Serpih Kenangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 20 March 2018

“Kau berubah, Ra ..” ujarmu suatu waktu.
“Kita seolah tak pernah akrab sebelumnya. Kau bahkan seperti asing bertemu tatap denganku. Segala tingkah pun lakuku seakan-akan selalu salah di matamu. Aku di hadapanmu, bahkan bukan seperti teman masa lalu yang penuh dengan kenangan indah sebagai sahabat karib..”

I have known about it.

Aku tahu, suatu saat, kau akan mengungkap semuanya. Aku tahu, suatu saat kau akan meluahkan semuanya. Saat kau tak lagi kuat dengan semua keadaan yang menimpamu. Itu menurutmu. Hanya kau yang seolah menjadi korban dari segala ketidak perdulianku. Bukan, bukan hanya kau yang merasakannya. Meski kau tak akan tahu, bagaimana sejatinya segalanya berjalan hingga aku menjadi pribadi yang seperti ini.

Dan inilah waktunya. Saat kau tak mampu lagi membendung semuanya. Merasakannya sendiri semua beban yang ada. Yang lagi-lagi, itu semua hanya berdasarkan persepsimu.

“Mengapa? Kau menyerah dengan semua ini?”
“Haruskah aku terus-terusan bertindak bodoh, agar orang lain tidak menyadari akan apa yang terjadi?” teriaknya mulai berkaca.
“Siapa yang menyuruhmu untuk melakukan semua itu?”

Aku menangkap gerakan tangannya yang mengusap ujung mata; menyeka air mata yang jatuh. Air mata yang mungkin telah tertahan sekian lama. Menunggu bendungan yang mampu meluap sewaktu-waktu. Sebelum kemudian ia melanjutkan luahan rasanya.

“Keadaan, Ra.. keadaan serta sikap dinginmu itu yang menuntutku untuk selalu bersandiwara di atas kenyataan yang ada. Kau bahkan tak menyadarinya, Ra.. bagaimana bisa?”
“Kata siapa?” aku berhenti sejenak; menghadapkan posisiku tepat di hadapannya.
“kata siapa, aku bahkan tidak tahu? Kata siapa, aku bahkan tidak menyadarinya? Justru kebodohan yang kau buat-buat itulah yang menjadikan segalanya jelas kentara, tanpa kau sadari. Kau bahkan tidak mampu menangkap bahasa cinta yang disampaikan orang-orang di sekitarmu dengan bentuk yang berbeda. Kau bahkan tidak bisa menangkap bahasa tersirat yang disampaikan mereka, lalu bagaimana kau mampu memahami semuanya? Jika bahkan kau tak mampu memahaminya, bagaimana kau bahkan mampu merasakannya?”

Aku menghela napas. Mengalihkan pandangan dari wajahnya yang mulai sendu. Nampak guratan penyesalan yang muncul di antara kerutan dahinya yang menyatu.

“Kau terlalu asyik dengan duniamu, Cha..” suaraku melunak.
“Kau terlalu disibukkan oleh perasaan-perasaanmu sendiri. Membuatmu merasa seolah selalu menjadi korban atas semua yang terjadi. Lantas kau berhenti memahami. Berhenti menyeksamai situasi. Kemudian menyalahkan orang lain yang menjadi sebab dari segala kenyataan yang terjadi.”

Ia terdiam. Dan aku pun sengaja menahan ucapanku untuk beberapa waktu. Menunggu reaksi darinya.
Hening. Sejenak suasana menjadi lebih dingin dari biasanya. Hanya senyap yang menggantung di udara. Meliputi kesenggangan yang menguasai segala rasa.

“Senaif itukah aku, Ra?” tanyanya getir.
Sekejap, aku merasa bersalah karena membuatnya seperti ini. Bagaimanapun, aku tak pernah benar-benar menganggapnya salah. Hanya sedikit perubahan sikap agar membuatnya menyadari apa-apa yang luput darinya selama ini. Meski tak dapat dinyana, ia menyikapinya hingga sejauh ini.

“Ra, forgive …” tatapnya dengan bulir yang mengalir dari kedua matanya.

Ah, kau selalu mampu membalikkan keadaan menjadi seperti ini. Membuatku seolah menjadi pesakitan yang terdesak oleh beribu kesalahan. Aku masih terdiam. Pikiranku menerawang jauh ke belakang. Mengingat kenangan kita yang masih saja hangat di ingatan. Mataku menghangat. Dan kemudian menjelma buram dalam dalam beberapa saat.

“Aku merindukanmu, Cha..” lirihku pada akhirnya.
“seberapapun kau melangkah menjauh dariku, adamu tetap serasa dekat di sini. Meski hanya merupa bayang-bayang yang tak lagi dapat kurengkuh wujudnya.”
Ia memelukku erat. Seperti tak ingin melepaskan tubuh kecilku dari peluknya. Seolah takut jika tiba-tiba aku pergi.

“Maafkan aku yang tak mampu menyeksamai segala yang terjadi, Ra… maafkan, karena aku tak mampu pahami bahasa cinta yang diam-diam selalu kau titipkan untukku..”

Allah, jaga ia.. sayangi dirinya, kumpulkan kami dalam Jannah Firdaus-Mu. Amin.” Bisikku lirih dalam hati. Berharap doa itu mengudara, kemudian berpilin menuju ‘Ars-Nya.

Cerpen Karangan: Zahida An Nayra
Blog / Facebook: zahidaannayra.blogspot.com / Zahida

Cerpen Serpih Kenangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cintamu Bukan Untukmu

Oleh:
Sudah sangat lama sekali aku mengenal hamid. Dia adalah temanku sejak smp, dari dulu kami berdua memang sudah sangat dekat bahkan dia sudah sepetri saudaraku sendiri dan semanjak acara

Maaf

Oleh:
Aku merasa diriku memang pengecut. Hanya duduk di kamar dengan hati gelisah. Padahal mungkin itu kesempatan terakhirku agar masalah cepat terselesaikan. Hal itu karena ia akan pergi jauh. Apalah

Hitam Putih Pergaulan

Oleh:
Dalam kenangan masa lalu yang sangat buruk tentu Naila tak mau lagi jatuh ke jurang yang sama. Karena salah memilih sahabat, ia menjadi anak pemalas dan boros. Sebelumnya ia

7.12

Oleh:
Senin pagi, di sebuah stasiun kereta sebut saja stasiun Cilebut. Sekolah gua libur karena ada rapat guru. gua hendak berangkat ke Kota Jakarta. Untuk apa?, nggak usah kepo deh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *