Setengah Sepi Setengah Tahun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 19 October 2016

Ei menyeka helai rambut di keningnya, menyisirnya ke belakang dengan jari dan mengikat ulang kuncirnya. Tanpa menoleh dia meraba ke atas televisi di samping tempatnya berdiri dan segera tersadar kalau kipas listrik yang biasa terletak disana adalah kepunyaan Alin. Kipas itu pasti sudah rapi terkemas, bersama dengan barang-barang milik Alin yang lain, di dalam salah satu kotak kardus yang sekarang bertumpukan di dekat pintu depan. Dengan helaan nafas panjang dia merebahkan diri di atas tikar rotan, dan mencoba menghalau gerah dengan kibasan manual kertas koran. Sambil tetap berbaring dia memperhatikan sekeliling ruangan dan kembali terpikir olehnya, untuk yang kesekian kali dalam hari ini, kalau rumah ini sekarang terasa terlalu lapang untuk dia tempati sendiri. Perempuan muda itu kembali menghela nafas panjang dan bangkit duduk bersila. Tidak enak berbaring dengan rambut terkuncir.

Di halaman depan, pagar rumah merengkih berdecit karena didorong terbuka. Dan dari kelepak-kelepak bising langkah kaki yang mengikuti, Eni bahkan tidak perlu menebak siapa gerangan yang datang.
“Eng-ing-eeng,” Alin mengumumkan kedatangannya sambil menggoyang-goyang sebuah bungkusan plastik di tangannya. “lima sachet shampo sesuai pesanan, ditambah jeruk manis gratis pemberian Pak RT. Sana gih, cepetan mandi sebelum jeruknya kehabisan.”
“Emangnya kamu, yang mandinya lama sampai yang nungguin jenggotan.”
“Eh, sebagai calon wanita karir zaman millenium, kita itu harus serius dalam menjaga penampilan. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, makanya penting untuk selalu tampil cantik dan wangi di setiap kesempatan…” kata Alin sambil mengelus kulit pipinya dengan punggung tangan.
“Ya, ya.” dengus Eni sembari beranjak menuju kamar mandi.

Selesainya mandi dan berpakaian, Eni ke luar kamar dan melihat Alin sedang duduk bersandar di dinding, melamun menatap langit-langit dengan berselunjurkan kaki. Dia lalu duduk di sebelahnya, ikut bersandar dan menyelunjurkan kakinya. Tinggi badan mereka tidak berbeda jauh kalau sedang duduk. Walau kaki Eni sekitar sejengkal lebih panjang.
“Nih,” kata Alin sambil menyodorkan sepotong jeruk yang sudak dikupas dan dibersihkan kulit arinya.
Eni mengambilnya dan mendorongnya masuk ke dalam mulutnya. Tatapannya masih belum beranjak dari kaki-kaki yang berselunjuran bersebelahan di depannya.
“Waktu aku masih di awal-awal masa kuliah dulu, aku suka berpikir kalau masa depan itu seperti masuk ke sebuah ruangan yang terang dan luas. Dimana aku bisa bebas pergi ke semua arah tanpa khawatir akan tersesat atau salah jalan. Karena aku yakin kalau kemanapun aku melangkah, pada akhirnya aku tetap akan sampai pada suatu tujuan. Baru beberapa hari ini aku sadar kalau itu salah. Ruangan itu lebih seperti gudang tua gelap yang penuh dengan kotak-kotak berdebu dan rongsokan. Tidak mungkin untuk bebas berjalan, cuma bisa merangkak pelan dan berjinjit hati-hati melalui setiap sela dan celah yang bisa ditemui.”
“Waaw, aku baru tahu kalau ternyata seorang Eni bisa berfilosofi juga.” kata Alin, sengaja membuat matanya terbelalak. Lalu dia kembali menyodorkan potongan jeruk pada Eni, sebelum berkelit dan membelokkan tangannya kembali ke arahnya dan melahap potongan jeruk itu sendiri. “Emosional nih ceritanya?” godanya kemudian.
“Ya, ya.” kata Eni agak kesal, “tapi ngomong-ngomong soal baru tahu, aku juga tidak pernah menyangka kalau ternyata seorang Alin, seorang Alina Julira Hoetomo,” dia sengaja mengulang kalimatnya dan menambahkan gerakan tangan untuk memberi efek dramatis, “cuma punya sepasang pakaian dalam yang warnanya seragam. Kamu tahu, sebagai calon wanita karir zaman millenium kita itu harus serius dalam menjaga penampilan. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi…”
Alin menimpuk pipi Eni dengan kulit jeruk.

Dua calon wanita karir zaman millenium itu kemudian serempak tertawa. Dan berhenti di saat yang hampir bersamaan. Lalu keduanya diam. Eni memandangi telapak tangannya, mengikuti ruas-ruas takdir yang tergaris disana dengan matanya yang mendadak terasa hangat. Dia terdiam bukan karena dia tidak memiliki kata-kata untuk diucapkan. Justru sebaliknya, dia tahu persis kata-kata yang akan tumpah keluar jika saat ini dia membuka mulutnya. Perempuan muda itu lalu mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan menelan kata-kata itu kembali ke dalam kerongkongan. Riuh suara serak dari mesin mobil pick-up di jalan depan rumah akhirnya membuyarkan mereka dari lamunan. Eni memungut tumpukan kulit dan biji jeruk dari atas tikar dan membuangnya ke dalam tempat sampah di dapur. Sedangkan Alin bergegas berjalan menuju pintu depan, membukakan pintu untuk Pak RT dan dua orang laki-laki yang akan membantunya pindahan. Kardus-kardus lalu mulai diangkat dan alamat tujuan pun diberikan. Meninggalkan para pria dengan tugas mereka, Eni dan Alin melangkah berdampingan, masing-masing menenteng satu tas koper di tangan, menapaki jalan tanah berkerikil komplek Perumnas menuju rindangan pohon pelindung di tepian jalan raya di luar sana. Di separuh perjalanan, Alin tiba-tiba tersentak berseru. Dia bilang kalau dia kelupaan sesuatu, lalu menyuruh Eni untuk jalan duluan. Tapi dia tidak lupa untuk menitipkan tas tentengannya pada sahabatnya, yang hanya bisa menerimanya dengan wajah pasrah.

Setelah agak lama menunggu, Alin akhirnya datang menyusul. Tersengal-sengal dengan butir-butir peluh bertebaran di leher. Eni menengadah, terik surya di atas sana belum lagi pudar walaupun hari sudah hampir lewat sore.
“Kamu seharusnya tidak usah tergesa-gesa berlari. Kalaupun busnya datang waktu kamu pergi aku kan bisa bilang ke sopirnya untuk menunggu sebentar.” kata Eni merasa kasihan.
Alin menggeleng sambil mengatur nafasnya untuk normal kembali. “He..he.. aku salah rupanya, nggak ada yang kelupaan.” kekehnya kemudian.
Rasa kasihan Eni berkurang sedikit.
“Waktu tadi lari kesini, aku kepikiran kalau seandainya kakiku lebih panjang pasti aku bisa berlari lebih cepat.” Alin lalu berjongkok memperhatikan sepasang kaki milik Eni. “Terus aku kepikiran lagi tentang apa yang kamu bilang tadi. Soal berjinjit dan merangkak dan masa depan.”
“Hm? Apa hubungannya?”
“Kalau toh akhirnya kamu nggak bisa jalan atau berlari, percuma aja dong ya kamu punya kaki panjang.”

Sebuah senyum-setengah—seringai merekah di wajah Eni. Dia mengangkat tangannya bersiap untuk menjitak kepala Alin, yang segera berkelit dan meloncat menjauh. Tidak lama kemudian bus yang ditunggu akhirnya datang, dan berhenti di hadapan mereka dengan bunyi berdesis panjangnya yang familiar. Pintu depan bus terbuka, seorang kernet turun menghampiri dua sahabat itu dan menawarkan untuk mengangkatkan barang-barang bawaan ke dalam bagasi. Aku pamit dulu, kata Alin. Eni hanya mengangguk membalasnya.
“Aku pengennya kita bisa tinggal bersama lebih lama. Diam-diam aku ini penggemar filsafat lho.” kata Alin lagi, setengah mengejek.
“Ya, ya. Setidaknya sekarang aku tau hadiah ulang tahun apa yang harus kubawa kalau mengunjungimu juli nanti.” Kata Eni, yang langsung ternganga mendengarnya. Kata-kata itu terucap begitu saja tanpa dia sadari.
“Berjanjilah,” kata Alin sembari mengatupkan bibirnya, air mukanya mendadak berubah serius dan penuh harap.
“Ya, ya.”
“Bilang ‘ya’ nya sekali aja. Orang-orang akan berpikir kamu nggak tulus kalau kamu terus seperti itu.”
“Ya. Aku janji.”

Bus itu pun kemudian siap berangkat. Roda-roda hitamnya mulai bergerak pelan, lalu perlahan berputar menjadi semakin cepat, membawa bus itu terus menjauh sampai akhirnya menghilang ditelan jalan menurun perbukitan. Namun Eni masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Membayangkan bentangan aspal hitam sejauh seribu kilometer yang akan ditempuh sahabatnya, tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang selain diam-diam berdoa berharap Alin aman dan selamat sampai tujuan.

Sekembalinya di rumah, ruangan-ruangan yang sekarang setengah kosong membuatnya seolah berada di tempat yang tidak dia kenali. Matahari di luar masih bersinar terik, panasnya merasuk menembus atap dan dinding, sebuah isyarat awal akan kedatangan musim kemarau panjang di negeri khatulistiwa ini. Dia merasa gerah dan ingin mandi sekali lagi, hanya saja keringatnya masih belum berhenti mengalir, konsekuensi dari serangkaian usahanya dalam menangkap dan menjitak kepala Alin tadi. Tanpa menoleh dia meraba ke bagian atas televisi dan menyalakan kipas listrik yang terletak disana. Perempuan muda itu lalu memicingkan mata sambil menikmati kipasan angin sejuk yang menerpanya. Dan segera kerutan heran muncul di dahinya, menyadari kalau ada sesuatu yang janggal tengah terjadi. Dia membuka matanya dan menoleh dan tatapannya tertumbuk pada kipas angin listrik di atas televisi. Pada baling-baling merah jambunya yang berputar kencang menderu dan dudukannya yang dihiasi stiker bertuliskan kata TERMINATOR, judul film favorit sahabatnya yang lembut dan tidak ada cocok-cocoknya dengan robot kaku berotot itu. Sebuah senyuman lebar membentang menghias wajah Eni. Dan berpikir kalau mereka akan bertemu kembali pada pertengahan tahun nanti, rasa kesepiannya berkurang sedikit.

Cerpen Karangan: Abdul Hafez Mubarak
Email: abdhafezd[-at-]gmail.com

Cerpen Setengah Sepi Setengah Tahun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Best Friend in Asrama

Oleh:
Hari ini Novita sedih sekali, tidak ada siapa-siapa selain bibinya. Tapi Novita ingin sekali pergi bersama Ayah, Bunda dan yang lain. Sayangnya mereka sibuk sekali. Mereka tidak pernah mengajak-nya

Terlambat

Oleh:
“terlambat sudah semua kali ini, yang kuinginkan tak lagi sendiri, bila esok mentari sudah berganti, kesempatan itu terbuka kembali akan ku coba lagi” Gue, Tama Nugraha. Gue salah satu

Persahabatan Kami Hancur Karena Cinta

Oleh:
Aku mempunyai dua orang sahabat, yaitu Amanda dan Ray. Aku bersahabat dari kecil hingga duduk di bangku SMA, waktu itu Amanda bercerita padaku. “Eum Nisa kalau Ray orangnya gimana?”

Sahabat Tetap Sahabat

Oleh:
Seperti biasa, pukul 06.30 bel berbunyi “kringg” semuanya kembali ke kelas dan memulai pelajaran. Pelajaran pertama adalah matematika. Menurut ku itu pelajaran, yang paling bete dan membosankan. Tapi aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *