Setahun Lalu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 27 February 2014

Menunggu. Ya, Sisi memang selalu berada di taman itu setiap harinya. Sendirian, dan selalu saja sendirian. Entah apa yang selalu ditunggu Sisi disini. Seakan-akan dia sedang menanti seseorang untuk datang menemuinya. Meski sebenarnya, tak ada seseorang yang datang ke taman itu untuk menemuinya. Dia tak pernah jenuh. Bahkan tak jarang, sepanjang harinya hanya dihabiskan untuk sekedar datang dan duduk di taman itu. tak ada yang ia lakukan disana. Terdiam sambil memandangi secarik foto lusuh di selalu ia bawa kemana pun ia pergi. Tempat yang ia singgahi juga tak pernah berubah. Dia selalu duduk di tepi danau yang berada tepat di ujung taman. Taman itu memang selalu ramai di pagi hari atau sore hari. Tetapi Sisi selalu datang malam hari. Dia lebih suka menyendiri di taman itu. Tak ada orang yang tau kalau Sisi sering pergi malam hari hanya sekedar untuk duduk di taman. termasuk keluarga dan teman-temannya.

“aku akan terus menunggu kamu” ucapnya pada secarik foto yang berada pada genggamannya. Entah siapa seseorang dalam foto tersebut. Tetapi yang pasti, foto itu sangatlah berarti untuk Sisi. Tak ada seseorang pun yang boleh memegangnya. Dan seketika, air matanya jatuh. Ya, ini sudah biasa terjadi. Setiap kali dia berbicara pada foto itu, dia selalu menangis. Dia teringat akan kenangannya bersama seseorang di foto itu. “aku berharap kamu kembali dan mau mendengar penjelasanku” ucapnya lagi yang kini memeluk erat foto kecil itu.

Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Setelah sudah puas berbicara dengan foto dalam genggamannya itu, Sisi pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan menuju rumahnya, Sisi berjalan dengan pandangan matanya yang kosong. Air matanya sudah berkali-kali ia hapus pun terus menerus menetes. Sepi dan gelapnya suasana tak ia hiraukan. Sesekali ia terus saja memandangi foto itu.

Tak terasa, kakinya kini sudah sampai di depan rumahnya. Dengan mudahnya dia masuk ke rumahnya itu. ya, karena Sisi mempunyai kunci rumah cadangan. Sehingga dia dengan mudahnya keluar masuk rumah di malam hari. Setelah masuk ke dalam rumahnya, sisi langsung menuju kamarnya. Bukannya langsung tidur, ia malah membuka laptopnya. Dia membuka akun e-mailnya, kemudian akun facebooknya, dan yang terakhir akun twitternya. Seperti ada yang ia cari. Tapi nampaknya apa yang ia cari tak ia temukan di setiap akun jejaring sosialnya. Kecewa. Itu pasti yang Sisi rasakan.

Keesokan harinya..
Pagi yang sangat cerah hari ini, tak merubah suasana hatinya yang seakan tertutup awan mendung. Suram dan tak ada gairah untuk hidup. Mungkin bisa dibilang, hidup segan tetapi mati tak mau. Sudah lebih dari setahun Sisi menjalani hidupnya seperti ini. sampai-sampai di sekolahnya banyak yang memanggilnya wanita aneh. Kecuali Desi, sahabatnya. Dia tak pernah memandang Sisi itu sebagai wanita yang aneh. Iya memang tingkah sisi yang berbeda dengan yang lainnya. Tetapi Desi yakin semua ini pasti ada sebabnya. Karena awal dia bertemu Sisi, tingkahnya tak seperti ini. dia seperti yang lainnya. Menjalani kehidupan yang normal. Hanya setahun belakangan ini saja semuanya berubah. Dan inilah yang membuat Desi penasaran dan ingin mencari tau sebabnya.
“Sisi…” teriak seseorang dari depan rumah Sisi. “eh Desi. Masuk Des” jawab ibunya Sisi ketika membukakan pintu. Desi memang sudah terbiasa berangkat sekolah bersama dengan Sisi. Selain itu, ibunya Sisi juga sudah memberi amanat pada Desi untuk selalu menjaga Sisi di sekolah. Karena ibunya khawatir akan terjadi sesuatu berakibat buruk menimpa putrinya itu. maklum saja, Sisi itu sering melamun. Apalagi jika sedang berjalan di jalan raya. Padangannya tidak pernah fokus. Dan Desi juga sudah berjanji untuk selalu menjaga Sisi. “bentar ya Des, tante panggil Sisinya” ucap ibunya Sisi. Desi pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

“Sisi, Desi sudah ada di depan tuh” ucap ibunya memberi tau. Sisi pun langsung bersiap untuk keluar dari kamarnya. Tak banyak kata yang keluar dari mulut Sisi. Dia hanya sekedar berpamitan dan langsung segera berangkat ke sekolah. Dalam perjalanan menuju sekolah, Desi selalu mengajak bicara Sisi. Tetapi tanggapan Sisi datar-datar saja. Sisi yang dulu Desi kenal bukanlah Sisi yang sekarang. Dulu Sisi adalah sosok wanita yang ceria dan selalu tersenyum. Bukan seperti ini yang selalu murung dan tak mempunyai semangat untuk hidup. Ini lah yang membuat Desi sangat ingin mengetahui penyebab semuanya.

Tak terasa, kaki mereka sudah sampai di sekolah. Ya, hari ini adalah hari terakhir ujian kenaikan kelas. Dan mata pelajaran yang diujikan hari ini adalah Bahasa Inggris. Harusnya kali ini Sisi merasa senang, karena ini adalah mata pelajaran kesukaan Sisi sejak duduk di bangku kelas 2 SMA. Tetapi tak ada raut wajah bahagia yang terpancar dari wajah Sisi.

Dan akhirnya, bel masuk pun berbunyi. Dan ujian hari akhir pun segera dimulai. Seperti yang lainnya, Sisi juga ikut mengerjakan soal ujian. Tapi tak tau, apa dia fokus atau bahkan sama sekali tidak fokus. Setelah 60 menit mengerjakan soal ujian, bel tanda waktu kalau waktu ujian selesai pun berbunyi. Semua anak segera mengumpulkan kertas jawaban mereka. termasuk Desi dan Sisi.

“soalnya lumayan gampang ya Si?” ucap Desi saat keluar dari ruang ujian. “iya lumayan” jawab Sisi singkat. Meskipun jawabannya sangat singkat, tetapi ini sudah suatu kemajuan dari Sisi. Ya, biasanya dia tak pernah menjawab pertanyaan yang selalu dilontarkan oleh orang lain kepadanya termasuk Desi. Dan Desi pun tak bertanya apa-apa lagi.

Saat ini mereka sedang berada di perpustakaan. Seperti biasa, Desi selalu membaca novel tiap kali datang ke perpus. Tapi lain halnya dengan Sisi. Mau dimana pun dia berada, dia pasti selalu menyempatkan diri untuk melihat secarik foto lusuh miliknya. Sebenarnya Desi sangat penasaran akan foto itu. tetapi untuk menanyakan hal itu, Desi tak berani. Dia hanya sering mencuri-curi kesempatan untuk melihat siapa yang ada di balik foto itu. tetapi sama sekali tak terlihat. Karena Sisi memegangnya sangat hati-hati agar tak ada orang lain yang melihatnya. Karena semakin penasaran, akhirnya Desi memberanikan diri untuk bertanya pada Sisi akan foto itu. “Sisi..” ucapnya sangat hati-hati. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Kali ini, Sisi langsung merespon Desi. “kenapa?” ucapnya sambil terus melihat foto tersebut. “aku boleh Tanya?” Tanya Desi dengan perasaan ragu. “Tanya apa?” jawab Sisi singkat. “hemm.. itu foto yang kamu pegang, foto siapa sih?” ucap Desi secara perlahan. Mendengar pertanyaan Desi, Sontak Sisi langsung melihat dan menatap tajam wajah Desi. Dan hal ini sampai membuat Desi takut. Desi takut kalau Sisi akan marah kepadanya. Tetapi ternyata, tatapan tajam Sisi perlahan-lahan melunak dan Sisi pun langsung menundukan pandangannya dan tak terasa air matanya mulai jatuh.

Desi sedikit merasa bersalah telah bertanya seperti itu. gara-gara dia, sahabatnya itu kini menangis. “Sisi kalau kamu gak mau jawab pertanyaan aku gak apa-apa kok. Tapi kamu jangan nangis ya” ucap Desi dengan rasa bersalahnya. Sisi pun mulai mengangkat pandangannya yang sejak tadi tertunduk. Dan perlahan, dia mulai menunjukan sosok yang selama ini melekat pada foto lusuhnya itu pada Desi. Desi sungguh tidak menyangka kalau Sisi akan memperlihatkan foto yang selama ini selalu dia jaga kerahasiaannya. Desi pun mulai melihatnya.

Di foto itu terdapat diri Sisi dan seorang Pria. Di foto itu, Pria yang berfoto dengan Sisi sedang memberikan sepucuk bunga mawar putih. Dan terlihat sangat dekat Sisi dengan Pria itu. Pria yang sedikit lebih tinggi dari Sisi itu, terlihat sangat menyayangi Sisi. Ya meskipun Desi hanya melihatnya lewat secarik foto, tetapi Desi sangat yakin kalau Sisi mempunya hubungan khusus dengan Pria itu. tapi pertanyaannya kini, kenapa Sisi selalu menangis bila melihat foto tersebut? Apa Pria itu sudah tidak ada, atau sedang berada jauh? Untuk lebih jelasnya lagi, Desi pun bertanya pada Sisi “ini foto siapa Si?”. Setelah beberapa detik Sisi tak menjawabnya, dan akhirnya kini Sisi mulai menceritakan semuanya pada Desi. “itu foto orang selama ini aku sayang Des. Awalnya aku bertemu dengannya tanpa disengaja. Kejadian itu terjadi sekitar setahun yang lalu. Namanya adalah Kak Andra. Aku pertama kenal dia itu di salah satu toko buku. Saat itu aku dan dia membeli buku yang sama. Dan buku itu hanya tertinggal 1. Setelah sekian menit aku dan dia berebut untuk satu buku itu, akhirnya kita memutuskan untuk membelinya secara bersama. Dan membacanya bergantian. Setelah sepakat, akhirnya kita bertukar nomer handphone. Dan betapa baiknya dia, dia menyuruhku membacanya lebih dulu. Dan beberapa hari setelah itu, kita janjian untuk bertemu kembali di toko buku itu. ya, awalnya hanya untuk memberikan buku yang sudah selesai aku baca. Tapi pertemuan keduaku dengan dia waktu itu lebih dari sekedar memberikan buku yang kita beli secara bersama itu. dia mengajakku untuk makan siang bersama. Dan kamu tau, foto yang selama ini aku pegang itu dimana?” ucap Sisi saat menceritakan tentang awal mula foto itu. Desi yang sejak tadi mendengar cerita Sisi dengan seriusnya, hanya menggelengkan kepala saat Sisi bertanya padanya tadi. “foto itu kita ambil di sebuah taman saat dia mengajak ku jalan-jalan. Dan itu pertemuanku dengannya yang ke 3. Entah kenapa aku sangat bahagia saat itu. perasaanku bergetar saat sedang bersama dengannya. aku tidak tau kenapa perasaanku jadi seperti ini. rasanya aku tak ingin mengakhiri hari ini. tetapi sayangnya, kita harus sama-sama pulang. Dan sejak kejadian itu, aku dan dia jadi sering bertemu di lain waktu. Kita sering menghabiskan waktu bersama. Semakin hari, semakin ada yang berbeda pada hati ini saat dekat dengannya. dan setelah beberapa bulan kita dekat, aku sangat yakin kalau aku mencintainya. Sampai pada waktunya, aku mengajaknya bertemu. Awalnya aku mengajaknya bertemu untuk mengatakan semua perasaanku padanya. Tetapi mengapa sangat berat mulutku untuk mengatakan itu. padahal saat ini, orang itu ada di depan mataku. Dia memandangku heran. Aku sadar itu. aku benar-benar bodoh. Aku tidak bisa mengatakan nya!” lanjutnya saat menceritakan semuanya pada Desi.

Kini Desi mengerti, mengapa Sisi selalu menangis saat memandang foto itu. mungkin karena perasaan sayangnya yang belum sempat ia ucapkan pada seorang laki-laki yang bernama Kak Andra itu. “hem.. apa kamu masih belum bisa mengungkapkan perasaan itu? kalau kamu mau, aku bisa mengantarmu untuk bertemu dengan Pria itu” ucap Desi dengan memegang tangan Sisi. “ingin. Bahkan aku sangat ingin. Tapi aku tidak tau, dia kini ada dimana” ujar Sisi dengan air mata yang makin deras membanjiri wajahnya. Desi pun memberikan selembar tissue untuk sahabatnya itu. “memang dia kemana? Dia pergi?” Tanya Desi yang semakin penasaran. “ini semua karena kesalahpahaman antara kita. Saat itu, temanku yang bernama Kelvin datang ke rumahku. Dan secara bersamaan, Kak Andra juga datang ke rumahku. Entah kenapa, dia langsung pergi gitu aja. Mungkin dia menyangka kalau aku ada sesuatu dengan Kelvin. Dan sejak saat itu, aku tidak tau keberadaan dia. Aku cari ke tempat dia biasa berkumpul dengan teman-temannya. Tetapi tidak ada. Aku cari di semua jejaring sosial. Tetapi semua pertemanan ku dengannya di setiap jejaring social sudah ke Blokir. Aku benar-benar tak mengerti mengapa dia menjauh dariku” ujar Sisi menjelaskan. “mungkin dia cemburu dengan Kelvin. Atau dia menyangka kalau Kelvin itu pacar kamu” ucap Desi menerka-nerka. “mungkin. Tapi harusnya dia mendengar penjelasanku dulu” ucap Sisi. Sedang asiknya Desi mendengarkan rahasia yang selama ini di pendam oleh Sisi, eh bel masuk sudah berbunyi. Sisi dan Desi pun akhirnya keluar dari perpus dan langsung masuk ke dalam ruang ujian.

Ini adalah mata pelajaran akhir di ujian kenaikan kelas kali ini. Desi dan Sisi pun sepertinya lancar untuk mengerjakannya. Setelah 60 menit mengerjakan soal ujian, akhirnya bel tanda ujian berakhir pun berbunyi. Semua murid diperbolehkan pulang.

Dalam pejalanan pulang, Desi mengajak Sisi untuk berjalan-jalan ke sebuah danau yang sangat indah pemandangannya. Dan Sisi pun menyetujuinya. Tak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya mereka pun sampai di danau tersebut. Sambil melihat pemandangan yang sangat bagus, Sisi pun mengeluarkan sepucuk bunga mawar yang sudah layu dalam tasnya. “itu bunga yang kamu ceritakan tadi?” Tanya Desi. “iya. Dan kini saatnya aku move on. Aku baru sadar, aku gak boleh terus menerus terjebak dalam nostalgia ku dengannya. Aku gak mau terpenjara dalam kesedihanku” ucap Sisi dengan tegas sambil berdiri. Desi pun mengikuti langkah kaki Sisi yang perlahan-lahan mendekati tepi Danau. “mau apa kamu Si?” ucap Desi heran. “aku harus buang foto ini dan bunga mawar ini. jika aku terus menerus menyimpannya, kapan aku bisa bangkit dari kesedihan yang aku sendiri tak tau sampai kapan” jawab Sisi menegaskan. “kamu yakin?” tanyanya menegaskan. Ketika ingin menjawab pertanyaan Desi, Sisi melihat dari kejauhan ada sosok Pria yang mirip sekali dengan Kak Andra. Desi pun melihat heran pandangan Sisi yang kini terfokus pada seseorang di ujung Danau. “lihat apa sih Si?” Tanya Desi heran. “itu seperti Kak Andra” ucapnya dengan sangat antusias. Desi pun langsung melihat lekat-lekat sosok Pria yang berdiri di ujung danau sambil menyamakannya dengan foto yang di pegang Sisi. “hemm.. sepertinya mirip Si” ucap Desi saat selesai membandingkan. Ketika hendak ingin menghampiri laki-laki itu, tiba-tiba saja dia langsung pergi dari ujung danau. Desi dan Sisi pun berusaha mengejar Pria itu. hem tetapi mustahil. Gerak kaki seorang Pria dan wanita itu jauh berbeda. “apa mungkin itu Kak Andra ya?” Tanya Sisi dalam hatinya. “Si pulang yuk” ucap Desi menghamburkan lamunan Sisi. Dan mereka pun memutuskan untuk pulang.

Malam harinya, Sisi masih saja memikirkan tentang kejadian di danau tadi. Dia yakin kalau yang di danau itu adalah Kak Andra. “ah udah Si.. keep moving on!” ucapnya dalam hati. Agar tak teringat lagi dengan kak Andra, Sisi pun memutuskan untuk tidur.

Cerpen Karangan: Risdatul Zulfiah
Facebook: zrisdatul[-at-]yahoo.com
namaku Risdatul Zulfiah
aku kelas 3 SMK di SMK Daarul Uluum
nama Facebook ku: Risdatul Zulfiah
Twitter: @risda_zulfiah

Cerpen Setahun Lalu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kita Sahabat

Oleh:
Teet.. Teet.. Teeet.. Bunyi bel sekolah tanda untuk masuk kelas. Vyo, vina dan yani memasuki kelas “vyo, si udik kemana, kok gak keliatan dari tadi?” kata vina sambil melihat

MoU Cinta (Part 1)

Oleh:
“Kenapa hari ini panas banget, ya?” tanyaku pada diri sendiri. Aku menaruh map plastik yang kupegang di atas kepala untuk menghindari terik matahari. Aku berjalan menuju ruang kelas untuk

Mawar Terindah

Oleh:
Tepuk tangan begitu meriah yang diberikan untuk Rido. Aku memandanginya dari bangku ku. Rido mempersembahkan sebuah lagu yang indah, yang dibuatnya semalaman untukku. Pria itu mendekati tempatku duduk sambil

6 Desember

Oleh:
“Ya ampun.. Kakak belum bangun juga!” Terdengar suara Viza sedikit kesal karena melihat tempat tidur kami yang masih berantakan. Ditambah dengan sekujur tubuh yang tergeletak masih terlelap di atasnya.

Best Friend 7ever

Oleh:
Hai, perkenalkan namaku charisa dwi santika. Aku mempunyai teman lebih tepatnya sahabat apalagi jumlahnya 7 sama seperti namaku CHARISA kan ada 7 huruf hehehe. Nama sahabat ku antara lain:

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *