Sepucuk Surat Terakhir Untuk Sahabatku (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 7 July 2016

Hari hari kulalui bersama adit, tiada hari tanpa dirinya. Sungguh aku sangat bahagia bersamanya. Mencintainya adalah hal terindah di dalam hidup ku, menyayanginya adalah hal dimana aku menjaga cinta kami berdua, dan melupakannya adalah hal yang sungguh tidak dapat ku lakukan. Dua minggu kami telah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, kami saling menyayangi. Hingga aku pun tak pernah lagi bersama sahabatku, hubungan persahabatan kami menjadi renggang. Mungkin hanya tari, avila, dan denata yang selalu kumpul bersama, aku tak tau bagaimana dengan vita.

Keesokan harinya adit mengajak ku berjalan jalan ke mall. Kami tertawa bercanda riang, entah apa yang membuat kami seperti itu. Tiba tiba aku mendengar suara bisikan dengan nada suara yang sangat tinggi
“PENGHIANAT!” Kata yang mungkin singkat tapi sungguh sangat menusuk hatiku
Aku segera berbalik badan untuk melihat seseorang yang telah membisikku tadi. sungguh aku tidak percaya, dia adalah vita
“Vita” ucap ku dengan sangat kaget
“kenapa! Kaget? Owww pantas aja lo selama ini nggak pernah gabung sama kita, tau taunya lo selingkuh sama pacar sahabat lo sendiri” kata vita dengan penuh emosi
Baru pertama kali aku mendengar vita mengucapkan kata “lo” kepadaku. Mungkin dia sangat emosi melihat sahabatnya jalan bersama kekasihnya.
Setelah mendengar perkataan vita aku tak dapat berkata sepatah kata pun lagi, aku hanya dapat menundukkan kepalaku sebagai tanda bersalahku padanya. Vita segera berlari meninggalkanku dan adit yang masih terdiam karena kesalahan kami. Aku pun berlari menyusul vita tiba tiba aku merasakan sakit di kepalaku yang luar biasa sakitnya tak dapat aku tahan lagi

Kubuka perlahan kelopak mataku, dan melihat di sekelilingku. Aku tak melihat siapapun, tiba tiba adit datang
“adit aku dimana?” tanyaku sedikit heran
“kamu ada di rumah sakit, kemarin kamu pingsan saat mengejar vita” jawab adit
“aku mau pulang dit” ucapku lemas
“tapi kata dokter kamu belum boleh pulang” kata adit
“nggak aku harus pulang, ibu dan ayah nanti mencariku” kataku memohon
“baiklah kita akan pulang sekarang, akan ku beri tau dokter” kata adit sambil meninggalkan ruanganku

Hari ini aku hanya dapat beristirahat di rumah, aku dan adit tidak pergi berjalan jalan berhubung aku baru keluar dari rumah sakit dan aku juga masih sangat lemas. Aku sangat jengkel, aku tak tau apa yang harus kulakukan di rumah. Tak segaja aku melihat buku diary ku di atas meja, aku pun langsung membukanya. Di dalamnya aku menemukan tulisan dan foto tentang kenangan indah bersama mantan kekasihku yang sangat baik padaku, namun kami harus berpisah karena dia harus ikut bersama kedua orangtuanya. Aku sedikit sedih mengingat kejadian itu, perpisahan termanis di dalam hidup ku yang tak pernah aku lupakan. Namun sekarang telah tergantikan oleh sosok adit yang sangat aku sayangi. Aku sangat bahagia bersamanya tapi itu adalah hak vita, dia yang berhak bahagia bersama adit tapi aku telah merebut adit darinya. Terlintas di pikiranku ingin menulis surat kepada vita mengapa aku telah menyakiti perasaannya karena telah merebut adit darinya, hidupku juga tak akan lama lagi. Segera kuambil pulpen bertinta merah dan kutulis dengan segenap kemampuanku

“assalamualaikum w.r.b
Sebelumnya aku minta maaf padamu vita, karena kesalahan yang telah ku perbuat padamu. Aku tau kau masih marah padaku karena aku telah merebut adit darimu. Tapi aku melakukan semua itu karena aku sangat sayang padanya, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya. Vita aku sangat bahagia bersamanya, aku sangat mencintainya. Aku ingin bahagia bersamanya disaat akhir hidupku dan ajal menjemputku. Vita aku mengidap penyakit kanker otak stadium akhir, aku nggak tau harus bagaimana. Saat mendengar kenyataan pahit ini aku sangat shock tapi inilah kenyataannya. Aku tidak tau mengapa aku dapat bertahan selama ini, tiga bulan yang lalu dokter menvonis hidupku tidak akan lama lagi. Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang terjadi padaku tapi semua ini memang benar adanya. Mungkin ini adalah karma yang aku dapatkan karena telah merebut kekasih sahabatku. Vita kamu satu satunya sahabatku yang kuberi tau tentang penyakitku, keluargaku pun tak ada yang mengetahuinya. Vita kamu adalah sahabat terbaikku diantara kamu, Avila, Denata, dan Tari. Vita aku mohon maafkan semua kesalahanku, aku ingin pergi tanpa rasa bersalah yang teramat dalam padamu. Aku tau sungguh sakit rasanya jika seorang sahabat berkhianat pada kita. Vita asal kamu tau aku menerima adit sebagai pacarku karena hidupku tak akan lama lagi, aku ingin merasakan kebahagian sebagai kekasih adit.
Ku tulis surat ini dengan segenap kemampuanku, ku curahkan semua yang ada di dalam hatiku. Sekali lagi aku minta maaf vita, aku bukanlah sahabat yang baik untukmu. Sungguh besar pengorbananmu merelakan seorang sahabat bahagia bersama kekasihmu. Jika aku menjadi dirimu, mungkin aku tidak akan bisa merelakan sahabatku bersama kekasihku. Vita hidup ku tidak akan lama lagi, jika aku sudah tak ada aku mohon jaga persahabatan kita. Vita aku mohon maafkan semua kesalahanku padamu, kamu akan menjadi sahabatku sampai kapanpun itu. Aku sayang kamu vita
By Delona Azzahrah”

Setelah selesai menulis surat itu, aku pun segera menyimpannya di atas meja belajar ku tepatnya di antara buku diary dan buku matematika ku.

Dua hari setelah menulis surat itu aku dan teman temanku berkumpul di rumah Tari. Saat semuanya telah datang hanya vita yang belum datang, aku khawatir jangan jangan vita tidak ingin datang karena ada aku. Aku dan tari segera membuat teh dingin kesukaan kami, memang minuman yang sederhana tapi kita meminumnya dengan penuh kebersamaan dan kasih sayang. Tiba tiba aku mendengar suara motor yang berhenti, dan ternyata itu vita.
“tariii” panggil vita dari luar rumah
“masuk aja vita, aku ada di dapur” teriak tari
Vita pun segera masuk, saat vita melihatku dia sangat marah dan vita berlari ke luar rumah
“vita maafin aku vita, aku nggak ada maksud untuk menyakiti perasaan kamu” kataku memohon sembari berlari mengejar vita
“udah lah zahrah, pengkhianat tetap ajah pengkhianat” kata vita berteriak dan terus berlari
Aku semakin kencang berlari, aku ingin sekali menjelaskan semuanya pada vita. Tak beberapa lama setelah aku berlari dengan sangat kencang, aku merasakan sakit di kepalaku yang sungguh benar benar sakit sekali. Aku memegang kepalaku sambil terus berlari mengejar vita. Baru pertama kali ini aku merasakan sakit yang luar biasa sakitnya yang tak bisa aku tahan lagi. Tenagaku semakin melemah, aku tidak kuat lagi. Aku hanya dapat berdoa semoga vita mengetahui kejadian yang sebenarnya

“zahrah aku mohon bangun, zahrah pliese bangun!” terdengar suara yang sangat pelan dan lembut, sepertinya itu adalah vita. Yaah vita memang bersuara lembut karena itu jika dia marah kami tidak terlalu serius menanggapi amarahnya
“zahrah maafin aku, gara gara aku kamu jadi pingsan” terdengar suara itu lagi. Aku semakin penasaran ingin mengetahui siapa sebenarnya yang selalu memanggil namaku sembari menangis dihapadan ku. Tak beberapa lama, akhirnya kubuka mataku perlahan dengan hendak ingin mengetahui sosok orang itu dan apa yang aku lihat! Aku melihat vita tertidur dengan mengenggam erat tanganku
“ya tuhan apakah ini benar terjadi? Apakah ini vita sahabatku?” tanyaku dalam hati. Dan kulihat di sebelah kiriku, aku melihat teman temanku dengan berbagai kesibukannya. Denata sedang tidur di kursi, avila sedang memainkan handponenya yang duduk dikursi berhadapan dengan tari, dan tari sedang minum teh dengan roti sembari melihat ke pintu. Tak beberapa lama adit datang dengan membawa setangkai bunga mawar dan satu bungkus buah buahan
“zahrah kenap…” ucap adit terhenti sejenak. Aku tidak mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi. Seketika semua pandangan tertuju pada adit termasuk tari dan avila
“zahrah kamu kenapa tidak memberitau aku kalau kamu masuk rumah sakit?” tanya adit membisikku
“aku juga tidak tau aku dimana, bagaimana caranya aku menjawab pertanyaan adit” gumamku dalam hati
“adit kamu kenapa baru datang? Zahrah dari tadi belum sadar sadar juga” kata avila terus menerus memainkan handponenya
“soalnya tidak ada yang memberi tauku” jawab adit
“eh ini zahrah udah sadar” sambungnya lagi
Aku hanya membelongok melihat mereka semua dengan badan yang masih lemas
“apa? Zahrah udah sadar!” kata tari kaget. Avila dan tari segera membangunkan denata dan vita dengan sangat tergesa gesa
“apa kamu baik baik aja sayang?” tanya adit membisikku
“Adit” kataku seperti orang kaget
“iya sayang ini aku, kamu baik baik saja kan sayang?” tanyanya lagi
“kita dimana?” tanyaku bingung
“sayang kita ada di rumah sakit, kemarin sore kamu pingsan di depan rumah tari. Ini aku baru datang” jelas adit
“oww iya aku baru ingat kemarin kepala aku sakit sekali saat mengejar vita” kataku menejelaskan kepada diri sendiri
Vita terlihat sedih saat melihat adit membisikiku. Aku sangat merasa bersalah telah merebut kekasih sahabatku. Aku ingin sekali membuat mereka bersatu kembali menjadi sepasang kekasih yang tak dapat dipisahkan. Aku yang membuat mereka berpisah dan aku pula yang harus membuat mereka bersatu kembali
“aku akan menceritakan semuanya kepada vita” ucapku dalam hati
“vita maafkan semua kesalahanku karna diriku kau dan adit jadi putus” kataku saat vita sedang menunduk
“tidak zahrah bukan kamu yang salah, aku yang salah. Lagi pula adit memang tidak mencintaiku” kata vita melihat adit
“vita aku yang membuat kalian berpisah dan aku akan membuat kalian bersama kembali” kataku pada adit dan vita
“tidak zahrah kam…”
“vita kamu yang lebih berhak bersama adit, jika kalian bersama pasti kalian akan bahagia” kataku memotong pembicaraan vita
“tidak zahrah aku tidak bisa” kata vita terus menggelengkan kepalanya
Adit hanya terdiam membisu tak tau harus berkata apa
“kalian harus berjanji kalian akan bersama lagi menjadi sepasang kekasih yang tak bisa dipisahkan oleh siapa pun itu” kataku sembari memegang tangan adit dan vita kemudian menyatukannya
“zahrah apa yang kamu lakukan” kata adit sambil membelai rambutku
“aku ingin membuat kalian bersatu lagi” kataku sangat lemas
“tidak zahrah” ucap vita gelisah
“berjanjilah kalian akan bersama lagi, jika bukan untuk kalian sendiri lakukanlah demi aku. Aku mohon!” ucapku semakin lemas sembari mengangkat tangan adit dan vita ke atas dahiku
Seketika semua terdiam begitupun dengan tari, avila, denata termasuk adit dan vita.
“baiklah kami berjanji” serentak adit dan vita
Aku sangat senang nendengar perkataan mereka. Akhirnya mereka bersatu lagi.
“vita maafkan aku yah karena dulu aku telah merebut adit darimu!” kataku memohon
“iya zahrah, aku juga minta maaf yah” jawab vita memelukku
“ya Allah terimah kasih engkau telah mempersatukan ku dengan sahabatku lagi, aku sangat bahagia bisa bersama mereka lagi” kataku dalam hati
“vita kamu akan selalu berkunjung ke rumahku kan?”
“meskipun aku sudah tidak ada lagi” sambungku dalam hati
“iya zahrah, aku sayang banget sama kamu” jawab vita memelukku
“Kalian akan selalu menjadi sahabatku kan?” kataku kepada teman temanku
“iya zahrah kami akan selalu menjadi sahabatmu sampai kapan pun” jawab tari sambil tersenyum
Tanpa ragu ragu vita, avila, tari, dan denata langsung memelukku begitupun denganku.
“Ya Allah terima kasih atas kebahagiaan yang engkau berikan kepadaku. Aku sangat bahagia bersama sahabatku dan juga orang yang aku sayangi. Ya Allah terima kasih atas kebahagiaan yang pernah aku rasakan bersama adit, hal terindah disaat aku melihat sunset bersama adit” gumamku dalam hati

Adit hanya tersenyum melihat aku dan sahabatku saling berpelukan begitu pun dengan kedua orangtuaku. Mereka sangat bahagia melihatku bahagia bersama sahabatku. Mereka berusaha menahan kesedihan di hatinya, kenyataan pahit yang sangat sulit diterima oleh kedua orangtuaku karena penyakit yang aku derita. Sampai saat ini sahabatku belum mengetahui sakit yang aku derita, itu semua karena ayah dan ibuku berusaha untuk tidak memberitaunya.
“maafkan segala kesalahanku paa maa, aku sayang kalian” kata ku dalam hati sambil tersenyum kepada ayah dan ibuku. Dengan kondisi yang semakin melemah, saat itu aku menghembuskan nafas terakhirku di dalam pelukan sahabatku. Aku berharap vita membaca sepucuk surat terakhir untuknya “sahabat yang sangat aku sayangi dan sahabat terbaik untukku”.

The end

Cerpen Karangan: Adhelina Dayana
Facebook: AdhelLee Ghoby

Nama: Adhelina Dayana
TTL: soppeng, 07 januari 2003
sekolah: SMP Negeri 1 Sampaga
facebook: AdhelLee Ghoby
Hoby: Membaca, menulis, dan nonton film bollywood
cita cita: polisi wanita
semoga senang dengan cerpennya

Cerpen Sepucuk Surat Terakhir Untuk Sahabatku (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan Neysa

Oleh:
Neysa adalah cewek yang sangat populer dan cantik, namun dia memiliki sifat yang sulit menghargai orang lain dan hanya mementingkan diri sendiri. Ia disukai oleh banyak cowok karena kecantikannya,

Segi Empat

Oleh:
Suhu kotaku yang sejuk di pagi hari membuatku beranggapan lebih baik jadi cacing di kasur daripada harus menggerakan gayung berisi air. Namun kewajiban berkata lain sebagai seorang siswa sekolah

Hari Yang Cerah Berubah Jadi Duka

Oleh:
Hari itu sangat indah, aku bernama Arify Hari senin itu Hari yang sangat indah buat aku berangkat sekolah aku menghampiri Karin.. Iya. itu Pacar aku, kepribadian dia yang pendiam,

Semua Berakhir Bersama Senja

Oleh:
Kriingg… kriiingg… kriiinggg… jam weker di kamar Clarissa berbunyi. “huaaahhmm… pagi yang cerah.” ucap Clarissa yang masih setengah mengantuk. Ia pun bergegas mandi dan bersiap-siap pergi sekolah. Setelah bersiap-siap,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sepucuk Surat Terakhir Untuk Sahabatku (Part 2)”

  1. RENI says:

    aku suka sekali dengan cerita ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *