Sesal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 22 February 2016

Darahku meledak naik ke kepala menghadapi perangai makhluk ini. Makhluk lupa diri yang menurutku sudah tidak sadar dan hilang kewarasan. Barangkali batinnya tertekan, otaknya telah melenceng dari garis normal ataupun kepalanya terbentur dinding menara, bagiku hanya alasan mengada-ada. Semuanya sama saja. Panggilannya Fadhil, sahabat karibku waktu SMA dulu. Setelah berbulan-bulan tak ku dengar kabar, pagi ini, tiba-tiba ia sudah berdiri di ambang pintu rumahku mengaku sebagai sukarelawan bencana. Lebih konyol lagi, Fadhil tak mengenaliku.

“Mas, ada barang yang mau disumbangkan?” Tanyanya santai sambil menyodorkan kardus kosong padaku.
“Kau sudah tidak waras, Dhil. Aku ini Ahmad! Dulu kau pernah mengajakku mendaki Gunung Kelud, ingat?”
“Maaf, barangkali anda salah orang. Kalau tidak ada yang mau didonasikan, saya mohon undur diri,” kata pemuda itu sambil berjalan pergi.

Rumahku cukup dekat dengan Gunung Kelud, kurang lebih 8 kilo meter dari sana. Setiap saat aku bisa melihat panorama gunung perkasa itu dari jendela. Bencana silih berganti. Awan hitam terus mengepul di langit Gunung Kelud. Pemerintah menghimbau warga sekitar untuk segera mengungsi. Di saat BMKG sedang mencari solusi, sukarelawan sangat dibutuhkan demi meringankan dampak tragedi. Tenda-tenda PMI berdiri tegak di depan posko pengungsi. Aku tak peduli pada hal berbau sosial, berbeda dengan Fadhil.

Rumah Fadhil jauh di pedalaman Jawa Tengah. Ia hijrah selama tiga tahun demi menempuh SMA. Seminggu setelah perpisahan SMA, Fadhil mengajakku mendaki Gunung Kelud bersama. Ajakan ini langsung ku tolak. Mengapa harus susah-susah mendaki jika aku bisa menikmati pemandangan gunung itu di jendela kamarku. Sebelumnya kami memang pernah bertengkar hanya gara-gara memilih kampus. Fadhil mengajakku sekolah di Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto, sedangkan aku sedang mengincar bangku di UGM, Yogyakarta.

Semenjak hari penolakanku itu, Fadhil tak pernah muncul di hadapanku. Ku kira ia sudah duduk manis di universitas pujaannya di Purwokerto. Ternyata salah, Fadhil masih berkeliaran di kota ini atau memang sengaja kembali untuk menghinaku. Yang jelas, ku putuskan untuk mengisi waktu senggang menjadi sukarelawan PMI lewat kampus demi bertemu dengannya. Setiap seminggu sekali kami para anggota berkumpul untuk mengunjungi korban Gunung Kelud. Aku pun ikut serta sambil membawa toples berisi uang sumbangan warga dari daerah lain.

Hari ini kami berkunjung ke salah satu posko pengungsian. Keadaannya lebih parah dari bayanganku. Banyak di antara warga mengalami gangguan pernapasan karena paru-paru mereka tidak kuat menghirup udara yang tercemar abu vulkanik, kebanyakan dari mereka anak-anak. Aku mendapat tugas membagikan masker dan makanan. Sedangkan Fadhil berbaur dengan PMI merawat para korban.

“Tolong! Tolong! Darurat! Dokter! Di mana dokter!?” Tanya seorang gadis dengan panik dan ketakutan.
“Ada apa, Nona? Siapa yang sedang sakit?” Tanyaku dengan perhatian berusaha menenangkannya.
“I..ibu saya! Ayolah! Tolong, Tuan!”
“Maaf, saya bukan dokter, Nona!” Kataku penuh penyesalan.
“Sebentar, saya panggilkan dokternya!” Kata salah satu petugas PMI sambil berlari ke dalam salah satu tenda.
“Mohon tunggu sebentar, Nona. Teman saya sedang mencarikan dokternya!” Kataku sambil menyodorkan masker pada nona itu. Dua anggota PMI lain datang bersama Chandra, anggota PMI yang tadi.

“Dokternya tidak ada, Ndra?” tanyaku pada Chandra, salah satu anggota PMI.
“Jangan cemas, Dokter Fajar sudah ku bawa ke mari!” Jawabnya enteng. Aku masih bingung.
“Dokter Fajar?” Belum sampai Chandra menjawab pertanyaanku, Fadhil datang tergopoh-gopoh.
“Di mana yang kritis?!” Tanyanya. Nona tadi langsung membawa Fadhil ke tempat ibunya. Sedang aku masih diam ternganga. Memaksa syaraf-syaraf otakku mencerna makna semua adegan ini.

“Dokter Fajar? Siapa Dokter Fajar?” Tanyaku pada Chandra.
“Kau belum berkenalan dengannya? Dia masuk organisasi ini dua minggu sebelum kau juga masuk,”
“Fajar? Yang benar saja! Kau bercanda! Dia Fadhil!” Seruku. Chandra tidak menanggapi perkataanku. Pandangannya menerawang ke arah awan-awan yang bebas berenang di langit biru.
Matanya menyipit. Dahinya mengrenyit.

“Tadi kau bilang siapa? Fadhil?” Tiba-tiba Chandra melontarkan pertanyaan padaku dengan ekspresi wajah serius.
“Benar, namanya Fadhil! Fadhil Darmawijaya. Kau mengenalnya?”
“Dari mana asalnya?”
“Dia dari luar daerah, jauh dari sini, pedalaman. Letaknya di Kota Kajen, Provinsi Jawa Tengah, ”
“Aku seperti pernah mengingat nama itu! Sebentar, aku segera kembali,” Chandra beranjak dari kursinya.

Ada bermacam-macam manusia di dunia. Dari sekian banyaknya hanya ada dua kesimpulan, yaitu baik dan jahat. Andaikata ada pilihan ketiga, di sanalah aku berada. Menurutku, aku bukanlah orang yang baik. Namun bukan orang jahat. Aku juga bukan penengah keduanya. Hanya Fadhil yang pernah mengatakan aku ini orang yang baik. Ku akui aku ini egois. Demi rentetan nilai baik, dunia yang luas ini kusisihkan. Tak ku sangka dunia ini cepat berkembang, hingga ku sadari ada sesuatu yang hilang. Sahabat. Mungkin aku sudah kewalahan mencarimu di antara beratus juta manusia, Fadhil. Bagaikan mencari jarum di dalam jerami. Aku bahkan menolak ajakanmu sebelum kita pisah atap sekolah. Aku menyesal.

“Apa kau kehausan?” Seseorang membuyarkan lamunanku. Orang itu menyodorkan sebotol air mineral padaku.
“Terima kasih. Aku tidak haus,” kataku menolak. Orang itu tersenyum dan duduk manis di sampingku. Bagiku senyumnya sekarang adalah hinaan. Mungkin suasana hatinya sedang berbunga-bunga. Berbeda dengan hatiku yang sekarang dipenuhi rentetan awan hitam. “Mencari seseorang?” Tanyanya seakan bisa membaca pikiranku.
Dia adalah makhluk yang ku kira sahabatku, Fadhil. Merasa gengsi menjawab pertanyaannya, aku langsung beranjak pergi dari kursiku. “Tunggu!!” Katanya. “Aku tahu di mana orang yang kau cari!” Orang itu berusaha mengejar. Aku tak menoleh atau menanggapinya. Aku sudah muak entah pada Fadhil ataupun Dokter Fajar. Bahkan beberapa kali ku bacakan Ayat Kursi agar kedua makhluk itu tak lagi mengusikku.

“Tunggu Ahmad!” Serunya. Aku menghentikan langkah, “Aku menyesal telah menyembunyikan sesuatu padamu. Tak selayaknya aku berbuat seperti ini, karena kau pantas mengetahui setiap kebenarannya,” lanjutnya. “Apa maumu?” Tanyaku ketus.
“Aku Fajar Darmawijaya, kakak Fadhil!” Katanya dengan wajah serius. Jujur aku sangat kaget. Namun segera ku sembunyikan perasaanku ini.
“Aku tidak menanyakan identitasmu! Di mana Fadhil?! Kau sembunyikan di mana dia!”
“Fadhil ada di kota ini,”
“Di mana dia?!!”
“Meski kau tahu di mana tempatnya, kau tak akan bisa bertemu dengannya,”

“Apa maksudmu!?”
“Kita tak bisa berbuat apa-apa sekarang,” jawab orang itu. Aku semakin bingung.
“Cepat katakan!!! Di mana Fadhil?” Kataku membentak. Ekspresi orang itu berubah muram menatapku dengan aneh.
“Di gunung ini,” jawabnya lirih. Aku langsung pergi begitu mendengarnya. Pembicaraan ini sia-sia. Aku tidak percaya pada bualan gilanya. Mendung tak berarti hujan. Sebuah kalimat yang menggambaran suasana hatiku. Hari ini begitu banyak kejadian yang memuakkan. Menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan baru dalam benakku. Tak tahan, aku berencana pulang sekarang juga.

“Tunggu!!” Teriak Chandra yang datang tergopoh-gopoh.
“Ada masalah apa?” Tanyaku.
“Coba lihat ini!” Katanya sambil menunjukkan sebuah buku catatan padaku.
“Ada apa dengan buku ini?” Tanyaku ketus.
“Ini buku catatan kasus yang terjadi di gunung ini. Tiga bulan lalu ada beberapa pendaki yang menghilang, lalu…” Chandra menghentikan ucapannya menunjuk sebuah nama yang familiar bagiku.

Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhku. Tanganku gemetar. Jantungku tersentak. Dadaku sesak. Aku kesulitan bernapas. Penglihatanku kabur. Semuanya berwarna hitam, hitam, dan hitam. Aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Hanya teriakan Chandra yang ku dengar. Aku tak sadarkan diri. Pikiranku melayang dalam gelapnya penyesalan. Menembus beribu-ribu awan hitam kegelapan. Kini ku tahu. Meski sekarang aku menyusulmu, kita tak akan pernah bertemu. Tempatku berbeda denganmu. Aku memang bukan orang baik. Itu benar, kan Fadhil?

Cerpen Karangan: Arizqa Shafa Salsabila
Facebook: Arizqa Shafa Salsabila
Kelas VIII A. SMPN 1 DONOROJO

Cerpen Sesal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Thanks For All

Oleh:
Izna hanya bisa tersenyum pedih. Di tempat rahasia mereka, sebuah laut biru dengan hamparan pasir yang indah, dia duduk dengan air mata yang terus menetes. Izna menyesali perlakuannya kepada

Berharap Hujan

Oleh:
Langit mendung enggan mengguyurkan hujan tuk membasahi bumi. Hanya sesekali terlihat kilat dan Guntur terdengar menggema menyelimuti hari. Hari bertambah larut namun hujan tak kunjung datang. Tanaman yang haus

Persahabatan yang Runtuh

Oleh:
Suatu ketika, dulu, waktu aku masih kesal 6 SD, aku merasa sangat senang sekali karena ada sahabat-sahabat ku, yang sangat menyenangkan. Kami setiap hari selalu bermain dan kerja kelompok

Cinta Dan Persahabatan

Oleh:
Mataku semakin sembap, hampir dua jam aku menangis. Tapi rasanya aku masih perlu menangis, hatiku masih tak karuan antara merasa bersalah, kecewa, terluka dan benci semua tergambar tak jelas

Blue and Black

Oleh:
“tap… tap… tap” Seorang siswa smp nusa bangsa yang cool gayanya tapi pemalas. Yap panggil saja namanya Black. Black melangkahkan kakinya menuju kelasnya, kelas IX B. Ia menuju ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *