Siput dan Wijen

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 23 August 2013

Pagi yang cerah, seorang gadis yang bernama Putri membuka jendela kamarnya dan membiarkan sinar matahari untuk masuk ke dalam kamarnya. “Hoamm, sejuk sekali udara pagi ini” ucap Putri sambil menghirup udara. “Ting ting” handphone Putri berbunyi tanda pesan singkat masuk. Seketika Putri langsung mengambil handphonenya dan membuka pesan singkat tersebut, ternyata itu dari Wijay teman Putri. “Pagi” begitu pesannya. “Pagi juga” Putri membalas. “Put, hari ini bisa tidak kita bertemu?” tanya Wijay pada Putri. “Emangnya mau ngapain?” balas Putri penasaran. “Sudah, nanti datang saja jam 10, aku tunggu di lapangan ya” balas Wijay kembali. “Baiklah” balas Putri.

Putri pun langsung mempersiapkan diri untuk datang menemui Wijay di lapangan. Ia segera mandi, dan setelah itu berdandan. Ketika Putri akan memakai baju, ia bingung ingin mengenakan baju yang mana. Dipilihnya baju berwarna ungu dengan motif bunga-bunga, celana putih, serta jilbab yang berwarna ungu. Setelah ia puas dengan apa yang ia kenakan, ia pun segera turun ke bawah untuk menemui Ayah dan Bundanya di meja makan. “Pagi Yah, pagi Bun” sapa Putri di meja makan pada Ayah dan Bundanya. “Pagi Putri” balas mereka hampir bersamaan. “Ayah, pagi ini Putri mau ke lapangan” ucap Putri. “Loh, mau ngapain?” tanya Ayah penasaran. “Itu, Wijay mau ketemu di lapangan jam 10 nanti” jawab Putri polos. “Oh begitu, ya sudah. Tapi maaf ya Put, Ayah nggak bisa nganter” ucap Ayahnya. “Iya Ayah, tidak apa-apa” balas Putri. Setelah itu Putri menghabiskan makanannya dan meminum segelas susunya sampai habis.

Setelah semuanya selesai, Putri langsung berpamitan kepada Ayah dan Bundanya. “Ayah Bunda, Putri berangkat dulu” ucap Putri berpamitan. “Iya Put, hati-hati ya” balas Bundanya. Setelah itu Putri mengayuh sepedanya dan menuju ke lapangan. Setelah menempuh waktu kurang lebih 10 menit, Putri akhirnya sampai di lapangan, dicarinya Wijay kesana kemari. Dan sampai akhirnya… “Putri!!!” seru seorang anak memanggil Putri. Seketika Putri pun menoleh ke sumber suara. “Hai! Wijay” ucap Putri tiba-tiba. “Hai” balas Wijay. “Mau ngapain sih kesini? Mau mentraktir aku?” ucap Putri dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi. “Yee, traktir terus sih pikirannya” sungut Wijay sedikit kesal. “Iya iya, emang mau ngapain Kak Wijay yang paling WOW” ucap Putri dengan nada tak ikhlas. “Hmm, gini loh Put, kamu inget gak ini hari apa?” tanya Wijay pada Putri. “Ya inget lah, ini kan Hari Selasa” jawab Putri dengan mudahnya. “Kok hari selasa sih? bukan itu maksudku” ucap Wijay sambil berharap. “Emm, emang hari ini hari apa sih?” tanya Putri dengan kepolosannya. “Yah Putri lupa, hari ini kan hari ulang tahunku” ucap Wijay dengan nada sedih. “Oh ya? Maaf aku lupa” balas Putri dengan nada menyesal. “Tak apa, ini ada birthday card buat kamu” ucap Wijay sambil memberikan kartu undangan tersebut. “Wah wah, ada pesta nih keliatannya” ledek Putri. “Hehe.. Iya nih, mumpung ada rezeki” balas Wijay. “Iya Alhamdulillah” jawab Putri turut senang. “Datang ya Put” pinta Wijay. “Insyaallah” ucap Putri tersenyum. “Lahh, pokoknya harus dateng!!” Wijay memaksa. “Loh? siapa tahu nanti aku sampai rumah udah gak ada, makanya aku bilang Insyaallah” jawab Putri bijak. “Kok gitu ngomongnya? serem banget” ucap Wijay keheranan. “Hmm, sudahlah lupakan saja” balas Putri tersenyum.

Setelah selesai bertemu, Putri pun berpamitan kepada Wijay untuk segera pulang ke rumah. “Aku pulang dulu ya Jay” ujar Putri. “Baiklah” jawab Wijay sedikit lesu. “Bye bye.. sampai bertemu di pesta ya” ucap Putri sambil mengedipkan sebelah matanya. “Oke oke” balas Wijay sambil mengedipkan sebelah matanya pula.

Setelah sampai di rumah, Putri langsung membuka kartu undangan tersebut. “Emm, jam 4 sore toh pestanya” ucap Putri sambil mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti. “Loh? Berarti aku harus membeli hadiah untuk Wijay? Tapi apa ya?” ucap Putri lirih. Tiba-tiba Bunda Putri datang menghampirinya. “Ada apa Put?” tanya Bunda pada Putri. “Ini Bunda, tadi ternyata Wijay ketemu sama Putri, cuma mau ngasih kartu undangan ini” jelas Putri pada Bunda. “Terus?” jawab Bunda tak mengerti. “Yah Bunda, Putri kan mesti beli hadiah buat Wijay?” ucap Putri. “Oh begitu, ya sudah, belikan Wijay barang kesukaannya” Bunda memberi saran. “Emm? Jam tangan!” celetuk Putri. “Jam tangan? Itu barang kesukaannya Wijay?” tanya Bunda. “Iya Bunda, Wijay paling suka sama jam tangan” seru Putri. “Ya sudah, nanti Bunda antar ke toko jam tangan ya?” ucap Bunda. “Nanti? Sekarang lah Bunda, undangannya kan jam 4?” ucap Putri mendesak Bundanya. “Hmm ya udah deh, Bunda ganti baju dulu ya” ucap Bunda menuruti permintaannya. “Oke Bunda, jangan terlalu lama yaa” kata Putri. Bundanya tak berkata apapun hanya membalas dengan sebuah senyuman.

Putri meununggu sudah lebih dari 5 menit. “Bunda lama amat sih ganti bajunya” batin Putri berkata. Tak lama dari itu, Bunda Putri keluar dari kamarnya. “Maaf ya, kalau lama” ucap Bunda. “Ya tidak apa-apa” jawab Putri cuek. Selanjutnya Putri langsung menuju depan rumah, dan Bunda Putri mengunci pintu rumah. Setelah semua itu selesai, Bunda dan Putri pun berangkat ke toko jam tangan. Putri segera berlari ke dalam toko jam tersebut, dan langsung melihat-lihat jam tangan yang dipajang. Seketika langkah Putri berhenti di depan jam tangan yang berwarna hitam. Putri segera memanggil Bundanya “Bundaaa” ucap Putri setengah berteriak. “Ada apa?” balas Bunda sambil menghampiri Putri. “Mau itu” ucap Putri kembali sambil menunjuk jam tangan tersebut. “Yang itu?” tanya Bunda. “Iya” jawab Putri singkat. “Baiklah” ucap Bunda menuruti. “Mas mas, saya ambil yang ini ya?” ucap Bunda Putri kepada petugas toko. “Baik Bu” balas petugas toko dengan ramah. Setelah Bunda Putri membayar di kasir, mereka pun pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, Putri segera membungkus jam tangan tersebut dengan kertas kado kesukaannya. Perlahan tapi pasti! Putri membungkus dengan sepenuh hati, karena hadiah itu untuk sahabat kesayangannya. Seselesainya Putri membungkus kado, Putri langsung mempersiapkan diri untuk pergi ke pesta ulang tahun Wijay. Lagi lagi, Putri kalah dalam hal berpakaian. Putri bingung harus mengenakan pakaian yang mana. “Bundaa!” teriaknya kencang. “Ada apa Put?” ujar Bunda sambil melangkah mendekati Putri. “Bundaa, Putri tak mengerti harus memakai baju yang mana?” keluh Putri. “Gunakan saja yang menurutmu layak untuk dipakai” ucap Bunda tersenyum. Putri pun tak mengeluarkan sepatah kata pun. Putri terus mengukir apa maksud Bundanya tadi. “Mungkin memang aku harus mengenakan apa yang selayaknya aku kenakan” batinnya tersenyum. Lalu Putri mengambil baju yang berwarna Putih, celana jeans hitam, dan yang terakhir kerudung hitam. Tanpa berpikir panjang, Putri langsung mandi dan mengenakan pakaian yang telah dipilihnya tadi. Setelah dirinya siap, Putri pun langsung berangkat ke rumah Wijay.

Ternyata telah banyak orang yang sudah datang. “Putriii!” panggil seseorang. Putri pun langsung mencari siapa yang memanggilnya tadi. Ternyata ia adalah teman sekelasnya, Nikmah. “Ehh kamu Kem?” ucap Putri. “Ahh Nikem terus? Jelek tau!” sungut Nikmah kesal. “Iya iya deh, ada apa?” tanya Putri. “Tidak, cuma mau nanya kamu kasih hadiah apa ke Wijay?” ujar Nikmah. “Emm? Adadeh kepo banget sih” ledek Putri. “Yeee.. nimbang nanya doang, pelit amat sih!” celetuk Nikmah. “Privasi dong” ucap Putri di telinga Nikmah dan pergi meninggalkannya.

Putri mencari Wijay kesana kemari, namun tak ada hasil. Lelah pun menghampiri Putri, akhirnya Putri pun memutuskan untuk duduk di bawah pohon mangga. “Nih minumnya” seseorang menyodorkan minuman tepat di depan muka Putri. Serentak Putri kaget, ternyata itu adalah Wijay. “Huuu Wijay ngagetin aja!” gerutu Putri. “Iya maaf maaf” ucapnya meminta maaf.. “Iya deh gak apa-apa” ucapnya. “Oiya! Nih kadonya” celetuk Putri. “Wahh.. Terimaksih sahabatku” ucapnya sambil tersenyum manis. “Oke deh sama-sama. Wle” balas Putri sambil menulurkan lidahnya. “Jelek” celetuk Wijay. “Oh gitu, ya sudah aku pulang!” ucap Putri dengan nada ngambek. “Jangan-jangan dong, aku kan cuma bercanda” jelas Wijay. Putri tak membalas perkataannya lagi, ia hanya diam, diam dan diam.

Saatnya acara tiup lilin. Wijay sudah bersiap di depan kue ulang tahunnya. Semua teman-temannya serempak menyanyikan lagu ulang tahun untuk Wijay. Setelah tiup lilin, kini saatnya first cake. Ya! Wijay memberikan first cake itu untuk bundanya tercinta. Tak lupa Wijay ucapkan terimakasih atas kehadiran teman-teman di acara pesta ulang tahunnya tersebut.

Sebelum acaranya selesai, Wijay memberi pengumuman lewat pengeras suara. “Teman-teman, ini hari ulang tahunku yang sangat amat spesial. Karena di acara ulang tahunku sekarang ini, sahabat kesayanganku hadir disini” ucap Wijay. Wijay tak meneruskan ucapannya tadi, ia diam mematung. Tapi tiba-tiba… “Putrii!” celetuknya dengan sangat keras. “Hah?” ucap Putri tercengang. Semua mata langsung tertuju pada Putri yang berdiri di samping Nikmah. “Sini Put, maju ke depan” ucap Bunda Wijay. “Apaan sih Jen? Kok aku?” ucap Putri tak mengerti. “Kok Jen? Apalagi itu?” Wijay berbalik tanya. “Jen.. Wijen. Hahaha” ucap Putri tertawa geli. “Huhh dasar Siput. Wle” ucap Wijay sambil menjulurkan lidahnya. “Loh? Kok Siput?” ucapnya penasaran. “Yoi, Siputri. Hahaha” ucapnya tertawa pula. “Ah sudahlah” ucap Putri lemas. “Haha, mulai sekarang aku panggil kamu Siput” ucap Wijay. “Okee, aku juga panggil kamu Wijen!” balasnya tak mau kalah juga. “Baik, Siput dan Wijen” ucap Wijay. “Hahahaha, itu konyol!” ujar Putri tertawa. “Yang penting happy” balas Wijay. Teman-teman Wijay dan Putri pun ikut tertawa geli juga mendengar Wijen mengatakan hal itu.

Cerpen Karangan: Putri Novitasari
Facebook: Putri Novita Sari

Cerpen Siput dan Wijen merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semenjak Ada Dia

Oleh:
Kalian masing-masing pasti mempunyai sahabat. Entah itu laki-laki atau perempuan, entah berapa banyaknya, satu atau dua, entah berapa jauh jarak umurnya dibandingkan kalian. Sahabat, satu kata yang bermakna bagi

Maafkan Aku (Salah Paham)

Oleh:
“Pagi semua..” Icha muncul dan setengah berlari menuju tempat duduknya. Tak lama kemudian ikut berkumpul bersama para sahabatnya. Rio, Anggita, Rasty dan Icha sudah bersahabat sejak lama. Rio memiliki

The Secret Garden

Oleh:
Aku kembali memandangi pohon jati itu. Aku masih heran dengan pemandangan ini. Aku terus memandanginya di teras rumah. Di sekitar rumahku banyak pohon jati. “Kak Fia!” panggilku dari luar

Lagu Terakhir Untuk Bunda (Part 1)

Oleh:
Namaku Tya, Ayahku meninggal ketika aku berumur 11 tahun, tepatnya 4 tahun yang lalu. Kini aku tinggal bersama Ibu yang sangat menyayangiku dan Kakakku yang selalu mendukungku. Nama Kakakku

Aku Mau Jadi Sahabat Kamu

Oleh:
Aku mempunyai teman yang bernama Mario. Biasa di panggil Rio. Dulu saat pertama masuk SMP aku deket sama dia. Kami suka bercanda. Kadang kalau dia enggak ngerti pelajaran, dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *