Sleeping Beauty (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 January 2015

“Aira… wake up” seru Poppy sahabat karibku dengan suara cemprengnya dan dengan sok-sok’an berbahasa Inggris, padahal nilai rapornya kadang-kadang merah. Ia sedang berusaha membangunkanku dari tidur nyenyakku dan membuyarkan semua mimpi indahku.
“Hmmm… Poppy kamu ngapain sih datang ke rumahku pagi-pagi gini? Nggak tahu apa, aku lagi ngantuk berat nih” omelku dengan mata yang masih terpejam dan mulut terus komat kamit menggerutu. Persis mbah dukun yang lagi baca mantra.
Jujur, aku masih sulit untuk membuka mataku karena rasa kantuk yang melanda. Tapi sepertinya Poppy tak peduli dengan hal itu, ia justru menarik tanganku untuk membuatku beranjak dari kasurku yang empuk.
“Ayolah Ra, bangun. Ada urusan yang mau aku selesaikan denganmu” paksanya dengan wajah serius, bahkan terlalu serius menurutku.
“Apa? Urusan penting apa lagi yang mau kamu selesaikan denganku? Pacarmu si Indra itu nggak sms kamu lagi? Nggak nelepon kamu lagi? Dan mau nanya sama aku kemana dia? Seolah-olah aku ini cucunya mama Laurent yang bisa meramal dimana keberadaan dia” omelku panjang lebar, dan dengan dugaan yang super ngasal. Tapi wajar saja aku menduga seperti itu, karena minggu lalu Poppy juga membangunkanku secara paksa hanya karena masalah sepele seperti itu. Aku sempat jengkel tapi aku menyadari satu hal, mungkin mengganggu tidurku udah menjadi hobi sahabatku yang satu ini. Jadi mulai saat itu aku mulai membiasakan diri dengan ulahnya.
“Bukan itu” jawabnya ngotot
“Trus apa? Apa lagi yang bisa membuatmu mengganggu tidurku pagi-pagi seperti ini selain masalah kamu sama Indra?” tanyaku ketus.
“What pagi?, Woah ternyata kamu masih belum sadar sepenuhnya. Perlu aku menyirammu dengan segentong air?” tanyanya yang justru membuatku bingung mengernyitkan dahi, namun tetap dengan mata yang sayu, karena masih ngantuk berat.
Poppy melangkahkan kakinya ke arah jendela dan membuka gorden berwarna putih dengan totol-totol hitam di sekitarnya. Aku dibuat kaget saat melihat keluar jendela.
“Aira… kamu liat itu. Bulan aja udah say hello sama kita, ini yang kamu sebut masih pagi? Matahari aja udah pamitan dari tadi kali” tuturnya sambil kembali menutup gorden.

Melihat langit malam yang dihiasi bulan sabit barusan membuatku sadar, kalau aku suka nggak ingat waktu kalau udah tidur. Aku yang tidur dari tadi sore baru terbangun jam 7 malam sekarang ini. Beruntung Poppy membangunkanku, jika tidak mungkin tidurku berlanjut hingga esok hari.
“Pelor.. pelor aja, Ra. Tapi jangan sampe lupa sama waktu juga kali” kali ini balik ia yang mengomeliku.
Yach… pelor alias nempel molor” itulah julukan yang diberikan semua orang untukku, dan kurasa itu tepat, secara jika aku sudah mulai ngantuk, dimanapun dan kapanpun dan gak peduli ama sikon aku bisa tertidur dengan pulasnya. Kebiasaan pelorku sudah ada sejak SMP, bahkan saking pelornya pola makanku jadi tak teratur, aku juga jadi sering telat makan, akhirnya dapat omelan mulu’ dari bunda. Maklum saja karena kebiasaan itu, aku jadi menderita maag akut, jadi jangan heran kalau bunda kadang mengomeliku habis-habisan karena aku lebih mementingkan tidurku dibanding yang lain. Walau dibilang pelor, dan didera maag akut, aku merasa jauh lebih beruntung dibanding Poppy yang justru lebih sering terserang insomnia. So… aku lebih beruntung kan?.
“Ayo… Ra.. buruan bangun. Trus mandi gih sana” perintah Poppy sembari terus menarik pergelangan tanganku.
“Aku masih ngantuk Poppy”
“Bodo amat, pokoknya kamu harus bangun sekarang”
“Bentar lagi aja dech. Kalau kamu mau ngomong, ngomong aja. Pasti aku dengerin kok” Ucapku berusaha membujuknya agar mau mengizinkanku tetap ditempat tidur dan kembali meneruskan tidurku.
Tapi, baru saja aku ingin kembali merebahkan tubuhku ke kasur, Ia kembali menarik lenganku, berusaha mencegah niatku.
“Nggak bisa, bundamu memintaku buat ngebangunin kamu. So… kamu harus bangun sekarang. Ayolah Ra… bekerja sama sedikitlah” Paksanya terus dan terus.
“Hehehe… kamu jangan bohong dech. Bunda itu dari tadi siang pergi ke rumah tante Dewi, dan mungkin baru pulang sejam lagi”
“Aku nggak bohong kok. Bundamu itu udah pulang dari rumah tantemu 15 menit yang lalu”
“Ngawur…”
TOK… TOK… TOK…
Pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Ketukan yang pelan dan kesannya terdengar lembut. Dan aku bisa menebak siapa orang yang ada di balik pintu itu, Bunda.
“Poppy…!! Airanya udah bangun?”
“Bel…” Aku membekap mulut Poppy dengan tanganku sebelum ia melapor ke Bunda.
“Ssssttt…” Aku meletakkan telunjukku tepat di depan bibirku, memintanya diam, Poppy menurut tapi terlihat jelas ia terpaksa melakukannya.

Aku menyambar handukku yang menggantung di dekat lemari pakaianku. Dan bergegas masuk ke kamar mandi, sebelum Bunda memutuskan untuk masuk ke kamarku dan melihatku masih dalam keaadaan kusut karena baru bangun tidur.
“Airanya udah bangun, Pop?” Tanya Bunda saat sudah berada di dalam kamarku.
“Udah tante, sekarang Aira nya lagi di kamar mandi”
“Oh… baguslah. Kalau sudah selesai turun ke ruang makan ya. Kita makan malem bareng”
“Iya tante, makasih”
Itulah sedikit pembicaraan yang aku dengar antara Poppy dan Bunda.

“Sekarang, aku udah mandi, udah wangi, bahkan lebih wangi dari kamu. Cepetan ngomong sekarang” Pintaku setelah berdandan rapi sembari duduk bersila di kasur. Tepat didepan Poppy yang sedang asyik membaca majalah.
“Iya.. iya… aku ngomong sekarang” Ia memilih menutup majalahnya dan menyimpannya di pangkuannya. “Kan.. gini Ra, bentar lagikan promnite. Aku cuman mau nanya. Kamu udah nemuin pasangan buat pergi belum?” Tanya Poppy yang tiba-tiba membuat darahku mendidih.
Bagaimana tidak, hanya karena pertanyaan konyol itu, ia dengan teganya mengganggu tidurku dan membuyarkan mimpi indahku. Ditambah lagi promnite baru akan berlangsung minggu depan, dan ia sudah menanyakannya sekarang. “Poppy… erghhh” Pekikku dalam hati menahan rasa kesalku pada sahabatku yang berambut ikal ini. Wajahku mungkin sudah memerah bak kepiting rebus karena menahan amarah agar tidak meledak dan mengagetkan Poppy.
“Kamu kok diem sih Ra? Trus, ‘tu muka kenapa jadi kaya’ kepiting rebus gitu?”
“Jadi, cuman itu yang mau kamu tanyain, cuman pertanyaan itu yang mau kamu selesaikan denganku?” Tanyaku berusaha menyembunyikan amarahku yang hampir meledak bagai bom atom.
“Iya” Jawabnya dengan lugu.
Melihat wajah lugunya, yang seolah tak bersalah. Membuat kemarahanku kian terpancing dan tak sanggup untuk kusembunyikan lagi.
“Erghhh… Poppy…!!” Seruku kesal. “Dasar kutu kupret!! Kamu sadar nggak sih, apa yang udah kamu lakuin?!” Aku memukulnya dengan bantal yang ada di dekatku berkali-kali.
“Auww… Ra, kamu apa-apaan sih? Mang salah aku apa?” Tanyanya sembari meringis kesakitan.
Aku berhenti memukulnya dan mulai menenangkan pikiranku.
“Demi pertanyaan konyol itu, kamu dengan teganya mengganggu tidurku, dan membuyarkan mimpi indahku. Kamu tau kan seberapa berharga waktu tidur buatku?”
“Kalau nggak aku bangunin, mau jam berapa lagi kamu baru bangun? Lagian Bundamu kok yang minta bantuanku buat ngebangunin kamu. Dia khawatir sama kesehatanmu Aira. Secara udah jam segini belum ada satu makanan pun yang masuk ke perutmu, sejak pulang sekolah tadi. Ntar yang ada maagmu kambuh lagi”
Jujur, apa yang dikatakan Poppy ada benarnya juga. Kemarahanku padanya mulai menyurut.
“Jadi apa jawabanmu?” Pintanya sekali lagi, menuntutku memberikan jawaban.
“sebelum aku jawab, aku mau nanya dulu. Kenapa kamu udah nanyain soal itu sekarang? Promnite kan masih seminggu lagi. Trus kenapa nggak by ponsel aja? Kenapa harus repot-repot kesini dan mengganggu tidurku?”
“Ya maaf, Ra. Soalnya aku penasaran banget. Secara kamu kan belum punya pacar nih. Trus kamu mau ngajak siapa? Sodara cowok satu-satunya alias kak Raka lagi kuliah di luar kota”
Kata-kata Poppy membuatku berpikir sejenak. Iya juga ya, aku mau ngajak siapa ke prom? Pacar nggak punya, kakak laki-laki satu-satunya lagi nggak ada di rumah. Sepupu cowok pada masih kecil-kecil, masih bau kencur. Trus siapa yang mau aku ajak?

Pikiranku tiba-tiba melayang jauh, seorang cowok tampan dengan kulit kuning langsatnya dan dengan senyum manisnya hadir dalam bayanganku, seseorang yang aku harapkan mau menjadi partnerku, seseorang yang sudah aku sukai sejak kelas 1, seseorang yang bernama…
“Alfi…!!!” Belum sempat aku menyebutkan nama itu dalam batinku, Poppy menyerobotnya duluan, seolah-olah ia tau apa yang sedang aku pikirkan.
“Kenapa kamu nggak ngajak Alfi aja?”
“What? Kamu udah gila, Pop?”
“Kok gila sih? Aku kan Cuma ngasih saran, dan aku rasa pantas buat dicoba”
“Saran kamu tu nggak logis banget” Protesku.
“Nggak logis gimana? Gampang kok, kamu tinggal temuin dia, trus pinta dia buat jadi partner kamu” Jawab Poppy agak ngasal menurutku.
“Hello… Poppy sayang!!” Seruku agak kesal. “Nggak segampang itu ngelakuinnya. Kamu kan tau, aku Cuma pengagum rahasianya. Dia mungkin nggak pernah tahu siapa aku, siapa namaku, dan mungkin dia juga nggak pernah sadar kalau aku pernah ada di sekolah itu. Kamu mau bikin aku malu kalau tiba-tiba aku ngajakin dia ke prom, sementara dia merasa dia nggak pernah kenal sama aku” Omelku habis-habisan saking kesalnya dengan ide gila Poppy. Namun ada sedikit perasaan miris di hatiku saat mengatakan itu semua. Aku seorang pengagum rahasia yang tak pernah disadari kehadirannya. Kasian banget nasib percintaanku…

Alfi seorang cowok cerdas dan baik, memang mungkin tak pernah tahu siapa aku. Ya, seperti yang aku bilang tadi, aku hanya pengagum rahasianya dari dulu hingga sekarang. Awalnya aku mengira ini hanya sekedar rasa suka yang akan hilang seiring berjalannya waktu. Tapi setelah 3 tahun berlalu aku semakin sadar, kalau ada perasaan yang tercipta dari dasar hatiku untuknya. Perasaan yang tak biasa, perasaan yang sulit aku tepis kehadirannya, perasaan yang membuatku selalu merindukan dan memikirkannya setiap saat, perasaan yang jantungku berdegup kencang saat berpapasan dengannya, perasaan istimewa yang bernama… Cinta. Ya, aku mulai mencintainya. Alfi cinta pertamaku.
“Aira… Aira…!!” Panggil Poppy membuyarkan lamunanku
“Apa?!”
“Kamu ngelamun ya?”
“Nggak kok” Kilahku menutupi semua yang kupikirkan barusan dari Poppy.
“Trus gimana?”
“Gimana apanya?” Tanyaku agak bingung.
“Kamu mau kan ngajak Alfi ke prom?”
“Sekali nggak, tetap nggak” Jawabku tegas karena pertanyaan Poppy yang terkesan memaksaku untuk menjawab “Ya”.
“Lagian… pasti udah banyak cewek-cewek yang ngantri yang mau ngajakin dia. Dan aku nggak mau dianggap cewek pecicilan karena ikut-ikutan ngantri”
“Emang kamu kira Alfi jualan tiket nonton, sampai banyak yang ngantri” Seloroh Poppy nggak jelas. “Tapi… kamu ada benarnya juga sih, Ra. Pasti udah banyak cewek yang ngantri buat ngajakin dia. Dan mungkin dari semuanya, salah satu kandidat yang kemungkinan ajakannya bakal diterima Alfi, itu Chika” Ucap Poppy, yang membuat perasaan jealousku muncul ke permukaan saat mendengar nama Chika.
Cewek cantik dan populer di sekolah. Cewek cerdas dan selalu berpenampilan menarik serta elegant. Berbanding terbalik dengan penampilanku yang terkesan biasa, otakku juga tak secerdas dia, dan kata elegant, tak pernah ada dalam kamusku.

Cewek yang saat ini digosipkan dekat dengan Alfi ini, selalu membuatku jengkel saat mendengar namanya. Jangan tanya lagi atas dasar apa, itu karena aku jealous.
“Udah ah, jangan bahas itu lagi” Tuturku mulai agak malas membahas masalah prom. “Mending sekarang kamu temenin aku ke toko buku” Ajakku.
“Mau ngapain ke toko buku?”
“Makan mi ayam” Jawabku ngasal. “Ya.. mau nyari bukulah Poppy”
“Buku apaan?”
“Udah deh jangan banyak tanya, yuk buruan pergi” Ajakku sembari menarik pergelangan tangan Poppy, dan beranjak keluar kamar.
“Tapi Ra, tadi Bundamu nyuruh makan malam dulu”
“Makan malamnya nanti aja kalau udah pulang dari toko buku”
“Tapi…”
“Bunda… aku ke toko buku bentar. Bunda makan aja duluan. Bye… Bunda” Ucapku sembari mencium pipi kanan Bunda. “Assalammualaikum” Pamitku lagi sembari mencium tangannya.
“Hati-hati” Pesan Bunda
“Tante, kita pergi dulu ya” Ucap Poppy.

Di toko buku, bahasan Poppy tak jauh berbeda saat di rumah tadi. Masih tetap pada masalah Prom. Aku lebih memilih sibuk mencari buku yang ingin aku beli, daripada aku harus mendengar celotehannya soal promnite.
“Aira… kamu dengarin aku nggak sih?” Tanya Poppy yang mulai merasa dikacangin dari tadi.
“Nggak” Jawabku santai dan terus berjalan perlahan menyusuri rak-rak buku.
“Erghhh…Aira nyebelin banget sih” Poppy terlihat mulai kesal.
“Aku juga sebel sama kamu, dari tadi bahasannya nggak ada yang laen. Promnite mulu’ yang diomongin. Bosen tau nggak”
“Ya… kamunya juga sih, pertanyaan aku nggak dijawab-jawab”
“Pertanyaan yang mana Poppy?” Tanyaku sambil mengambil satu judul novel yang membuatku tertarik.
“Kamu mau pergi sama siapa ke prom nanti?”
“Kayanya aku bakal pergi sendiri aja deh” Jawabku sekenanya.
“Ya.. nggak asyik kamu, Ra. Apa enaknya pergi sendiri?”
“Aku nggak peduli. Kamu mau aku pergi ke prom sendiri atau nggak pergi sama sekali?” Ancamku, karena aku yakin kalau Poppy pasti akan kecewa jika aku tak hadir di prom.
Poppy terdiam sesaat. Terlihat ia sedang memikirkan sesuatu. Mungkin memikirkan sebuah ide.
Aku menunggu, tepatnya menunggu saran aneh apalagi yang akan dia lontarkan. Sambil menunggu ada yang aneh terasa di lambungku, sakit banget.
“Aira… aku punya ide!” Serunya sembari menjentikkan jari serta tersenyum lebar.
“Ide apaan?” Tanyaku berusaha menahan rasa sakit. Kaya’nya maagku kambuh lagi.
“Ra… kamu kenapa, kok mukanya melas gitu?” Tanyanya dengan nada khawatir. “Maagmu kambuh lagi?”
“Udah aku nggak apa-apa kok. Terusin aja apa yang mau kamu omongin tadi” Jawabku berusaha menenangkan sahabatku yang gampang panik ini.
“Kamu yakin nggak apa-apa?”
“Iya” Aku mengambil obat maag yang selalu tersedia di dalam tasku di saat-saat darurat seperti ini. Aku langsung menelan Pil tersebut tanpa dibantu air sedikitpun.
Walau aku sudah menelan obat maagku, wajah Poppy masih terlihat khawatir.
“Ra.. kamu benar nggak apa-apa? Kamu nya juga sih ngeyel dibilangin, tadikan bundamu nyuruh makan dulu”
“Aku nggak apa-apa Pop. Lagian kalau tadi kita makan malam dulu, ntar yang ada toko bukunya udah tutup. Kamu tenang aja, aku baik-baik aja kok. Percaya deh dalam waktu 5 atau 10 menit obatnya pasti mulai bereaksi dan rasa sakit di lambungku bakalan hilang” Ucapku menenangkannya. Walau sebenarnya, rasa sakit itu kian menjadi. Sepertinya obat yang dibelikan Mang Ujang di warung, tak akan bereaksi untuk maag akut seperti yang aku alami.
“Buruan bilang apa ide kamu?”
“Tapi kamu benar nggak apa-apa? Kita pulang aja yuk”
“Bilang dulu apa ide kamu, baru kita pulang”
“Gimana, kalau kamu ajak Joko aja. Anaknya Mbo’ Na”
“What?” Seruku kaget tanpa peduli dengan rasa sakit yang ku alami.
Aku paham betul, kalau poppy selalu punya ide-ide gila dan konyol, tapi yang satu ini terlalu gila dan teramat konyol menurutku.

Wajah Joko, anak Mbo’ Na asisten rumah tangga di rumahku terlintas di benakku. Secara fisik Joko memang memiliki postur tubuh yang tinggi, bahkan lebih tinggi dariku. Badannya yang bongsor tak membuatnya terlihat seperti bocah berusia 14 tahun.

Ya, Joko yang sedang kita bicarakan adalah anak SMP, yang tak mungkin ku ajak ke prom, tak pernah terlintas sedikitpun di benakku untuk mengajaknya ke prom. Hanya otak Poppy lah yang baru mencetuskan ide gila itu.
Apa kata dunia? Jika aku membawa partner ke prom, seorang bocah berusia 14 tahun. Gila!!! Bisa-bisa aku dikira mengidap pedofilia oleh teman-teman ku.

Pembicaraanku berakhir sampai disitu, tepatnya dengan kata “What” dariku. Entah apa yang terjadi selanjutnya aku pun tak tau. Aku hanya merasa tiba-tiba pandanganku gelap, anehnya saat itu aku merasa wajah Alfi hadir dalam bayanganku. Dan menyebut-nyebut namaku. Hingga makin lama suaranya kian tak terdengar dan hilang sama sekali.

to be continue…

Cerpen Karangan: S.S Afriani
Facebook: Ifha SiChocoholic ‘ssriafriani’

Cerpen Sleeping Beauty (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Randy Si Penyelamat Nyawaku

Oleh:
Pagi yang cerah, secerah hatiku ketika melihat dia telah menungguku di bawah. “Pagi Ra, kamu tambah cantik deh, ayo berangkat nanti telat loh” kata Randy, sahabat sejatiku. “Pagi juga

Berawal Dari Kopi

Oleh:
Prudence berjalan di koridor sekolah menuju kantin. Hari ini rasanya ia ingin menikmati secangkir kopi yang akan menjernihkan pikirannya. “Bi, kopi” Ucap Prudence dan seorang pria di sebelahnya berbarengan.

Selamat Tinggal Sahabat

Oleh:
Hi, aku Uwi Pricilla. Aku lahir di wilayah bagian timur Indonesia. Yap! Jayapura, Papua. Suka duka ku selalu ku jalani bersama seorang sahabatku, ia adalah Kiki. Tapi, hari ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *