh ini. Meskipun sering kali kurasakan sakit yang benar benar tak bisa kutahan. Aku terus menjalani hidup ku meski tak tau sampai kapan aku harus bertahan.

Hari yang cukup panas saat aku berjalan di mall tiba tiba ada seseorang yang menarik tanganku, dan ternyata dia adalah adit.
“adit lepasin!” kataku menyuruh adit
Adit terus menarik tanganku dan membawaku kesuatu tempat. Sesampai dimobil adit menyuruhku masuk ke dalam mobilnya. Aku tidak bisa mengelak, adit terus memaksaku. Aku pun terpaksa masuk ke dalam mobil adit.
“adit kamu mau bawa aku kemana?” Tanyaku cemas
“aku mau bawa kamu kesuatu tempat dimana kamu tidak akan pernah bisa melupakan tempat itu” jawab adit sambil mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi

Hari sudah sore, sebentar lagi akan magrib. Adit terus melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesampai di tempat itu, aku melihat pemandangan sunset diatas puncak yang begitu indah. Aku sangat takjub melihat sunset itu karena baru pertama kali aku melihat pemandangan sunset dari atas puncak.
“amazing” gumam ku
Yaah aku memang pecinta sunset. Sekarang aku ingat kenapa adit bisa mengetahui bahwa aku pecinta sunset. Saat aku dan adit masih bersahabat aku pernah bilang padanya bahwa aku sangat ingin melihat sunset dari atas puncak. Dia pun mewujudkan keinginanku yang selama ini aku dambakan. Tapi aku heran mengapa adit mau melakukan semua ini hanya untukku padahal selama ini aku selalu menjauhinya.
“Gimana bagus nggak?” tanya adit
“luar biasa” jawabku yang terus memandangi langit
“kamu tau nggak kenapa aku bawa kamu ke tempat ini? Karena aku sayang sama kamu. Zahrah aku nggak pernah cinta sama vita, aku cinta sama kamu! Kamu mau nggak jadi pacar aku?” kata adit menatapku dengan penuh rasa sayang
Aku merasakan rasa sayang yang adit berikan itu memang benar benar ada.
“Aku tak tau harus bagaimana, aku sangat menyayangi adit tapi bagaimana dengan vita? Dia adalah sahabatku, dan vita sangat mencintai adit” kataku dalam hati
“aku serius zahrah, aku nembak vita itu karena kamu. Aku lakukan semua itu demi kamu. Zahrah kamu bahagiakan melihat vita bahagia tapi aku sama kamu nggak bahagiakan? Tapi semuanya terserah kamu sih. kamu mau terima aku atau nggak, itu keputusan kamu! Yang jelas aku tau kamu cinta sama aku” kata adit memandangku sangat serius
Aku menangis saat mendengar perkataan adit, memang semua perkataan adit benar. Aku mencintainya dan sangat menyayanginya tapi aku bingung dengan perasaanku ini.
“apakah aku harus menerima adit? hidup ku juga tak lama lagi, Akan kuhabiskan sisa hidupku bersama adit” kataku dalam hati
“adit aku juga sayang sama kamu, sayang banget. Aku mau jadi pacar kamu dit” kata ku tersenyum pada adit
“udah aku bilang kamu juga sayang sama aku” kata adit memelukku dengan erat
“tapi bagaimana dengan vita?” Tanyaku sembari membalas pelukan adit
“zahrah aku sama vita itu nggak pacaran, aku udah anggap vita sebagai adik aku sendiri” jawab adit melepaskan pelukannya

Saat ini aku dan adit bersama sama menikmati sunset yang begitu indah. Aku bersandar di bahu adit dan adit memelukku dengan sangat erat. Hari ini aku sangat bahagia bersama adit tapi aku mengkhianati sahabatku vita. Aku telah melukai hati sahabatku padahal aku sangat menyanginya, vita adalah sahabat terbaikku walaupun dia sedikit egois dan mau menang sendiri tapi dia sangat baik padaku. Suatu saat vita pasti mengerti mengapa aku melakukan itu padanya.

Cerpen Karangan: Adhelina Dayana
Facebook: AdhelLee Ghoby

Nama: Adhelina Dayana
TTL: soppeng, 07 januari 2003
sekolah: SMP Negeri 1 Sampaga
facebook: AdhelLee Ghoby
Hoby: Membaca, menulis, dan nonton film bollywood
cita cita: polisi wanita
semoga senang dengan cerpennya

Cerpen Sepucuk Surat Terakhir Untuk Sahabatku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


LDR Itu Menyakitkan

Oleh:
Sudah 1 tahun 3 bulan aku menjalani sebuah hubungan dengannya. Ya hubunganku ini adalah hubungan jarak jauh atau bisa disebut juga LDR (long distance bla-bla-bla). Ya selama 1 tahun

Karena Aku Tak Tahu

Oleh:
Malam ini malam Minggu, aku janjian makan malam dengan Luna di sebuah restoran di pinggir pantai yang lumayan jauh dari rumahku. Kami janjian pukul 7 malam. Aku sedang bersiap-siap.

Cinta Datang Terlambat (Part 1)

Oleh:
Namaku Clara Sylonica. Nama yang cukup aneh bagiku. Kota Manchaster City adalah kota kelahiranku sekaligus kota tempat aku tinggal. Aku adalah anak dari pasangan Pak Aryo, seorang perantau asal

Senja Terakhir

Oleh:
Di sini. Di tempat ini kisah pedih itu berakhir. Tak banyak yang berubah. Masih sama seperti empat tahun lalu. Saat dia memutuskan hubungan di antara kami. Ya, hari itu

Memecahkan Misteri (Part 2)

Oleh:
Lanel, si murid baru nan misterius, mengalahkan kehebatan semua orang pandai di kelasku. Itu membuat kami curiga lalu kami mulai melakukan penyelidikan. Dan kami temukan antena, dua buah baterai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *