Shania, Sahabatku yang Terbaik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 28 August 2015

Pada hari Rabu pagi, aku bersiap untuk sekolah. Segera ku pakai tasku dan berpamitan kepada Papa dan Mama. Sambil berjalan kaki aku mendengarkan musik dari hand phoneku. Yashinta Aurora Putri, itulah namaku. Saat ini aku bersekolah di SDN Timur Pagi Jakarta. Wajahku? aku tidak begitu cantik. Aku mempunyai sahabat di kelas. Namanya Shania. Aku kasihan melihatnya tidak punya teman di sekolah. Baginya, sahabat satu-satunya yang dia sayangi adalah aku. Tidak hanya itu, Shania juga sering diejek oleh teman-teman hampir satu kelas.

Beberapa menit kemudian, aku sampai juga di pintu gerbang sekolahku. Aku menatap ceria gedung sekolahku. Kebetulan sekolah masih agak sepi. Jadi, masih ada waktu untuk mengobrol dengan Shania. Aku meletakkan tasku di atas kursiku sambil menyapa Aurel, teman sebangkuku. Tetapi dia bukan sahabatku. Sahabatku hanya satu, Shania. Jujur, aku memang agak tidak suka dengan Aurel. Karena, setiap aku bercerita tentang Shania, Aurel selalu mengabaikan kataku. Kata Aurel, dia tidak peduli dengan anak yang miskin dan pendiam seperti Shania. Memang Shania tinggal hanya dengan Ibunya. Ayahnya sudah wafat beberapa tahun yang lalu karena sakit liver. Kini Shania harus membantu Ibunya bekerja mencari kayu bakar di hutan untuk dijual dan menjaga adik perempuannya di rumah kecilnya.

“Hai, Aurel. Gimana kabarnya? PR IPA kamu sudah selesai belum?” sapaku.
“Hai juga, Yashinta. Sudahlah, PR IPA-ku sudah selesai. Kamu?” sambut Aurel.
“Sudah. O ya, Shania belum datang ya?” tanyaku.
“Ngapain kamu nyariin Shania? dia tuh gak penting!” serunya.
“Jangan gitu dong. Dia kan sahabatku. Udah ya Shania udah datang tuh!” ujarku.
“Ya!” jawab Aurel sambil merapikan bukunya.

Yeay! akhirnya Shania datang juga! Berhubung bel sekolah masih belum berbunyi, aku dan Shania mengobrol di taman sekolah.

“Ehm Yashinta, maafin aku ya lama datangnya.” ucap Shania sopan.
“Iya gak apa-apa kok. Shania, apa kamu betah tiap hari kamu diejek terus sama teman-teman? terus kamu tuh dibenci banget sama Aurel. Katanya, dia gak mau berteman sama anak yang miskin dan pendiam. Bukannya aku menghina kamu ya. Memang kenyataanya begitu, Shan.” kataku.
“Oh Yashinta. Kalau itu sih aku udah terbiasa diejek sama temen-temen. Tapi bagiku, sahabat baik dan setia itu kamu, Yash. Aku gak mau kamu pergi. Memang, rumahku sederhana, dari bambu. Tapi aku tiap hari harus bantu Ibu mencari kayu bakar di hutan untuk dijual. Dan waktu pulang sekolah, aku harus menjaga adikku di rumah.” ucapnya panjang dan bermakna.
“Iya aku tahu kok. Aku mau menerima kamu apa adanya. Biarin aja si Aurel dan teman-teman ngebenci kamu. Tapi aku tetap setia dan sayang sama kamu.” Balasku.
“Masuk kelas, yuk! sudah bel tuh!” ajak Shania.
“oke!” jawabku.

Di kelas, Shania mulai diejek.

“Hay anak miskin dan pendiam! Udah item lagi! huu.” ejek Daniel.
“Iya tuh si Shania ngapain lagi masuk sekolah?! Eh Shania! kamu jangan ngrebut Yashinta ya! dia tuh temen aku!” kata Aurel kejam.
“Shania jelek banget sih!” ejek Nino.
“Ya item!” sahut Nadhifa.
Melihat itu tidak aku bisa tinggal diam.
“Hay kalian semua! kenapa kalian begini terus?! kita itu teman satu kelas! kita harus saling menyayangi! kita tidak boleh saling ngehina! aku berteman tidak melihat derajatnya! kita tidak boleh membeda-bedakan!” ucapku panjang lebar.
“Udah, Yash. Stop.” ujar Shania.
“Iya Shania.” balasku.”

Kemudian semua anak terdiam. Sambil berbisik-bisik kepada yang lainnya.
“Iya iya. Kasihan Shania.” begitulah kata teman-teman sambil berbisik. Tetapi Aurel masih benci kepada Shania. Aku duduk di bangkuku.

“Yashinta! kenapa kamu sahabatan sama Shania sih! pokoknya, aku gak mau berteman sama anak miskin!” bantah Aurel.
“Aurel. Aurel kapan sadarnya sih kamu? kamu tahu gak? setiap hari Shania tuh harus bantu Ibunya cari kayu bakar di hutan buat dijual.” Terus dia juga harus jagain adiknya waktu pulang sekolah. Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena sakit liver. Kasihan kan?” jelasku.
Kemudian Aurel menangis.
“Kamu bener, Yash. Selama ini aku udah ngebenci dan ngejek-ngejek Shania teus! aku menyesal. Aku mau minta maaf sama dia. Nanti aku mau pergi ke Jepang sama Mama dan Papa aku, Yash. Karena Papa dan Mamaku ada tugas. Aku harap aku bisa minta maaf sore ini!” katanya sambil terus menangis.
Aku menepuk-nepuk pundaknya.
“Oke oke, Aurel. Nanti aku anter kamu ke rumahnya ya.” ujarku.
“ya, Yashinta” jawabnya.

Sorenya, aku bergegas ke rumah AUrel dan mengajaknya ke rumah Shania.

“Shania, Aurel mau ketemu sama kamu.” tukasku pada Shania.
“Ada apa Aurel?” tanya Shania.
“Shan, shan. Aku minta maaf sama kamu. Aku menyesal. Selama ini aku udah ngebenci kamu. Aku gak pernah baik sama kamu. Kamu mau kan maafin aku?” kata Aurel terbata-bata sambil menangis dan memeluk Aurel.
“Iya ya Aurel. Aku mau maafin kamu.” jawab Shania juga menangis.
“Shan, nanti malam aku mau berangkat ke Jepang sama Mama dan Papa. Karena Papa dan Mamaku ada tugas kerja. Jangan lupain aku ya.” Shania mengangguk. Aurel pun pergi.

Cerpen Karangan: Princessica Olivia Kersa Putri
Facebook: Princessica Putri

Cerpen Shania, Sahabatku yang Terbaik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Trouble of Sisters (Part 2)

Oleh:
Siangnya, Emely dijemput oleh papanya. Jika ia mengikuti kompetisi itu, ia bisa mendapatkan uang sebesar 15.000 dollar. Ya, itu pun kalau menang. Ia membayangkan, 15.000 dollar itu bisa digunakan

iPad Untuk Feyqa

Oleh:
Laptop? Blackberry? Android? Gadget canggih? Wah. betapa senangnya, kalau semua itu Feyqa miliki. Ia begitu meninginginkan handphone yang canggih seperti teman-temannya. Setiap kali teman-teman sekelasnya saling memamerkan gadget unggulan

Berburu Coklat

Oleh:
Pada suatu hari, ada seorang anak bernama Alika Asyasshari atau yang disebut Alika. Alika mempunyai 2 orang adik, adik pertamanya bernama Feonie Asyasshari dan adik keduanya bernama Zikha Asyasshari.

Kencoran Squad

Oleh:
Suatu hari di sekolah, Praaya, Ridho, Farel, Nada dan aku telah mengambil bekalnya masing-masing. Dan mereka pun pergi ke aula untuk makan bersama. “oi! kalian inget gak, hari ini

Kenangan di Hari Terakhir

Oleh:
Hai teman-teman!Nama lengkapku, Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah. Aku sering di panggil Nadhif. Ini adalah ceritaku saat berlibur bersama kedua Orangtuaku dan seorang Kakakku. Semoga kalian bisa menikmati cerita ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *