Setia (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 2 September 2014

Mobil sedan Ez terparkir di tepi rumah Albi. Ketiga gadis tersebut turun dan menghampiri post satpam yang ada di dalam rumah. “Misi pak, ibunya ada?” Tanya Clay yang langsung di sikut Ez “Cla, kita kan mau ketemu Al” bisik Ez protes namun Clay hanya tersenyum “ada perlu apa yah mba?” Tanya satpam tersebut. “Kita bertiga temannya Al.. Maksud saya Albian pak” sahut Clay aneh. Suaranya sempat terhenti saat menyebutkan Al.

“Ohh.. Temennya Mas Al, mari mba masuk-masuk, ibu ada di dalam. Kebetulan, ibu sudah tiga hari ini di rumah, katanya kangen dengan mas Albian. Lagipula, besok harinya” satpam tersebut membukakan pintu sambil berbicara. Ez hanya tersenyum malas sementara Namira dan Clay memandang lirih satpam tersebut. “Terimakasih pak, ayo Nam, Ez” ajak Clay.

Ketiga gadis itu berjalan beriringan menuju pintu. Setelah menekan bel, seorang pembantu keluar dan mempersilahkan mereka masuk. Suara langkah kaki membuat ketiganya menoleh dari sofa yang mereka duduki. Nyonya Alima berjalan menghampiri mereka sembari tersenyum tipis. Kontan ketiga gadis tersebut berdiri dan menyalami Alima.

“Duduk sayang, tante habis siap-siap buat besok, kebetulan kalian datang. Ada apa sih?” Tanya Alima ramah. Clay dan Namira saling pandang lalu Namira buka suara “begini tante, kayanya Ez yang pengen ngomong” ujar Namira menyilahkan. Alima beralih pandang ke arah Ez. Senyumnya yang cantik seketika pudar pelan-pelan. “Kamu… Ezxerlyna kan? Pacarnya Albian?” Tebak Alima. Ez mengangguk. “Iya tante, Ez. Albiannya ada tante? Ez pengen ketemu Al tante soalnya udah beberapa bulan nggak ketemu” raut wajah shock terpampang jelas di wajah Alima. Wanita paruh baya itu menatap bergantian pada Namira dan Clay.

“Namira, Clay.. Kenapa Ez tanya begitu? Bukankah dia sudah tau semuanya?” Tanya Alima sedih. Namira segera memegang tangan Ez, gadis itu menatapnya heran tapi Namira cuek. “Tante, saya juga nggak tau dia kenapa. Sejak seminggu lalu dia udah mau keluar dari apartemennya dan saya kaget saat kemarin dia bilang sedang menunggu Albian. Padahal kita semua juga tau tan..” Clay menggantung kalimatnya.

Ez merasa bingung dengan percakapan ini. Dia datang kemari untuk bertemu Albian, kenapa malah begini? Dan lagi, kemana Al? “Sebelumnya maaf tante, saya bener-bener enggak ngerti dengan pembicaraan kita. Saya kesini ingin ketemu Al tante. Nam, Cla, lo jelasin deh, ini tuh ada apa?” Ez memandang Alima, Namira dan Clay bergantian. “Tante kayanya, lebih baik tante yang jelasin.” Ujar Namira pelan yang disetujui dengan anggukan Clay. Ez menatap heran dua sahabatnya lalu menatap Alima “tante..”

Alima menghela nafas, “Ez, tante enggak tau ada apa dengan kamu. Tapi, tante mengerti, ini mungkin hanya karena kamu terlalu menyayangi Albian hingga belum ikhlas untuk melepasnya. Ez, semua teman-teman kamu tau, tante juga tau, kejadian malam tahun baru tahun lalu membuat Albian pergi selama-selamanya.” Ez tampak shock, di sampingnya Namira terus menggenggam jemari Ez.

“Maksud tante? Albian..” Alima mengangguk. “Hampir setahun yang lalu, Albian meninggal karena kecelakaan maut Ez, kamu lupa? Albian pulang dari Bandung sehabis meninjau lokasi selama beberapa minggu. Dia bilang dengan kamu, dengan tante, dia akan pulang sebelum tahun baru sehingga kita bisa merayakan tahun baru bersama, tapi naas Ez. Mobil yang dibawa Albian bertabrakan dengan truk gandeng saat di tikungan. Dan.. Dan…” Alima tak melanjutkan kalimatnya. Dia sudah terisak pelan. Clay bangkit lalu duduk di samping Alima sembari mengusap bahunya. Seolah teringat, Ez terhempas akan kejadian yang seolah terhapus dari memorinya beberapa jam terakhir.

Flashback on

“Aku mau ada peninjauan nih di bandung buat ninjau lokasi cabang perusahaan aku” kata Albian saat mereka tengah menikmati angin malam di atas gedung. Tempat ini tempat favorite Albian. “Lama gak?” Tanya Ez sambil bersandar di bahu pemuda yang sudah lima tahun itu mengisi hatinya. “Eum.. Beberapa minggu aja sih. Kamu kalo aku pergi jaga diri, jangan lupa vitamin kamu diminum, bangun pagi biar ngga telat ngampus, kerja. Jangan telat makan.” Nasihat Albian.

“Iya bawel. Kamu cerewetnya ngalahin mamah kamu yah?” Ez menarik hidung Albian lalu tertawa. “Aku serius nih! Kamu kan pelupa, kalo aku udah gak ada, siapa yang mau ngingetin?” Ledek Albian “dih, jadi ngeremehin aku yah? Iyah? Nih rasain nih, rasain!” Ez menggelitiki tubuh Albian hingga cowok itu tertawa keras-keras.

“Aku pulangnya agak malem nih. Dari sini jam 21.00. Belum macetnya, gak pa-pa kan?” Tanya Albian di sore telepon itu. “Nggak pa-pa kok Al, kamu kalo gak bisa pulang hari ini besok aja, kan besok masih bisa ketemu” kata Ez sembari menyiapkan bahan-bahan untuk nanti malam. “Nggak bisa, aku harus pulang nanti malam. Udah gak ada besok-besok lagi Ez, waktunya mepet” ujar Al di sebrang sana

“emang kamu mau kemana sih? Kaya mau pergi kemana aja sampe harus buru-buru” sahut Ez sambil lalu. Di sebrang sana Al tersenyum tipis, “oh ya, aku ada paketin kamu sesuatu tuh. Dibuka yah nanti” mendengar perkataan Albian, Ez menghentikan pekerjaannya “sesuatu? apaan?” Tanya Ez penasaran “ada deh, rahasia. Eh, udah dulu yah, aku mau mandi nih. Daah..” ucap Albian jahil “Albiaaan ih..” Ez meletakkan ponselnya “kebiasaan sukanya bikin penasaran” gerutu Ez, tiba-tiba ponsel Ez berbunyi lagi. Albian.

“Apaan? Katanya mau mandi?” Kesal Ez. Albian tersenyum “ini mau mandi kok, cuma mau bilang i love you more Ezxerlyna..” Bagaikan sihir, kekesalan Ez menguar begitu saja. Ia tersenyum-senyum sendiri di dalam patry “dasaar.. I love you too”

“Albian kecelakaan Ez, dia meninggal” sms yang di terima Ez saat pergantian tahun bagaikan petir. Terompet di tangannya jatuh begitu saja. Kedua mata Ez berkaca-kaca. Ia berlari turun dari atas gedung favorit Albian. Menaiki lift dengan airmata berlinang dan berlari di dalam basement menuju mobilnya dengan perasaan sakit luar biasa. Malam itu, malam tahun baru terburuk yang pernah ia rasakan.

Flashback off

“Albian meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit Ez, luka di kepalanya terlalu berat dan dia kehilangan banyak darah. Waktu itu, lo pingsan di rumah sakit. Waktu pemakaman Albian, lo histeris sambil manggil-manggil nama Albian. Gue sama Namira gak dianggep sama lo. Sejak hari itu sampe seminggu lalu, lo nggak pernah ngomong dengan siapa-siapa, lo nggak pernah keluar apartemen bahkan untuk ngampus ataupun kerja. Namira yang ngambil izin cuti kuliah lo. Itu juga kenapa lo dipecat kantor tempat lo kerja dulu” jelas Clay panjang lebar. Ez beku. Wajahnya pias mendengar perkataan Clay.

“Ta.. tapi Clay, Albian masih ada dia belum meninggal. Wak.. waktu itu dia nyuruh gue nunggu di caffè tempat kita sering nongkrong pas kita SMA. Dia juga janji bakal datang buat makan malam di apartemen gue karena di gak datang di caffè.” Jelas Ez mencoba menampik segala fakta. Namira dan Clay menggeleng perlahan. “Itu cuma ilusi lo Ez..” Ucap Namira lembut.

Ez menatap Clay dan teringat kejadian tadi pagi “oke kalo itu emang ilusi gue, terus gimana sama kejadian tadi pagi? Semalam, gue ketiduran di balkon dan-” kalimat Ez dipotong oleh Clay “dan tadi pagi lo nemuin diri lo ada di kamar?” Ez mengernyit heran “darimana lo tau?” Tanya Ez bingung. Clay menggeleng perlahan. “Ez, gue yang mindahin lo. Tadi pagi, gue ketok-ketok pintu apartemen lo tapi gak lo bukain, karena gak lo kunci gue masuk. Gue liat lo tidur di kursi dengan makanan kesukaan Albian di atas meja. Lo fikir gue tega ngebiarin lo tidur kaya gitu?” Tanya balik Clay.

Habis sudah. Apa lagi yang ingin Ez bantah? Faktanya, Albian memang sudah tiada dan dia ingat benar dengan kejadian tahun baru itu hari ini. Setetes airmata Ez tumpah. Pantas segalanya terasa janggal. Arial, Clay, Namira.. Ternyata Albian memang telah tiada.

Flashback on

“Ez, kadang-kadang apa yang lo punya belum tentu lo milikin..”

“Kadang kala, kita harus melupakan apa yang bukan milik kita. Jangan mau dibayangin masa lalu lo Ez, karena masa depan lo bakal ancur. Jangan ngerasa sendiri Ez, disini ada gue, ada Arial, ada Namira, kita ada buat lo. Lepasin pelan-pelan yah Ez”

Flashback off

Di mobil, Ez terus diam sembari memandangi jalanan dari jendela mobil. Kali ini, Clay yang menyetir. Sedari tadi Clay dan Namira saling lirik lewat kaca depan mobil. “Ez..” Kalimat Namira dipotong oleh Ez “diam aja Nam. Gue lagi pengen diam” ucap Ez datar. Clay dan Namira saling lirik lagi. Keduanya menghela nafas berat. Sedan silver itu melaju di hingar-bingarnya kota Jakarta.

Malam ini di tengah riuhnya menunggu pergantian tahun, Clay dan Namira memilih menemani Ez di apartemennya. Sedari tadi gadis itu diam saja memandangi jendela balkon kamarnya. Namira dan Clay saling sikut dan berkata-kata tanpa suara. “Kalian nggak tahun baruan? Clay, lo nggak pergi sama Daren? Lo Nam, lo gak pergi sama Arial?” Tanya Ez tanpa memalingkan wajahnya dari jendela. Clay dan Namira saling pandang lagi “kita mau disini Ez, kita mau ngabisin akhir tahun ini bareng elo” kata Namira seraya berdiri menghampiri Ez “gue gak pa-pa kok. Kalian kalo mau pergi, pergi aja” sahut Ez datar “kita emang pengen pergi” ujar Clay yang mendapat pelototan Namira. “Tapi kita pengen disini sama lo Ez” lanjut Clay sembari mendekati Ez dan Namira. Tak ada sahutan. Namira tersenyum pada Clay. Dan begitulah, berjam-jam mereka lalui dengan saling diam.

Hingga akhirnya Ez entah tersengat oleh apa, bangkit berlari ke kamarnya. Namira dan Ez saling pandang lalu menyusul Ez. Keduanya berdiri di ambang pintu kamar sambil memperhatikan Ez yang kesana-kemari entah mencari apa. Setelah semenit berdiam diri dan melihat apa yang Ez lakukan, Namira angkat bicara “Ez, lo nyari apa sih?” Ujar Namira sambil melangkah masuk “iya, biar kita bantuin” tambah Clay.

“Gue nyari bingkisan dari Albian. Bingkisan yang dia kirim tahun lalu. Gue belum buka” kata Ez sambil membuka satu persatu laci mejanya. “Bingkisan? Ngg.. Warnanya apa?” Tanya Clay lalu ikut membantu. Membuka rak-rak buku Ez satu persatu “cokelat muda. Di ujungnya ada pita” sahut Ez sambil membuka laci lemari. “Yang ini bukan?” Namira mengangkat sebuah kotak yang ia temukan di bawah tempat tidur. Sontak, Clay dan Ez menoleh. Ez tersenyum dan mengangguk “iya, itu. Lo dapet dimana?” Tanya Ez seraya menerima kotak dari tangan Namira “gue nemu di kolong tempat tidur” sahut Namira lalu duduk di kursi tempat Ez biasa mengerjakan tugas kuliahnya. Ez tersenyum tipis kemudian duduk di atas kasur. Di sampingnya ada Clay.

“Terus, mau lo apain tuh kotak?” Tanya Clay kepo. Ez memandang bergantian Clay dan Namira. “Pengen gue buka, kalian temenin yah” keduanya mengangguk “buka gih, gue juga penasaran” ujar Namira semangat. Ez tersenyum lalu menggeleng. “Gak disini Nam..”

Ez, Clay, dan Namira berjalan ke tengah atap gedung favorit Albian yang kini menjadi tempat favorit Ez. Sesaat sebelum berangkat pulang, Ez sempat menelpon dan mengatakan sudah menerima bingkisan dari Albian. Cowok itu bilang, Ez harus menunggunya pulang untuk mengetahui apa isi bingkisan tersebut namun sayang, belum sempat bingkisan itu mereka buka, Albian telah lebih dulu meninggal.

Bunyi petasan berpadu dengan lengkingan terompet dan kilatan bunga api. Ez, Clay, dan Namira berpandangan. Namira melirik jamnya. 23.59 “satu menit lagi. Sepuluh detik hitung mundur kita buka yah” ujar Ez mengomando. Namira dan Clay mengangguk. Namira melirik jam tangannya lagi dan menatap Ez “sekarang!” Serunya “10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1” ketiganya berseru bersamaan sambil membuka kertas kado. Saat lengkingan terompet, petasan dan bunga api memecah langit malam, bingkisan dari Albian telah terbuka. Ez menatap sebuah kotak berukuran sedang. Ia membuka kotak tersebut dan mendapati sebuah jam weker.

Flashback on

“Maafin yah aku telat lagi. Untung kamu telpon, coba nggak, pasti aku udah ketiduran nih” Ez berkata setelah meminum es jeruk yang dipesan Albian. Hari ini mereka janjian bertemu. Albian tersenyum lalu mengusap kening Ez yang berkeringat
“Gak pa-pa. Aku akan selalu jadi jam weker buat kamu”

Flashback off

Airmata Ez menetes satu-persatu. Ia mengambil surat yang terselip di dalam kotak tersebut lalu membacanya.

Teet tolet toleeeet… Yeah!
Happy New Year putri Ez-ku, selamat tahun baru. Semoga di tahun ini segalanya bisa menjadi kesan untuk kamu, bukan beban. Selamat menempuh hari baru di tahun yang baru ini, semoga bukan dengan pasangan baru yaa, haha. Oh ya, aku sengaja beliin kamu jam weker, supaya kamu gak telat-telat lagi. Kalo misalkan aku gak ada, kan ada jam weker yang bakal ngingetin kamu. Oh yaa, wish aku satu lagi semoga aku bisa terus jagain kamu darimanapun aku ada. Happy new year yah sayang, I love you so much..

Albian

Ez mendekap erat-erat surat dari Albian. Di kanan-kirinya dengan sigap Clay dan Namira memeluk Ez, “yang tabah Ez, lo masih punya kita” ucap Namira lirih. “Albian ngga akan seneng liat lo begini Ez, ikhlasin dia supaya lo juga ikhlas” tambah Clay. “Gue sayang banget sama Albian Nam, Cla.. Gue masih gak percaya dia udah setahun ninggalin guee…” Isak Ez kencang. Clay melepaskan dekapannya begitu juga Namira. “Ez denger gue, segala yang terjadi ini udah skenario hidup. Kita cuma pemain yang harus ikutin skenario dan ngadepinnya. Kepergian Albian mungkin nyakitin lo tapi, lo harus inget, kalo gak cuma lo yang kehilangan. Gue, Namira, tante Alima, Arial, temen-temen kampus Albian, temen kantor, kita semua kehilangan dia Ez. Tapi, mereka gak nunjukin semua itu! Kenapa? karena hidup harus terus berjalan Ez. Kita harus ngelanjutin skenario hidup sampe selesai. Kalo tiba saatnya, lo pasti bakal ketemu Albian lagi” jelas Clay dengan tegas dan tulus. “Satu lagi Ez, kehilangan Albian bukan berarti lo kehilangan hidup. Lo punya gue, punya Clay, kita ada buat lo” Namira menambahkan. Ez menatap kedua sahabatnya. Airmatanya menetes lagi.

Dengan satu gerakan, Ez memeluk dua sahabatnya berbarengan. “Thanks a lot guys. Sekarang gue ngerti. Kalian bener, gue harus ikhlasin Albian, biar gue juga ikhlas. Suatu saat, gue dan dia pasti bakal ketemu lagi dengan cara Tuhan. Sekarang, gue cuma harus melanjutkan hidup sambil nunggu saat itu datang. Thanks kalian selalu ada buat gue. Gue sayang banget sama kalian” Ez bicara panjang lebar “you too Ez, sekarang hapus airmatanya dan bikin wish buat tahun ini. Life must go on Ez!” Namira menghapus sisa airmata di pipi Ez lalu ketiganya tertawa dan berpelukan. Dalam hati, Ez mengucapkan keinginnannya.

“Tuhan terimakasih atas segala yang telah Engkau berikan untukku. Terimakasih Engkau telah mengirimkan malaikat penjaga seperti Albian. Tempatkan ia di tempat yang paling baik bersama kedua orangtuaku. Jagalah ia hingga kami bertemu nanti. Tuhan, keinginanku malam ini, jadikanlah tahun ini adalah tahun yang indah, tahun yang membuatku terus bersyukur pada-Mu. Dan, lindungilah kedua sahabatku ini, Namira dan Clay. Kabulkan pintaku Tuhan” Ez membatin penuh harap. Ketiganya melepas pelukan mereka lalu tertawa.
“Happy New Year besties” ucap Ez, Clay dan Namira berbarengan.

The End

Cerpen Karangan: Meliyana
Blog: meliyanaariestya.blogspot.com

Cerpen Setia (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Kau Rajawaliku

Oleh:
Gadis itu memandangnya. Pria berbadan tegap yang berdiri tepat di hadapannya. Pria itu masih memegang daun pintu rumahnya yang baru saja ia buka untuk seorang gadis yang terlihat asing

Rindu

Oleh:
Seperti mawar segar yang kugenggam, meski perih rintih aku suka sekali, Bodoh? bukan, karena cintaku melebihi rasa sakit ini. Aku mencoba berjalan di antara terjalnya kegamangan, telah kulalui sebuah

Sahabat Sederhana Tuk Selamanya

Oleh:
Persahabatan memang tidak selalu berakhir bahagia. Sama seperti cinta, persahabatan juga membutuhkan pengertian. Persahabatan tidak berbicara tentang ego ataupun rahasia. Namun aku berharap, persahabatanku ini tidak akan ada akhir

Pagi Tanpa Mentari (Part 2)

Oleh:
Selama rapat berlangsung semua mata tertuju pada slide yang sudah Lista siapkan, tetapi hanya Awan yang melihat ke arah yang berbeda. Setelah rapat selesai, Awan dan rekan-rakannya pun ke

Welcome Exam I am Ready!

Oleh:
malam kian larut waktunyatarik selimut angin berhembus lembut ,malam yang sunyi, hanya deru kendaraan roda 2 dan roda 4 yang terdengar, lampu2 di setiap rumah masih menyala hanya pintu2

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Setia (Part 2)”

  1. Ashari Dwi says:

    Ceritanya bagus, ngena banget.
    Life must go on !!! 🙂

  2. Leni marlina says:

    Aku suka cerpen nya, buat aku nangis 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *