Sesosok Monster

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 9 September 2016

“Dan peringkat pertama kelas kita pada semester pertama ini diraih oleh…” ucap Bu Vira secara perlahan.
Semua murid tampak duduk dengan rapi dan tenang. Tak ada seorang pun yang melepaskan pandangannya dari gerak bibir bu Vira. Mereka menunggu dengan harapan mendengar namanya disebut. Rasa penasaran mereka semakin berkecamuk. Ditambah lagi dengan tingkah bola mata Bu Vira yang seolah memacu kecepatan detak jantung mereka. Udara AC di kelas ini juga sudah tidak sanggup mengalahkan keringat dingin yang membasahi tubuh mereka.
“Fi…o..naaa,” kata Bu Vira melanjutkan ucapannya. “Ayo Fi ke depan, piala ini menanti kamu,” Bu Vira memegang piala juara kelas.

Fiona meninggalkan kursinya dan melangkahkan kakinya diiringi tepukan yang meriah. Senyuman manis tak pernah lepas dari bibirnya. Ia berdiri tegak di depan kelas dan mengutarakan sepatah dua patah kata tentang hal apa saja yang mendorongnya untuk mendapatkan nilai terbaik. Setelah mengetahui bahwa Fiona lah yang mendapat peringkat pertama, Cynthia dan teman-temannya terlihat jengkel. Jelas sekali tersirat kemarahan pada wajah mereka. Api dalam diri mereka seolah semakin membara ketika mendengar percikan kata-kata yang diucapkan Fiona.

“Huh akhirnya kita keluar juga dari kelas itu,” ujar Cynthia saat menginjakkan kakinya di kantin.
“Bener banget Cyn, gue juga nggak tahan kalo disuruh lama-lama di kelas itu,” Florence menarik kursi kantin untuk duduk di situ.
“Apalagi gue! Sumpah gue enek banget denger kata-kata dia, apalagi pas dia bilang saya mendapatkan ranking ini karena saya belajar dengan baik untuk membuat orangtua saya bangga lalalala,” kata Cynthia sembari mempraktikkan gaya bicara Fiona tadi.
“Ah paling itu mah cuma buat cari perhatian semua orang aja, supaya di mata mereka dia tuh cewek yang baik, tapi sorry kali yah kita nggak bakal kemakan kata-kata manis lo! Ya gak guys?” ucap Florence menaikkan alis matanya.
“Makan yuk. Gue laper tingkat dewa nih,” balas Grace pada ucapan Florence.
“Ah lo mah gue lagi ngomong apa lo nyambungnya ke mana, kebiasaan deh,” keluh Cynthia. “Udahlah makan sana, gue balik duluan ke kelas.”
Cynthia meninggalkan Florence dan Grace di kantin.

Hari ini selera makannya terlahap oleh kekesalan yang meluap-luap. Ia tak terima dengan kemenangan Fiona atas dirinya. Ia merasa selama ini selalu mendapatkan nilai yang terbaik dan mencurigai adanya kecurangan. Cynthia memutuskan untuk melabrak Fiona dan berniat memaksanya mengakui kecurangannya. Ia menyusun rangkaian kata-kata tajam untuk menusuk hati Fiona yang dianggapnya sok baik selama perjalanan ke kelas.
Kakinya terpaku. Matanya tertuju pada Fiona dan orang yang duduk tepat di sampingnya atau lebih tepatnya mereka berdua. Mendengar percakapan mereka sama saja menambah kebencian Cynthia pada Fiona. Apalagi orang itu adalah Wiliam, pacar Cynthia. Cynthia membendung amarah dalam kepalan tangannya tiap kali suara Fiona menyelinap masuk ke telinganya.

“Jadi, hobi kamu apa Fi?” tanya Wiliam ingin tahu.
“Hem.. apa yah?” Fiona menyandarkan dagunya pada tangan kirinya dan menggerakkan bola matanya ke atas seolah mencari jawaban di langit-langit.
“Oh, aku tahu! Hobi kamu pasti belajar kan hahaha,” Wiliam menyeletuk.
“Ya, mungkin belajar bisa digolongkan hobi aku kali yah hahaha,” jawab Fiona.
Cukup. Cynthia tidak tahan lagi. Ingin rasanya masuk ke dalam dan melontarkan caci maki pada Fiona. Namun ia tak mungkin bisa menahan diri untuk tidak juga memarahi Wiliam.
“Bagaimana kalau Wiliam tersinggung dan mutusin hubungannya sama gue? Nggak, nggak, nggak. Gue nggak mau kehilangan dia. Gue harus tahan emosi gue,” kata Cynthia dalam hati. “Fiona, lo gak bakal bisa lepas dari gue sebelum dendam gue terbalaskan!” Cynthia melebarkan kelopak matanya.

“Nat, lagi baca apaan sih? Serius banget deh,” Fiona menghampiri Nata yang duduk di kursi dekat kantin.
“Em gak, cuma buku yang baru gue pinjem dari perpus aja,” Nata terlihat kaget dan langsung menyembunyikan bukunya ke belakang tubuhnya.
“Buku apaan?”
“Em jadi lo liburan ke mana?” Nata mengalihkan pembicaraan.
“Nggak tau nih, ya kamu tau lah mami papi aku sibuk banget”
“Oh gitu. Fi, nanti kita nggak pulang bareng dulu ya. Aku ada urusan sebentar”
“Urusan apa?”
“Ah aku.. aku mau ketemu bu Vira dulu”
“Nggak papa, aku tungguin aja”
“Eits jangan, kamu pulang aja yah. Aku nanti bakal lama”
“Hem ya udah deh, balik ke kelas yuk,” ajak Fiona.

Liburan semester telah berakhir, pertanda saatnya mengawali pelajaran di semester kedua. Fiona berjalan menuju kelas dengan penuh semangat sembari membayangkan hal apa saja yang akan dilakukannya hari ini. Mempelajari bagian mikroskop, bermain dalam algoritma, dan semua yang berhubungan dengan Biologi dan Matematika, dua pelajaran yang sangat disukainya. Ia menebarkan senyum manisnya ketika teman-temannya yang sedang berkumpul di luar kelas melakukan kebiasaan mereka, bergosip. Namun hari ini, telinganya menangkap sesuatu yang tidak asing, hatinya merasakan sesuatu yang tidak biasa, dan pikirannya mengatakan namanya baru saja disebut. Lirikan sinis mereka semakin menyatakan kebenaran bahwa Fiona-lah yang sedang mereka bicarakan. Fiona mencoba tak menghiraukan mereka dan masuk ke dalam kelas.

Suasana di kelas pun tak berbeda jauh, hampir sebagian orang di kelas mengarahkan pandangannya pada Fiona bak penonton konser yang siap melemparkan tomat dan telur ke arah artisnya. Nata pun menarik tangan Fiona ke luar kelas.
“Fi, gue rasa ada seseorang yang berusaha buat menjatuhkan nama lo deh,” mimik wajah Nata serius.
“Maksud kamu, Ta?” ucap Fiona yang belum mengerti maksud dari perkataan sahabatnya itu.
“Sebentar Fi,” kata Nata sambil mengeluarkan handphone dari rok abu-abunya, “nih, coba lo liat deh,” Nata menunjukkan layar handphonenya pada Fiona.
Fiona tercengang tak percaya. Ia berulang kali mengucak matanya untuk meyakinkan dirinya bahwa yang ia lihat adalah nyata. Dan semuanya memang nyata.
“Ta, tapi aku nggak pernah,” Nata memotong ucapan Fiona dengan jari telunjuk yang menempel di bibir Fiona.
“Gue percaya sama lo, Fi. Gue yakin lo nggak pernah nyontek atau melakukan hal curang apapun untuk mendapatkan nilai palsu. Sekarang, yang bisa kita lakuin adalah mencari tahu siapa pengedit foto palsu ini. Lo tenang aja Fi, gue akan bantuin lo ngungkap semua ini,” ujar Nata berusaha menghilangkan kepanikan yang tersirat gerakan tubuh Fiona.

Fiona sedang menyalin jawaban ulangan Cynthia yang ditandai dengan meliriknya ia ke arah kiri, itulah foto yang sedari tadi menyita perhatian hampir seisi kelasnya. Fiona sama sekali tidak mengetahui kapan dan bagaimana foto itu menyebar. Ia pun tidak mengetahui siapa pengedit foto itu. Entah apa maksud dan tujuan orang itu, ia juga tidak mengetahuinya. Ia hanya tahu, kini sosoknya telah menjelma menjadi monster jahat di mata semua orang. Sesosok monster yang dikucilkan, dihina, dan dikurung dalam penjara kegelapan. Dan mungkin, masa tahanannya adalah seumur hidup.

Hari memang berganti, tapi mereka tidak akan pernah berubah. Bahkan mereka semakin menjadi-jadi dan memperlakukan Fiona layaknya monster yang makin ganas sehingga mereka harus memberikan peringatan kepada seluruh dunia untuk menjauhinya. Lagi-lagi, Fiona tidak mengetahui siapa pelakunya. Foto itu terpajang di mading sekolah, tempat di mana seisi sekolah dapat melihatnya. Fiona hanya bisa pasrah di belakang kerumunan murid yang membanjiri papan mading. Tiba-tiba muncul seorang pangeran, penyelamat monster itu dari ketidakadilan yang sedang menimpanya. William menerobos kerumunan itu, mencabut foto itu, dan menyingkirkannya ke tempat sampah. Ia menarik tangan Fiona dan membawanya ke depan perpustakaan.
“Kenapa kamu diam Fi? Kenapa?” William menajamkan tatapannya pada Fiona.
Fiona menoleh ke arah lain dan tidak menjawab pertanyan William.
“Fi, jawab aku, kenapa kamu diam?” William memegang kedua pundak Fiona dengan kuat,
Fiona memperhatikan jari-jari William yang menggoncang pundaknya, hatinya merasakan adanya keyakinan dalam diri William bahwa Fiona bukanlah monster jahat seperti yang dihindari semua orang.
“Apa gunanya aku melawan?” Fiona menyingkirkan tangan William dari pundaknya. “Siapa yang akan percaya sama aku? Siapa?”
“AKU, FI. AKU PERCAYA SAMA KAMU,” kata William sungguh-sungguh.
Fiona terdiam sejenak. Ia meyakinkan dirinya untuk menentang perkataan hatinya.
“Tapi aku nggak percaya sama kamu, William. Dan aku nggak akan percaya sama siapapun lagi,” jawab Fiona dingin dan beranjak pergi.
William kaget mendengar jawaban Fiona, namun ia tidak menyerah. Ia terus berusaha meyakinkan Fiona.
“Dalam hidup ini, kadang ada yang sama sekali nggak kita mengerti, kadang ada juga yang kita mengerti tapi nggak bisa kita lakukan, dan kadang ada juga yang kita mengerti dan bisa dilakukan, tapi semuanya percuma karena kita sudah telanjur menyerah,” ucap William sebelum Fiona berjalan terlalu jauh darinya.
Perkataan William membuat Fiona tetap di posisinya sekarang. Perkataan itu seolah menjadi kunci pembuka hati kecil Fiona yang telah mengubur rapat-rapat keinginannya untuk membela diri, bergema di setiap aliran darahnya yang tak henti-hentinya meneriakkan semangat untuk melawan, dan menyadarkan Fiona bahwa ia harus berjuang untuk mengungkap semua ketidakadilan yang terjadi atasnya.
Fiona kembali menatap William.
“Fi, jangan nyerah gitu aja. Kamu nggak boleh diam, kamu harus cari tahu siapa pelakunya, dan buktikan ke semua orang kalau kamu benar,” William terus mendukung Fiona.
“Kamu bener Wil, aku nggak boleh nyerah,” Fiona tersenyum, “terima kasih yah.”
“Sudah jadi kewajiban aku untuk membantu kamu. Selama ini kamu selalu membantu aku kalau ada pelajaran yang aku nggak ngerti. Sekarang giliran aku untuk membalas semua jasa kamu. Aku akan bantu kamu menemukan pelakunya, Fi. Aku janji,” ujar William.

Di ujung lorong, Cynthia memperhatikan Fiona dan William dengan tatapan sinis. Api cemburu memercik dari ujung kaki sampai pangkal ubun-ubunnya, membakar setiap keringat yang keluar dari tubuhnya, dan bersatu dengan nafsu jahat yang berusaha menguasai dirinya.
“Selain seorang penyontek, mungkin seorang perusak hubungan orang juga cocok buat lo, Fiona,” Cynthia berkata dalam hatinya.

Tak lama, bel masuk sekolah pun berbunyi. Fiona dan William bergegas masuk ke dalam kelas, diikuti Cynthia yang diam-diam mendengar isi percakapan mereka.
“Aku punya rencana yang bagus buat nemuin siapa pelakunya,” kata William pada Fiona. “Aku akan jelasin semuanya pas istirahat.”
Fiona mengangguk setuju. Mereka sampai di kelas dan duduk di meja mereka masing-masing.
“Apa kira-kira rencana William? Gue harus cari tahu,” ujar Cynthia dalam hati.

Dibanding memperhatikan Pak Gery mengukir papan tulis dengan berbagai rumus logaritma, Cynthia lebih tertarik memperhatikan gerakan tangan William yang duduk di depannya berkelok-kelok, seperti sedang menggambar sesuatu. Cynthia memanjangkan lehernya berusaha untuk mengetahui apa yang digambar William, namun gambar itu masih terlindung punggung William dan membuat rasa penasarannya semakin menjadi-jadi. Ia mengamati keadaan sekeliling mencoba mencari kesempatan untuk sedikit berdiri dan mengetahui apa yang digambar pacarnya itu.
“Oke anak-anak, jadi untuk memecahkan soal semacam ini mudah kan?” Pak Gery mengalihkan pandangannya ke arah murid-murid.
Ia kemudian melihat gerak-gerik Cynthia yang mencurigakan.
“Cynthia, ada yang ingin kamu tanyakan?” tanya Pak Gery sembari membetulkan kacamatanya yang sedikit turun.
“Hah? Engg, enggak kok pak,” jawab Cynthia gelagapan.
“Lah terus ngapain itu duduknya nggak jelas berdiri-berdiri gitu?” kata Pak Gery heran.
“Ehm, saya,” Cynthia pura-pura kesakitan dan memegang perutnya, “harus ke belakang pak!”
Cynthia berlari ke luar kelas diiringi tertawaan dari teman-teman sekelasnya.

“Jadi gini loh Ta, nanti tempatnya tinggal dibagi sama dua, nah setelah itu dibagi sama setengah, selesai deh,” ujar Fiona menunjuk soal di buku Nata.
“Oh gitu, ternyata caranya gampang banget yah,” balas Nata. “Terima kasih ya Fi.”
Fiona mengangguk pelan.
“Makan bareng yuk Fi,” ajak Nata.
“Fi, ayo ikut aku,” William tiba-tiba menarik tangan Fiona dari belakang sebelum Fiona sempat menjawab ajakan Nata.
“William, boleh aku ajak Nata juga? Aku cuma nggak mau nanti ada yang salah paham,” Fiona melepaskan tangannya dari William dan menggandeng tangan sahabatnya.
“Oke terserah kamu aja. Aku tunggu kalian di kantin,” William mencoba tersenyum.

Di kantin, Fiona asyik menikmati mie bakso favoritnya, Nata menambah porsi cabai di baksonya, meski bibirnya sudah berulang kali berteriak minta ampun, dan William duduk diam menunggu Fiona dan Nata selesai menyantap makanan mereka. Diam-diam, William memusatkan pandangannya pada Fiona. Rambut Fiona yang berkilauan seolah membuatnya lupa akan segala sesuatu, mata Fiona yang menawan seolah menarik bola matanya keluar untuk sekadar berdansa ria, dan bibir Fiona yang merah seolah memancing senyuman terbentuk dari bibirnya.
“William? William?” Fiona melambai-lambaikan tangannya di depan mata William.
William pun terbangun dari lamunannya. Setelah membiarkan hatinya terbang sejenak, ia secepat mungkin menangkapnya kembali. Ia sadar, kini hatinya telah bertuan.
“Iya Fi, ada apa?” William mengucak-ngucak matanya.
“Kamu kenapa sih?”
“Enggak aku nggak papa. Kamu udah selesai makannya?”
“Udah,” Fiona menunjuk mangkuk di bawah dagunya.
“Gue juga udah,” sahut Nata.
“Oke, pertama, aku curiga kalau orang yang ngedit foto itu Cynthia. Kedua, kecurigaan aku bertambah karena tadi Cynthia penasaran banget mau liat kertas ini,” Fiona dan Nata mengarahkan pandangannya ke arah kertas yang dibawa William, “inget kan tadi pas Cynthia izin ke toilet sama Pak Gery?”
“Iya, tapi apa hubungannya?” tanya Fiona.
“Cynthia itu bohong. Sebenarnya dia mau liat kertas ini, makanya dia berdiri-diri. Nah pas ketahuan Pak Gery, dia beralasan lain deh,” jawab William.
“Jadi, rencana lo apa Wil?” tanya Nata yang terlihat penasaran.
“Kita jebak Cynthia,” ucap William.

Sebentar lagi, hari pembebasan itu tiba. Monster itu akan segera dibebaskan dari segala penderitannya selama ini. Terlepas dari penjara yang mengukungnya atas kesalahan yang tidak pernah ia perbuat.
Pagi ini, Fiona menyambut matahari dengan senyuman lebar dari bibirnya. Dedaunan yang sudah lama rindu akan senyuman itu seolah ingin mengiringinya ke mana pun ia pergi. Embusan angin agak kencang menyambutnya melalui belaian pada rambut hitam tebal yang sedari tadi mengembang-ngembang. Bahkan jalan aspal yang dilintasi Fiona pun tahu, bahwa hari ini ia sangat bahagia.
“Hari ini, semua orang akan tahu yang sebenarnya,” gumam Fiona yakin.

Florence dan Grace menghampiri Cynthia yang baru saja masuk ke kelas. Mereka duduk di atas meja Cynthia.
“Cyn, sebenarnya lo kemarin kenapa sih? Lo nggak balik-balik ke kelas sampai bel pulang sekolah,” wajah Grace penasaran.
“Entah gue juga nggak ngerti, kemarin tuh gue Cuma pura-pura sakit perut, eh ujung-ujungnya jadi sakit perut beneran,” jawab Cynthia sedikit menyesal.
“Wah itu namanya kualat tuh,” Florence menyambar.
“Ah udahlah, males gue bahasnya,” ujar Cynthia.
Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba Bu Vira dan William yang diikuti Fiona masuk ke dalam kelas. Ruang kelas yang tadinya seperti pasar sontak berubah menjadi perpustakaan. Tidak ada yang berani berbicara untuk tawar-menawar harga, tidak ada yang berani bergerak untuk memilih sayur maupun buah, dan tidak ada yang berani berkeliaran untuk mencari toko langganannya. Bu Vira berdiri tegak di tengah papan tulis putih yang masih terisi penuh oleh penjelasannya tentang materi kemarin. Ia mengambil penggaris kayu dan mulai berbicara.
“Anak-anak, baca tulisan yang ibu tunjuk ini,” Bu Vira menunjuk tulisan yang semuanya terdiri dari huruf besar.
“KEJUJURAN”
“Ibu akan bertanya sekarang. Ibu hanya ingin kejujuran dari kalian. Siapa yang mengedit foto ini?” Bu Vira mengambil foto yang dibawa William dan menunjukkannya.
“Loh bu? Itu kan foto asli?” jawaban Cynthia yang memprovokasi seisi kelas menyoraki Fiona.
“Darimana lo tau itu foto asli? Atau jangan-jangan lo kan yang ngedit foto itu?” perkataan Nata menyita perhatian seluruh kelas.
“HE LO JANGAN ASAL NUDUH YA! GUE nggak AKAN SERENDAH ITU! nggak TAU KALO LO,” Cynthia membantah ucapan Nata yang menuding dirinya.
“CYNTHIA! JAGA UCAPAN KAMU TENTANG NATA,” Fiona terpancing emosi, “dia sahabatku dan aku percaya sama dia.”
“Oke, sekarang kita di sini akan sama-sama tau, siapa orang yang lo bilang sahabat ini sebenarnya,” kata Cynthia sembari mencari sesuatu yang ingin dia tunjukkan dari handphonenya.
Selang beberapa detik, Cynthia menekan tombol untuk menabah volume speaker handphonenya. Bunyi tombol yang ia tekan seolah mengatur detak jantung Nata. Makin sering terdengar tekanan pada tombol itu, maka makin tak karuan pula denyut di setiap nadinya yang mungkin akan putus seiring berakhirnya bunyi tombol itu.

“Udahlah, to the point aja. Lo juga mau kan liat Fiona hancur? Karena itu, gue punya penawaran bagus buat lo”
“Penawaran? Apa?”
“Lo masih nyimpen kan foto gue pas nyontek jawaban ulangan lo? Kasih foto itu ke gue, gue akan edit seolah-olah Fiona yang nyontek jawaban lo,”
“Terus apa untungnya buat gue?”
“Tentunya nama Fiona hancur dan lo akan dengan mudah bisa dapetin apapun yang lo mau, termasuk juara kelas sekalipun. Tapi gue juga punya satu permintaan. Lo harus berhenti nyuruh-nyuruh gue ngelakuin apapun yang lo mau karena foto itu”

Sidang pembebasan itu terhenti, membiarkan waktu sedikit demi sedikit memakan kesunyian di ruang persidangan. Hakim sang pengetok palu terdiam, jaksa sang penuntut terdiam, pangeran sang penyelamat terdiam, kawan sang pengkhianat terdiam, dan tentunya monster itu sendiri. Jika ia harus memilih, mungkin monster itu akan memilih agar tidak pernah terbebas dari penjara. Ia baru saja menyadari, bahwa kehidupan di luar penjara jauh lebih menyakitkan.

“Orang yang lo sebut sahabat itu yang ngasih penawaran itu ke gue, Fiona,” ucapan Cynthia yang hampir tidak di dengar lagi oleh Fiona.
Kemudian Bu Vira meminta Cynthia dan Nata ke ruangannya.
“Maafin aku, karena kamu harus tahu semua ini. Aku tahu ini menyakitkan, tapi akan jauh lebih menyakitkan kalau kamu tidak pernah mengetahui semua ini,” ujar William menghampiri Fiona.

Nata sedikit jinjit untuk mengambil buku tebal perpus yang terletak di lemari sesak penuh debu itu. Teman sesama buku yang diambil Nata sudah dapat bernafas lega, terbukti dari posisi mereka yang saling menimpa satu sama lain. Nata meniup debu di atas buku itu dan sekilas melihat halaman demi halaman dari buku yang diambilnya.
“Buku ini akan ngebantu gue buat ngedit foto itu,” Nata tersenyum licik.
“Nat, lagi baca apaan sih? Serius banget deh,” Fiona menghampiri Nata yang duduk di kursi dekat kantin.
“Em gak, cuma buku yang baru gue pinjem dari perpus aja,” Nata terlihat kaget dan langsung menyembunyikan bukunya ke belakang tubuhnya.
“Buku apaan?”
“Em jadi lo liburan ke mana?” Nata mengalihkan pembicaraan.
“Nggak tau nih, ya kamu tau lah mami papi aku sibuk banget”
“Oh gitu. Fi, nanti kita nggak pulang bareng dulu ya. Aku ada urusan sebentar”
“Urusan apa?”
“Ah aku.. aku mau ketemu bu Vira dulu”
“Nggak papa, aku tungguin aja”
“Eits jangan, kamu pulang aja yah. Aku nanti bakal lama”
“Hem ya udah deh, balik ke kelas yuk,” ajak Fiona.
Nata ke luar bersama Fiona dari kelas dan berpisah dengannya di depan ruang guru. Setelah Fiona hilang dari pandangannya, ia secepat mungkin berlari ke dalam kelas, berharap ia masih bisa bertemu orang yang akan menjadi sekutunya, Cynthia.

Nata dan Cynthia sama-sama diskors dua minggu untuk kesalahan yang telah mereka lakukan. Kedua orangtua mereka sudah mengetahui perbuatan mereka dan meminta maaf pada Fiona atas nama anak mereka masing-masing. Kini, kehidupan Fiona kembali seperti dulu. Sosok yang disegani banyak orang karena kebaikan dan kepintarannya. Tapi Fiona sadar betul ada yang tidak kembali dalam kehidupannya. Sahabatnya.

Dua minggu berlalu, itu berarti Nata dan Cynthia telah bebas dari masa hukumannya. Mereka bisa kembali bersekolah, namun tak bisa kembali ke kehidupan mereka sebelum hukuman itu mereka jalani, seperti Fiona sebelum foto itu menyebar.
Nata duduk diam di meja kayunya tanpa berbicara sedikitpun atau lebih tepatnya, ia tak berani berbicara. Ia lalu mengeluarkan buku dari tasnya. Saat ingin menaruh buku itu di laci mejanya, ia menemukan secarik kertas. Ia mengambil kertas itu dan membaca tulisan di dalamnya.

“Aku tunggu kamu di depan perpus pas jam istirahat nanti ya, Fiona.”

Nata melihat meja Fiona yang masih kosong. Hatinya bimbang, bertanya-tanya tentang apa yang harus ia pikirkan. Apakah Fiona akan memarahinya dan memutuskan persahabatan mereka? Itu memang pantas dia dapatkan. Atau, apakah Fiona akan memaafkannya dan melanjutkan persahabatan mereka? Tidak, itu tidak mungkin.

“Fiona,” sapa Nata pelan.
“Sini, duduk samping aku,” Fiona menjawab Nata dengan senyumnya yang indah.
“Maafin ak,” Fiona menghentikan perkataan Nata melalui jari telunjuk yang menempel di bibir Nata.
“Aku udah maafin kamu”
“Segampang itu?”
“Karena aku nggak pernah marah sama kamu. Aku cuma mau tau, kenapa kamu ngelakuin semua itu?”

William menarik tangan Cynthia yang hendak menjauh darinya. William pun memulai pembicaraan.
“Aku sayang sama kamu,”
Tatapan William menenangkan hati Cynthia.
“Aku sayang sama kamu dan aku nggak akan pernah berpaling dari kamu. Kamu percaya kan sama kesetiaan cinta aku?” William memegang kedua tangan Cynthia.
“Aku percaya,” balas Cynthia.

“Aku iri sama kamu,” air mata Nata berbaris rapi menunggu gilirannya membasahi pipi halus Nata, “Tiap aku berdua sama kamu, mereka cuma nganggep kamu. Mereka cuma nyapa kamu, muji kamu, dan yang pasti cuma mau temenan sama kamu. Buat mereka, aku itu cuma orang yang beruntung bisa jadi temen kamu, nggak lebih dari itu. Aku juga mau jadi kamu.”
Fiona memeluk Nata, “Kamu itu sahabat aku. Aku sayang sama kamu dan aku nggak mau kehilangan kamu.”
“Maafin aku Fi, aku banyak salah sama kamu. Aku janji, aku akan perbaiki semuanya,” Nata menghapus air matanya.
“Ada satu hal yang belum pernah aku ceritakan sama kamu. Selama ini, aku berusaha untuk mendapat juara karena aku ingin melihat senyum indah dari kedua orangtua aku. Aku berharap, awan di atas sana bisa melukiskan senyum itu”
“Loh maksud kamu Fi?”
“Aku hanya punya satu tujuan dalam hidup aku, yaitu membanggakan kedua orangtua aku yang sudah bahagia di atas sana”

SELESAI

Cerpen Karangan: Dea Faustine
Facebook: Dea Faustine
Happy reading! 🙂
Twitter: @DeaFaustine
Wattpad: DeaFaustine

Cerpen Sesosok Monster merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seruling Ajaib Dimas

Oleh:
Matahari bersinar dengan teriknya. Dimas, Bagas, Satria, dan Ludvi berjalan pulang sekolah menuju rumah Ludvi. Mereka akan mengerjakan tugas kelompok. Saking panasnya, Bagas mengeluh, “Mataharinya panas banget. Dimas, jajanin

Seikat Mawar

Oleh:
Aku menatapnya kagum. Dave, lelaki yang ku kenal pendiam itu ternyata mahir memainkan sebuah lagu River flows in you. Jari-jarinya menari dengan lincah di atas tuts-tuts piano memainkan mahakarya

Kenangan Bersama Mu

Oleh:
Ketika kau berusaha menjadi seorang yang terbaik, kau akan merasakan rasanya dijatuhkan, diremehkan, dan dicemooh namun jika tekadmu masih berkobaran kau akan menemukan titik terang ketika kau berada di

Jiwa Kedua

Oleh:
Suara yang ditunggu-tunggu akhirnya berbunyi, suara bel tanda pulang sekolah. Akhirnya pelajaran akuntansi 5 jam berakhir. Ku langkahkan kakiku ke musala sekolah, mengambil wudu lalu menghabiskan waktu berlama-lama dengan

Karena Bersepeda Itu…

Oleh:
Mungkin, pertemuan yang menyenangkan itu ialah yang tanpa diatur, tanpa membuat janji. Ada? Ada, dan sering segala sesuatu yang terjadi bersekongkol membuat pertemuan itu benar-benar terealisasi. Beberapa orang menyebutnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *